Hingga
di suatu hari saat ia sedang asik di kantin sendiri, ia
melihat sosok seorang lelaki yang tak asing baginya. Lama ia memperhatikan
lelaki itu, lelaki yang sedang di kelilingi tiga cewek centil menggodanya. “kok kayak si Dimas ya?” ia berusaha
mengingat-ingat dengan jelas dulu memang Dimas sempat bilang kalau dirinya akan
pindah ke Jogjakarta waktu kelas 3 SMP. Dan sejak itu mereka tak saling memberi
kabar. Arya mulai yakin ketika mendengar salah satu cewek itu memanggil nama
Dimas. Ia mencoba mendekatinya yang entah masih ingat dengan dirinya atau
tidak, karena memang penampilan Arya tak seperti waktu SMP dulu. Dengan sedikit ragu Arya memanggilnya yang
sedang asik bercanda dengan tiga cewek tadi. “Dimas”. Dimas
hanya menoleh heran dengan lelaki yang memanggil dirinya, begitu juga dengan
tiga cewek itu. “bener Dimas kan?” sekali lagi Arya berkata kepadanya untuk
meyakinkan.
“iya
bener, kamu siapa ya?” Dimas balik bertanya
dengan heran dan mengingat-ingat siapa lelaki yang ada di depannya.
“gua Arya, teman
lo waktu SMP dulu”
“Arya” Dimas mengerutkan dahi mengingat
nama itu. Seketika wajah itu berubah namun sedikit ragu. “Arya yang culun yang
pake kaca mata itu?” akhirnya Dimas ingat dengan jelas si Arya yang memang
sudah berubah penampilannya.
“yup bener” jawab Arya singkat dan
tersenyum.
“kenapa lo bisa di sini? Udah gitu,
penampilan lo juga berubah nggak kayak dulu
yang culun pake kaca mata gitu” Tanya Dimas heran melihat Arya yang
ada di depannya. Sampai Dimas tak percaya dengan apa yang di lihat di depan
matanya. Bukan karena Arya ada di hadapannya, tapi lebih karena penampilannya
yang memang seratus delapan puluh derajat beda.
“gua
di sini kuliah lah, bukan cari cewek kayak lo. dan soal kaca mata, panjang
ceritanya, kapan-kapan aja gua ceritain”
“kuliah disini? yang
bener? ni udah semester lima, masak kita baru ketemu sekarang?”
lagi-lagi Dimas tak percaya dengan apa yang di dengarkan.
“ya jelas kita baru aja ketemu
sekarang, orang gua baru aja pindah di semester ni”
“kenapa?”
“ada masalah di
kampus sebelumnya”
“hebat” Dimas
bertepuk tangan salut pada Arya.
“kok
hebat? hebat kenapa?” Arya mengerutkan wajah
heran dengan tingkah Dimas yang tiba-tiba bertepuk tangan.
“iya hebat. waktu SMP nggak
pernah sekali pun bikin masalah, apalagi dapet masalah, sekarang begitu kuliah langsung dapet
masalah ampe pindah segala”
“kami pergi dulu ya Dim” cewek-cewek
itu yang sudah merasa di cuekin oleh Dimas
langsung pamitan pergi.
“oke deh”
“dadaagh Dimas” ucap mereka serempak
yang di baut semanja mungkin.
“ternyata aji mumpung lo masih lo pake
ya buat gebet cewek-cewek gatel kaya mereka? Heran gua dari dulu masih aja lo
kayak gitu”
“masih dong, lagian mereka sendiri yang deketin gua, secara kucing di kasih ikan, mana nolak, ya nggak?”
Dimas tersenyum.
“terserah lah” ucapnya datar
seakan tak mau ambil pusing dengan apa yang di lakukan temannya yang sudah
sejak kecil ia tahu sifatnya.
“cerita dong kenapa bisa kuliah
disini”
“udah lah nggak penting juga gua cerita”
“oh gitu ya? trus kenapa nggak
kasih kabar gua?”
“la emang gua tau keberadaan lo, no telepon aja nggak
punya, salah sendiri nggak
kasih kabar”
“iya
iya sorry. maen kerumah gua yuk”
Arya
tak lansung menjawabnya, dari raut wajahnya ia sedang memikirkan antara menerima
atau menolak ajakan Dimas, karena ia sebenarnya sudah ada janji dengan Heru.
“udah
nggak usah mikir. udah nggak
ada jam kuliah juga kan?” serobotnya setelah melihat Arya terlalu lama
berfikir.
Tanpa
sempat menolak akhirnya Arya pergi juga ke rumah Dimas yang baru saja bertemu
di kantin. Setelah di tempat parkir, setelah melihat mobil yang di pakai Dimas
itu seakan memberi penjelasan yang jelas kenapa cewek-cewek tadi nempel terus
dengan Dimas. Sebuah mobil Honda Jaz putih dengan modifikasi dan airbrush yang
elegan terparkir mentereng di antara mobil-mobil yang lain. Jelas cewek mana
yang tak akan tertarik dengan Dimas, kalaupun ada mungkin cewek itu baru turun
dari planet
krypton yang tak butuh kendaraan seperti itu.
“pantesan
aja cewek-cewek pada nempel gitu” ucap Arya yang sedari tadi melihat semua sudut
mobil Dimas sebelum akhirnya ia masuk kedalam yang langsung di sambut dengan
hawa dingin bercampur aroma parfum mobil yang lembut.
“ya jelas lah. Dimas” Dimas dengan nada
sombongnya yang tak ketulungan dari kecil.
Sepanjang
jalan mereka asik mengobrol tentang masa lalu, seakan reuni ini memutar kembali
kenangan-kenagan di masa SMP dulu. Walau hanya berdua saja namun suasananya
terasa satu kelas ada di situ. Memang di waktu SMP mereka adalah teman dekat
sekaligus tetangga sebelah rumah. kemana-mana
mereka selalu berdua meski sifat mereka berlainan dan sebelum akhirnya Dimas
pindah ke jogjakarta.
Hari
itu adalah hari yang tidak
disangka-sangka bagi meraka, setelah sekian lama terpisah tanpa komunikasi lagi
akhirnya bertemu lagi di kota itu, di kampus yang
sama pula. Seakan teman yang hilang telah kembali lagi.
“gimana ni kabar teman-teman SMP sejak
gua pindah?”
“wah tenang
banget” wajahnya seperti lega “pokoknya damai, tentram, nggak
ada keributan lagi” ucapnya tersenyum menyindir Dimas yang dijuluki sebagai
troble maker di sekolahnanya.
“sial lo. lo kata gua biang keributan?”
Dimas menyangkal.
“ya begitulah kira-kira” Arya tersenyum
lagi.
“iya iya deh” Dimas agak sinis
mengakui “o ya gimana bu Wati sekarang?”
”bu Wati yang gendut itu? Terakhir
liat dia masih aja gendut. o ya
lo paling suka kan ngerjain dia?”
Dimas
tertawa lebar mengingat saat-saat masih SMP, saat tiap hari selalu mengerjain
bu Wati wali kelasnya itu. Bagi dia tiada hari tanpa mengerjain bu Wati yang
galak, hingga tidak terhitung lagi sudah berapa kali
Dimas kena hukuman dari bu Wati mulai dari lari keliling lapangan, ngepel kamar
mandi atau berdiri di depan kelas dengan kaki kiri di lipat keatas dan tangan
kanan memegang telinga kiri, tapi tetap saja dia tak jera untuk mengerjai bu
Wati. “gatel tangan gua kalo nggak ngerjain
dia” Dimas melanjutkan tertawanya membuat Arya juga ikut tertawa kecil. “o ya
trus gimana tu si, emm siapa tu namanya yang lo taksir dulu?” Dimas
melanjutkan.
“Devi”
“iya si Devi, bukannya
waktu gua mau pindah lo punya rencana buat nembak dia?”
Arya tak menjawab, malah sinar wajahnya
tiba-tiba mendadak perlahan meredup mendengar pertanyaan Dimas tentang masalalu
itu, tentang kejadian yang membuatnya malu yang tidak
terlupakan sampai ia beranjak dewasa.
“kenapa lo Ar?” Dimas yang sadar dengan
perubahan di wajah Arya. “ada yang salah ya ma pertanyaan gua?” Dimas yang
sibuk menyetir menoleh sekali lagi ke arah Arya yang masih terdiam
dari tadi “gua tau ni, pasti
di tolak kan?” ucap sok tahu Dimas dan akhirnya tertawa keras walau tak tahu
itu benar atau salah.
Arya
dengan wajah murungnya terpaksa menjawab pertanyaan itu. “sebenernya gua belum
sempet nembak dia Dim, waktu itu gua…” Arya berhenti bicara sejenak
“kenapa Ar?” Tanya Dimas mulai
penasaran.
“waktu itu gua…” dan pikirannya melayang kembali ke masa itu.
“Aryaa!!!”
panggil bu Wati. “sedang sibuk nulis apa kamu?” bentak bu Wati yang
merasa Arya cuekin ketika sedang menjelaskan pelajarannya.
“nggak
nulis apa-apa kok bu” jawabnya gemetar sambil ia tutup perlahan buku di
depannya itu.
“ibu perhatikan
tadi kamu asik nulis sesuatu waktu ibu menerangkan, sini
coba lihat?” ibu Wati mendekatinya
dengan wajah garang yang menbuat Arya semakin gemetar ketakutan dan mengambil
buku tulis di depannya. Ia mulai takut
bercampur malu kalau puisi itu sampai di baca depan teman-teman.
“apa ini Arya?” tanya bu Wati dengan
nada marah setelah melihat tulisan itu. “sini maju kedepan”
Denagn
gugup ia melangkah berjalan kedepan dengan kepala menunduk dan berhenti tepat
disamping bu Wati.
“cepat kamu baca ini di depan
teman-teman kamu” bu Wati memberikan buku itu kepadanya.
Dengan
keadaan masih tertunduk ia mencoba melirik ke arah teman-teman yang terdiam,
mungkin juga takut melihat bu Wati yang sedang marah kepadanya.
Dengan
terbata-bata ia mulai membaca tulisannya sendiri di buku itu. Baru saja bebera
bait ia baca, satu demi satu teman-temannya mulai melepaskan tawanya karena
sudah tak tahan untuk menahan tawanya setelah
mendengar puisi yang ia bacakan di depan kelas. Dalam beberapa menit
saja, semua yang ada di kelas akhirnya
tertawa keras menertawainya, mereka sudah tak perduli dengan wajah bu Wati yang
masih garang seperti macan ingin menangkap mangsanya.
“hahahaha…”
tawa lepas Dimas juga menertawainya yang sedari tadi mendengarkan cerita Arya. “untung
gua nggak ada disana, coba
kalo ada, gua anak yang paling keras ketawa” Dimas
masih meneruskan tawanya dan semakin keras dari sebelumnya, seakan itu adalah
lelucon paling lucu dalam hidupnya. “lucu..lucu”
“lucu apanya?” tanya Arya yang wajah
bertolak belakang dengan wajah Dimas.
“lucu aja, ada anak SMP mau nembak
cewek pake puisi. lo kira anak SMP
bisa klepek-klepek cuma dengan puisi? yang
ada malah muntah kali Ar. malu-maluin
aja lo” Dimas masih saja tak berhenti tertawa.
“lagian lo tu ada-ada aja ya, nembak cewek pake puisi, cemen banget tau, nggak gentle, lebay, kemayu kata orang
jawa”
“udah deh jangan
tertawa mulu. suatu saat lo yang ngalamin kayak gitu, baru tau rasa lo”
“apa?” Dimas seolah-olah kaget “gua
nembak cewek pake puisi? sorry
ya, anti, nggak bakalan Ar” dengan wajah sombong
seakan-akan tak akan pernah terjadi “gua masih punya harga diri buat nggak nglakuin
hal yang malu-maluin kayak gitu”.
“liat aja ntar, kalo itu terjadi, gua
yang akan tertawa paling keras di depan lo” ucapnya seperti mendoakan hal itu
akan terjadi kelak.
“oke kita liat aja ntar” dengan nada
optimis tak akan pernah terjadi.
Mereka
terdiam sesaat dan sampailah mereka di depan halaman rumah Dimas.
“turun yuk” ajak Dimas.
Mereka
berjalan ke dalam rumah besar itu. Tapi nampak terlihat sepi ketika mereka
sampai di dalam. Orang tua Dimas sibuk bekerja semua dan Dimas adalah anak
semata wayangnya. Makanya Dimas sedikit
sombong karena selalu dimanja dengan kemewahan orang tuanya sejak kecil.
“bonyok lo kerja semua Dim?” Tanya Arya yang sedari tadi clingak-clinguk kanan
kiri mencari mahkluk hidup selain mereka berdua. “trus rumah segede gini cuma
di tempatin bertiga?” lanjut Arya yang sudah tahu kalau Dimas anak semata
wayang. Namun belum sempat di jawab oleh Dimas, tiba-tiba
mbok Jum orang yang membantu mengurus rumah saat di tinggal orang tua Dimas
menyapa dari ruang tivi yang mereka lintasi untuk sampai ke kamar Dimas.
Kini obrolan yang tadi di mobil
mereka ungsikan ke kamar Dimas. Dengan berteman beberapa makanan kecil dan juga
minuman yang baru saja di antar oleh mbok Jum,
mereka semakin rileks untuk bercerita lagi mengulas masa-masa kecil sewaktu
masih bersama.
Habisnya satu toples makanan
berakhir juga cerita masa kecil mereka. Namun tetap saja berlanjut ke
pertanyaan Dimas tentang bagaimana ceritanya Arya bisa sampai di Jogakarta
dan yang paling utama adalah penasarannya Dimas oleh penampilan Arya yang
sekarang. Akhirnya Arya menjawab semua pertanyaan Dimas yang menjadi teka-teki
besar dalam otaknya. Jawaban yang membuat Dimas hanya bisa melongo tak percaya
dengan apa yang dikatakan Arya, namun itu terjadi.
“lo udah kemana aja selama di sini”
Tanya Dimas dan kini jawaban yang membuat Dimas tertawa keras heran dengan
temannya yang satu ini, ternyata perubahan hanya dalam penampilannya saja tapi
sifatnya masih saja seperti dulu. “kirain lo berubah total Ar” lanjut Dimas
menggeleng-gelengkan kepalanya tanda heran.
“gua emang nggak
begitu suka keramaian Dim” jawabnya tak peduli dengan sindiran yang merambat
lewat tawa keras Dimas tadi. Pertanyaan yang sudah ia antipasti sebelumnya
karena ia tahu pasti pertanyaan itu akan keluar dari mulut Dimas. Ajakan dan
bujuk rayu Dimas pun tak mengubah kemalasan Arya untuk pergi ke tempat
keramaian apalagi clubing. Entah kenapa Arya tak pernah suka ke tempat-tempat
seperti itu, ia justru suka ke tempat-tempat yang sepi, mungkin tempat seperti
itu Arya lebih bisa melepaskan kepenatan dan mendapatkan ketenangan. Tempat
seperti itu juga yang membuat Arya menjadi lebih imajinatif tuk di tuangkan
dalam bentuk puisi.
“ah payah lo Ar”
Namun Arya hanya bisa tersenyum saja
melihat ekspresi di wajah temannya itu yang sudah pasrah tak tahu harus
mengatakan apa lagi dan berakhir dengan mengganti dengan topik lain yang lebih
segar.
Hari
sudah menjelang sore, mereka masih saja asik ngobrol di kamar Dimas walau
makanan di toples sudah habis semua. Maklum sudah lama mereka tidak bertemu
jadi ada-ada saja hal yang mereka obrolin, mulai dari hal sepele, bercanda
sampai yang serius juga mereka obrolkan bak ibu-ibu sedang ngerumpi di acara
arisan.
Lirih
suara mobil terdengar dari kejauhan dan semakin keras sampai suara itu mati
tepat di halaman rumah Dimas yang mengundang tanya dalam hati Arya. “bonyok lo
pulang Dim?” Tanya Arya menebak.
“bukan.
cuma nyokap gua aja. Dan bokap masih ntar”
“oh gitu ya, kirain bareng” Arya
beranjak dari tempatnya. “anterin gua pulang Dim ,udah
sore ni” lalu pintanya.
“ntar napa, baru
aja jam enam, udah mau balik kandang aja
lo Ar. Masak kalah ma banci” sindir Dimas. “banci aja jam segini baru keluar”
lanjut Dimas.
“ah
bodo. Emang gua pikirin. Udah yuk ah, gua juga pengen mampir ke toko buku
bentar, ada yang harus gua beli”
Dimas
beranjak dari posisinya yang sudah nyaman dan terpaksa mengantar temannya
pulang.
ΩΩΩΩΩ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar