Minggu, 09 Maret 2014

ITU SAJA...



kau pun pernah bertanya kepadaku dengan nafas tersendat hampir putus, tepat 40 hari yang lalu. “jika bintang jatuh memberimu permohonan, apa yang kau inginkan? Dan jika Tuhan mengirim bidadariNYA lagi, apa kau akan mencintainya? menggantikan aku yang kau...”
Dengan nafas yang tak ada lagi, kau tak lagi berucap, mengkhatamkan kata-katamu, dan kau tak lagi mendengar, apa yang ku ucap, apa yang ku inginkan. Meski teriakkanku melebihi gelegar.
Mungkin jika saat itu kau sempat mendengar, kau pun tak percaya, apa yang ku ucap sebagai jawabanku.
Tapi kini, sebentar lagi, kau akan segera melihat jawabanku, bukan hanya mendengar. Saat aku menemukanmu disana, akan aku bisikkan kembali di telingamu jawabanku “aku igin tetap mencintaimu, itu saja”.

Sabtu, 08 Maret 2014

KAULAH MAHA KEINDAHAH


Tak ada bunga terindah yang mampu aku petik untukmu
Karena kaulah bunga terindah yang sudah ku petik
Lalu ku simpan dalam hati ini
Bersama wangimu sayang

Tak ada tempat terindah untuk mengajakmu ke sana
Selain ke hatiku yang berhias wewangian cinta
Yang menjadikanmu ratu
Bersama cintaku sayang

Tak pernah ada kata romantis yang bisa ku temukan dari mulutku
Untuk sedikit merayumu manja, memanjakanmu sayang
Karena kau sudah lebih dari keindahan kata romantis
.....dan kita, menari bersama dalam alunannya

Memang tak ada waktu untuk tak memikirkanmu, sedetikpun tidak
Kaupun sudah berakar dalam pikiranku
Tak mungkin tumbang lagi
.....sayangku



Senin, 24 Februari 2014

MALAMKU HILANG DARI SAKU KEMEJAKU...

Malamku hilang
padahal aku sudah susah payah mengumpulkannya dari tadi sore
menguntainya menjadi satu dalam saku kemejaku
kini kenapa kau rebut?
mengambilnya satu per satu tanpa permisi dariku

mungkin kita bisa berbagi malam jika kau mau
bahkan tukar menukar
dan duduk berdampingan di bawah langit berbintang
bercerita tentang mereka,
sunyi, dingin, gelap dan semua seisi malam
yang membuat kita sama-sama larut, hanyut, lalu menyatu di dalamnya
dengan bekal malam yang kita punya

tapi kau telah mengambilnya dari saku kemejaku
menyisakan satu malam yang hampir pudar

Jumat, 21 Februari 2014

TAK LAGI...

Merah kuning hijau, bukan lagi pelangi yang menghiasi langit
Tapi kini sudah tumbuh subur berkibar di sepanjang jalan
Menggantikan hijaunya pohonku yang dulu sempat menjadi payung teduh
Kini semuanya hilang gersang sudah
Berganti panas membakar jiwa-jiwa kami, para pengguna jalan

Detik demi detik tak ada waktu lagi tuk menghitung hari
Kini disibukkan lembar demi lembar, suara demi suara pengangkatan
Bagai suara emas, yang seharusnya tak terbeli
Tapi lihat apa yang terjadi?
Dengan mudahnya mereka membeli, hanya dengan sebuah janji

Satu dua tiga, kini tak lagi sayang semuanya
Mereka tertawa riang di atas luka kami yang terus menganga
Menganggap kami seolah bukan manusia, bahkan tak ada
Demi kepuasan mereka sendiri, menikmati tetek ibu pertiwi
Sayang itu tak lagi dibagi, seperti janji yang dibagi-bagi

dAN, jogja 21.02.14

Minggu, 02 Februari 2014

aku bagai selembar daun...


Bagai selembar daun
Aku terlepas dari rantingku

Engkau kah takdir yang menjelma menjadi sang bayu?
Yang membuatku harus terlepas dari pegangan erat rantingku
Lalu apakah Engaku pun menjelma menjadi sang hujan?
Yang membuatku terombang ambing tak tentu arah

Aku kini berada dalam ketidak tahuanku akan segalanya
Apakah hidup harus seperti ini?
Ataukah hidup memang seperti ini?
Harus terlepas dari rantingku
Jelas Ini bukan mauku
Menjadi selembar daun yang terlepas dari rantingku

Kenapa tak Kau ciptakan saja aku sebagai ranting
Ranting yang bisa menciptakan sejuta daun baru setelah gugur
Ranting yang tak pernah kwatir kehilangan selembar daunnya, bahkan seribu.

Aku masih saja menjadi selembar daun yang tersesat
Entah sampai kapan aku terhenti pada rencana besar-Nya
Selama itu, aku masih selembar daun itu

Sabtu, 01 Februari 2014

marah...


lihat!!!
rakyat-rakyat sekarat berkarat
tersesat kalimat-kalimat siasat
terjerat jimat-jimat sesat

bang(sat)!!!

ingat!!!
amanat rakyat bukan donat
harkat martabat bukan alat
apalagi tempat buat maksiat

cepat.. cepat.. tobat sebelum terlambat

Rabu, 08 Januari 2014

semua orang bilang aku galau



            Semua orang bilang aku galau. Ah... aku rasa bukan, galau itu adalah duduk terdiam menopang gadu menatap langit dari balik jendela tanpa banyak yang di perbuat lalu berkata “Tuhan... sampai kapan aku harus begini?” atau melamun seharian, membayangkan bagaimana caranya mengakhiri hidup ini secara mudah tanpa harus merasakan sakit. Tapi tidak dengan ku, tanganku tak ku biarkan menopang dagu, pikiranku tak ku biarkan begitu. Kupaksa terus mereka untuk berbuat sesuatu yang lebih dari itu. Hingga banyak kata yang tercipta dari sini, yang menjelma dalam bentuk puisi mesra atau mengalun merdu dalam bentuk lagu. Banyak juga goresan demi goresan yang tertuang dalam bentuk gambar yang bercerita. Lalu apa masih bisa di sebut aku galau?
            Entah mengapa begitu mudahnya mereka mengatakan aku galau, sedangkan kekreatifitasanku justru terlahir dan tumbuh dari sini. Walau tak sehebat para pujangga dulu walau tak sebesar para musisi atau seniman dulu. Tapi inilah aku dengan kekreatifitasanku yang mereka sebut galau dan ada sesuatu yang ku lahirkan dari apa yang mereka sebut galau. Dan apapun itu namanya, aku kucup senang seperti ini, aku sudah cukup bahagia dengan ini semua, meski semua orang bilang aku galau.
            Ah sudahlah, itu tidaklah penting buatku, galau hanyalah sebuah status bagi mereka-mereka untuk menyebutku, atau bahkan mungkin untuk mengejekku. Ah biarlah. Memang tidaklah penting buatku, selama aku masih bisa menelurkan apa yang ada dalam benak dan menetaskan dalam bentuk apapun yang aku mau. Itu yang terpenting buatku kini. Karena aku hanya ingin berarti bagi siapa saja yang ada di sekelilingku, bukan sebagai parasit yang menyusahkan mereka-mereka. Dan jika dari apa yang mereka sebut galau aku memiliki arti, hmmm betapa senangnya aku di sebut galau.
            Ini hanyalah apa yang ku rasa, bukan menentang pendapat mereka yang bilang aku galau. Terlalu munafik jika aku harus menentang pendapat mereka, sedangkan aku terus di ajarkan untuk selalu berkreatifitas dari situ. Bukan di biarkan hanya sekedar duduk terdiam menopang dagu menatap langit tanpa banyak yang di perbuat lalu berkata “Tuhan... sampai kapan aku harus begini?”.
            Maka seperti itulah yang tercipta dari kata “semua orang bilang aku galau”. Ada sesuatu yang tercipta dari kata “semua orang bilang aku galau”. Dan bahkan aku yakin, sampai bagian ini pun, sama seperti semua orang, kalian juga akan bilang kalau “AKU GALAU”.