Sabtu, 10 Maret 2018
DI SUATU PESTA ULANG TAHUN
Jingga masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru setelah turun dari sepeda motornya untuk memberikan obat yang baru saja ia beli di Apotek.
“Nih obatnya, Bu!” Jingga memberikan bungkusan plastik yang berisi obat-obatan untuk mengobati adiknya yang baru saja terjatuh dari sepeda.
Bayu merintih kesakitan ketika ibunya mulai mengusap luka di lututnya dengan obat merah. Rasa perihnya membuat Bayu tidak tahan dan menangis tersedu.
“Makanya kalau naik sepeda hati-hati to, le!” tegur ibu dan terus mengusap luka Bayu dengan kapas.
Jingga yang melihat adiknya sedang menahan rasa perih pun ikut meringis, seakan ia ikut merasakan rasa perih dari luka yang terkena obat merah. Dari pada ia tidak tahan melihat adiknya yang terus merintih, ia putuskan untuk meninggalkan ibu dan adiknya.
Jingga memutuskan untuk istirahat saja di kamarnya. Baru saja ia rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tiba-tiba ponsel yang tergeletak di sampinya berdering. Dilihatnya nama Ayu yang tertera di layar ponselnya.
Dengan rasa malas ia menjawab panggilan masuk dari Ayu. Seakan ia sudah tahu maksud dari Ayu yang menelpon dirinya. “Iya. Halo, Yu?” nada bicaranya datar.
“Sudah siap to, say? Aku sudah siap meluncur ke situ, nih! Pokoknya nggak ada alasan lagi tiba-tiba nggak bisa ikut. Pokoknya aku sampai situ, kamu harus sudah siap. Dadagh!” suara cerewet Ayu dari balik ponsel.
“Halo, Yu! Ayu!”
Ayu sudah keburu menutup telponya agar tidak ada alasan lagi yang akan keluar dari mulut Jingga. Cara itu pun berhasil membuat Jingga mau tidak mau harus pergi mandi dan bersiap untuk pergi dengan Ayu meski sebenarnya ia tidak tahu mau ke mana.
Dengan dandanan yang sederhana, tanpa banyak polesan di wajahnya, tapi masih memancarkan kecantikan yang alami, Jingga menunggu Ayu di ruang tamu. Di sana ada Bayu yang sedang menonton tivi setelah lukanya diobati oleh sang ibu.
“Mau pergi ya, kak?” tanya Bayu.
“Iya, nih.”
“Mau pergi sama siapa, kak? Pacarnya, ya? Ciee..” telunjuk Bayu yang mungil diarahkannya ke wajah kakaknya.
“Iihh... apaan sih, dek! Kakak itu perginya sama Ayu.”
“Si miss ceriwis itu, kak?”
“Husss... nggak boleh gitu!” larang Jingga kepada Bayu. “Tuh, orangnya sudah dateng,” lanjut Jingga setelah mendengar suara mobil Ayu yang berhenti di depan rumah.
“Uups!” Bayu sambil membungkam mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.
“Hai, semuanya!” suara Ayu yang sudah berada di ruangan itu. “Sudah siap kan, Jing?”
“Don’t call me like that, okey? Please call my complete name. Jingga!” ucap Jingga cepat meralat dengan nada yang menekan jelas.
“Iya iya, nona Jinggaaaaa!” suara Ayu pun ditekan agak panjang untuk memperjelas pengucapan nama Jingga. “Sudah yuk kita berangkat, Jing? Eh salah lagi, Jingga maksudku,” Ayu tersenyum “Keburu malam nih,” lanjutnya lagi.
“Mau pergi ke mana, kak?” tanya Bayu yang ada di sebelahnya.
“Pergi main, sayang,” tangan Ayu mencubit gemas kedua pipi Bayu yang seperti bakpao. “Bayu mau ikut?”
“Nggak ah, kak. Lagian kaki Bayu lagi sakit nih.”
“Aduh kacian!” ucapnya dibuat manja “Emang kenapa kaki kamu?”
“Tadi jatuh, kak. Oleh-olehnya saja ya, kak. Hehehe!” ucap Bayu cepat.
“Iya. Nanti kak Ayu beliin, deh. Bayu mau apa?”
Walaupun ceriwis dan menyebalkan, Ayu adalah teman yang baik dan peduli dengan keluarga Jingga, terutama kepada Bayu, adik satu-satunya sahabatnya.
“Ayo, ah! Keburu malem!” ajak Jingga yang sebenarnya malas untuk pergi.
“Kak Ayu pergi dulu ya, sayang!” pamit Ayu sembari mencubit gemes pipi Bayu yang tembem.
Di dalam mobil, berteman lagu-lagu pop dan dipayungi warna-warni lampu kota yang mulai menyala. Ayu mengendarai mobilnya tak begitu kencang, rasanya sayang melewatkan tiap jengkal jalan yang begitu hangat dengan lampu-lampu jalan yang mulai menyala dan hiruk-pikuk lalu lalang orang dengan aktifitasnya.
Di dalam mobil, berteman lagu-lagu pop, mereka saling berbincang dan sempat Jingga menanyakan kemana tujuan hari ini. Ayu memang tidak memberi tahu Jingga sebelumnya. Ia memang sengaja. Sebab jika ia memberi tahu Jingga sebelumnya, Jingga pasti menolaknya dengan mentah-mentah.
“Memang sebenarnya kita mau ke mana to, Yu?” tanya Jingga penasaran.
“Ke acara ulang tahun temenku,” jawab Ayu tanpa ada rasa berdosa. “Anak orang kaya, loh! Pasti temennya juga kaya-kaya dan cakep-cakep,” lanjutnya berusaha tak membuat Jingga marah karena mengajaknya ke acara yang tak begitu disukai oleh Jingga.
“Ulang tahun? Ayu! Kamu tahu kan aku nggak suka datang ke acara begituan!” ucapnya keras. Dan Ayu hanya bisa tersenyum saja. Ayu memang sudah hafal apa yang tidak disukai Jingga, ia tahu Jingga akan menolak jika dari awal ia memberitahunya. Tapi Ayu juga malas jika harus datang sendiri ke acara tersebut. Makanya dengan taktik itu, Ayu mengajak Jingga untuk menemaninya.
“Ah, kamu tuh, Yu!” lanjut Jingga kesal.
“Iya, maaf. Sekali-kali nggak apa-apa, to? Dari pada di rumah terus, nggak gaul. Bete, kan?”
“Itu kalau kamu. Kalau aku nggak, tuh!” elak Jingga ketus.
Tapi mau bagaimana lagi, Jingga tidak bisa apa-apa lagi. Ia tidak mungkin meminta Ayu untuk memutar balik mobilnya. Dengan terpaksa dan mulut yang manyun, Jingga pasrah saja dibawa pergi ke acara ulang tahun tersebut.
***
Suasana pesta tersebut sangat meriah dengan iringan musik DJ. Di sana-sini banyak terlihat remaja dengan berbagai aktifitas, ada yang riuh saling selfie, berbincang dan tertawa, ada yang bergoyang mengikuti irama musik DJ, ada juga yang terlihat berkali-kali mencicipi semua hidangan yang ada. Namun tidak dengan Jingga, ia lebih memilih duduk di bangku taman yang berada agak jauh dari sana.
“Ayo, to ikut gabung di sana?” ucap Ayu sembari mencoba menyeret tangan Jingga dengan kedua tangannya. “Cowoknya cakep-cakep, loh!” rayunya lagi. Namun rayuannya tidak membuat Jingga berubah pikiran untuk tetap duduk menyendiri jauh dari acara tersebut. “Ya sudah, kalau begitu,” ucap Ayu pasrah dan ia meninggalkan Jingga sendirian.
Di tengah keasikannya duduk sendiri di bangku taman yang membuatnya nyaman dan jauh dari hiruk-pikuk acara tersebut, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesosok lelaki yang berjalan ke arahnya. Jingga belum mengetahui siapa lelaki tersebut itu karena lampu di belakangnya justru menyembunyikan wajah lelaki itu.
“Hai, Jingga!” masih dengan wajah yang tersembunyi, lelaki itu menyapa Jingga yang membuatnya semakin penasaran. Mengapa lelaki itu tahu namanya, pikir Jingga.
“Oh! Kamu, Dim?” ucap Jingga yang sudah bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas.
“Ngapain kamu sendirian di sini? Nggak ikut gabung dengan mereka?” ucap Dimas yang sudah duduk di sebelah Jingga tanpa permisi.
“Aku lebih suka di sini dari pada di sana,” jawab Jingga.
“Oh, gitu? By the way, kamu kenal juga sama yang ulang tahun?”
“Nggak, sih. Cuma tadi diajak sama Ayu. Temen sekolah dulu katanya.”
Di tengah obrolan mereka, mata Dimas menangkap kecantikan wajah Jingga yang tersiram cahaya bulan yang kebetulan saat ini bulan sedang purnama. “Ternyata cantik juga si Jingga ini. Apalagi kalau rambutnya terurai gini,” ucap Dimas dalam hati.
“Kamu nggak ikut gabung juga sama mereka?” tanya Jingga.
Tapi Dimas hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan Jingga. Sepertinya Dimas sedang terkena hipnotis oleh kecantikan wajah Jingga yang membuatnya hanya bengong saja.
“Halo!” ucap Jingga dengan sedikit mengeraskan volume suaranya.
“Sorry.. sorry.., kenapa tadi?”
“Yee! Malah melamun. Tadi aku tanya, kamu nggak gabung dengan mereka?” Jingga mengulangi pertanyaannya.
“Males. Lebih suka di sini.”
“Kamu ikut-ikutan saja?”
“Aku nggak ikut-ikutan kamu. Memang benar aku lebih suka di sini,” ucap Dimas. “Terlebih ada kamu, Ga!” lanjutnya dalam hati.
“Hayoo! Ketahuan mojok berdua. Oh, ini alasannya tadi nggak mau ikut gabung ke sana. Rupanya mau mojok?” ucap Ayu tiba-tiba yang membuat mereka kaget.
“Ihh! Apaan sih, Yu?” ucap Jingga yang seketika pipinya memerah merasa malu oleh kata-kata Ayu tadi.
“Sudah nggak apa-apa. Jangan malu gitu,” lalu Ayu mengalihkan pandangannya ke arah Dimas dan bertanya “Kamu di sini juga, Dim?”
“Iya dong, Dimas!” jawabnya sedikit menyombongkan diri. Dimas memang terkenal suka menyombongkan diri di kampus. Apalagi di depan para cewek-cewek. Maklum, Dimas adalah anak tunggal dari orang tuanya yang sangat kaya.
