Selasa, 05 November 2013

cinta bukan modal utama...



Entah sudah berapa kali aku gagal dalam menjalani sebuah hubungan dengan seorang laki-laki sampai aku tak tahu mana yang cinta sejati mana yang bukan, mana yang cinta sebenarnya mana yang hanya sesaat atau sekedar kebutuhan saja. Ah.. aku sudah tak tahu bedanya, sepertinya kata terakhir yang tepat buatku kini, hanya sekedar kebutuhan saja. Sepertinya aku sudah tak menggunakan hati lagi dalam menerima semua lelaki yang mendekatiku, melainkan hanya mengalir begitu saja. Sebenarnya aku juga tak mau seperti ini, namun cinta sebelumnya telah menghancurkan hati ini hingga aku tak bisa melahirkan cinta lagi, tak bisa merasakan bagaimana itu cinta, bagaimana rasa manisnya cinta, aku sudah tak bisa lagi merasakan. Apalagi setelah cinta demi cinta datang silih berganti menyapa aku
Hingga hari ini, dimana tepat di hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku dengan seorang laki-laki yang telah meminangku 8 tahun lalu. Memang aku menerimanya bukan karena cinta, tapi semua itu mengalir begitu saja, aku hanya sekedar menjalani apa yang seharusnya aku jalani,  takdir mungkin lebih tepatnya. Lagi pula ini sudah memasuki jaman postmodernisasi, dimana tak perlu ada cinta dalam menjalankan pernikahan. Cinta sudah di kesampingkan. Sekarang yang terpenting hanyalah suka sama suka, hanya sekedar materi saja atau sekedar kebutuhan saja. Ya, aku rasa itu semua sudah cukup menjadi modal utama untuk melangsungkan pernikahanku dengannya.
Bukan aku sok munafik atau tak percaya dengan suatu pernikahan yang di dasari oleh cinta. Karena bagaimana bisa aku menyebut ini cinta jika selama ini aku di tipu daya oleh kata-kata cinta yang datang silih berganti, karena bagiku cinta itu hanya sekali dalam hidup, yaitu cinta yang bisa membuat kita bahagia yang bisa membuat kita nyaman yang bisa membuat kita semakin hidup dan itu adalah cinta pertamaku dengan lelaki yang telah meninggalkanku, bahkan sampai sekarang hanya ada cintanya yang masih tersimpan disini, bukan di hatiku yang telah hancur karenanya, tapi sudah menjadi nafas di tubuh ini.
Pernah aku selepasnya mencoba mencintai lelaki lain dan menjalani hubungan dengannya, aku selalu memaksakan hati ini untuk mengatakan “aku mencintainya” aku terus mengatakan seperti itu setiap kali di dekatnya atau saat dia ingin mendengarkan kata cinta padanya , tapi apa yang aku rasakan, hatiku justru semakin mengelaknya, semakin terluka saja ketika aku memaksakan diri mencintainya, tapi begitu aku bermain tanpa cinta, hatiku terasa nyaman hingga begitu seterusnya sampai terakhir dengan lelaki yang telah menjadikan aku seorang ibu dari anak-anaknya. Tapi bukan berarti aku hanya main-main dengan dia, aku sangat serius menjalani semua ini, tapi ya itu tadi, tanpa cinta, walaupun ada, itu hanya cinta yang bukan cinta sebenarnya, apalagi cinta sejati seperti pertama aku merasakan cinta.
Aku biarkan semua mengalir begitu saja seperti air, toh pada kenyataannya cinta tak begitu di perlukan dalam berumah tangga atau dalam penyatuan sel telur dan sperma. Sebagai contoh adalah aku. Aku masih bisa merasakan kebahagiaan hidup bersama swamiku yang sebenarnya tak aku cintai, bahkan aku telah melahirkan 2 anak dari pernikahan ini.
Entah sampai kapan aku akan merasakan seperti ini, menjalani sebuah keluarga tanpa ada cinta, namun bisa bertahan selama ini dan bisa merasakan kebahagiaan yang mungkin tak bisa di rasakan oleh mereka yang menikah atas nama cinta. Jika kita menelaah, dalam berumah tangga bukan cinta yang utama. Cinta lebih bermanfaat bagi mereka-mereka yang sedang kasmaran atau yang sedang PeDeKaTe. Ah aku rasa tidaklah mungkin seorang istri akan berkata seperti ini “tidak apa-apa jika hari ini kamu pulang tanpa membawa uang, yang penting kamu masih membawa cinta untukku mas”. Kata-kata yang tidak akan mungkin terucap oleh seorang istri. Jika ada, aku akan dengan lantang mengatakan “ANDA SUDAH GILA!!!!”.
“sedang apa sayang?” suara itu terdengar setelah sebelumnya aku dengar decitan pintu yang terbuka.
“tidak apa-apa mas, aku hanya menulis saja” aku segera saja menutup laptopku sebelum mas Bagas membaca apa yang aku tulis.
Ya, Bagas Saputro Wijoyo namanya, seorang lelaki mapan yang sampai saat ini tak pernah bisa aku cintai namun berhasil menikahiku dan memberiku 2 orang anak. Selama ini pula dia tak pernah tahu tentang perasaanku yang sebenarnya. Bukan karena aku berbohong dalam lisan kepadanya, tapi karena mas Bagas tak pernah menanyakan hal itu dari saat pertama bertemu, bahkan sampai saat melamarku. Kata-kata yang masih aku ingat sehari sebelum melamarkau adalah “kamu tak perlu mengatakan cinta atau membuktikan cintamu kepadaku, dengan menerima lamaranku besok, itu sudah cukup membuktikan bahwa kamu mencintaiku sama seperti aku mencintaimu”. Kata-kata yang akan selalu aku ingat dalam hidupku, bukan karena keromantisannya, melainkan kata-kata itu yang membuat aku merasa berdosa sekali, karena kata-kata itu salah besar. Bukan karena cinta aku menerima lamarannya, tapi karena mungkin dialah takdir untukku.
“selamat ulang tahun untuk pernikahan kita yang ke 8 sayang”. Ternyata tanpa aku sadari, dia membawa sebuah kue kecil yang di sembunyikan di belakang tubuhku saat masuk ke kamar ini. Kami berdua meniup lilin yang ada di atas kue itu bersama-sama. Aku tersenyum memandang wajahnya.
Mas Bagas memelukku erat sembari mencium keningku. Aku hanya diam saja menerima semua itu hingga tubuhku ia rebahkan di atas ranjang. Entah cinta atau bukan ini namanya, yang jelas kami sama-sama menikmatinya hingga pagi menjelang.

