Sabtu, 08 Maret 2014

KAULAH MAHA KEINDAHAH


Tak ada bunga terindah yang mampu aku petik untukmu
Karena kaulah bunga terindah yang sudah ku petik
Lalu ku simpan dalam hati ini
Bersama wangimu sayang

Tak ada tempat terindah untuk mengajakmu ke sana
Selain ke hatiku yang berhias wewangian cinta
Yang menjadikanmu ratu
Bersama cintaku sayang

Tak pernah ada kata romantis yang bisa ku temukan dari mulutku
Untuk sedikit merayumu manja, memanjakanmu sayang
Karena kau sudah lebih dari keindahan kata romantis
.....dan kita, menari bersama dalam alunannya

Memang tak ada waktu untuk tak memikirkanmu, sedetikpun tidak
Kaupun sudah berakar dalam pikiranku
Tak mungkin tumbang lagi
.....sayangku



Senin, 24 Februari 2014

MALAMKU HILANG DARI SAKU KEMEJAKU...

Malamku hilang
padahal aku sudah susah payah mengumpulkannya dari tadi sore
menguntainya menjadi satu dalam saku kemejaku
kini kenapa kau rebut?
mengambilnya satu per satu tanpa permisi dariku

mungkin kita bisa berbagi malam jika kau mau
bahkan tukar menukar
dan duduk berdampingan di bawah langit berbintang
bercerita tentang mereka,
sunyi, dingin, gelap dan semua seisi malam
yang membuat kita sama-sama larut, hanyut, lalu menyatu di dalamnya
dengan bekal malam yang kita punya

tapi kau telah mengambilnya dari saku kemejaku
menyisakan satu malam yang hampir pudar

Jumat, 21 Februari 2014

TAK LAGI...

Merah kuning hijau, bukan lagi pelangi yang menghiasi langit
Tapi kini sudah tumbuh subur berkibar di sepanjang jalan
Menggantikan hijaunya pohonku yang dulu sempat menjadi payung teduh
Kini semuanya hilang gersang sudah
Berganti panas membakar jiwa-jiwa kami, para pengguna jalan

Detik demi detik tak ada waktu lagi tuk menghitung hari
Kini disibukkan lembar demi lembar, suara demi suara pengangkatan
Bagai suara emas, yang seharusnya tak terbeli
Tapi lihat apa yang terjadi?
Dengan mudahnya mereka membeli, hanya dengan sebuah janji

Satu dua tiga, kini tak lagi sayang semuanya
Mereka tertawa riang di atas luka kami yang terus menganga
Menganggap kami seolah bukan manusia, bahkan tak ada
Demi kepuasan mereka sendiri, menikmati tetek ibu pertiwi
Sayang itu tak lagi dibagi, seperti janji yang dibagi-bagi

dAN, jogja 21.02.14

Minggu, 02 Februari 2014

aku bagai selembar daun...


Bagai selembar daun
Aku terlepas dari rantingku

Engkau kah takdir yang menjelma menjadi sang bayu?
Yang membuatku harus terlepas dari pegangan erat rantingku
Lalu apakah Engaku pun menjelma menjadi sang hujan?
Yang membuatku terombang ambing tak tentu arah

Aku kini berada dalam ketidak tahuanku akan segalanya
Apakah hidup harus seperti ini?
Ataukah hidup memang seperti ini?
Harus terlepas dari rantingku
Jelas Ini bukan mauku
Menjadi selembar daun yang terlepas dari rantingku

Kenapa tak Kau ciptakan saja aku sebagai ranting
Ranting yang bisa menciptakan sejuta daun baru setelah gugur
Ranting yang tak pernah kwatir kehilangan selembar daunnya, bahkan seribu.

Aku masih saja menjadi selembar daun yang tersesat
Entah sampai kapan aku terhenti pada rencana besar-Nya
Selama itu, aku masih selembar daun itu

Sabtu, 01 Februari 2014

marah...


lihat!!!
rakyat-rakyat sekarat berkarat
tersesat kalimat-kalimat siasat
terjerat jimat-jimat sesat

bang(sat)!!!

ingat!!!
amanat rakyat bukan donat
harkat martabat bukan alat
apalagi tempat buat maksiat

cepat.. cepat.. tobat sebelum terlambat

Rabu, 08 Januari 2014

semua orang bilang aku galau



            Semua orang bilang aku galau. Ah... aku rasa bukan, galau itu adalah duduk terdiam menopang gadu menatap langit dari balik jendela tanpa banyak yang di perbuat lalu berkata “Tuhan... sampai kapan aku harus begini?” atau melamun seharian, membayangkan bagaimana caranya mengakhiri hidup ini secara mudah tanpa harus merasakan sakit. Tapi tidak dengan ku, tanganku tak ku biarkan menopang dagu, pikiranku tak ku biarkan begitu. Kupaksa terus mereka untuk berbuat sesuatu yang lebih dari itu. Hingga banyak kata yang tercipta dari sini, yang menjelma dalam bentuk puisi mesra atau mengalun merdu dalam bentuk lagu. Banyak juga goresan demi goresan yang tertuang dalam bentuk gambar yang bercerita. Lalu apa masih bisa di sebut aku galau?
            Entah mengapa begitu mudahnya mereka mengatakan aku galau, sedangkan kekreatifitasanku justru terlahir dan tumbuh dari sini. Walau tak sehebat para pujangga dulu walau tak sebesar para musisi atau seniman dulu. Tapi inilah aku dengan kekreatifitasanku yang mereka sebut galau dan ada sesuatu yang ku lahirkan dari apa yang mereka sebut galau. Dan apapun itu namanya, aku kucup senang seperti ini, aku sudah cukup bahagia dengan ini semua, meski semua orang bilang aku galau.
            Ah sudahlah, itu tidaklah penting buatku, galau hanyalah sebuah status bagi mereka-mereka untuk menyebutku, atau bahkan mungkin untuk mengejekku. Ah biarlah. Memang tidaklah penting buatku, selama aku masih bisa menelurkan apa yang ada dalam benak dan menetaskan dalam bentuk apapun yang aku mau. Itu yang terpenting buatku kini. Karena aku hanya ingin berarti bagi siapa saja yang ada di sekelilingku, bukan sebagai parasit yang menyusahkan mereka-mereka. Dan jika dari apa yang mereka sebut galau aku memiliki arti, hmmm betapa senangnya aku di sebut galau.
            Ini hanyalah apa yang ku rasa, bukan menentang pendapat mereka yang bilang aku galau. Terlalu munafik jika aku harus menentang pendapat mereka, sedangkan aku terus di ajarkan untuk selalu berkreatifitas dari situ. Bukan di biarkan hanya sekedar duduk terdiam menopang dagu menatap langit tanpa banyak yang di perbuat lalu berkata “Tuhan... sampai kapan aku harus begini?”.
            Maka seperti itulah yang tercipta dari kata “semua orang bilang aku galau”. Ada sesuatu yang tercipta dari kata “semua orang bilang aku galau”. Dan bahkan aku yakin, sampai bagian ini pun, sama seperti semua orang, kalian juga akan bilang kalau “AKU GALAU”.

Rabu, 01 Januari 2014

hadiah di malam tahun baru...



            “malam ini aku ingin Bintang Kecil itu menemaniku” ucapku lirih dalam hati.
            Namun aku tahu Bintang Kecil itu nggak akan datang untuk mengabulkan permintaanku yang memang lagi butuh teman malam ini. Sakit di hatiku kambuh lagi di malam tahun baru ini. Tahun baru yang aku kira akan jadi malam tahun baru yang menyenangkan karena nggak pernah terpikirkan oleh ku sebelumnya. Pasalnya, sehari sebelum malam tahun baru aku mendapat sms dari seseorang yang sangat aku cintai. Dia mangajakku untuk menemaninya membeli HP.
            “kalau kamu besok masuk pagi, berarti kita perginya sepulang kamu kerja, tapi kalau kamu masuk sore, ya paginya kita cari dulu” ucapku kepadanya. “tapi mudah-mudahan kamu besok masuk pagi, jadi kita perginya sore, sekalian merayakan malam tahun baru” pikirku dengan hati berharap.
            “ok. Aku kabari lagi secepatnya”
            Setelah aku medapat kabar tentang jadwalnya yang ternyata masuk pagi, aku langsung mengatur jadwal untuk hari esok. Pagi hari untuk mengerjakan cover buku milik Hidayah sampai jam1, lalu tidur sebentar dan langsung pergi mengambil screen, lalu sore harinya pergi bersama dia untuk membeli HP. Hari yang benar-benar sibuk tapi sangat senang buatku, setelah sekian lama aku nggak bisa merayakan malam tahun baru bersama dia, akhirnya Tuhan berbaik hati memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa merayakan kembali malam tahun baru kali ini meski nggak semurni merayakan malam tahun baru. itu hanya anggapanku saja yang memang merindukan moment-moment yang nggak bisa ku duga sebelumnya.
            Nggak tahu kenapa setiap aku melihat wajahnya, yang ku lihat itu kedamaian, ketenangan dan kenyamanan buatku. Seperti dialah rumah yang paling damai buatku. Seakan semua luka yang mengerak di hati ini sirna seketika, seakan aku juga lupa bahwa dia bukan milikku lagi, seakan semua masih seperti dulu ketika waktu masih berpihak kepada kami. Andai ini bisa selamanya, betapa hidupnya aku.
            “hai Dan, aku lagi di tempat temen nih. Kamu?” akhirnya bintang kecil itu muncul juga, tapi mendengar dia lagi di tempat temannya aku jadi nggak tega untuk merusak suasananya merayakan malam tahun baru dengan curhatanku yang hanya tentang kesedihanku saja. Berdosalah jika aku melakukannya. Aku urungkan niatku untuk membagi kesedihan ini, biar tembok saja yang ku ajak bicara, berbincang tentang kesedihan ini dan gitar yang aku minta untuk memainkan sebuah lagu melo, lagu kesukaanku saat aku merasakan sedih atau terluka. Entah kenapa lagu-lagu melo seperti itu yang justru bisa membuatku tenang meski semakin membuatku terpuruk dalam kesedihan ini.
            “selamat tahun baru Bint, semoga di tahun baru ini apapun yang kamu harapkan bisa tercapai, dan aku pengen denger kalau aku punya ponakan dari kamu biar bisa di panggil Om. Hehehe” balasku.
            Harapan hanyalah tinggal harapan. Hari yang awalnya sangat indah buatku karena bisa pergi berdua dengannya akhirnya berubah juga menjadi hari yang menyedihkan buatku.
            “udah yuk pulang, temenku ada yang mau bareng pulang nih” ucapnya disela-sela obrolan kami setelah menyelesaikan makan malam kami. Sebelumnya nggak ada hal yang janggal dari ucapannya sampai akhirnya aku tahu yang di maksud dengan temannya yang sebelumnya aku pikir seorang cewek, ternyata bukan. Perasaan bahagia ini seketika hancur tertimpa jawaban dia ketika aku tanya dimana rumahnya. Senyumku nggak lagi muncul, badanku seakan nggak bertulang lagi, lemas. Namun aku masih bertahan dengan sisa-sisa kekuatan yang memng telah terbiasa merasakan sakit seperti ini.
            “Tuhan kenapa Engkau selalu memberi tahu aku tentang dia dari manapun juga dan apapun itu namanya, aku sakit dengan itu. Jika aku boleh meminta, lebih baik aku di butakan dan di tulikan dari apapun tentang dia. Aku lelah seperti ini”
            HP ku tiba-tiba berbunyi lagi, aku lihat nama Bintang Kecil yang muncul. “Amiin, aku juga berharap tahun depan bisa benar-benar menjadi ibu. J . ku jadi keluar Dan, ngadem pikiran hehehe.. oya, ni aku lagi bakaran jagung ma keluarga temenku”. Sms yang membuat aku nggak mampu untuk membalasnya. Begitu nyata terlihat suasana keceriaan disana, suasana yang sangat berbeda dengan keadaanku disini, di kamar pecah milikku.
            Dinginnya malam ini semakin dingin ku rasakan sampai menusuk hatiku yang sakit. Ketika aku melihat kaca sepionku ada dua lampu motor sedang berjalan sejajar, entah kenapa pikiranku tertuju padanya. Aku benar-benar bisa merasakan lampu itu berasal dari sepeda motor miliknya bersama seseorang yang dia bilang teman. Aku ingin buang jauh pikiran itu, berharap itu bukan mereka. Tapi kenyataan nggak memihakku, itu benar-benar mereka. Lampu kota yang menerangi wajahnya hingga aku bisa melihat dengan jelas ketika aku lihat kembali dari kaca sepion. Dan entah apa yang di katakannya untuk menyebut aku yang ada di depan mereka.
            “Tuhan, tidakkah Engkau merasakan apa yang aku rasakan? hatiku hancur, aku sakit. Sampai kapan cinta ini bersemayam dalam hati, cinta yang selalu bisa melukai aku. Dan buatmu, aku hanya meminta, simpan rapat-rapat apapun yang bisa membuatku terluka, meskipun itu hanya satu kata saja, karena dengan satu katapun, pikiranku bisa mencernanya menjadi sesuatu kenyataan  tentangmu, tentang sesuatu yang mebuatku akhirnya terluka”
             “sudahlah, lupakan saja. Ini malam tahun baru, seharusanya kamu berdoa semoga di tahun depan kamu sudah tak lagi berbicara denganku dan tak lagi meminta gitar untuk memainkan sebuah lagu. Dan selamat tahun baru lelaki menyedihkan”