“Ya, sudah. Dilanjut mojoknya, aku pergi dulu. Dadagh!” ucap Ayu.
Tapi tangan Jingga dengan cepat meraih tangan Ayu sebagai tanda ia melarang Ayu untuk pergi meninggalkan dirinya bersama Dimas. Jingga sudah terlanjur dibuat malu dengan ucapan Ayu tadi. Ia tidak ingin berduaan lagi bersama Dimas. Namun Ayu mampu melepaskan genggaman tangan Jingga dan berhasil untuk pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
“Yu! Ayu!” teriak Jingga.
“Sudah biarkan saja. Kita malah bisa berduaan lagi, kan?” ucap Dimas percaya diri.
“Ah, apaan sih, Dim?” dan wajah Jingga semakin memerah.
Dimas hanya tersenyum melihat Jingga yang rupanya ia tahu bahwa Jingga sedang merasa tersipu malu. “Eh, kita tadi sampai mana?” tanya Dimas untuk memulai obrolannya kembali.
“Maaf, Dim. Aku pergi dulu, mau nyusul Ayu,” pamit Jingga yang sudah merasa tidak enak berduaan dengan Dimas. Tidak seperti tadi sewaktu Ayu belum muncul dan berkata seperti itu yang membuatnya merasa malu. Jingga lalu bergegas meninggalkan Dimas sendiri.
“Jingga!” panggilan Dimas pun tak diindahkan lagi oleh Jingga. Jingga tetap saja berlalu dan menghilang di tengah keramaian.
Kini tinggal lah Dimas sendirian di bangku taman yang tadi adalah tempat ternyaman bagi Jingga. Banyak hal yang kini ia pikirkan dalam benaknya tentang Jingga.
“Pulang, yuk?” ajak Jingga yang sudah menemukan Ayu dalam keramaian pesta.
“Bentar lagi, Ga. Tanggung nih, lagi asik!” jawab Ayu yang tak berhenti mengikuti alunan musik dari DJ.
“Sudah malam, nih? Nggak enak pulang terlalu malam,” Jingga terus berusaha merayu Ayu.
“Lima menit lagi, ya?”
“Ya sudah, aku pulang sendirian saja. Biar kamu yang diomelin sama ibuku karena nggak tanggung jawab!” ancam Jingga.
“Iya deh, kita pulang sekarang,” ucap Ayu pasrah.
***
Malam mulai larut tapi suasana kota Jogja semakin ramai. Lalu lalang kendaraan seakan membuat kota Jogja semakin hidup di malam hari. Lampu-lampu kota, Traffic Light dan sinar bulan pernama pun ikut mewarnai malam yang panjang ini.
Mobil Ayu menepi dan berhenti di depan penjual martabak manis untuk menepati janjinya kepada Bayu.
“Beli oleh-oleh bentar ya, Ga? Buat Bayu.”
“Sudah nggak usah, Yu!”
“Sudah nggak apa-apa?”
“Sudah malam juga, Yu. Bisa tambah gendut dia nanti.”
“Sudah biarin saja. Sudah terlanjur janji juga sama Bayu.”
“Ya sudah lah terserah kamu saja!”
“By the way, kok tadi bisa berduaan sama Dimas? Gimana ceritanya?” tanya Ayu setelah memesan martabak manis.
“Nggak tahu. Tiba-tiba saja dia ada di sana.”
“Ngomongin apa saja tadi?” tanya Ayu dengan wajah yang penasaran.
“Ngobrol biasa saja. Nggak ada yang penting.”
“Tapi kayaknya asik banget tadi. Mesra lagi!” ucap Ayu seraya bahunya menyenggol bahu Jingga.
“Apaan sih, Yu? Mulai lagi, deh?”
“Sudah sikat saja. Mumpung kamu belum punya cowok, kan?”
“Mulai ngawur deh ngomongnya?”
“Ngawurnya di mana, coba? Dia kaya, loh? Cakep lagi. Sudah gitu jadi idola lagi di kampus.”
“Nah, itu dia?”
“Itu dia kenapa?”
“Dengerin dulu makanya ada orang ngomong. Maksud aku, justru dia idola di kampus, makanya aku nggak suka.”
“Bukanya malah bangga bisa dapetin sang idola, ya?”
“Itu kalau kamu, Yu! Kalau aku sebaliknya.”
“Tapi..” Ayu tak lagi bisa meneruskan kata-katanya. Ia bingung harus mengatakan apa lagi.
“Sudah, ah! Nggak usah bahas itu lagi. Tuh martabakmu sudah jadi.”
Jumat, 09 Maret 2018
PERJALANAN
Sinar mentari yang jatuh hingga menembus sampai ke dalam kamar, suara gaduh yang datang dari luar seakan membangunkannya di pagi ini. Tapi rasanya Arya masih saja malas untuk beranjak dari tempat tidurnya yang begitu nyaman baginya. Ia hanya membuka matanya sedikit saja. Tapi ia masih bisa melihat dengan jelas ketika jarum jam di dinding menunjukkan pukul 06:35 WIB. Dan seketika itu pula matanya jadi terbelalak, membuat tubunya pun beranjak dari tempat tidurnya dengan cepat.
“Ah, kesiangan!” gerutunya. Arya bergegas pergi untuk mandi dengan buru-buru. Kesialannya bertambah satu lagi ketika ia lihat pintu kamar mandi tertutup, tanda ada seseorang di dalam.
Diketuknya pintu itu. “Bentar!” suara keras dari dalam. Menyadari bahwa yang ada di dalam sana adalah adiknya, Arya mencoba untuk mengetuk pintu itu lagi dengan lebih keras dan berteriak “Woi, cepetan!”. Tapi dari dalam justru tak ada respon sedikit pun ketika Dian juga menyadari di luar sana adalah Arya, kakaknya.
Sepuluh menit berlalu, Dian masih saja belum keluar dari kamar mandi dan membuat Arya semakin gelisah. Diketuknya sekali lagi pintu itu lebih keras dari sebelumnya. Dan keluarlah gadis kecil sembari tersenyum dengan nada mengejek.
Mereka memang tak pernah akur jika bersama. Bagai tikus dan kucing saja sifatnya. Banyak alasan yang membuat mereka berkelahi dan ada-ada saja hal yang mereka rebutkan.
“Sengaja, ya?” ucap Arya sinis.
“Kenapa? Telat, ya? Duh kasihan deh lo!” ejek Dian lalu berlari sebelum mendapat perlawanan dari Arya.
Tak banyak waktu yang Arya habiskan di dalam kamar mandi. Hanya sepuluh menit saja, itu sudah lebih dari cukup untuk sekadar menyegarkan tubuhnya di pagi ini.
***
Semua keluarganya sudah lebih dulu berada di meja makan dan menikmati sarapan pagi, termasuk Dian yang baru saja selesai mengenakan seragam sekolah. Belum juga Arya sampai di meja makan, ibunya langsung menyambutnya dengan beberapa pertanyaan tentang keinginannya untuk pindah kuliah di Jogjakarta.
“Kamu sudah yakin mau pindah ke Jogja, Ar?” tanya ibunya dengan nada datar, namun tersimpan jelas rasa ketidak-percayaan di dalamnya.
“Ya, sudah dong, bu,” jawab Arya setelah ia duduk di sebelah ibunya. “Ini tinggal berangkat” lanjut Arya. Lalu pandangannya terfokus pada hidangan di atas meja.
“Terus, jadi juga tinggal di rumah Budhemu?” tanya ibunya lagi.
“Jadi,” jawabnya singkat sembari tangannya mengambil hidangan tersebut untuk sarapan paginya.
“Tapi inget, jangan bikin masalah di rumah Budhemu. Paham?” nasehat ibunya setelah meneguk habis air putih.
“Tenang saja, bu. Aku kan anak baik-baik,” jawab Arya.
“Baik dari Hongkong?” ucap Dian tiba-tiba dengan nada ketus.
“Udah, deh. Anak kecil diem aja! Anak masih ingusan aja mau ikut campur. Dilap dulu itu ingus!” ucap Arya sambil melempar lap dan mengenai wajah Dian. Dan Dian hanya bisa membalas dengan melempar kembali ke arah wajah Arya, namun mampu ditangkisnya.
“Kalian tuh, ya? Berantem terus kerjaannya,” lalu ibunya melihat ke arah Arya. “Kamu juga, Ar. Sudah besar nggak mau ngalah sama adeknya, “ lanjut ibunya. Dan Arya hanya terdiam sambil terus menyantap makanannya.
“Kalau begitu, Arya pamit dulu,” ucapnya setelah ia menyelesaikan sarapan paginya. Arya beranjak dari tempat duduknya. Lalu ia salami satu per satu tangan kedua orang tuanya sambil mencium tangannya, kecuali Dian. Karena Arya tahu Dian tak mungkin mau untuk disalaminya.
Namun tebakan Arya salah. Bahkan tak pernah ia bayangkan, Dian mau memeluknya. Arya bingung melihat apa yang adiknya lakukan. Tak pernah sekali pun Dian melakukan hal itu kepada Arya sebelunya. Pelukannya begitu erat seperti takut kehilangan. Tangan Arya mulai ikut memeluk tubuh kecil Dian yang sudah menempel di tubuhnya.
“Kalau kak Arya pergi, terus yang menemin Dian main siapa?” suara lirih yang keluar dari mulut Dian.
Kata-kata Dian seperti mampu meluluhkan hati Arya yang sekeras batu. Kata-katanya begitu polos, begitu lugu dan menyentuh. Ada sesuatu yang beda, Arya merasa benar-benar ada rasa kasih sayang antara ia dan adiknya. Arya menarik nafas panjang, lalu melepaskan pelukannya untuk bisa mensejajarkan wajahnya dengan wajah adiknya. Arya melihat air mata Dian sudah membasahi pipinya.
“Kakak pergi dulu, ya? Kakak mau kuliah dulu di sana,” ucap Arya. “Kakak pasti pulang, kok?” lanjutnya.
“Kapan?” tanya dian cepat.
“Ya, besok kalau libur kuliahnya.”
“Beneran?”
“Beneran. Kakak janji.”
“Awas kalau bohong!”
“Iya. Ya sudah, kalau begitu kakak berangkat dulu, ya? Jangan nakal ya di rumah,” ucap Arya dan Dian hanya tersenyum manis tanpa mengeluarkan kata-kata.
Arya menghela nafas panjang lagi. Dengan langkah kaki yang pasti, ia melangkah pergi meninggalkan keluarganya untuk pergi ke Jogjakarta.
***
Dengan menggunakan Kereta Api Argo Dwipangga, Arya meninggalkan kotanya, meninggalkan hiruk-pikuk kota yang selama ini telah mengkotaminasi dirinya, juga meninggalkan semua kenangan yang memang ingin ia lupakan.
Tidak terasa hampir seharian Arya berada dalam Kereta Api, dalam perjalanan menuju kota tujuan. Sekitar pukul 3 sore, kereta pun terhenti di Stasiun Tugu.
Arya menuju peron untuk mencari Heru yang sudah berada di sana. Heru adalah sepupunya yang sudah ia tugasi untuk menjemput dirinya di Stasiun.
“Hai, Ru?” sapa Arya setelah melihat heru dari beberapa jarak langkah. “Sudah dari tadi?” lanjutnya setelah berada di depan Heru.
“Sudah dari kemarin malahan,” jawab Heru kesal karena ia sudah menunggu dari jam 2, sesuai perintah Arya. Heru memang seperti itu orangnya, suka Hiperbola kalau bercanda. “Yee, malah ikutan duduk! Ayo, ah!” lanjut Heru setelah melihat Arya duduk di sebelahnya.
“Istirahat bentar, Ru. Capek, nih?” keluh Arya.
“Nanti saja istirahatnya di rumah. Aku sudah bosen dari tadi nunggu kamu di sini,” ucapnya sambil beranjak pergi.
Mau tak mau Arya harus beranjak dari tempat duduknya untuk mengikuti sepupunya. “Ru, tungguin gua!” teriaknya.
Matahari masih terasa terik walau hari sudah menjelang sore. Seakan masih kuat membakar kulit yang membuat lelah semakin menjadi. Arya ingin segera sampai di rumah Budhe Lastri.
“Naik motor, Ru?” tanya Arya.
“Nggak. Kita naik pesawat,” jawab Heru hiperbola lagi. Padahal Arya sempat membayangkan dirinya akan dijemput menggunakan mobil. Ia sudah membayangkan sejuknya AC mobil yang begitu sejuk. “Ya, iya lah. Sudah tahu cuma punya motor, pakai tanya segala. Sudah ayo cepet naik!” lanjut Heru.
“Ya, kirain special. Sewa mobil gitu buat jemput gua,” ucap Arya.
“Special gundulmu kui!” jawab Heru.
Dan akhirnya mereka pulang dengan mengendarai motor milik Heru. Arya berharap segera sampai untuk merebahkan tubuhnya yang sudah begitu lelah yang terenggut oleh perjalanannya.
“Assalamualaikum, budhe!” salam Arya setelah melihat budhenya yang tengah asik di depan tivi yang membuatnya tidak menyadari bahwa Arya sudah datang.
“Waalaimumsalam!” jawab budhe sambil menoleh ke belakang. “Eh, kamu Ar? Maaf budhe ndak tahu kalau kamu sudah sampai,” lanjutnya.
“Keasikan nonton sinetron sih budhe?” ucap Arya sambil mencium tangan budhenya. “Kalau sudah nonton sinetron saja, jadi lupa semuanya. Sampai nggak aku masuk. Kalau maling yang masuk gimana, coba?” lanjutnya.
“Ah, kamu Ar. Ada-ada saja.”
“Cuma sekadar mengingatkan saja budhe. Nggak ada salahnya kan hati-hati dan waspada. Nggak ada yang nggak mungkin, kan?”
“Iya, deh. Kamu tuh persis ibumu. Pinter kalau ngomong.”
“Masak sih, budhe? Tapi kata temen-temenku, aku tuh pendiam, loh?”
“Iya, pendiam. Tapi kalau sudah ngomong, nerocos terus kayak beo.”
Arya hanya tersenyum tanpa membalas ucapan budhe Lastri.
“Ya, sudah. Kamu istirahat dulu sana. Sudah budhe siapin kamarnya.”
“Yang mana, budhe?”
“Yang itu, Ar!” tangan budhe menunjuk ke arah sebuah kamar yang terletak tak jauh dari ruang tamu.
“Oke! Aku istitahat dulu ya, budhe?”
Sebuah kamar yang memiliki jendela dengan pemandangan sebuah taman kecil yang ditanami beberapa jenis tanaman, termasuk beberapa jenis bunga.
Arya membuka jendela tersebut dan berdiri memandang keluar. Hembusan angin pun berebut masuk mengenai tubuh Arya yang memang sudah lelah. Dan menciptakan rasa kantuk di dalam diri Arya.
Dengan belaian angin sepoi-seopi yang berhembus mesra, Arya rebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Seketika matanya terpejam, lalu tertidur.
Kamis, 08 Maret 2018
PROLOG
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21:15 WIB. Tapi hujan di luar sana masih saja belum berhenti mengguyur bumi. Ribuan rintiknya masih terdengar seperti melodi indah yang tercipta di atap rumah. Kini hawa dingin mulai menyeruak masuk dari celah-celah jendela kamar dan mengusir suhu kamar, tapi ia masih saja asik dengan laptopnya tanpa terpengaruh oleh kondisi cuaca malam ini. Hanya suara ponselnya yang dapat menghentikan tangannya yang sedang bergelut dengan keyboard laptopnya.
“Hai, Malaikat Kecil,” chat Dewi Kecil kepadanya.
“Hai juga Dewi Kecil,” balasnya kepada Dewi Kecil.
“Apa kabar kamu? Kemana saja, nih? Kok sudah lama nggak kirim puisi? Kenapa? Sibuk, ya?” chat Dewi Kecil yang bertubi-tubi.
“Baik-baik saja kok. Dan nggak kemana-mana. Soal puisi, ya maaf. Aku lagi nggak ada mood buat nulis puisi dan mengirimkannya ke kamu.”
“Tapi tumben nggak ada mood buat nulis puisi? Biasanya hampir tiap malam kamu kirim aku puisi. Sampai kewalahan aku nyalin di buku.”
“Siapa juga yang nyuruh kamu salin ke buku. Tapi ngomong-ngomong sudah berapa buku puisiku di kamu?”
“Dua buku udah ada, tuh.”
Belum juga ia selesai mengetik, datang lagi chat dari Dewi Kecil yang membuat ia menghapus kembali apa yang sempat ia tulis tadi.
“Diterbitin boleh juga, tuh?”
“Mana ada penerbit yang mau nerbitin bukuku? Puisi asal-asalan gitu.”
“Dicoba apa salahnya? Asal-asalan tapi bagus kok. Sampai baper aku bacanya.”
“Ah, dasarnya kamu baperan mungkin orangnya. Cewek kan gitu, mudah baper.”
Dewi Kecil hanya membalas dengan emot sedih.
“Udah nggak usah sedih, aku bercanda kok.”
Kini Dewi Kecil mengirim emot tersenyum.
Tak terasa sudah hampir 3 jam ia dan Dewi Kecil saling mengobrol lewat chat di ponselnya. Dan rasanya, semua cahaya yang ada di ruangannya mulai meredup. Mungkin karena matanya kini seperti lilin yang perlahan kehabisan pendarnya, lalu mati.
Tapi ia masih saja ingin mengobrol dengan Dewi Kecil. Masih banyak hal yang ingin ia bicarakan. Meski sebenarnya mereka belum saling mengenal dan bertemu di dunia nyata. Bukan mereka tidak mau dan tidak bisa, tapi itu sudah menjadi kesepakatan mereka dari awal pertemuan yang tanpa sengaja di dunia maya setahun yang lalu. Bahkan sekadar nama pun mereka saling merahasiakan. Dan mereka lebih nyaman dengaan sebutan Dewi Kecil dan Malaikat kecil. Nama itu begitu saja tercipta diantara mereka untuk saling memanggil.
“Kenapa ya, kalau kita kita ngobrol seperti ini nggak ada habisnya?” datang chat lagi dari Dewi Kecil.
“Nggak tahu. Apa mungkin karena kita belum saling kenal, ya?”
“Kok bisa?”
“Nggak tahu juga.”
“Ah kamu, nggak tahu terus?”
“Ya, nggak tahu.”
“Tuh kan, nggak tahu lagi.”
Ia hanya mengirim emot tersenyum dan tertawa sekaligus.
“Boleh aku bertanya?”
“Di sini nggak ada polisi yang melarang untuk bertanya. Jadi silahkan bertanya kepadaku, yang penting nggak bertanya apa yang sudah kita sepakati dulu.”
“Iya, aku masih inget, kok. Aku cuma mau bertanya, kenapa kamu suka sekali menulis puisi?”
“Karena aku tidak bisa menulis cerita.”
“Ihh!”
“Hehehe! Jawabannya, entahlah. Aku hanya sekadar menulis apa yang ingin aku tulis saja tanpa ada niatan untuk menulis puisi. Makanya tadi aku bilang puisiku itu hanya asal-asalan.”
“Oh, jadi sekadar ingin menulis apa yang ingin kamu tulis ya?”
“Iya.”
“Terus seandainya ada yang tiba-tiba minta ditulisin puisi, gimana? Bisa?”
“Kadang bisa, kadang nggak.”
“Kalau gitu aku coba, ya?”
“Ah, nggak usah lah.”
“Ayo lah.”
“Kemana?”
“Bikinin aku puisi sekarang.”
“Hmmm, aku coba.”
“Gitu, dong!”
“Mau tentang apa?”
“Tentang pekerjaan.”
Lalu tidak ada lagi balasan chat dari Malaikat kecil kepada Dewi Kecil. Sepertinya ia sedang menulis sebuah puisi atas permintaan sahabatnya itu. Dan di belahan dunia yang lain, Dewi Kecil dengan sabar menunggu puisi dari sahabatnya itu.
“Tak perlu kau resah, memikirkan kertas-kertas di meja kerja, atau omelan bos siang tadi, akhiri saja hari ini, dengan pejamkan mata, lalu padamkan bara api semangat dalam diri, dan jangan lagi berkata.”
Sebuah chat puisi datang di ponsel Dewi Kecil setelah 10 menit Malaikat Kecil menghilang.
“Makasih, ya Malaikan Kecil,” balas Dewi Kecil.
“Sama-sama.”
“Ah, kenapa mataku jadi ngantuk, ya? Apa puisimu mengandung sihir, ya?”
“Ah, itu mah dasar kamunya yang udah ngantuk.”
“Ya, sudah. Aku tidur dulu, ya?”
“Oke. Aku juga mau tidur. Besok mau pergi.”
“Kemana?”
“Kan nggak boleh tanya soal tempat. Perjanjian nomer tiga.”
“Oh iya. Aku lupa.”
“Oh iya juga. Pernah nggak kamu bayangin suatu saat kita itu bertemu? Atau bayangin, ternyata kita adalah teman di dunia nyata, atau bahkan kita adalah musuh?”
“Ada-ada saja kamu. Tapi aku malah nggak kepikiran sampai situ.”
“Ya, siapa pun kita, jika suatu saat salah satu diantara kita ada yang tanpa sengaja tahu siapa kita, tolong tetap rahasiakan saja. Aku ingin Dewi Kecil dan Malaikat Kecil menjadi rahasia selamanya yang hidup di dunia seperti ini saja.”
“Oke siap! Sudah ah ngobrolnya. Orang tadi aku sudah pamitan mau tidur juga.”
“Iya, deh.”
Dan lelah di tubuh Malaikat Kecil pun menjadi, seakan memaksanya untuk ikut mengakhiri hari ini. Dengan berselimut gelap dan dingin, ditemani rintik hujan yang masih terdengar, ia mulai merebahkan tubuh lelahnya setelah ia tidak lupa mematikan laptopnya. Dan matanya perlahan terpejam lalu tertidur.
“Hai, Malaikat Kecil,” chat Dewi Kecil kepadanya.
“Hai juga Dewi Kecil,” balasnya kepada Dewi Kecil.
“Apa kabar kamu? Kemana saja, nih? Kok sudah lama nggak kirim puisi? Kenapa? Sibuk, ya?” chat Dewi Kecil yang bertubi-tubi.
“Baik-baik saja kok. Dan nggak kemana-mana. Soal puisi, ya maaf. Aku lagi nggak ada mood buat nulis puisi dan mengirimkannya ke kamu.”
“Tapi tumben nggak ada mood buat nulis puisi? Biasanya hampir tiap malam kamu kirim aku puisi. Sampai kewalahan aku nyalin di buku.”
“Siapa juga yang nyuruh kamu salin ke buku. Tapi ngomong-ngomong sudah berapa buku puisiku di kamu?”
“Dua buku udah ada, tuh.”
Belum juga ia selesai mengetik, datang lagi chat dari Dewi Kecil yang membuat ia menghapus kembali apa yang sempat ia tulis tadi.
“Diterbitin boleh juga, tuh?”
“Mana ada penerbit yang mau nerbitin bukuku? Puisi asal-asalan gitu.”
“Dicoba apa salahnya? Asal-asalan tapi bagus kok. Sampai baper aku bacanya.”
“Ah, dasarnya kamu baperan mungkin orangnya. Cewek kan gitu, mudah baper.”
Dewi Kecil hanya membalas dengan emot sedih.
“Udah nggak usah sedih, aku bercanda kok.”
Kini Dewi Kecil mengirim emot tersenyum.
Tak terasa sudah hampir 3 jam ia dan Dewi Kecil saling mengobrol lewat chat di ponselnya. Dan rasanya, semua cahaya yang ada di ruangannya mulai meredup. Mungkin karena matanya kini seperti lilin yang perlahan kehabisan pendarnya, lalu mati.
Tapi ia masih saja ingin mengobrol dengan Dewi Kecil. Masih banyak hal yang ingin ia bicarakan. Meski sebenarnya mereka belum saling mengenal dan bertemu di dunia nyata. Bukan mereka tidak mau dan tidak bisa, tapi itu sudah menjadi kesepakatan mereka dari awal pertemuan yang tanpa sengaja di dunia maya setahun yang lalu. Bahkan sekadar nama pun mereka saling merahasiakan. Dan mereka lebih nyaman dengaan sebutan Dewi Kecil dan Malaikat kecil. Nama itu begitu saja tercipta diantara mereka untuk saling memanggil.
“Kenapa ya, kalau kita kita ngobrol seperti ini nggak ada habisnya?” datang chat lagi dari Dewi Kecil.
“Nggak tahu. Apa mungkin karena kita belum saling kenal, ya?”
“Kok bisa?”
“Nggak tahu juga.”
“Ah kamu, nggak tahu terus?”
“Ya, nggak tahu.”
“Tuh kan, nggak tahu lagi.”
Ia hanya mengirim emot tersenyum dan tertawa sekaligus.
“Boleh aku bertanya?”
“Di sini nggak ada polisi yang melarang untuk bertanya. Jadi silahkan bertanya kepadaku, yang penting nggak bertanya apa yang sudah kita sepakati dulu.”
“Iya, aku masih inget, kok. Aku cuma mau bertanya, kenapa kamu suka sekali menulis puisi?”
“Karena aku tidak bisa menulis cerita.”
“Ihh!”
“Hehehe! Jawabannya, entahlah. Aku hanya sekadar menulis apa yang ingin aku tulis saja tanpa ada niatan untuk menulis puisi. Makanya tadi aku bilang puisiku itu hanya asal-asalan.”
“Oh, jadi sekadar ingin menulis apa yang ingin kamu tulis ya?”
“Iya.”
“Terus seandainya ada yang tiba-tiba minta ditulisin puisi, gimana? Bisa?”
“Kadang bisa, kadang nggak.”
“Kalau gitu aku coba, ya?”
“Ah, nggak usah lah.”
“Ayo lah.”
“Kemana?”
“Bikinin aku puisi sekarang.”
“Hmmm, aku coba.”
“Gitu, dong!”
“Mau tentang apa?”
“Tentang pekerjaan.”
Lalu tidak ada lagi balasan chat dari Malaikat kecil kepada Dewi Kecil. Sepertinya ia sedang menulis sebuah puisi atas permintaan sahabatnya itu. Dan di belahan dunia yang lain, Dewi Kecil dengan sabar menunggu puisi dari sahabatnya itu.
“Tak perlu kau resah, memikirkan kertas-kertas di meja kerja, atau omelan bos siang tadi, akhiri saja hari ini, dengan pejamkan mata, lalu padamkan bara api semangat dalam diri, dan jangan lagi berkata.”
Sebuah chat puisi datang di ponsel Dewi Kecil setelah 10 menit Malaikat Kecil menghilang.
“Makasih, ya Malaikan Kecil,” balas Dewi Kecil.
“Sama-sama.”
“Ah, kenapa mataku jadi ngantuk, ya? Apa puisimu mengandung sihir, ya?”
“Ah, itu mah dasar kamunya yang udah ngantuk.”
“Ya, sudah. Aku tidur dulu, ya?”
“Oke. Aku juga mau tidur. Besok mau pergi.”
“Kemana?”
“Kan nggak boleh tanya soal tempat. Perjanjian nomer tiga.”
“Oh iya. Aku lupa.”
“Oh iya juga. Pernah nggak kamu bayangin suatu saat kita itu bertemu? Atau bayangin, ternyata kita adalah teman di dunia nyata, atau bahkan kita adalah musuh?”
“Ada-ada saja kamu. Tapi aku malah nggak kepikiran sampai situ.”
“Ya, siapa pun kita, jika suatu saat salah satu diantara kita ada yang tanpa sengaja tahu siapa kita, tolong tetap rahasiakan saja. Aku ingin Dewi Kecil dan Malaikat Kecil menjadi rahasia selamanya yang hidup di dunia seperti ini saja.”
“Oke siap! Sudah ah ngobrolnya. Orang tadi aku sudah pamitan mau tidur juga.”
“Iya, deh.”
Dan lelah di tubuh Malaikat Kecil pun menjadi, seakan memaksanya untuk ikut mengakhiri hari ini. Dengan berselimut gelap dan dingin, ditemani rintik hujan yang masih terdengar, ia mulai merebahkan tubuh lelahnya setelah ia tidak lupa mematikan laptopnya. Dan matanya perlahan terpejam lalu tertidur.
Selasa, 06 Maret 2018
Seperti Gunung
Jarak yang kauciptakan justru melahirkan satu hal yang tak kubayangkan sebelumnya. Keindahanmu justru semakin bisa kulihat saat kau semakin jauh dariku, aku semakin terpana kepadamu, semakin aku jatuh cinta kepadamu.
Kau seperti gunung, yang cukup dari jarak ini saja untuk bisa melihat keindahanmu utuh. Namun, suatu saat nanti aku pasti akan mendakimu, saat rindu sudah menggebu untuk menaklukkan puncak dari hatimu. Dan aku akan mengerti, darimu, dari puncak hatimu, betapa indah melihat sekitar.
Kamis, 01 Maret 2018
Di Sudut Kota Ini
Kumencarimu di sudut kota,
saat kau tak lagi ada di sudut kata
Kau menghilang,
dari barisan puisi-puisi yang kutulis
dan meninggalkan rindu yang miris
Aku tak ingin terus menerus menulis tentang rinduku padamu,
aku hanya ingin menulis tentangmu,
tentang kita,
juga tentang mimpi-mimpi yang pernah ada
Ke mana kini perginya dirimu,
dirimu yang menjadi jantung di setiap puisi-puisi yang kutulis,
dirimu yang selalu ada di setiap waktu aku menulis
Kembalilah,
aku di sudut kota ini menunggumu
Jogjakarta 060218
Rabu, 28 Februari 2018
Di Belakangku
Tak mengapa kau main curang di belakangku, berbagi cinta dengan yang lain. Aku akan tetap berdiri dan terus memandang ke depan. Aku tak akan sekali-kali melihat ke arah di mana kau menghianatiku. Hatiku terlalu berharga untuk berbalik arah kepadamu dan menjadi pendaratan pelukmu yang penuh dusta.
Di depanku, jalan masih amatlah panjang, jalan yang lebih berharga dari sekadar aku kembali padamu. Dan meskipun aku akan berhenti nanti, itu bukan karena kamu, tapi karena ada tempat yang lebih nyaman untuk berbagi, tempat yang membuatku lupa akan hal yang pernah tertancap di punggungku
Di depanku, jalan masih amatlah panjang, jalan yang lebih berharga dari sekadar aku kembali padamu. Dan meskipun aku akan berhenti nanti, itu bukan karena kamu, tapi karena ada tempat yang lebih nyaman untuk berbagi, tempat yang membuatku lupa akan hal yang pernah tertancap di punggungku
Sabtu, 24 Februari 2018
Tak Mau Sendiri
Membuat kesepianku semakin dalam
Ditelan semua yang aku benci dari kesendirian
Di mana kamu yang telah memberiku kesepian
Tak bisakah kau datang meski sebentar
Memecahkan kesepian yang begitu datar
Aku tak mau terus sendiri
Tanpa kamu berhari-hari
@DH – JOG180218
Langganan:
Postingan (Atom)