Minggu, 03 November 2013

Dan Bintang Aurora (kekasih imajinasi)



“makasih ya sayang buat malam ini” ucapnya setelah turun dari motorku
“iya sayang. Daagh sayang, sampai ketemu besok ya” ucapku kepadanya dengan posisiku yang masih di atas motor.
“iya sayang, dadagh. I love you” jawabnya yang sudah berdiri di sebelah kiriku.
Ucapan yang membuat anganku semakin melayang terasa acak dan anganku mulai tak beraturan, tertuju pada entah apapun itu hingga alam bawah sadarku yang menguasai semuanya. Itu artinya duniaku sudah berganti dengan dunia mimpi. Ya aku tertidur. Namun entah pada jam berapa aku sudah berada dalam dunia mimpi, aku tak pernah bisa mengetahuinya, yang jelas dunia mimpiku seakan begitu cepat menempatkan aku. Tepat jam enam pagi alarmku berbunyi dengan keras yang membuat dunia mimpiku hancur luluh lantah dan mengembalikan aku di dunia nyata.
Seperti biasa, rutinitas pagiku sangatlah padat. Aku harus merapikan kamarku yang setiap hari seperti kapal pecah walau setiap hari juga telah aku rapikan setelah bangun tidur, mengumpulkan pakaian-pakaian kotor dan mengantarkan ke laundry sebelah kost, setelah itu harus antri untuk bisa mandi. Maklum di kost ini hanya ada satu kamar mandi untuk semua nyawa yang jumlahnya sekitar 20 orang di kost ini. Bukan karena pemilik kost yang pelit menyediakan kamar mandi hanya satu, tapi anak-anak kost yang memang terlalu brutal memakai kamar mandi hingga membuat kamar mandi tak bisa di pakai lagi, alhasil kamar mandi yang tersisa yang masih bisa di pakai tinggal satu, itupun pintunya harus di ganjal dengan batu dari dalam agar tetap tertutup.
“tadi malam, malam mingguan kemana bro?” tanya Kendi yang sudah berada di belakangku yang juga mengantri untuk mandi.
Entah sejak kapan rutinitas bertanya kepadaku itu dia lakukan dan sejak itu juga jawaban dia selalu sama “ooo” dan dengan ekspresi yang datar pula, seperti tak ada sesuatu yang menarik setelah aku jawab setiap pertanyaanya walau jawabanku sepanjang apapun. Tapi yang aku heran, kenapa dia selalu bertanya kepadaku tentang aku dan pacarku.
“biasa, keluar ma Rora”. Kali ini jawabanku sangat singkat tak seperti biasanya. Aku sudah bosan menjawab dengan jawaban yang panjang, toh komentar dia akan sama.
“ooo” jawabnya.
Ah aku sudah bosan dengan komentarnya yang masih juga sama. Sebenarnya sudah sejak lama aku perhatikan raut wajahnya ketika mengomentari jawabanku atas pertanyaannya. Dan aku menangkap ada sesuatu yang tertulis di wajanya, tapi entah apa itu, rasanya memang aneh dengan semua komentar dia jika berhubungan dengan Rora dan aku tak mampu membaca dengan jelas apa yang tertulis itu. aku malas membahasnya, apalagi menanyakannya.
Aku bergegas masuk setelah aku lihat Rendi keluar dari kamar mandi. Belum sampai aku menanggalkan semua pakaianku, aku mendengar mereka seperti membicarakan sesuatu yang aku tak bisa mendengarnya dengan jelas, tapi jelas, mereka sedang membicarakan aku. “ah masa bodoh lah” ucapku dalam hati dan segera saja menyelesaikan mandiku ini karena aku ada janji dengan Rora untuk jalan-jalan, mumpung hari minggu.
“kayaknya ceria banget wajahmu bro? Di dalem dapat apaan?”
Aku tersenyum menyambut pertanyaan dari Kendi. Baru saja ingin aku jawab, dia sudah melempariku dengan pertanyaan lagi.
“oya, tumben pagi-pagi udah mandi, biasanya hari minggu kamu paling males mandi. mau pergi ya? Ma siapa nih?”
“yup bener, ma Rora”
“ooo”
“a o a o aja. Udah sana mandi” suruhku.
Kemeja kotak-kotak sudah terpakai, minyak wangi sudah tersebar di semua bagian tubuh, jeans hitam sudah melekat dan sepatu sudah siap. Waktunya untuk berangkat.
“kita mau kemana jalan-jalan kemana sayang?” ucapku.
“kemana saja yang penting bersama kamu sayang” jawabnya dengan tangan yang semakin erat melingkar di perutku dan ku rasakan kepalanya tersandar di pundakku.
Aku lihat cuaca sangat bersahabat, tidak begitu panas, hanya mendung tanpa ku lihat tanda-tanda akan turun hujan, sejuk aku rasakan, sesejuk pelukan Rora yang memelukku di belakang. Aku bawa dia ke sebuah taman, bermain, bercanda, dan bercerita apa saja. Aku seperti sepasang kekasih yang paling bahagia di dunia. Aku sangat sayang kepadanya dan begitu juga dengan dia, sangat sayang kepadaku.
Aku meneguk habis air putih yang sedari tadi tersedia di depanku. Seakan gurun pasir di kerongkonganku luntur sudah.
“sayang laper nih” ucap Rora dengan nada manja kepadaku. Nada-nada manja yang sering keluaar dari mulutnya itu yang membuat aku semakin sayang kepadanya. Seakan akulah segalanya di hatinya. Dan jujur, itu yang selalu aku rindukan darinya, nada-nada manja.
“ya udah kita cari tempat makan ya. Lagi pua kita juga udah lama di sini” ajakku beranjak dari taman. “mau makan apa?” lanjutku.
“apa sajalah. Sayang kan udah tahu apa saja makanan kesukaanku” ucapan yang di akhiri dengan senyum manis dan di tambah sedikit tingkah manjanya pula.
Aku bawa Rora ke tempat biasa, tempat yang jadi favoritnya juga. Oleh karena itu, hampir setiap minggu kami sering makan di tempat ini. Sampai hafal dengan semua waiter dan semua sudut tempat duduk sudah pernah kami tempati. Seperti biasa, dia memesan semua makanan kesukaannya, sampai para waiter sudah hafal dengan menu yang akan di pilih Rora. Dalam penantian semua makanan yang sudah kami pesan, aku terus mendengarkan cerita-ceritanya, memang dia orang yang sangat cerewet menurutku, tapi aku suka. Pas dengan aku yang lebih banyak diam. Jadi seimbang.
“entah kenapa setiap minggu aku makan disini dan makan makanan yang sama juga, aku tak pernah bosan”
 “maaf, boleh saya ke kamar mandi sebentar?” mungkin akibat minuman yang tadi aku teguk habis di tambah dengan AC yang lama kelamaan aku rasa semakin dingin. “oya, kamar mandinya di sebelah mana?” lanjut tanyaku setelah dia mengijinkanku. Bergegas aku menuju arah yang dia tunjukkan.
“aku tahu kenapa”
“kenapa sayang?” dengan raut wajah yang mengkerut tanda benar-benar ingin tahu.
“karena ada aku di depanmu sayang” aku akhiri dengan senyuman kepadanya.
“ah sayang bisa aja. Tapi bisa juga sayang” dia juga mengakhiri ucapannya dengan senyuman kepadaku.
Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama bersama dengan Rora, namun selalu saja waktu yang terus memisahkan kami berdua. Di menjelang petang aku harus mengantarnya ke rumahnya.
Tapi sering juga Rora aku ajak main ke kostku, bahkan tak jarang juga sampai larut malam di dalam kamarku, maklum saja kost yang kami tempati terlalu bebas. Banyak juga penghuni kost yang lain mengajak pacarnya untuk menginap. Tapi tidak untuk aku, aku bukan orang yang terlalu bebas untuk itu, aku masih punya norma-norma yang aku pegang. Tapi aku juga bukan orang yang terlalu lugu dalam berpacaran. Pernah waktu itu, aku di pergoki oleh Kendi saat aku lupa menutup pintu kamarku, saat itu aku tengah asik berciuman dengan Rora. Ya, aku baru ingat, sejak itulah Kendi sering bertanya yang menurutku aneh-aneh kepadaku. Tak jarang Kendi selalu berdehem atau sengaja batuk ketika lewat depan kamarku saat aku bersama Rora. Padahal dulu, dia tak seperti itu ketika aku masih berpacaran dengan Sofhi.
“iya, dia mantanku yang pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya dua tahun lalu, karena sakit yang dia idap terlalu parah. Namanya Sofhia Alamanda”
“kalau pacarmu yang sekarang, apa punya nama panjang?”
“iya, namanya Dan Bintang Aurora”
“apa mereka mirip?” tanyanya cepat.
“iya, mereka hampir sama. Sampai aku tak bisa membedakan mereka berdua”
“atau Rora itu sebenarnya adalah soudara kembar Sofhi atau memang Rora itu adalah Sofhi” ucapnya yang membuat aku bingung karena aku sudah lama berpacaran dengan Sofhi dan sudah mengenal semua anggota keluarganya, jadi tak mungkin kalau Rora adalah saudara kembar Shofhi. “Shofhi adalah Rora? Maksud anda Rora itu hantunya Sofhi? Tidak mungkin, semua yang aku lakukan bersama Rora terlalu nyata jika dikatakan Rora adalah hantu. Aku bisa memegang dia aku bisa memeluk dia, bahkan menciumnya dan pelukannya begitu nyata, jadi tak mungkin juga Rora adalah hantu dari Sofhi. Tapi memang yang membuatku bingung adalah, tiba-tiba dia menghilang begitu saja. Sedangkan hubungan kami baik-baik saja”
“bukan itu maksud saya”
“terus..” ucapku cepat menyela kata-katanya.
“jadi begini, setelah saya mendengar semua cerita saudara, saya menyimpulkan bahwa Rora sebenarnya tak nyata”
“saya semakin bingung dengan kata-kata anda, bisa tolong lebih di perjelas?”
“banyak orang yang merasa depresi dan stres ketika di tinggal orang yang sangat di cintainya. Sama seperti anda yang kehilangan Sofhi. Jika orang itu tak bisa mengatur pikirannya, otomatis pikiran itu akan berjalan dengan sendirinya, membuat sesuatu yang tidak nyata seolah-olah nyata. Jadi bisa di sebut, Rora itu adalah khayalan yang di munculkan oleh pikiran anda sendiri. Apa anda berpikir, kenapa teman anda sering bertanya kepada anda dan ketika anda jawab, dia hanya berkomentar “ooo”. Itu karena teman anda tahu bahwa Rora itu tidak ada. Dan waktu dia memergoki anda sedang di kamar berdua dengan Rora, teman ada hanya melihat anda itu sendirian sedang melakukan yang anda katakan tadi”
“berarti anda mengatakan saya gila?”
“tidak, anda tidak gila, hanya mengalami gangguan dalam pikiran anda, karena anda belum bisa menerima kenyataan bahwa Sofhi itu meninggal”
“trus kenapa Rora tiba-tiba menghilang”
“itu artinya seiring waktu berjalan anda sudah bisa melupakan Sofhi, dan pikiran anda secara otomatis berangsung kembali normal bersatu dengan semua anggota tubuh anda yang lain, dengan begitu, pikiran anda yang dulu selalu memunculkan sosok Rora sekarang tak bisa lagi”
“jadi, Rora itu hanya imajinasiku saja?”
“ya begitulah kira-kira”
Aku benar-benar tak percaya dengan penjelasan yang aku dapat, karena buatku, Rora begitu nyata menemani hari-hariku. Memang aku akui aku dulu terlalu sangat mencintai Sofhi sampai aku tak percaya kalu dia meninggal dunia. Tapi bagaimana keadaanku kini dan siapapun Rora, aku tak bisa melupakan kenangan-kenangan manis saat bersamanya, meski entah itu benar-benar terjadi atau tidak.

Sabtu, 02 November 2013

obrolan si miskin...

   "orang kok bisa punya mobil ya? kerjaanya apa ya ndut?" saat memandang sebuah mobil Honda Jazz yang terparkir di halaman rumah tak jauh dari gardu ronda dimana dia dan gendut berada.
   "kalo cuma beli sih gampang, tapi yang susah setelah belinya itu king. coba deh itung, sehari buat beli bensinya berapa, trus sebulan berapa, belum lagi buat perawatannya, itu baru buat mobil, belum lagi buat makan, uang jajan anaknya, bayar listrik, pulsa, kebutuhan rumah. apa cukup cuma ratusan ribu? nggak kan? pasti ampe jutaan kan? trus gajinya sebulan berapa ya? aku aja yang tiap hari kerja banting tulang ampe lupa waktu, masih aja miskin kayak gini" ucap gendut.
   "iya iya ndut. tapi yang jelas lebih dari pengeluaranya sebulan. trus berapa ya ndut?" tangannya sambil menggarut kepala bagian belakang. "kok bisa ya ndut? caranya gimana ya ndut biar bisa jadi orang kaya?"  lanjut dia bingung.
"wah aku juga nggak tau king. tapi besok kalo aku udah jadi orang kaya, aku kasih tahu caranya gimana" ucap gendut dan di akhiri dengan kekehan.
   "ah ngimpi kamu ndut, SMP saja kamu nggak lulus mau jadi orang kaya" ceking menyangkalnya.
   "iet..jadi orang kaya itu nggak harus lulusan sarjana king. coba lihat deh, bayak juga yang cuma lulusan SMP atau bahakan SD yang bisa jadi orang kaya. yang penting tu mau berusaha keras dan jangan malasan. percuma kan kalo lulusan sarjana tapi orangnya malasan, sama aja kan hayo?" dengan nada sok bijak
   "tapi...tadi kamu bilang kamu kerja ampe banting tulang aja masih aja miskin kan, hayo?" mulutnya sambil mengunyah ubi rebus, sedang gendut tengah asik menikmati kopi yang masih mengebul.
   "iya iya...trus apa yang salah ya king?" api yang tadi berpijar memancarkan kebijakan seketika redup padam setelah mendengar ucapan ceking tadi.
   "aku juga nggak tahu ndut. kalo aku tahu, aku pasti udah jadi orang kaya sejak dulu"
   mereka saling tatap tanpa ada sedikitpun sara yang keluar dari mulut mereka, hanya suara riuh dari acara di tv yang terdengar. dalam pikiranya mereka saling mencari sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu apa.
   "woi.. pada ngapain kalian bengong gitu. di suruh jaga malah pada bengong gitu, ntar kalo ada maling gimana?" ucap kribo yang baru saja datang.
   dengan jelas gendut menceritakan kembali apa yang sedang mereka bicarakan sedari tadi yang membuat akhirnya mereka saling melongo bengong.
    "o gitu. itu namanya, hidup kalian belum beruntung dan belum jadi rejeki kalian"
   "trus biar hidup kita beruntung dan jadi rejeki kita gimana?" tanya ceking penasaran yang di ikuti oleh gendut. "iya gimana caranya bo?"
   "berdoa dan berusaha, lalau tawakal, apapun hasilnya yang penting kita sudah berusaha. ingat Tuhan nggak akan menyia-nyiakan setetes keringat setiap umatNYA yang mau bekerja keras dan berdoa. entah sekarang atau suatu saat, DIA pasti akan membayarnya. oya satu lagi, dan jangan banyak tanya, apalagi banyak heran seperti kalian. liat orang kaya aja heran. ngerti nggak?"
   "iya ngerti" ucap ceking dan gendut kompak.
   "tapi jangan asal ngerti aja, di kerjakan juga apa yang aku bilang tadi"
   "tapi..kenapa kamu masih juga seperti kami?" ucap ceking
   "iya bo, jangan-jangan itu cuma omong doang? buktinya kamu masih seperti kita, hayo?" lanjut gendut
   "eee itu.. ee itu"
   akhirnya waktulah yang harus menghentikan obrolan yang entah kemana juntrungannya. bagi mereka, menjadi orang kaya hanyalah sebuah kutukan yang tak akan pernah terjadi dalam hidup mereka, bahkan bermimpi pun mereka tak bisa.


Kamis, 31 Oktober 2013

INGIN SEMBUH...

    ini adalah sebuah curhatan kepada gitar dan camera di kala sakit. SAKIT, adalah hal yang tak pernah aku mau, bahkan pasti kalian juga, dimana aku tak pernah bisa berbuat apa-apa, entah mau apa, hanya bisa terkapar terbaring lemah di kamar. bingung mau apa lagi selain hanya obat dan obat yang menjadi rutinitas menjejaliku meskipun aku bosan. 
   dari kejenuhan terbaring lemah di kamar, terbesit satu pikiran yang merambat memalui kesenanganku bermain gitar. sebuah rutinitas di kala mood selalu datang mendendangkan nada-nadaku sendiri, tanpa pikir panjang, ku ambil gitar, ku mainkan nada demi nada yang entah pas atau tidak dengan suaraku yang terserang radang tenggorokan, aku tetap memainkan nada-nada itu sampai terlahirlah lirik yang bisa di sebut juga sebagai curhatan di kala sudah bosan menderita sakit, aku ingin cepat sembuh. aku ingin cepat menaklukan kembali dunia yang aku sebut kenyataan.


  

Selasa, 29 Oktober 2013

bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi...

malam tiba bukan berarti aku sudah tidak mencintaimu lagi
ini hanya sebuah putaran waktu yang tersangkut pada malam
meski gelapnya dengan buas mencumbu aku
meski dinginnya memberi kenikmatan tersendiri
cintaku takkan hilang

malam tiba bukan berarti aku sudah puas dengan kamu
ini hanyalah jeda di antara apa yang kita perbuat sekarang
yang menjadikan nanti lebih dari sekedar awal
yang menjadikan kita semakin buas saja
karena cintaku takkan hilang di malam ini

malam ini, memang kita tak pernah tau apa yang terjadi
kita memang seperti dongeng cinderella
yang terpisah dari pangeran oleh dentingan lonceng di malam hari
tapi kita bukan mereka, kita hanya orang biasa
yang juga terpisah oleh malam

tapi tenang, malam ini, aku sudah menanamkan sebuah bunga sedap malam di hatimu
yang wanginya bisa kau nikmati sebagai pengganti wangi tubuhku
yang kelopaknya bisa kau remas-remas seperti ketika kamu gemas kepadaku
dan aku, juga sudah menyiapkan satu bunga untuk menamaniku juga
aku juga akan menikmatinya, meremas-remasnya
sampai benar-benar aku merasa itu adalah kamu

tapi, bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi
karena memang malam yang membuat ini ada... sementara
dan bila pagi telah datang kepada kita
kita adalah cerita nyata
seperti sebuah balada embun dan ujung daun
yang selalu menari riang...

Selasa, 22 Oktober 2013

BELASUNGKAWA....

Dulu kata eyang buyutku, sungai disini ndak seperti ini, airnya ndak berwarna coklat, ndak ada sampah-sampah yang hanyut. Bahkan kata eyang buyutku, beliau sering mandi di sungai ini bersama teman-temannya dan banyak yang di lakukan enyang buyutku di sungai ini. karena kono katanya, air sungai disini sangat jernih, bahkan tak jarang enyang buyutku bisa melihat ikan yang berenang bebas di sungai. Tapi itu dulu, sekarang, jangankan ikan, air jernih saja sudah ndak ada sejak pabrik itu berdiri dengan sombongnya. Entah kenapa tak ada satupun yang bisa melihat kesedihan ini, kesedihan yang di rasakan oleh sungai, andai dia bisa bicara, dia akan berteriak agar kita semua mendengar jeritanya. Tapi seandainya bisa pun, itu sudah terlambat, dia sudah mati sebelum kita sempat mendengar jeritanya. Racun pabrik itu yang telah membunuh sungai ini dengan cepat dan memperkosa jasadnya sebagai saluran hasratnya yang kotor dari pada kotoran hewan.
Aku yakin, bukan hanya sungai saja yang menangis, tapi enyang buyutku pun menangis di sana jika melihat sungai yang dulu di jadikannya sebagai sumber kehidupan warga telah menjadi seperti ini. jangankan manusia, ikan-ikanpun enggan berada disungai ini lagi. dan sungaiku sudah terlalu mati. Mati di tangan penguasa yang hanya mementingkan secuil nafsu belaka. Entah kenapa semua ini bisa terjadi, di depanku tak ada yang dapat ku lihat selain hanya sebuah kenangan indah tentang sungai ini yang terus mengalir entah kemana bersama pekatnya aliran sungai yang menyengat hidungku.
Masih tak habis pikir aku terpaku di sini, cerita enyang buyutku seakan terus membuatku penasaran dengan asrinya sungaiku yang sama sekali tak bisa aku saksikan secara langsung. Aku tidak butuh cerita, apalagi dongen, yang ku butuhkan hanyalah bisa memanjakan mata dengan melihat asrinya sungai ini dan bisa merasakan segarnya mandi di sungai ini seperti yang eyang buyutku selalu lakukan. Jika aku bisa memutar waktu, apapun aku lakukan agar tak pernah ada cerita seperti ini, cerita tentang keindahan sungai ini. dan aku, tak akan repot untuk bercerita kepada anak cucuku kelak karena memang tak ada yang bisa ku ceritakan tentang sungai ini, biar mereka sendiri menyaksikan betapa asrinya sungai ini sepanjang jaman. Tapi apa daya, kenyataan tentang kekuatan penguasa terlalu besar untuk di lawan, bahkan bermimpi saja aku tak mampu.
Kini sungai di depanku sudah menjadi budak dari sang arogannya pabrik itu. entah sampai kapan pabrik itu tetap berdiri kokoh merusak sungai, bahkan lingkungan-lingkungan lainya, aku tak tahu, hanya Tuhan dan sang penguasa itu sendiri yang tahu. Aku terlalu lemah untuk membinasakan keangkuhanya, merobohkan setiap dinding pabrik itu, aku tak bisa apa-apa. Aku hanya bisa bersedih melihat sungai ini tak sejernih air mataku, aku hanya bisa... belasungkawa.

PAGI DI TAMAN (bag.10 SHJ)



        Pagi yang cerah, embun masih setia menyelimuti dedaunan dan menyejukkan sekitar. Tersapa hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat embun seakan menari gelisah di ujung daun yang runcing. Kupu-kupu kecil berwarna-warni berterbangan lalu hinggap tepat di tengah bunga itu, bercengkrama dan menghisap setiap putik-putik di benang sarinya.
            Arya yang duduk di dekatnya memandang setiap gerak-gerik ringannya di atas bunga tadi. Terlihat resah, seakan kupu-kupu tadi tahu ada yang sedang mengawasi, cepat dia terbang dan berlalu hinggap ke bunga yang lebih jauh.
            Sorotan mata Arya masih mengikuti kupu-kupu itu kemana pergi, hingga pandangannya beralih ke arah seorang gadis yang sedang jogging dengan anak kecil gemuk di sebelahnya, mereka menuju ke arah dimana ia sedang duduk santai setelah lelah berolah raga. Semakin dekat jaraknya, semakin jelas juga wajah yang mengkilat basah karena derasnya keringat yang mengalir dari wajanya. Dia adalah gadis berambut panjang yang memiliki senyuman manis itu.
Seperti biasa gadis itu hanya melemparkan senyum ketika lewat depan Arya. Senyuman yang memang sudah ia hafal betul karena ia kerap mendapatkannya dari gadis itu, gadis yang belum ia ketahui namanya.
            Di kesempatan yang langka, ia mencoba memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Ia menyapanya. Dan gadis itu hanya membalas dengan kata yang sama seperti yang di lontarkan Arya tadi tanpa menambahkan kata lain dan tanpa berhenti sejenak. Tanpa pikir panjang ia beranjak dari tempat duduknya lalu mengejar gadis itu yang sudah agak jauh. Ia berharap dalam hatinya bisa tahu nama sang pemilik senyuman itu. “hai” sapanya sekali lagi setelah ia sejajar dengan gadis itu di sebelah kanannya.
            Jingga terkejut dengan suara Arya yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya “hai juga..” jawabnya sambil menoleh ke arah Arya.
            “boleh gabung jogging ma kalian kan?”
            “boleh kok” jawabnya mengizinkan yang telah diperkuat  dengan senyuman kepada Arya.
            Beberapa menit sudah Arya jogging bersama Jingga, tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya untuk memulai obrolan, seakan ada gembok besar yang mengunci mulutnya. Ia berusaha sekuat tenaga melepas gembok itu dengan kata-kata yang sudah di rancang dalam hatinya.
            “kamu apanya bu Lastri?” tanya Jingga tiba-tiba mendahului Arya yang baru saja ingin menbuka mulutnya.
            “aku keponakannya” jawabnya langsung. Wajauhnya terlihat lega karena telah menemukan bahan untuk memulai obrlannya. “kamu kenal sama budhe Lastri?” ia bertanya balik
            “ya kenal lah, bu Lastri kan termasuk orang terpandang di daerah sini, lagipula rumahku juga ndak jauh dari sini kok”
            Memang benar apa yang di katakana Jingga, budhe Lastri termasuk orang terpandang di daerah ini karena suaminya adalah pegawai negeri walau hanya sebatas pegawai kecamatan. Dan karena keramahannya juga kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau, membuat budhe Lastri tambah di segani di daerahnya.
“pantesan sering lihat kamu lewat depan rumah”
            Jingga hanya tersenyum manis tanpa berkata-kata atau bertanya sesuatu lagi. Begitu juga Arya tak tahu harus bertanya apa lagi, tapi kali ini ia paksa mulutnya untuk menanyakan nama gadis itu selagi punya kesempatan pikirnya. “oh iya. nama kamu siapa?”
            Jingga yang mendengar pertanyaan itu lalu menoleh dan mulai menjawab. Namun belum sempat ia mengucap namanya, suaranya terhenti karena pandangannya beralih ke arah anak kecil yang berlari di depan mereka dari tadi. Bayu adiknya itu terjatuh tersandung batu dan membuat Jingga melupakan perkenalan tadi. Pikirannya sekarang hanya kepada Bayu. Jingga bergegas menolong Bayu yang terjatuh.
            Bayu mencoba berdiri dengan di topang kakaknya yang wajahnya terlihat sangat kawatir. Dan sepertinya Bayu tak kuat lagi untuk berjalan pulang karena kakinya terkilir. Tanpa di minta, Arya segera saja mengendongnya setelah tadi berkata “biar aku gendong saja adik kamu”. Karena ia tahu kalau kakaknya tidak akan kuat menggendong adiknya yang gendut itu. Hanya sepuluh menit mereka sudah sampai di rumah gadis itu. Tapi sudah cukup membuat pinggang Arya merasa pegal oleh beban seberat itu.
            “sudah sampai sini saja, biar aku yang menggendongnya masuk” pintanya setelah di depan rumahnya.
            “udah sekalian masuk aja nggak apa-apa”
            “bener ndak apa-apa? Aku kasihan sama kamu, keliatannya capek banget dari taman gendong si Bayu”
            “masih kuat kok” ucap Arya yang sebenarnya sudah tidak kuat lagi.
            “ya sudah masuk yuk”
            Arya menurunkan anak itu di atas kursi sofa dengan motif bunga-bunga warna merah. “aawww” rintih Bayu saat tanpa sengaja tangan Arya menyentuh kaki Bayu yang terkilir tadi. Jingga langsung masuk ke ruang bagian tengah yang tertutup dengan tirai tipis sehinnga masih terlihat samar-samar bagian dalamnya. Tak lama kemudian wanita paruh baya yang pasti itu adalah ibunya karena wajahnya sama dengan foto keluarga yang terpajang di tembok itu, keluar tanpa Jingga.
            Wajahnya terlihat kawatir dengan anak laki-lakinya. Dengan menggenggam sesuatu ditangannya, lalu mendekati Bayu tanpa memperdulikan Arya yang duduk di sofa yang lain. Tangannya langsung sibuk mengoleskan minyak ke kaki Bayu yang terilir dan mengurutnya. Bayu hanya mengerang menahan sakit.
            Saat itu tidak ada pembicaraan diantara Arya dan ibu anak itu, hanya suara Bayu yang terdengar mengerang kesakitan dari tadi. Hampir empat menit sudah ia menyaksikan pemandangan ini dan hanya duduk terdian tanpa di ajak mengobrol atau ada sebuah pertanyaan yang terlontar buat dirinya. “kalau begitu saya pamit dulu bu” ucap Arya yang tiba-tiba dan membuat wanita itu tersadar dengan keberadaan Arya di ruang yang sama lalu menghentikan pijatannya.
            “oh maaf ibu ndak sadar kalau ada nak” ucapnya berhenti saat ingin menyebut nama Arya yang belum di ketahuinya.
            “saya Arya bu” sahutnya cepet memperkenalkan diri.
            “iya nak Arya. Maaf ya. tadi yang mengantar Bayu pulangnya?” ucapnya meneruskan apa yang akan ia ucapkan tadi. “jangan buru-buru, ibu bikinin minum dulu ya”
            Arya tersenyum. “nggak usah repot-repot bu” ucap Arya sebelum ibu itu pergi ke dalam.
             “sekali ibu minta maaf ya. Ibu terlalu kawatir dengan Bayu, jadi ndak sadar kalau ada nak Arya di sini”
            nggak apa-apa kok bu. ya sudah saya pamit dulu bu”
            “sekali terima kasih nak Arya sudah mau mengantar Bayu pulang”
            “sama-sama bu”. Arya beranjak dari kursi sofa tadi dan berjalan keluar.
            Tepat setelah Arya menghilang di balik pintu, Jingga datang dengan membawa segelas air minum dingin yang di bawanya dari dalam.
            “loh mana dia bu?”
            “sudah pulang baru saja”
            “yah. padahal baru aja Jingga bikinin minum”
            “kamu kelamaan bikin minumnya”
            “ya tadi nyari sirupnya susah, biasanya ada di lemari tadi ndak ada”
            “buat aku saja ya kak, aku juga haus nih” pinta Bayu
            “enak saja, kakak juga haus nih”
            “sudah jangan rebutan gitu, kamu juga ndak mau ngalah sama adiknya”
            “iya iya” Jingga dengan nada ketus dan menaruh minuman itu di meja
            “itu tadi teman kamu nduk?”
            “bukan sih bu?”
            “bukan?” dengan nada heran “kok bisa naganterin Bayu pulang?”
            “tadi ketemu di taman bu. Tapi sudah sering liat dia di sekitar sini”
            “oh gitu ya”
            “ya sudah Jingga masuk dulu bu”
ӝӝӝӝӝӝӝ

            “kamu kenapa Ar senyum-senyum gitu? habis lewat kuburan mana tadi?” tanya Heru yang sedang asik dengan gitarnya yang sudah usang karena setiap hari gitar itu selalu menemani Heru jika sedang senggan di rumah. Maklum saja heru adalah gitaris di band kampusnya.
            “enak aja. Kamu pikir aku lagi kesambet setan gitu?” dan Arya duduk di samping heru “lagi seneng nih”
            “seneng atau emang udah gila kamu”
            “kamu tu yang gila” ucapnya kesal
            “emang seneng kenapa to kamu?”
            “mau tahu aja urusan orang”. Lalu Arya bergegas pergi ke dalam rumah meninggalkan Heru.
            “woo emang kesambet setan beneran kamu Ar” ucapnya keras.
ΩΩΩΩΩ