Kamis, 21 November 2013

BICARA...



Entah kenapa Rora mulai kesal dengan kondisi persahabatannya yang semakin rumit. Pasalnya, hubungan persahabatanya mulai hancur sejak kehadiran Dani. Seorang laki-laki yang membuat dua sahabatnya saling bermusuhan dan di tambah lagi satu sahabatnya tiba-tiba menghilang setelah sempat curhat kepadanya.
Pagi itu hari sabtu, Rora mengumpulkan semua sahabatnya di rumah Marsha. Rora merasa semua ini harus di bicarakan bersama karena Rora menginginkan hubungan persahabatannya kembali membaik seperti semula yang utuh.
“kita harus tunggu Shopie karena sebelum menghilang, dia sempat curhat sesuatu yang menyangkut masalah ini” ucap Rora
“tapi apa dia sudah tahu kalau kumpul di rumahku?” tanya Marsha.
“aku tadi sudah telpon dia dan aku sempat cerita sedikit tentang ini” jawab Rora
“terus jawabannya?” tanya lagi Marsha
“iya, dia akan kesini” jawab singkat Rora.
“ah sudahlah, percuma dia datang karena aku rasa dia tidak tahu apa-apa.emang dasar Tashanya aja yang keganjenan godain Dani, udah tahu dia milik aku, masih aja di deketin” ucap Devi kesal.
“enak aja kamu bilang, pacarmu tu yang playboy” bantah Tasha
“kenapa kamu jadi ngatain pacarku playboy? Jelas-jelas kamu yang godain dia duluan. Dia juga pernah bilang kalau kamu pernah maksa dia untuk nganter kamu cari buku, iya kan?” ucap Devi dengan nada keras.
“apa?? Nggak salah denger nih aku? Justru dia yang...” kata-kata Tasha terhenti oleh ucapan Rora yang menyela.
“sudah.. sudah.. kalian berdua bisa diem nggak sih? Aku bilang tunggu Shopie”  suara Rora tak kalah kerasnya.
Devi dan Tasha hanya bisa terdiam dan saling membuang muka.
“coba deh kamu telpon dia lagi Ra” suruh Marsha
Segera saja Rora mengambil handphonenya dan langsung menelpon kembali Shopie.
“halo Shop... kamu udah nyampe mana? Oo ya sudah, kami tunggu ya”
“gimana Ra, dia sudah nyampe mana?” tanya Marsha.
“udah di jalan, bentar lagi nyampe katanya” jawab Rora
“kalau gitu aku buatin minum dulu ya” ucap Marsha lalu pergi ke dapur.
Seketika suasana menjadi sepi, tak ada yang bicara, semua hanya terdiam. Pandangan Devi dan Tasha masih tetap sama, tak berubah sedikitpun. Rora yang melihat pemandangan itu mulai kesal kembali dan kembali angkat bicara.
“aku tuh nggak habis pikir dengan kalian. Kita sudah berteman sejak SMA, bahkan kita sudah seperti saudara, sekarang Cuma gara-gara satu cowok saja kalian jadi musuhan. Kamu juga Tas, apa kamu pikir masalah ini akan selesai dengan kamu memutuskan untuk pindah kuliah? Enggak Tas. Justru masalah ini akan semakin rumit”
“sudah... nih minum dulu. Sepertinya kamu juga mulai emosi Ra. Kan kamu sendiri yang bilang, kita harus tunggu Sophie” ucap Marhsa yang sudah berada di antara mereka sembari tangannya menaruh gelas-gelas di meja. “tuh sepertinya Shopie sudah datang” lanjut Marsha yang mendengar suara mobilnya.
“hai semuanya, apa kabar? Maaf aku terlambat, tadi masih ada urusan yang harus aku selesaikan di rumah”  ucap Shopie tiba-tiba yang masih berjalan menuju ke mereka. “aduh-aduh kok wajahnya pada mendung gitu” lanjutnya setelah sampai dan tangannya tanpa basa basi menyambar gelas yang berada di meja tadi.
“sebaiknya kamu duduk dulu biar kita bisa mulai pembicaraannya” suruh Rora.
Dan Shopie pun menuruti apa kata Rora termasuk Marsha yang tadi masih saja berdiri di dekat Rora.
“sekarang pokok permasalahannya ada pada Dani yang membuat kalian berdua jadi musuhan. Dan sekarang coba kamu ceritakan Shop apa yang kamu ketahui tentang Dani seperti kamu pernah cerita kepadaku” ucap Rora lanjut.
Raut wajah Shopie yang tadi terlihat bercanda seketika berubah dengan raut wajah yang serius.
“jadi begini, asal kalian tahu, Dani itu tak sebaik yang kalian kira. Dani itu bukan hanya playboy, tapi lebih dari itu. Rendi itu penjahat kelamin” ucap Shopie dengan  nada yang benar-benar serius, beda dengan raut wajah seperti saat pertama dia datang.
“maksud kamu?” tanya Tasha dengan wajah bingung
“iya, apa maksud kamu dengan kata-kata itu?” wajah Devi tak kalah bingung.
Begitupun dengan Marsha yang tak tahu apa-apa tentang Dani. Tapi dia hanya diam karena sebenarnya dia tak begitu ambil pusing tentang Dani meski wajahnya juga menunggu kepastian tentang kata-kata yang keluar dari mulut Shopie tadi.
“kalian berdua nggak tahu kan kelakuan Dani di belakang kalian dan sudah berapa banyak ceweek yang jadi korbannya” lanjut Shopie
“sudah jangan bertele-tele. Langsung saja katakan apa maksud kamu dengan bicara seperti itu tentang Dani” ucap kesal Devi.
“makanya dengerin dulu sampai selesai kalau ada orang ngomong. Oya sebelum aku lanjutin, asal kamu tahu Dev, aku nggak punya maksud apa-apa seperti yang pernah kamu tuduhkan ke aku dulu. Tapi sudahlah, itu nggak penting. Sekarang yang penting adalah, kalian salah merebutkan cowok. Dani itu hipersex, dia pacaran nggak pernah serius, dia Cuma ngincer keperawanan setiap cewek yang jadi pacarnya. Dan korbannya, udah nggak bisa di hitung lagi” tutur Shopie.
“pantes dia ngejar-ngejar aku juga” imbuh Tasha.
“nggak mungkin dia seperti itu. kamu Cuma mengada-ada kan? Apa buktinya?” ucap Devi masih tak percaya.
“aku pernah tanpa sengaja mendengar pembicaraan Dani dengan temannya di kampus mengenai hal itu” ucap Shopie.
“buatku itu bukan bukti kongkrit. Bisa saja kamu mengarang cerita agar aku bubar dengan Dani, iya kan?” tuduh Devi.
“nggak ada untungnya aku mengarang cerita ini” lalu tangan Shopie meraih handphonenya yang ada di dalam tas. “ini buktinya, aku merekam semua percakapan antara mereka”
Mereka semua terdiam mendengarkan rekaman yang di putar Shopie.
“sebenarnya waktu itu aku ingin memberikan rekaman ini ke kamu Dev, tapi justru apa yang kamu bilang? Kamu justru menuduh aku ingin merebut Dani dari kamu. Lalu kamu pergi begitu saja tanpa mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan ke kamu. Jujur saja, saat itu aku sempat marah atas tuduhan itu. tapi dari situ aku mulai mencari tahu info tentang Dani lebih jauh, termasuk siapa saja korbannya. Bukan karena seperti yang kamu tuduh ke aku, tapi karena aku nggak rela melihat sahabatku menjadi salah satu korban Dani, apalagi dia juga mendekati Tasha sekaligus yang akhirnya membuat kalian musuhan. Aku Cuma nggak ingin lihat kalian musuhan, aku ingin persahabatan ini tetap utuh, itu saja” ucap Shopie yang mulai membuat Devi dan Tasha tertunduk.
“sekarang kalian mengerti kan bagaimana bejatnya Dani? Apa sekarang kalian masih mau merebutkan cowok yang benar-benar nggak pantas untuk kalian apalagi harus mengorbankan persahabatan kita yang sudah terjalin selama 6 tahun lebih? Ayo buka mata kalian, dia nggak pantas untuk kalian” tandas Rora.
“aku nggak tahu harus bilang apa sekarang. Aku hanya bisa menyesal dan menyesal. Aku benar-benar minta maaf sama kamu Shop telah menuduhmu yang bukan-bukan”  ucap Devi lirih penuh penyesalan.
“ah sudahlan, aku juga nggak benar-benar marah sama kamu Dev. Sekarang yang aku minta ke kalian Cuma satu. Lupain Dani, karena persahabatan ini jauh lebih berharga dari seorang Dani” tutur Shopie penuh bijak.
Wajah-wajah penuh emosi dan mendung tadi pun sirna, berubah dengan senyum yang merekah bak mentari sedang merangkak naik menyinari bumi di pagi hari. Mereka berlima pun berdiri dan saling merapat, saling berpelukan erat dengan di warnai air mata penuh haru.
Akhirnya permasalahan yang membuat hancurnya persahabtan di antara mereka berlima bisa terselesaikan juga hanya dengan bicara bersama.
Sepertinya hari itu menjadi awal kembalinya persahabatan mereka yang sempat hancur oleh kesalah pahaman dan seseorang yang memang tak pantas untuk diperebutkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar