Kamis, 17 Juli 2014

DEWA KEMATIAN


Sepuluh tahun yang lalu, aku tak pernah tahu apa maksud dari ucapan seorang lekaki tua itu. aku tak kenal dia, yang aku tahu dia adalah orang gila yang sering seliwearan di depan rumahku setiap pagi. Aku sering melihatnya tanpa sengaja dari balik jendela kamarku.
Mungkin usiaku masih terlalu kecil untuk tahu maksud dari celotehnya waktu itu, hingga lambat laun seiring kejadian demi kejadian ku alami, celotehnya seakan terus terngiang di telingaku. Celoteh yang sangat menggangguku. “kamu adalah dewa kematian nak, jauhi teman-temanmu jika tak ingin kehilagan mereka” ucapnya kala itu.
Seiring berjalannya waktu, akupun mulai menyadari ada sesuatu yang memang aneh dalam diriku. Seakan celoteh orang gila itu benar adanya. Aku sang dewa kematian.
Dari situ pula aku mulai mengerti kenapa aku sedari kecil dikucilkan oleh kedua orang tuaku, dikurung dalam rumah. Dibutakan dari kebenaran tentang diriku, atau mungkin tepatnya kutukanku.
*dalam kematian pertama
Saat itu usiaku menginjak 6 tahun. Mungkin seperti anak seusiaku kebanyakan, aku juga iri melihat anak-anak kecil bermain di bawah derasnya hujan. Kebetulan saat itu kedua orang tuaku sedang tak ada di rumah, hanya nenek yang menemaniku di rumah.
Kulihat nenek sedang pulas tertidur di sofa, entah karena hujan yang lebat atau memang kelelahan menjagaku seharian. Aku mencuri waktu untuk keluar rumah. Ini pertama kalinya aku mulai keluar rumah setelah beberapa tahun dikurung, sampai akupun lupa kapan terakhir kali aku menghirup udara segar di luar rumah.
Aku bergabung dengan anak-anak yang ku lihat sedang asik bermain di bawah hujan. Ku hampiri mereka meski aku tak kenal dengan mereka. Dalam hitungan detik, aku sudah membaur dengan mereka. Berlarian, bermain bola, bermandikan hujan yang menjadi pengalaman pertamaku. Ku habiskan waktuku bersama mereka. Hingga tepat satu jam kebersamaan kami, sebuah peristiwa itu terjadi. Sebuah kilatan cahaya terang seakan menukik jatuh tepat di tubuh salah satu teman dari mereka. Semua histeris, termasuk aku. Aku lihat ia terbujur kaku dengan tubuh menghitam. Ia tak bergerak lagi.
Seketika banyak orang berdatangan ke tempat kami bermain, termasuk seorang nenek yang sangat kukenal, nenekku sendiri. Ia memelukku, bergegas membawaku masuk ke dalam rumah kembali, meninggalkan kerumunan orang-orang yang sepertinya dibuat sibuk oleh pemandangan yang kulihat tadi. Nenek terlihat takut, entah karena apa.
Aku dimarahi habis-habisan oleh ayahku dengan alasan yang tak pernah aku tahu dan ibuku hanya bisa menangis disudut ruangan.
*dalam kematian kedua
Beberapa minggu dari peristiwa itu, aku mempunyai kesempatan lagi untuk lari dari rumah. Aku berjalan mengikuti kakiku melangkah, aku ingin bermain. Langkahku terhenti di sebuah taman, di sana aku lihat beberapa anak yang mungkin seusiaku, aku hampiri mereka, ikut bermain bersama mereka. Lagi-lagi setelah satu jam kami bermain, aku lihat salah satu dari kami, entah bagaimana bisa, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh ke dalam kolam yang ada di taman. Kami semua menjerit hingga beberapa orang dewasa berkerumun mendekat. Kulihat mereka seakan berlomba-lomba untuk mengentaskan temanku yang terjatuh ke dalam kolam. Tapi sayang, temanku sudah tak bergerak lagi.
Lagi-lagi ayah memarahiku kembali, masih dengan alasan yang tak pernah keluar dari mulutnya saat ku tanya mengapa. Apa aku salah bermain dengan mereka, apa aku salah keluar rumah untuk bermain. Aku anak kecil yang butuh bermain, ingin normal seperti anak-anak seusiaku.
*dalam kematian selanjutnya dan seterusnya
Aku masih tak mengerti apa yang terjadi, setiap kali aku bermain dengan anak-anak yang lain, selalu ada saja peristiwa yang sama. Sebuah peristiwa yang akhirnya aku tahu itu, kematian. Namun aku tak pernah tahu penyebab sesungguhnya. Aku tak pernah berpikir sedikitpun, akulah penyebabnya. Setiap kali aku bermain dengan teman-temanku, selalu ada saja kematian yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Entah apa yang terjadi sebenarnya, kenapa banyak kematian demi kematian yang terjadi dengan berbagai cara yang berbeda-beda di depanku. Kematian seorang teman setelah kami bermain. Aku masih belum menyadarinya, aku anggap itu adalah kematian yang mungkin itulah yang terjadi.
Sampai saat usiaku 7 tahun, aku tanpa sengaja bertemu dengan lelaki yang sering ku lihat seliweran di depan rumahku. Saat aku sedang duduk di bawah pohon dekat rumahku, seperti biasa, aku selalu bisa mencuri waktu untuk keluar rumah. Saat itu aku memang sedang malas bermain, aku hanya keluar rumah dan bersantai di bawah pohon. Tiba-tiba lekaki itu menghampiriku dan meraih tanganku, aku sangat takut, ingin berlari namun tangannya begitu kuat menggenggam tanganku hingga ku tak dapat berlari. Lalu tiba-tiba ia berkata dengan wajah yang menakutkanku. “kamu adalah dewa kematian nak, jauhi teman-temanmu jika tak ingin kehilangan mereka”. Aku terus meronta, tapi kata-kata itu terekam jelas di telingaku. Aku berlari kencang masuk kerumah ketika ia melepaskan tangannya dari tanganku setelah apa yang ia ucapkan kepadaku.
Kini sepuluh tahun berlalu, sampai aku benar-benar menyadari apa yang ada dalam diriku, aku sebut ini memang kutukan. Aku telahir dengan sebuah kutukan yang bisa membunuh orang di dekatku tanpa aku berbuat apa-apa. Mungkin benar apa yang diucapkan lekaki itu, aku adalah dewa kematian.
*dalam kematian terakhir
Sebelum aku benar-benar percaya dengan ucapan lekaki itu, aku sengaja membuktikan. Itupun setelah aku berperang dengan jiwaku, aku tak ingin melihat kematian yang disebabkan olehku, namun kali ini aku harus melakukan untuk sebuah pembuktian. Jika ini memang terjadi, aku berjanji ini yang terakhir kali, dan tak akan kulihat kematian-kematian lagi oleh ulahku yang masih tak ku mengerti sebenarnya.
Saat itu aku kembali berulah, mencoba keluar rumah untuk mencari seseorang yang akan ku jadikan pembuktian terakhir. Mungkin aku akan berdosa, tapi jika tidak aku lakukan, aku tak akan benar-benar tahu dan yakin, dan masih akan kuanggap itu adalah kematian yang sewajarnya orang hidup pasti mati.
Aku berhasil keluar rumah, aku terus berjalan menjauh dari rumah, menuju entah kemana, mencari pembuktian yang tepat, yang pantas aku jadikan pembuktian lebih tepatnya.
Aku mendengar teriakan seorang gadis tak jauh dari tempatku berjalan, aku berlari mencari asal suara gadis tadi. Aku lihat beberapa orang lelaki sedang mengerumini gadis itu, sontak aku mendekat. Sebenarnya akupun tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jelas aku yang bisa mati dikeroyok mereka berlima. Berbekal sebuah pembuktian, tetap ku beranikan diri untuk mendekat.
Benar apa yang aku pikirkan sebelumnya, aku yang jadi bulan-bulanan atas bogem mentah kelima lelaki itu, mereka mengeroyokku dengan mudah, aku tak bisa melawan sedikitpun. Aku sempat berpikir tentang pembuktian itu dan gelar dewa kematian yang diberikan orang gila itu salah besar, dan aku sempat tersenyum lega. Aku akan mati dikeroyok mereka kali ini, pikirku lagi. Namun beberapa detik setelah aku berpikir begitu, aku merasakan bumi berguncang dengan hebat. Aku dengar teriakan mereka mengucap kata “gempa” berulang kali dan membuat mereka berlari kalang kabut. Belum ada lima meter menjauh dariku, aku lihat sebuah tiang listrik roboh menghantam tepat di kepala salah satu dengan mereka, seketika itu gempapun berhenti. Senyum legaku yang tadi sempat tumbuh di bibirku seakan kembali sirna.
Kali ini aku benar-benar takut, bukan pada mereka atau kematian yang aku lihat, tapi kepada diriku sendiri. “aku benar-benar dewa kematian” ucapku dalam hati sambil terus berlari menuju rumah.
Kali ini tak kubiarkan ayahku menghujaniku dengan kamarahan oleh ulahku yang mungkin sudah sekian ribu kali. Sebelum sempat ayahku membuka mulut ketika melihatku dari luar rumah, aku hujani dengan banyak pertanyaan tentangku. Tentang kenapa aku begini, tentang kutukan ini. Ayah dan ibu hanya bisa diam dan terdiam, sedang aku masih menggebu-gebu menhujani mereka dengan pertanyaan yang sama. “aku sebenarnya siapa? Apa yang terjadi denganku? Kenapa semua orang yang ada di dekatku selalu mati? Kenapa aku selalu melihat kematian di dekatku? Lalu kenapa kalian tak mati di dekatku? Aku terkena kutukan apa? Tolong jelaskan padaku yah, katakan padaku bu”
“sudah saatnya dia harus tahu yah, ceritakan saja apa yang terjadi 17tahun silam sebelum dia lahir” ucap ibuku sedikit memaksa ayahku untuk bicara.
“baik bu”
“apa yang sebenarnya terjadi?” sekali lagi dengan penuh penasaran
“saat itu, saat ibumu sedang hamil tua. Ayah tanpa sengaja memfitnah seseorang dengan mengatakan sebagai pembunuh kakekmu. Saat itu ayah, ibumu dan kakek nenekmu sedang makan malam di sebuah restoran. Kakekmu pergi menuju mobil untuk mengambil sesuatu, belum ada lima menit, kami semua mendengar teriakan kakekmu minta tolong, lekas ayah berlari menghampiri kakekmu. Ayah lihat kakekmu sudah berlumuran darah di perutnya dan ayah melihat seorang laki-laki dengan sebuah pisau di tangannya. Dalam pangkuan ayah, kakekmu menghembuskan nafas yang terakhir kali. Sontak ayah meneriaki lelaki itu dengan sebutan pembunuh dan membuat para masa akhirnya menghakimi lelaki itu. Sebelum lelaki itu akhirnya tewas, seorang anak belasan tahun yang ternyata adalah anak lelaki itu, berteriak histeris  dan mengatakan kalau ayahnya justru ingin menolong kakekmu dari perampokan. “bapak yang pembunuh, bapak yang pembunuh” sambil menunjukkan jari ke arah ayah. Ayah lihat di matanya kemarahan atas fitnah yang ayah lontarkan kepada bapaknya yang membuatnya akhirnya tewas. Ia terus meneriakkan kata-kata itu. dan saat itulah ibumu merasakan kontraksi di perutnya seiring suara petir yang menyambar-nyambar, dan singkat cerita, kau lahir di sana, di depan kematian kakekmu dan lelaki yang ayah fitnah.
Mungkin hanya itu yang bisa ayah ceritakan saat kelahiranmu. Tentang apa yang ada di dirimu, ayah sebenarnya tak percaya, itu semua penyebab kamu menjadi seperti ini”
“lalu sejak kapan ayah menyadari tetang apa yang ada di diriku, tentang kematian yang disebabkan oleh diriku?”
“sejak kamu berumur 2 tahun nak, sebelumnya ayah dan ibumu tidak percaya melihat kematian demi kematian yang terjadi di dekatmu. Ayah anggak itu takdir. Tapi setelah sekian banyak kematian dan kembali teringat kejadian saat kamu lahir, ayah menyadari kematian-kematian itu mungkin ada hubungannya dengan itu semua, dan sejak itulah mengapa ayah dan ibumu mengurungmu di dalam rumah”

Minggu, 13 Juli 2014

MUARA TAKDIR (catatan tentang entah)

  Ini sudah kesekian kalinya, sampai akupun lupa tepatnya. Kau terus mengucapkan kata yang sama, mengusirku dari segala apa yang entah apa ini, tempat yang begitu nyaman buatku, walau seperti di dalam negri antah berantah keadaan kita, keadaan yang sulit di cerna dengan otak kanan yang rasional. Hanya otak gila kita yang dapat mencernanya menjadi sebuah keadaan yang nyata, nyaman. tempat kita singgah selama ini.
  Terlalu banyak alasan yang kau muntahkan di pangkuanku yang membuatku tak nyaman. Alasanmu memang masuk akal, tapi terlalu masuk akal oleh rasa kita yang tak masuk akal. Buat saja alasan yang tak masuk akal juga, itu mungkin lebih nyaman buatku, walau tetap tak akan ku amini. Aku akan tetap bertahan, hidup dalam negri antah berantah ini, negri yang memang entah dengan perasaan yang tidak entah, tapi nyata ada.
  Aku tak peduli lagi kini, meski sayapku kau patahkan, meski kakiku kau lumpuhkan, rasa ini tetap akan bisa berjalan menujumu, menjadikanku tak akan mati, apalagi sebatas pergi, tak akan. Rasa ini telah menanamkan hatiku ke dalam tanah yang gembur dan kini sudah berakar tunggang, kokoh.
  Aku tak akan pergi, meninggalkan apa yang disebut nyaman, menghancurkan semua bayang semu yang telah menjadi nyata. kini aku sudah bisa memelukmu bukan? Dalam jarak kita yang bermil-mil jauhnya, kini aku bisa melihatmu bukan? Dari keterbatasan panca indra, mata nyataku. Aku kini bisa dengan jelas merasakan kehadiranmu, kau bercerita, kau tertawa, kau memelukku hingga hangat kulit kita beradu bertukar dan berbicara.
  Lalu apa harus ku amini? Sedang semua itu masih terasa membekas di bagian kenikmatan kita.
  Aku tak akan menginginkanmu lebih, menjadikan milikku yang berwujud. Aku tak akan mengharapkanmu banyak, mewujudkanmu yang bermilik. Aku hanya meminta satu hal, seperti bulan, ijinkan aku setia pada malam. Walau terkadang juga kesiangan, maaf, itu tak sengaja. Jelas tak sengaja, karena kau lah yang mampu membuatku terang benderang, tak memucatkan aku seperti yang selalu dilakukan siang terhadapku. Ya, hanya kamu yang bisa membuatku seperti itu, bukan dia.
  Aku tahu, kau terlalu sayang, menginginkanku yang terbaik, menganggapmu bukan yang terbaik, tapi semua ini tak membuatku akan baik-baik saja, seperti yang kumau. Rubah saja keadaan kita sebagai, aku menjadi bakiak butut bekas sang terluka dan kamu menjadi sepatu convers yang masih mempunyai tuannya, yang terhanyut bersama di sebuah sungai panjang hidup kita. Dan biarkan airnya yang membawa kita kepada muara takdir, karena di muara takdir itulah kita tak akan pernah merasakan sakit akan jalanmu dan jalanku, jalan kita yang memang beda, atau nasib lebih tepatnya. Entah aku akan terus terombang ambing atau tersangkut pada jaring sang nelayan tua lalu membuangnya lagi dan kau kembali kepada sang tuanmu.
  Tapi sungai kita masih panjang, kita belum sampai pada yang disebut muara takdir. Nikmati sajalah, atau aku yang memang terlalu mengharapkan ini, sedang kau berkali-kali ingin pergi dariku, terlepas.

Kamis, 10 Juli 2014

DERITA GAZA

Terdengar suara peluru-peluru manari telanjang
Membabi buta tak karuan menerjang
Merenggut nyawa menyisakan luka yang panjang

Terlihat lelaki itu berlari, menghindari peluru menari
Ia tak peduli, meski telapak kaki tertancap kerikil berduri
Demi satu buah hatinya yang tersisa kini sendiri

Manusia-manusia menjerit, di tengah riuh gempur menggelegar
Bayi-bayi menangis, terlepas dari tetek ibunya yang mati bersandar pagar
Lalu lalat-lalat berpesta, di atas bangkai-bangkai yang berlumur darah segar

Aku menangis, menyaksikan mereka tertindas tanpa ampun
Aku menangis, mendengar jerit ketakutan minta ampun
Dan aku hanya bisa menangis, di atas doaku yang kuhimpun

Maafkan aku saudaraku, aku hanya bisa menangis, hanya bisa menangis
Merasakan lukamu, merasakan nasibmu yang mungkin sudah tergaris
Maafkan aku saudaraku, maafkan aku hanya bisa menangis tragis

Andai aku bisa hadir dan berdiri di sampingmu
Tak ku biarkan mataku menangis tanpa membelamu
Biar saja aku ikut mati, tanpa harus menangis melihatmu

Rabu, 02 Juli 2014

INIKAH SUNYARURIKU?

INIKAH SUNYARURIKU?

Sunyinya lebih sunyi dari kesunyian di kala sunyi
Sampai danur tak lagi ku cium anyirnya
Inikah sunyaruriku?
Yang sedang menikmati tubuhku
Menjilati sampai dingin merasuk beku di tubuhku
Aku mengigil sayang, tak bisa mati lagi
Aroma dupa seperti manari-nari puas
Di dalam kegelapan yang tak bertuan
Di atas tanah yang tak lagi bisa ku injak
Di tengah suara gagak yang terbahak
Di bawah desir angin malam yang memerindingkan segalanya
Sang purnama pun hanya mengintip ngeri
Dari celah kelopak bunga kamboja
Inikah sunyaruriku?
Di mana kamu sayang?
Entaskan aku dari tempat ini, sunyaruri
Usir mereka sayang
Atau bunuhlah mereka satu per satu
Dengan doamu...



Senin, 30 Juni 2014

WANITA SETIA



........................................
“seperti dalam cerita saja”
“ini bukan sebuah cerita dalam cerpen atau novel, aku sedang tidak menulis, kawan. Ini kenyataan, kenyataan tentang apa yang kurasa dalam hati. Kenyataan yang membuat aku seperti ini, terpenjara oleh perasaan yang kubuat sendiri, dulu saat masih bersama dia. Mungkin kau lelah mendengar celotehku tentang ini kawan, tapi aku akan tetap mengeluh. Entah sampai kapan aku akan mencintai dia, seseorang yang telah bisa menjadi detak dalam jantungku, menjadi nafas dalam tubuhku. Seseorang yang telah pergi meninggalkan aku. Sampai kini aku benar-benar tak bisa lagi mencintai orang lain lagi, sedang di luar sana banyak lelaki yang datang silih berganti menawarkan cinta dengan berbagai macam. Tapi entah sedikitpun aku tak bisa, apa aku terlalu dalam mencintai masa laluku? Apa aku memang tak bisa move on? Atau aku memang bodoh? Ah aku rasa bukan, tapi memang entahlah yang jelas aku tak bisa menerima salah satu dari mereka. Aku tetap mencintai masalaluku meski dia telah melakukan yang menyakitkan kepadaku”. Bibirnya terus berucap tanpa henti seperti cintanya yang tanpa henti mengalir kepada sang pangerannya yang entah di mana sekarang. Terasa jelas memang saat Dira melihat sorot mata sahabatnya itu yang masih mencintai pangerannya, bahkan sangat.
“iya aku ngerti kok. Sepertinya kamu memang butuh waktu untuk itu, untuk menerima takdirmu, atau memang seperti inilah suratan takdirmu kawan. Akupun tak mengerti, baru kali ini aku lihat ada orang sepertimu yang benar-benar mencintai seseorang sebegitu dalamnya, walau dia telah pergi. Andai dia bisa lihat dirimu, aku yakin dia pasti sangat menyesal meninggalkanmu, mungkin jika bisa, aku yakin dia pasti ingin kembali kepadamu”. Dira seperti memberi sebuah semangat kepada sahabatnya itu.
“ah sudahlah, tak pernah terpikirkan olehku hal itu, walau sebenarnya aku menginginkan hal itu”. tanggapan yang sangat biasa saja dengan wajah yang tak begitu sumringah. Memang hanya raut wajah yang biasa, tak ada binar cahaya yang keluar.
“tapi bagaimana menurutmu tentang mereka-mereka yang mencintamu?”. Lontar Dira tiba-tiba.
“emmmm, berbagai macam Dir. Ada yang hanya datang lalu pergi, ada yang tetap setia berdiri, ada yang Cuma menyapa, ada yang sekedar penasaran, yang pura-pura jatuh pun ada. Dan aku hanya tersenyum melihat mereka yang begitu”
“sebenarnya apa yang membuat kamu tak bisa menerima salah satu dari mereka? Sedang katamu ada yang masih setia berdiri? Kenapa tak kau coba saja menerima dia?”
“aku tetap tak bisa” jawabnya datar
“sudah kau coba?”
“coba apa?”
“mencoba menerima dia”
“aku takut melukai hatinya Dir. Sedang hatiku benar-benar tak bisa bohong Dir”
“mungkin kau hanya takut saja. Pelan-pelanlah”
“tak tahu lah Dir. Sepertinya aku lebih nyaman seperti ini”
“apa kau tak merasa kesepian sendiri”
“masih banyak teman-temanku Dir, seperti kamu salah satunya”
“tapi bukankah hidup pasti butuh seseorang pendamping suatu saat? bukan sekedar teman atau sahabat?”
“itu suatu saat Dir bukan sekarang dan aku sekarang masih merasa nyaman seperti ini, hidup dengan teman-temanku”
“ya ya ya, up to you lah”
“tenang saja, aku percaya takdir kok. Suatu saat akan aku terima takdirku, terlahir menjadi seorang istri, bahkan menjadi seorang ibu dari takdirku kelak Dir, meski dengan cinta atau tanpa cinta Dir. Karena aku tak yakin bisa mencintai orang lain lagi selain dia, meski aku bisa menerima takdirku” ucapannya ditimpal dengan senyum yang penuh tanda tanya.
“tapi itu kapan?” ekspresi Dira benar-benar penuh tanda tanya besar. “lihat usiamu sekarang? Ingat, 5 hari lagi kamu sudah genap berapa tahun coba? Kamu tak muda lagi. Apa kamu tak ingin seperti aku? Punya sebuah keluarga”
“aku ingin Dir, tapi Tuhan memang belum memberiku takdir itu Dir”
“kamu saja yang tak melihat takdir itu, lihat berapa banyak lelaki yang mendatangimu, mungkin Tuhan memberimu takdir dari salah satu dari mereka, kamu saja yang tak mencoba menerimanya”
“takdir Tuhan itu tak seperti itu Dir. Takdir Tuhan pasti punya jalannya sendiri, takdir pasti bisa datang kepadaku meski kututup rapat hati ini Dir, tapi lihat, sampai sekarang memang belum ada takdir itu”
“ah memang susah bicara denganmu soal ini” Dira mulai kesal melihat temannya.
“ah kamu, yang menjalani kan aku, aku saja santai gini, kenapa malah kamu yang ribet?” ikut-ikutan kesal melihat Dira
“ya salah sendiri, setiap aku datang ke sini kamu pasti mengeluh soal itu-itu saja, tapi tak pernah mau untuk berusaha. Sudahlah aku mau pulang dulu, aku harus jemput anakku dulu. Selamat menikmati kesendiriamu teman”

Minggu, 01 Juni 2014

AWAN SENJA BERBALUT PETRICHOR KECIL



  Kala itu, aku sedang terdiam tanpa kata menatap senja yang menjingga di langitku. Aku coba melukisnya lewat kata-kata di dalam benakku, mencoba sok puitis tepatnya. Tiba-tiba benakku terhenti merangkai kata-kata setelah segerombolan awan mendung berkejar-kejaran, membuat senja menjadi temaram di langitku tadi. Ah sial senjaku kini berganti gelap gulita. Aku pun mencoba mencari tempat berteduh setelah beberapa tetesan air mulai berjuntai berjatuhan menerpaku. Tanah kering kerontang yang terijak mulai basah sedikit demi sedikit terkena air hujan yang sudah mulai ribuan jumlahnya dan mulai tercium oleh hidungku sebuah aroma bau basah yang sangat ku kenal, petrichor, hatiku berkata. Aromanya membuatku berlabuh pada sebuah tempat di mana hanya ada kedamaian yang ku rasa.
“hei, boleh aku ikut berteduh di sini” ucapku kepada seorang lelaki yang lebih dulu berteduh di sini. Daripada tubuhku semakin basah kuyup, aku berteduh saja di sampingnya walau dia belum sempat berkata apa-apa kepadaku.
“oh, silahkan. Ini tempat umum, siapa saja boleh berteduh disini” jawabnya sambil melempar senyum kepadaku dan ku balas dengan senyumanku juga yang tumbuh subur di atas bibirku yang basah.
Beberapa menit berlalu, tak ada percakapan diantara kita setelah itu. kami berdua seakan asik menatap hujan yang terus membasahi bumi dan tempat kami berteduh, sebuah emperan toko yang sudah tutup. Seakan kami saling asik dengan imaji kami masing-masing tentang hujan ini.
“sepertinya kamu butuh ini” ia sodorkan jaketnya kepadaku, entah apa yang membuatnya akhirnya melakukan itu setelah kami beberapa waktu tak saling berkata. Atau mungkin ia melihat pelukan kedua tanganku tak mampu menutupi rasa menggigil yang kini tumbuh subur di tubuhku.
“nggak usah mas, makasih” tolakku karena aku tak enak jika harus memakai jaketnya dan menumbuhkan rasa menggigil juga di tubuhnya.
“tapi aku lihat kamu sangat menggigil dan aku rasa kamu memang membutuhkan ini buat menghangatkan tubuhmu” ucapnya begitu perhatian meski kami berdua belum saling mengenal. Dia sodorkan kembali jaketnya kepadaku, ditambah lagi dengan sebuah senyumnya kepadaku.
 “bener nih nggak apa-apa”
Ia kembali tersenyum, seakan sebuah jawaban ia selipkan diantara senyumnya. Aku menyentuh tangannya yang ternyata sama dinginnya dengan tanganku ketika aku mencoba meraih jaketnya.
“makasih mas” ucapku setelah ku kenakan jaketku. Lagi-lagi sebuah senyum keluar lagi dari bibirnya.
 “nama kamu siapa?” ucap kami berdua yang membuat kami saling senyum.
“namaku Senja” ucapku setelah aku berhenti tersenyum.
“aku Setiawan. Tapi kamu cukup memanggilku Awan saja, biar terdengar lebih keren”
Senyumku kembali tumbuh, tapi kali ini lebih hangat, seakan aku lupa dengan rasa dinginku yang membuat tubuhku menggigil.
“nama kamu cantik, seperti warna langit tadi sebelum akhirnya hujan merubahnya”
Dari situ, tanpa sadar kami di persatukan oleh obrolan yang membuat kita benar-benar lupa kalau kita sama-sama sedang menunggu hujan reda. Celoteh-celotehnya membuatku banyak melahirkan senyum. Ternyata dia orangnya konyol juga.
“oh iya, kamu sakit? Atau gantian kamu yang kedinginan? Karena aku baru sadar kalau bibir kamu terlihat pucat. Aku balikin jaketmu ya” tanganku seraya berusaha menanggalkan jaketnya dari tubuhku.
“nggak.. nggak kok, nggak perlu, sudah pakai saja jaketku” ucapnya cepat seolah tak setuju dengan aksiku tadi.
“tapi bibirmu pucat sekali”
“tapi aku baik-baik aja kok” elaknya.
“yakin nggak apa-apa?”
Lagi-lagi aku di beri sebuah jawaban melalui senyum dari bibir pucatnya.
Suara gelegar setelah petir menyambar membuatku tersentak tersadar dan aku dapati aku hanya seorang diri di sini, di tempat pertama kali dan terakhir kali aku bertemu dengannya. Entah kenapa saat aku tanpa sengaja dan berteduh di sini, bayangannya selalu hadir bersama aroma petrichor ini. Senyumnya, celotehnya dan segala tentang dia yang ku dapat meski dalam waktu yang singkat, masih sangat jelas ku ingat.
Satu hal yang membuat aku selalu bertanya-tanya kenapa aku tak pernah melihatnya kembali di sini atau di manapun meski waktu sudah berjalan selama hampir sepuluh tahun adalah bibirnya yang pucat. “apa dia pergi selamanya setelah hujan itu reda?” pertanyaan itu yang sampai kini tak pernah ku temukan jawabannya.


Kau sebar benih-benih air dari tanganmu
Kau hadirkan petrichor-petrichor kecil di tanahku
Dan kita, bercanda, tertawa sederhana seadanya
Berselimut petrichor yang terus menyeruak temani kita

Tapi haruskah kau pergi secepat itu?
Tanpa sepatah kata dimana, atau sepenggal alasan mengapa
Sedangkan kehadiranmu yang singkat
Mampu menumbuhkan petrichor-petrichor kecil di ingatanku

Kini yang ku ingat
Petrichor kecil itu adalah kamu...

Dariku, Senja.

Seperti biasa, ribuan sajak telah aku tulis untuknya sebagai tanda, aku masih mengingatnya. Lalu aku hanyutkan bersama air hujan, biar hujan ini yang membawakannya kepadanya yang entah di mana.