Entah
kenapa Rora mulai kesal dengan kondisi persahabatannya yang semakin rumit.
Pasalnya, hubungan persahabatanya mulai hancur sejak kehadiran Dani. Seorang
laki-laki yang membuat dua sahabatnya saling bermusuhan dan di tambah lagi satu
sahabatnya tiba-tiba menghilang setelah sempat curhat kepadanya.
Pagi
itu hari sabtu, Rora mengumpulkan semua sahabatnya di rumah Marsha. Rora merasa
semua ini harus di bicarakan bersama karena Rora menginginkan hubungan
persahabatannya kembali membaik seperti semula yang utuh.
“kita
harus tunggu Shopie karena sebelum menghilang, dia sempat curhat sesuatu yang
menyangkut masalah ini” ucap Rora
“tapi
apa dia sudah tahu kalau kumpul di rumahku?” tanya Marsha.
“aku
tadi sudah telpon dia dan aku sempat cerita sedikit tentang ini” jawab Rora
“terus
jawabannya?” tanya lagi Marsha
“iya,
dia akan kesini” jawab singkat Rora.
“ah
sudahlah, percuma dia datang karena aku rasa dia tidak tahu apa-apa.emang dasar
Tashanya aja yang keganjenan godain Dani, udah tahu dia milik aku, masih aja di
deketin” ucap Devi kesal.
“enak
aja kamu bilang, pacarmu tu yang playboy” bantah Tasha
“kenapa
kamu jadi ngatain pacarku playboy? Jelas-jelas kamu yang godain dia duluan. Dia
juga pernah bilang kalau kamu pernah maksa dia untuk nganter kamu cari buku, iya
kan?” ucap Devi dengan nada keras.
“apa??
Nggak salah denger nih aku? Justru dia yang...” kata-kata Tasha terhenti oleh
ucapan Rora yang menyela.
“sudah..
sudah.. kalian berdua bisa diem nggak sih? Aku bilang tunggu Shopie” suara Rora tak kalah kerasnya.
Devi
dan Tasha hanya bisa terdiam dan saling membuang muka.
“coba
deh kamu telpon dia lagi Ra” suruh Marsha
Segera
saja Rora mengambil handphonenya dan langsung menelpon kembali Shopie.
“halo
Shop... kamu udah nyampe mana? Oo ya sudah, kami tunggu ya”
“gimana
Ra, dia sudah nyampe mana?” tanya Marsha.
“udah
di jalan, bentar lagi nyampe katanya” jawab Rora
“kalau
gitu aku buatin minum dulu ya” ucap Marsha lalu pergi ke dapur.
Seketika
suasana menjadi sepi, tak ada yang bicara, semua hanya terdiam. Pandangan Devi
dan Tasha masih tetap sama, tak berubah sedikitpun. Rora yang melihat
pemandangan itu mulai kesal kembali dan kembali angkat bicara.
“aku
tuh nggak habis pikir dengan kalian. Kita sudah berteman sejak SMA, bahkan kita
sudah seperti saudara, sekarang Cuma gara-gara satu cowok saja kalian jadi
musuhan. Kamu juga Tas, apa kamu pikir masalah ini akan selesai dengan kamu
memutuskan untuk pindah kuliah? Enggak Tas. Justru masalah ini akan semakin
rumit”
“sudah...
nih minum dulu. Sepertinya kamu juga mulai emosi Ra. Kan kamu sendiri yang
bilang, kita harus tunggu Sophie” ucap Marhsa yang sudah berada di antara
mereka sembari tangannya menaruh gelas-gelas di meja. “tuh sepertinya Shopie
sudah datang” lanjut Marsha yang mendengar suara mobilnya.
“hai
semuanya, apa kabar? Maaf aku terlambat, tadi masih ada urusan yang harus aku
selesaikan di rumah” ucap Shopie
tiba-tiba yang masih berjalan menuju ke mereka. “aduh-aduh kok wajahnya pada
mendung gitu” lanjutnya setelah sampai dan tangannya tanpa basa basi menyambar
gelas yang berada di meja tadi.
“sebaiknya
kamu duduk dulu biar kita bisa mulai pembicaraannya” suruh Rora.
Dan
Shopie pun menuruti apa kata Rora termasuk Marsha yang tadi masih saja berdiri
di dekat Rora.
“sekarang
pokok permasalahannya ada pada Dani yang membuat kalian berdua jadi musuhan.
Dan sekarang coba kamu ceritakan Shop apa yang kamu ketahui tentang Dani
seperti kamu pernah cerita kepadaku” ucap Rora lanjut.
Raut
wajah Shopie yang tadi terlihat bercanda seketika berubah dengan raut wajah
yang serius.
“jadi
begini, asal kalian tahu, Dani itu tak sebaik yang kalian kira. Dani itu bukan
hanya playboy, tapi lebih dari itu. Rendi itu penjahat kelamin” ucap Shopie
dengan nada yang benar-benar serius,
beda dengan raut wajah seperti saat pertama dia datang.
“maksud
kamu?” tanya Tasha dengan wajah bingung
“iya,
apa maksud kamu dengan kata-kata itu?” wajah Devi tak kalah bingung.
Begitupun
dengan Marsha yang tak tahu apa-apa tentang Dani. Tapi dia hanya diam karena
sebenarnya dia tak begitu ambil pusing tentang Dani meski wajahnya juga
menunggu kepastian tentang kata-kata yang keluar dari mulut Shopie tadi.
“kalian
berdua nggak tahu kan kelakuan Dani di belakang kalian dan sudah berapa banyak
ceweek yang jadi korbannya” lanjut Shopie
“sudah
jangan bertele-tele. Langsung saja katakan apa maksud kamu dengan bicara
seperti itu tentang Dani” ucap kesal Devi.
“makanya
dengerin dulu sampai selesai kalau ada orang ngomong. Oya sebelum aku lanjutin,
asal kamu tahu Dev, aku nggak punya maksud apa-apa seperti yang pernah kamu
tuduhkan ke aku dulu. Tapi sudahlah, itu nggak penting. Sekarang yang penting
adalah, kalian salah merebutkan cowok. Dani itu hipersex, dia pacaran nggak
pernah serius, dia Cuma ngincer keperawanan setiap cewek yang jadi pacarnya.
Dan korbannya, udah nggak bisa di hitung lagi” tutur Shopie.
“pantes
dia ngejar-ngejar aku juga” imbuh Tasha.
“nggak
mungkin dia seperti itu. kamu Cuma mengada-ada kan? Apa buktinya?” ucap Devi
masih tak percaya.
“aku
pernah tanpa sengaja mendengar pembicaraan Dani dengan temannya di kampus
mengenai hal itu” ucap Shopie.
“buatku
itu bukan bukti kongkrit. Bisa saja kamu mengarang cerita agar aku bubar dengan
Dani, iya kan?” tuduh Devi.
“nggak
ada untungnya aku mengarang cerita ini” lalu tangan Shopie meraih handphonenya
yang ada di dalam tas. “ini buktinya, aku merekam semua percakapan antara
mereka”
Mereka
semua terdiam mendengarkan rekaman yang di putar Shopie.
“sebenarnya
waktu itu aku ingin memberikan rekaman ini ke kamu Dev, tapi justru apa yang
kamu bilang? Kamu justru menuduh aku ingin merebut Dani dari kamu. Lalu kamu
pergi begitu saja tanpa mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan ke kamu.
Jujur saja, saat itu aku sempat marah atas tuduhan itu. tapi dari situ aku
mulai mencari tahu info tentang Dani lebih jauh, termasuk siapa saja korbannya.
Bukan karena seperti yang kamu tuduh ke aku, tapi karena aku nggak rela melihat
sahabatku menjadi salah satu korban Dani, apalagi dia juga mendekati Tasha
sekaligus yang akhirnya membuat kalian musuhan. Aku Cuma nggak ingin lihat
kalian musuhan, aku ingin persahabatan ini tetap utuh, itu saja” ucap Shopie
yang mulai membuat Devi dan Tasha tertunduk.
“sekarang
kalian mengerti kan bagaimana bejatnya Dani? Apa sekarang kalian masih mau
merebutkan cowok yang benar-benar nggak pantas untuk kalian apalagi harus
mengorbankan persahabatan kita yang sudah terjalin selama 6 tahun lebih? Ayo
buka mata kalian, dia nggak pantas untuk kalian” tandas Rora.
“aku
nggak tahu harus bilang apa sekarang. Aku hanya bisa menyesal dan menyesal. Aku
benar-benar minta maaf sama kamu Shop telah menuduhmu yang bukan-bukan” ucap Devi lirih penuh penyesalan.
“ah
sudahlan, aku juga nggak benar-benar marah sama kamu Dev. Sekarang yang aku
minta ke kalian Cuma satu. Lupain Dani, karena persahabatan ini jauh lebih
berharga dari seorang Dani” tutur Shopie penuh bijak.
Wajah-wajah
penuh emosi dan mendung tadi pun sirna, berubah dengan senyum yang merekah bak
mentari sedang merangkak naik menyinari bumi di pagi hari. Mereka berlima pun berdiri
dan saling merapat, saling berpelukan erat dengan di warnai air mata penuh
haru.
Akhirnya
permasalahan yang membuat hancurnya persahabtan di antara mereka berlima bisa
terselesaikan juga hanya dengan bicara bersama.
Sepertinya
hari itu menjadi awal kembalinya persahabatan mereka yang sempat hancur oleh
kesalah pahaman dan seseorang yang memang tak pantas untuk diperebutkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar