Minggu, 08 September 2013

TEMAN YANG HILANG (bag.5 SHJ)

            Hari-hari petama Arya kuliah di kampusnya yang baru masih tak banyak yang ia kenal selain Heru yang juga kuliah disana, di sebuah Universitas Negeri di Jogjakarta. Beberapa minggu bahkan bulan berlalu ia kuliah  disana tapi masih sama tidak ada perubahan yang berarti, masih tetap rutin dengan aktifitas yang monoton, hanya pergi ke kampus lalu pulang, seperti itu seterusnya selama beberapa bulan.
            Hingga di suatu hari saat ia sedang asik di kantin sendiri, ia melihat sosok seorang lelaki yang tak asing baginya. Lama ia memperhatikan lelaki itu, lelaki yang sedang di kelilingi tiga cewek centil menggodanya. “kok kayak si Dimas ya?” ia berusaha mengingat-ingat dengan jelas dulu memang Dimas sempat bilang kalau dirinya akan pindah ke Jogjakarta waktu kelas 3 SMP. Dan sejak itu mereka tak saling memberi kabar. Arya mulai yakin ketika mendengar salah satu cewek itu memanggil nama Dimas. Ia mencoba mendekatinya yang entah masih ingat dengan dirinya atau tidak, karena memang penampilan Arya tak seperti waktu SMP dulu.  Dengan sedikit ragu Arya memanggilnya yang sedang asik bercanda dengan tiga cewek tadi. “Dimas”. Dimas hanya menoleh heran dengan lelaki yang memanggil dirinya, begitu juga dengan tiga cewek itu. “bener Dimas kan?” sekali lagi Arya berkata kepadanya untuk meyakinkan.
“iya bener, kamu siapa ya?” Dimas balik bertanya dengan heran dan mengingat-ingat siapa lelaki yang ada di depannya.
            “gua Arya, teman lo waktu SMP dulu”
            “Arya” Dimas mengerutkan dahi mengingat nama itu. Seketika wajah itu berubah namun sedikit ragu. “Arya yang culun yang pake kaca mata itu?” akhirnya Dimas ingat dengan jelas si Arya yang memang sudah berubah penampilannya.
            “yup bener” jawab Arya singkat dan tersenyum.
            “kenapa lo bisa di sini? Udah gitu, penampilan lo juga berubah nggak kayak dulu yang culun pake kaca mata gitu” Tanya Dimas heran melihat Arya yang ada di depannya. Sampai Dimas tak percaya dengan apa yang di lihat di depan matanya. Bukan karena Arya ada di hadapannya, tapi lebih karena penampilannya yang memang seratus delapan puluh derajat beda.
“gua di sini kuliah lah, bukan cari cewek kayak lo. dan soal kaca mata, panjang ceritanya, kapan-kapan aja gua ceritain”
            “kuliah disini? yang bener? ni udah semester lima, masak kita baru ketemu sekarang?” lagi-lagi Dimas tak percaya dengan apa yang di dengarkan.
            “ya jelas kita baru aja ketemu sekarang, orang gua baru aja pindah di semester ni”
             “kenapa?”
             “ada masalah di kampus sebelumnya”
             “hebat” Dimas bertepuk tangan salut pada Arya.
“kok hebat? hebat kenapa?” Arya mengerutkan wajah heran dengan tingkah Dimas yang tiba-tiba bertepuk tangan.
            “iya hebat. waktu SMP nggak pernah sekali pun bikin masalah, apalagi dapet masalah, sekarang begitu kuliah langsung dapet masalah ampe pindah segala”
            “kami pergi dulu ya Dim” cewek-cewek itu yang sudah merasa di cuekin oleh Dimas langsung pamitan pergi.
            “oke deh”
            “dadaagh Dimas” ucap mereka serempak yang di baut semanja mungkin.
            “ternyata aji mumpung lo masih lo pake ya buat gebet cewek-cewek gatel kaya mereka? Heran gua dari dulu masih aja lo kayak gitu”
             “masih dong, lagian mereka sendiri yang deketin gua, secara kucing di kasih ikan, mana nolak, ya nggak?” Dimas tersenyum.
              “terserah lah” ucapnya datar seakan tak mau ambil pusing dengan apa yang di lakukan temannya yang sudah sejak kecil ia tahu sifatnya.
              “cerita dong kenapa bisa kuliah disini”
             udah lah nggak penting juga gua cerita
             “oh gitu ya? trus kenapa nggak kasih kabar gua?”
              “la emang gua tau keberadaan lo, no telepon aja nggak punya, salah sendiri nggak kasih kabar”
“iya iya sorry. maen kerumah gua yuk”
Arya tak lansung menjawabnya, dari raut wajahnya ia sedang memikirkan antara menerima atau menolak ajakan Dimas, karena ia sebenarnya sudah ada janji dengan Heru.
“udah nggak usah mikir. udah nggak ada jam kuliah juga kan?” serobotnya setelah melihat Arya terlalu lama berfikir.
Tanpa sempat menolak akhirnya Arya pergi juga ke rumah Dimas yang baru saja bertemu di kantin. Setelah di tempat parkir, setelah melihat mobil yang di pakai Dimas itu seakan memberi penjelasan yang jelas kenapa cewek-cewek tadi nempel terus dengan Dimas. Sebuah mobil Honda Jaz putih dengan modifikasi dan airbrush yang elegan terparkir mentereng di antara mobil-mobil yang lain. Jelas cewek mana yang tak akan tertarik dengan Dimas, kalaupun ada mungkin cewek itu baru turun dari planet krypton yang tak butuh kendaraan seperti itu.
“pantesan aja cewek-cewek pada nempel gitu” ucap Arya yang sedari tadi melihat semua sudut mobil Dimas sebelum akhirnya ia masuk kedalam yang langsung di sambut dengan hawa dingin bercampur aroma parfum mobil yang lembut.
            “ya jelas lah. Dimas” Dimas dengan nada sombongnya yang tak ketulungan dari kecil.
            Sepanjang jalan mereka asik mengobrol tentang masa lalu, seakan reuni ini memutar kembali kenangan-kenagan di masa SMP dulu. Walau hanya berdua saja namun suasananya terasa satu kelas ada di situ. Memang di waktu SMP mereka adalah teman dekat sekaligus tetangga sebelah rumah. kemana-mana mereka selalu berdua meski sifat mereka berlainan dan sebelum akhirnya Dimas pindah ke jogjakarta.
            Hari itu adalah hari yang tidak disangka-sangka bagi meraka, setelah sekian lama terpisah tanpa komunikasi lagi akhirnya bertemu lagi di kota itu, di kampus yang sama pula. Seakan teman yang hilang telah kembali lagi.
            “gimana ni kabar teman-teman SMP sejak gua pindah?”
             “wah tenang banget” wajahnya seperti lega “pokoknya damai, tentram, nggak ada keributan lagi” ucapnya tersenyum menyindir Dimas yang dijuluki sebagai troble maker di sekolahnanya.
            “sial lo. lo kata gua biang keributan?” Dimas menyangkal.
            “ya begitulah kira-kira” Arya tersenyum lagi.
            “iya iya deh” Dimas agak sinis mengakui “o ya gimana bu Wati sekarang?
            ”bu Wati yang gendut  itu? Terakhir liat dia masih aja gendut. o ya lo paling suka kan ngerjain dia?”
            Dimas tertawa lebar mengingat saat-saat masih SMP, saat tiap hari selalu mengerjain bu Wati wali kelasnya itu. Bagi dia tiada hari tanpa mengerjain bu Wati yang galak, hingga tidak terhitung lagi sudah berapa kali Dimas kena hukuman dari bu Wati mulai dari lari keliling lapangan, ngepel kamar mandi atau berdiri di depan kelas dengan kaki kiri di lipat keatas dan tangan kanan memegang telinga kiri, tapi tetap saja dia tak jera untuk mengerjai bu Wati. “gatel tangan gua kalo nggak ngerjain dia” Dimas melanjutkan tertawanya membuat Arya juga ikut tertawa kecil. “o ya trus gimana tu si, emm siapa tu namanya yang lo taksir dulu?” Dimas melanjutkan.
            “Devi”
            “iya si Devi, bukannya waktu gua mau pindah lo punya rencana buat nembak dia?”
             Arya tak menjawab, malah sinar wajahnya tiba-tiba mendadak perlahan meredup mendengar pertanyaan Dimas tentang masalalu itu, tentang kejadian yang membuatnya malu yang tidak terlupakan sampai ia beranjak dewasa.
            “kenapa lo Ar?” Dimas yang sadar dengan perubahan di wajah Arya. “ada yang salah ya ma pertanyaan gua?” Dimas yang sibuk menyetir menoleh sekali lagi ke arah Arya yang masih terdiam dari tadi “gua tau ni, pasti di tolak kan?” ucap sok tahu Dimas dan akhirnya tertawa keras walau tak tahu itu benar atau salah.
            Arya dengan wajah murungnya terpaksa menjawab pertanyaan itu. “sebenernya gua belum sempet nembak dia Dim, waktu itu gua…” Arya berhenti bicara sejenak
            “kenapa Ar?” Tanya Dimas mulai penasaran.
            “waktu itu gua…” dan pikirannya melayang kembali ke masa itu.
            “Aryaa!!!” panggil bu Wati. “sedang sibuk nulis apa kamu?” bentak bu Wati yang merasa Arya cuekin ketika sedang menjelaskan pelajarannya.
             nggak nulis apa-apa kok bu” jawabnya gemetar sambil ia tutup perlahan buku di depannya itu.
             “ibu perhatikan tadi kamu asik nulis sesuatu waktu ibu menerangkan, sini coba lihat?” ibu Wati mendekatinya dengan wajah garang yang menbuat Arya semakin gemetar ketakutan dan mengambil buku tulis di depannya. Ia  mulai takut bercampur malu kalau puisi itu sampai di baca depan teman-teman.
            “apa ini Arya?” tanya bu Wati dengan nada marah setelah melihat tulisan itu. “sini maju kedepan”
            Denagn gugup ia melangkah berjalan kedepan dengan kepala menunduk dan berhenti tepat disamping bu Wati.
            “cepat kamu baca ini di depan teman-teman kamu” bu Wati memberikan buku itu kepadanya.
            Dengan keadaan masih tertunduk ia mencoba melirik ke arah teman-teman yang terdiam, mungkin juga takut melihat bu Wati yang sedang marah kepadanya.
Dengan terbata-bata ia mulai membaca tulisannya sendiri di buku itu. Baru saja bebera bait ia baca, satu demi satu teman-temannya mulai melepaskan tawanya karena sudah tak tahan untuk menahan tawanya setelah  mendengar puisi yang ia bacakan di depan kelas. Dalam beberapa menit saja, semua yang ada di kelas akhirnya tertawa keras menertawainya, mereka sudah tak perduli dengan wajah bu Wati yang masih garang seperti macan ingin menangkap mangsanya.
“hahahaha…” tawa lepas Dimas juga menertawainya yang sedari tadi mendengarkan cerita Arya.untung gua nggak ada disana, coba kalo ada, gua anak yang paling keras ketawa” Dimas masih meneruskan tawanya dan semakin keras dari sebelumnya, seakan itu adalah lelucon paling lucu dalam hidupnya. “lucu..lucu”
            “lucu apanya?” tanya Arya yang wajah bertolak belakang dengan wajah Dimas.
            “lucu aja, ada anak SMP mau nembak cewek pake puisi. lo kira anak SMP bisa klepek-klepek cuma dengan puisi? yang ada malah muntah kali Ar. malu-maluin aja lo” Dimas masih saja tak berhenti tertawa. “lagian lo tu ada-ada aja ya, nembak cewek pake puisi, cemen banget tau, nggak gentle, lebay, kemayu kata orang jawa”
             “udah deh jangan tertawa mulu. suatu saat lo yang ngalamin kayak gitu, baru tau rasa lo”
            “apa?” Dimas seolah-olah kaget “gua nembak cewek pake puisi? sorry ya, anti, nggak bakalan Ar” dengan wajah sombong seakan-akan tak akan pernah terjadi “gua masih punya harga diri buat nggak nglakuin hal yang malu-maluin kayak gitu”.
            “liat aja ntar, kalo itu terjadi, gua yang akan tertawa paling keras di depan lo” ucapnya seperti mendoakan hal itu akan terjadi kelak.
            “oke kita liat aja ntar” dengan nada optimis tak akan pernah terjadi.
            Mereka terdiam sesaat dan sampailah mereka di depan halaman rumah Dimas.
            “turun yuk” ajak Dimas.
            Mereka berjalan ke dalam rumah besar itu. Tapi nampak terlihat sepi ketika mereka sampai di dalam. Orang tua Dimas sibuk bekerja semua dan Dimas adalah anak semata wayangnya. Makanya Dimas sedikit sombong karena selalu dimanja dengan kemewahan orang tuanya sejak kecil. “bonyok lo kerja semua Dim?” Tanya Arya yang sedari tadi clingak-clinguk kanan kiri mencari mahkluk hidup selain mereka berdua. “trus rumah segede gini cuma di tempatin bertiga?” lanjut Arya yang sudah tahu kalau Dimas anak semata wayang. Namun belum sempat di jawab oleh Dimas, tiba-tiba mbok Jum orang yang membantu mengurus rumah saat di tinggal orang tua Dimas menyapa dari ruang tivi yang mereka lintasi untuk sampai ke kamar Dimas.
            Kini obrolan yang tadi di mobil mereka ungsikan ke kamar Dimas. Dengan berteman beberapa makanan kecil dan juga minuman yang baru saja di antar oleh mbok Jum, mereka semakin rileks untuk bercerita lagi mengulas masa-masa kecil sewaktu masih bersama.
            Habisnya satu toples makanan berakhir juga cerita masa kecil mereka. Namun tetap saja berlanjut ke pertanyaan Dimas tentang bagaimana ceritanya Arya bisa sampai di Jogakarta dan yang paling utama adalah penasarannya Dimas oleh penampilan Arya yang sekarang. Akhirnya Arya menjawab semua pertanyaan Dimas yang menjadi teka-teki besar dalam otaknya. Jawaban yang membuat Dimas hanya bisa melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan Arya, namun itu terjadi.
            “lo udah kemana aja selama di sini” Tanya Dimas dan kini jawaban yang membuat Dimas tertawa keras heran dengan temannya yang satu ini, ternyata perubahan hanya dalam penampilannya saja tapi sifatnya masih saja seperti dulu. “kirain lo berubah total Ar” lanjut Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya tanda heran.
            “gua emang nggak begitu suka keramaian Dim” jawabnya tak peduli dengan sindiran yang merambat lewat tawa keras Dimas tadi. Pertanyaan yang sudah ia antipasti sebelumnya karena ia tahu pasti pertanyaan itu akan keluar dari mulut Dimas. Ajakan dan bujuk rayu Dimas pun tak mengubah kemalasan Arya untuk pergi ke tempat keramaian apalagi clubing. Entah kenapa Arya tak pernah suka ke tempat-tempat seperti itu, ia justru suka ke tempat-tempat yang sepi, mungkin tempat seperti itu Arya lebih bisa melepaskan kepenatan dan mendapatkan ketenangan. Tempat seperti itu juga yang membuat Arya menjadi lebih imajinatif tuk di tuangkan dalam bentuk puisi.
            “ah payah lo Ar”
            Namun Arya hanya bisa tersenyum saja melihat ekspresi di wajah temannya itu yang sudah pasrah tak tahu harus mengatakan apa lagi dan berakhir dengan mengganti dengan topik lain yang lebih segar.
Hari sudah menjelang sore, mereka masih saja asik ngobrol di kamar Dimas walau makanan di toples sudah habis semua. Maklum sudah lama mereka tidak bertemu jadi ada-ada saja hal yang mereka obrolin, mulai dari hal sepele, bercanda sampai yang serius juga mereka obrolkan bak ibu-ibu sedang ngerumpi di acara arisan.
            Lirih suara mobil terdengar dari kejauhan dan semakin keras sampai suara itu mati tepat di halaman rumah Dimas yang mengundang tanya dalam hati Arya. “bonyok lo pulang Dim?” Tanya Arya menebak.
“bukan. cuma nyokap gua aja. Dan bokap masih ntar”
            “oh gitu ya, kirain bareng” Arya beranjak dari tempatnya. “anterin gua pulang Dim ,udah sore ni” lalu pintanya.
            “ntar napa, baru aja jam enam, udah mau balik kandang aja lo Ar. Masak kalah ma banci” sindir Dimas. “banci aja jam segini baru keluar” lanjut Dimas.
“ah bodo. Emang gua pikirin. Udah yuk ah, gua juga pengen mampir ke toko buku bentar, ada yang harus gua beli”
Dimas beranjak dari posisinya yang sudah nyaman dan terpaksa mengantar temannya pulang.
ΩΩΩΩΩ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar