Kamis, 21 November 2013

BICARA...



Entah kenapa Rora mulai kesal dengan kondisi persahabatannya yang semakin rumit. Pasalnya, hubungan persahabatanya mulai hancur sejak kehadiran Dani. Seorang laki-laki yang membuat dua sahabatnya saling bermusuhan dan di tambah lagi satu sahabatnya tiba-tiba menghilang setelah sempat curhat kepadanya.
Pagi itu hari sabtu, Rora mengumpulkan semua sahabatnya di rumah Marsha. Rora merasa semua ini harus di bicarakan bersama karena Rora menginginkan hubungan persahabatannya kembali membaik seperti semula yang utuh.
“kita harus tunggu Shopie karena sebelum menghilang, dia sempat curhat sesuatu yang menyangkut masalah ini” ucap Rora
“tapi apa dia sudah tahu kalau kumpul di rumahku?” tanya Marsha.
“aku tadi sudah telpon dia dan aku sempat cerita sedikit tentang ini” jawab Rora
“terus jawabannya?” tanya lagi Marsha
“iya, dia akan kesini” jawab singkat Rora.
“ah sudahlah, percuma dia datang karena aku rasa dia tidak tahu apa-apa.emang dasar Tashanya aja yang keganjenan godain Dani, udah tahu dia milik aku, masih aja di deketin” ucap Devi kesal.
“enak aja kamu bilang, pacarmu tu yang playboy” bantah Tasha
“kenapa kamu jadi ngatain pacarku playboy? Jelas-jelas kamu yang godain dia duluan. Dia juga pernah bilang kalau kamu pernah maksa dia untuk nganter kamu cari buku, iya kan?” ucap Devi dengan nada keras.
“apa?? Nggak salah denger nih aku? Justru dia yang...” kata-kata Tasha terhenti oleh ucapan Rora yang menyela.
“sudah.. sudah.. kalian berdua bisa diem nggak sih? Aku bilang tunggu Shopie”  suara Rora tak kalah kerasnya.
Devi dan Tasha hanya bisa terdiam dan saling membuang muka.
“coba deh kamu telpon dia lagi Ra” suruh Marsha
Segera saja Rora mengambil handphonenya dan langsung menelpon kembali Shopie.
“halo Shop... kamu udah nyampe mana? Oo ya sudah, kami tunggu ya”
“gimana Ra, dia sudah nyampe mana?” tanya Marsha.
“udah di jalan, bentar lagi nyampe katanya” jawab Rora
“kalau gitu aku buatin minum dulu ya” ucap Marsha lalu pergi ke dapur.
Seketika suasana menjadi sepi, tak ada yang bicara, semua hanya terdiam. Pandangan Devi dan Tasha masih tetap sama, tak berubah sedikitpun. Rora yang melihat pemandangan itu mulai kesal kembali dan kembali angkat bicara.
“aku tuh nggak habis pikir dengan kalian. Kita sudah berteman sejak SMA, bahkan kita sudah seperti saudara, sekarang Cuma gara-gara satu cowok saja kalian jadi musuhan. Kamu juga Tas, apa kamu pikir masalah ini akan selesai dengan kamu memutuskan untuk pindah kuliah? Enggak Tas. Justru masalah ini akan semakin rumit”
“sudah... nih minum dulu. Sepertinya kamu juga mulai emosi Ra. Kan kamu sendiri yang bilang, kita harus tunggu Sophie” ucap Marhsa yang sudah berada di antara mereka sembari tangannya menaruh gelas-gelas di meja. “tuh sepertinya Shopie sudah datang” lanjut Marsha yang mendengar suara mobilnya.
“hai semuanya, apa kabar? Maaf aku terlambat, tadi masih ada urusan yang harus aku selesaikan di rumah”  ucap Shopie tiba-tiba yang masih berjalan menuju ke mereka. “aduh-aduh kok wajahnya pada mendung gitu” lanjutnya setelah sampai dan tangannya tanpa basa basi menyambar gelas yang berada di meja tadi.
“sebaiknya kamu duduk dulu biar kita bisa mulai pembicaraannya” suruh Rora.
Dan Shopie pun menuruti apa kata Rora termasuk Marsha yang tadi masih saja berdiri di dekat Rora.
“sekarang pokok permasalahannya ada pada Dani yang membuat kalian berdua jadi musuhan. Dan sekarang coba kamu ceritakan Shop apa yang kamu ketahui tentang Dani seperti kamu pernah cerita kepadaku” ucap Rora lanjut.
Raut wajah Shopie yang tadi terlihat bercanda seketika berubah dengan raut wajah yang serius.
“jadi begini, asal kalian tahu, Dani itu tak sebaik yang kalian kira. Dani itu bukan hanya playboy, tapi lebih dari itu. Rendi itu penjahat kelamin” ucap Shopie dengan  nada yang benar-benar serius, beda dengan raut wajah seperti saat pertama dia datang.
“maksud kamu?” tanya Tasha dengan wajah bingung
“iya, apa maksud kamu dengan kata-kata itu?” wajah Devi tak kalah bingung.
Begitupun dengan Marsha yang tak tahu apa-apa tentang Dani. Tapi dia hanya diam karena sebenarnya dia tak begitu ambil pusing tentang Dani meski wajahnya juga menunggu kepastian tentang kata-kata yang keluar dari mulut Shopie tadi.
“kalian berdua nggak tahu kan kelakuan Dani di belakang kalian dan sudah berapa banyak ceweek yang jadi korbannya” lanjut Shopie
“sudah jangan bertele-tele. Langsung saja katakan apa maksud kamu dengan bicara seperti itu tentang Dani” ucap kesal Devi.
“makanya dengerin dulu sampai selesai kalau ada orang ngomong. Oya sebelum aku lanjutin, asal kamu tahu Dev, aku nggak punya maksud apa-apa seperti yang pernah kamu tuduhkan ke aku dulu. Tapi sudahlah, itu nggak penting. Sekarang yang penting adalah, kalian salah merebutkan cowok. Dani itu hipersex, dia pacaran nggak pernah serius, dia Cuma ngincer keperawanan setiap cewek yang jadi pacarnya. Dan korbannya, udah nggak bisa di hitung lagi” tutur Shopie.
“pantes dia ngejar-ngejar aku juga” imbuh Tasha.
“nggak mungkin dia seperti itu. kamu Cuma mengada-ada kan? Apa buktinya?” ucap Devi masih tak percaya.
“aku pernah tanpa sengaja mendengar pembicaraan Dani dengan temannya di kampus mengenai hal itu” ucap Shopie.
“buatku itu bukan bukti kongkrit. Bisa saja kamu mengarang cerita agar aku bubar dengan Dani, iya kan?” tuduh Devi.
“nggak ada untungnya aku mengarang cerita ini” lalu tangan Shopie meraih handphonenya yang ada di dalam tas. “ini buktinya, aku merekam semua percakapan antara mereka”
Mereka semua terdiam mendengarkan rekaman yang di putar Shopie.
“sebenarnya waktu itu aku ingin memberikan rekaman ini ke kamu Dev, tapi justru apa yang kamu bilang? Kamu justru menuduh aku ingin merebut Dani dari kamu. Lalu kamu pergi begitu saja tanpa mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan ke kamu. Jujur saja, saat itu aku sempat marah atas tuduhan itu. tapi dari situ aku mulai mencari tahu info tentang Dani lebih jauh, termasuk siapa saja korbannya. Bukan karena seperti yang kamu tuduh ke aku, tapi karena aku nggak rela melihat sahabatku menjadi salah satu korban Dani, apalagi dia juga mendekati Tasha sekaligus yang akhirnya membuat kalian musuhan. Aku Cuma nggak ingin lihat kalian musuhan, aku ingin persahabatan ini tetap utuh, itu saja” ucap Shopie yang mulai membuat Devi dan Tasha tertunduk.
“sekarang kalian mengerti kan bagaimana bejatnya Dani? Apa sekarang kalian masih mau merebutkan cowok yang benar-benar nggak pantas untuk kalian apalagi harus mengorbankan persahabatan kita yang sudah terjalin selama 6 tahun lebih? Ayo buka mata kalian, dia nggak pantas untuk kalian” tandas Rora.
“aku nggak tahu harus bilang apa sekarang. Aku hanya bisa menyesal dan menyesal. Aku benar-benar minta maaf sama kamu Shop telah menuduhmu yang bukan-bukan”  ucap Devi lirih penuh penyesalan.
“ah sudahlan, aku juga nggak benar-benar marah sama kamu Dev. Sekarang yang aku minta ke kalian Cuma satu. Lupain Dani, karena persahabatan ini jauh lebih berharga dari seorang Dani” tutur Shopie penuh bijak.
Wajah-wajah penuh emosi dan mendung tadi pun sirna, berubah dengan senyum yang merekah bak mentari sedang merangkak naik menyinari bumi di pagi hari. Mereka berlima pun berdiri dan saling merapat, saling berpelukan erat dengan di warnai air mata penuh haru.
Akhirnya permasalahan yang membuat hancurnya persahabtan di antara mereka berlima bisa terselesaikan juga hanya dengan bicara bersama.
Sepertinya hari itu menjadi awal kembalinya persahabatan mereka yang sempat hancur oleh kesalah pahaman dan seseorang yang memang tak pantas untuk diperebutkan.

Selasa, 05 November 2013

cinta bukan modal utama...



Entah sudah berapa kali aku gagal dalam menjalani sebuah hubungan dengan seorang laki-laki sampai aku tak tahu mana yang cinta sejati mana yang bukan, mana yang cinta sebenarnya mana yang hanya sesaat atau sekedar kebutuhan saja. Ah.. aku sudah tak tahu bedanya, sepertinya kata terakhir yang tepat buatku kini, hanya sekedar kebutuhan saja. Sepertinya aku sudah tak menggunakan hati lagi dalam menerima semua lelaki yang mendekatiku, melainkan hanya mengalir begitu saja. Sebenarnya aku juga tak mau seperti ini, namun cinta sebelumnya telah menghancurkan hati ini hingga aku tak bisa melahirkan cinta lagi, tak bisa merasakan bagaimana itu cinta, bagaimana rasa manisnya cinta, aku sudah tak bisa lagi merasakan. Apalagi setelah cinta demi cinta datang silih berganti menyapa aku
Hingga hari ini, dimana tepat di hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku dengan seorang laki-laki yang telah meminangku 8 tahun lalu. Memang aku menerimanya bukan karena cinta, tapi semua itu mengalir begitu saja, aku hanya sekedar menjalani apa yang seharusnya aku jalani,  takdir mungkin lebih tepatnya. Lagi pula ini sudah memasuki jaman postmodernisasi, dimana tak perlu ada cinta dalam menjalankan pernikahan. Cinta sudah di kesampingkan. Sekarang yang terpenting hanyalah suka sama suka, hanya sekedar materi saja atau sekedar kebutuhan saja. Ya, aku rasa itu semua sudah cukup menjadi modal utama untuk melangsungkan pernikahanku dengannya.
Bukan aku sok munafik atau tak percaya dengan suatu pernikahan yang di dasari oleh cinta. Karena bagaimana bisa aku menyebut ini cinta jika selama ini aku di tipu daya oleh kata-kata cinta yang datang silih berganti, karena bagiku cinta itu hanya sekali dalam hidup, yaitu cinta yang bisa membuat kita bahagia yang bisa membuat kita nyaman yang bisa membuat kita semakin hidup dan itu adalah cinta pertamaku dengan lelaki yang telah meninggalkanku, bahkan sampai sekarang hanya ada cintanya yang masih tersimpan disini, bukan di hatiku yang telah hancur karenanya, tapi sudah menjadi nafas di tubuh ini.
Pernah aku selepasnya mencoba mencintai lelaki lain dan menjalani hubungan dengannya, aku selalu memaksakan hati ini untuk mengatakan “aku mencintainya” aku terus mengatakan seperti itu setiap kali di dekatnya atau saat dia ingin mendengarkan kata cinta padanya , tapi apa yang aku rasakan, hatiku justru semakin mengelaknya, semakin terluka saja ketika aku memaksakan diri mencintainya, tapi begitu aku bermain tanpa cinta, hatiku terasa nyaman hingga begitu seterusnya sampai terakhir dengan lelaki yang telah menjadikan aku seorang ibu dari anak-anaknya. Tapi bukan berarti aku hanya main-main dengan dia, aku sangat serius menjalani semua ini, tapi ya itu tadi, tanpa cinta, walaupun ada, itu hanya cinta yang bukan cinta sebenarnya, apalagi cinta sejati seperti pertama aku merasakan cinta.
Aku biarkan semua mengalir begitu saja seperti air, toh pada kenyataannya cinta tak begitu di perlukan dalam berumah tangga atau dalam penyatuan sel telur dan sperma. Sebagai contoh adalah aku. Aku masih bisa merasakan kebahagiaan hidup bersama swamiku yang sebenarnya tak aku cintai, bahkan aku telah melahirkan 2 anak dari pernikahan ini.
Entah sampai kapan aku akan merasakan seperti ini, menjalani sebuah keluarga tanpa ada cinta, namun bisa bertahan selama ini dan bisa merasakan kebahagiaan yang mungkin tak bisa di rasakan oleh mereka yang menikah atas nama cinta. Jika kita menelaah, dalam berumah tangga bukan cinta yang utama. Cinta lebih bermanfaat bagi mereka-mereka yang sedang kasmaran atau yang sedang PeDeKaTe. Ah aku rasa tidaklah mungkin seorang istri akan berkata seperti ini “tidak apa-apa jika hari ini kamu pulang tanpa membawa uang, yang penting kamu masih membawa cinta untukku mas”. Kata-kata yang tidak akan mungkin terucap oleh seorang istri. Jika ada, aku akan dengan lantang mengatakan “ANDA SUDAH GILA!!!!”.
“sedang apa sayang?” suara itu terdengar setelah sebelumnya aku dengar decitan pintu yang terbuka.
“tidak apa-apa mas, aku hanya menulis saja” aku segera saja menutup laptopku sebelum mas Bagas membaca apa yang aku tulis.
Ya, Bagas Saputro Wijoyo namanya, seorang lelaki mapan yang sampai saat ini tak pernah bisa aku cintai namun berhasil menikahiku dan memberiku 2 orang anak. Selama ini pula dia tak pernah tahu tentang perasaanku yang sebenarnya. Bukan karena aku berbohong dalam lisan kepadanya, tapi karena mas Bagas tak pernah menanyakan hal itu dari saat pertama bertemu, bahkan sampai saat melamarku. Kata-kata yang masih aku ingat sehari sebelum melamarkau adalah “kamu tak perlu mengatakan cinta atau membuktikan cintamu kepadaku, dengan menerima lamaranku besok, itu sudah cukup membuktikan bahwa kamu mencintaiku sama seperti aku mencintaimu”. Kata-kata yang akan selalu aku ingat dalam hidupku, bukan karena keromantisannya, melainkan kata-kata itu yang membuat aku merasa berdosa sekali, karena kata-kata itu salah besar. Bukan karena cinta aku menerima lamarannya, tapi karena mungkin dialah takdir untukku.
“selamat ulang tahun untuk pernikahan kita yang ke 8 sayang”. Ternyata tanpa aku sadari, dia membawa sebuah kue kecil yang di sembunyikan di belakang tubuhku saat masuk ke kamar ini. Kami berdua meniup lilin yang ada di atas kue itu bersama-sama. Aku tersenyum memandang wajahnya.
Mas Bagas memelukku erat sembari mencium keningku. Aku hanya diam saja menerima semua itu hingga tubuhku ia rebahkan di atas ranjang. Entah cinta atau bukan ini namanya, yang jelas kami sama-sama menikmatinya hingga pagi menjelang.

Minggu, 03 November 2013

Dan Bintang Aurora (kekasih imajinasi)



“makasih ya sayang buat malam ini” ucapnya setelah turun dari motorku
“iya sayang. Daagh sayang, sampai ketemu besok ya” ucapku kepadanya dengan posisiku yang masih di atas motor.
“iya sayang, dadagh. I love you” jawabnya yang sudah berdiri di sebelah kiriku.
Ucapan yang membuat anganku semakin melayang terasa acak dan anganku mulai tak beraturan, tertuju pada entah apapun itu hingga alam bawah sadarku yang menguasai semuanya. Itu artinya duniaku sudah berganti dengan dunia mimpi. Ya aku tertidur. Namun entah pada jam berapa aku sudah berada dalam dunia mimpi, aku tak pernah bisa mengetahuinya, yang jelas dunia mimpiku seakan begitu cepat menempatkan aku. Tepat jam enam pagi alarmku berbunyi dengan keras yang membuat dunia mimpiku hancur luluh lantah dan mengembalikan aku di dunia nyata.
Seperti biasa, rutinitas pagiku sangatlah padat. Aku harus merapikan kamarku yang setiap hari seperti kapal pecah walau setiap hari juga telah aku rapikan setelah bangun tidur, mengumpulkan pakaian-pakaian kotor dan mengantarkan ke laundry sebelah kost, setelah itu harus antri untuk bisa mandi. Maklum di kost ini hanya ada satu kamar mandi untuk semua nyawa yang jumlahnya sekitar 20 orang di kost ini. Bukan karena pemilik kost yang pelit menyediakan kamar mandi hanya satu, tapi anak-anak kost yang memang terlalu brutal memakai kamar mandi hingga membuat kamar mandi tak bisa di pakai lagi, alhasil kamar mandi yang tersisa yang masih bisa di pakai tinggal satu, itupun pintunya harus di ganjal dengan batu dari dalam agar tetap tertutup.
“tadi malam, malam mingguan kemana bro?” tanya Kendi yang sudah berada di belakangku yang juga mengantri untuk mandi.
Entah sejak kapan rutinitas bertanya kepadaku itu dia lakukan dan sejak itu juga jawaban dia selalu sama “ooo” dan dengan ekspresi yang datar pula, seperti tak ada sesuatu yang menarik setelah aku jawab setiap pertanyaanya walau jawabanku sepanjang apapun. Tapi yang aku heran, kenapa dia selalu bertanya kepadaku tentang aku dan pacarku.
“biasa, keluar ma Rora”. Kali ini jawabanku sangat singkat tak seperti biasanya. Aku sudah bosan menjawab dengan jawaban yang panjang, toh komentar dia akan sama.
“ooo” jawabnya.
Ah aku sudah bosan dengan komentarnya yang masih juga sama. Sebenarnya sudah sejak lama aku perhatikan raut wajahnya ketika mengomentari jawabanku atas pertanyaannya. Dan aku menangkap ada sesuatu yang tertulis di wajanya, tapi entah apa itu, rasanya memang aneh dengan semua komentar dia jika berhubungan dengan Rora dan aku tak mampu membaca dengan jelas apa yang tertulis itu. aku malas membahasnya, apalagi menanyakannya.
Aku bergegas masuk setelah aku lihat Rendi keluar dari kamar mandi. Belum sampai aku menanggalkan semua pakaianku, aku mendengar mereka seperti membicarakan sesuatu yang aku tak bisa mendengarnya dengan jelas, tapi jelas, mereka sedang membicarakan aku. “ah masa bodoh lah” ucapku dalam hati dan segera saja menyelesaikan mandiku ini karena aku ada janji dengan Rora untuk jalan-jalan, mumpung hari minggu.
“kayaknya ceria banget wajahmu bro? Di dalem dapat apaan?”
Aku tersenyum menyambut pertanyaan dari Kendi. Baru saja ingin aku jawab, dia sudah melempariku dengan pertanyaan lagi.
“oya, tumben pagi-pagi udah mandi, biasanya hari minggu kamu paling males mandi. mau pergi ya? Ma siapa nih?”
“yup bener, ma Rora”
“ooo”
“a o a o aja. Udah sana mandi” suruhku.
Kemeja kotak-kotak sudah terpakai, minyak wangi sudah tersebar di semua bagian tubuh, jeans hitam sudah melekat dan sepatu sudah siap. Waktunya untuk berangkat.
“kita mau kemana jalan-jalan kemana sayang?” ucapku.
“kemana saja yang penting bersama kamu sayang” jawabnya dengan tangan yang semakin erat melingkar di perutku dan ku rasakan kepalanya tersandar di pundakku.
Aku lihat cuaca sangat bersahabat, tidak begitu panas, hanya mendung tanpa ku lihat tanda-tanda akan turun hujan, sejuk aku rasakan, sesejuk pelukan Rora yang memelukku di belakang. Aku bawa dia ke sebuah taman, bermain, bercanda, dan bercerita apa saja. Aku seperti sepasang kekasih yang paling bahagia di dunia. Aku sangat sayang kepadanya dan begitu juga dengan dia, sangat sayang kepadaku.
Aku meneguk habis air putih yang sedari tadi tersedia di depanku. Seakan gurun pasir di kerongkonganku luntur sudah.
“sayang laper nih” ucap Rora dengan nada manja kepadaku. Nada-nada manja yang sering keluaar dari mulutnya itu yang membuat aku semakin sayang kepadanya. Seakan akulah segalanya di hatinya. Dan jujur, itu yang selalu aku rindukan darinya, nada-nada manja.
“ya udah kita cari tempat makan ya. Lagi pua kita juga udah lama di sini” ajakku beranjak dari taman. “mau makan apa?” lanjutku.
“apa sajalah. Sayang kan udah tahu apa saja makanan kesukaanku” ucapan yang di akhiri dengan senyum manis dan di tambah sedikit tingkah manjanya pula.
Aku bawa Rora ke tempat biasa, tempat yang jadi favoritnya juga. Oleh karena itu, hampir setiap minggu kami sering makan di tempat ini. Sampai hafal dengan semua waiter dan semua sudut tempat duduk sudah pernah kami tempati. Seperti biasa, dia memesan semua makanan kesukaannya, sampai para waiter sudah hafal dengan menu yang akan di pilih Rora. Dalam penantian semua makanan yang sudah kami pesan, aku terus mendengarkan cerita-ceritanya, memang dia orang yang sangat cerewet menurutku, tapi aku suka. Pas dengan aku yang lebih banyak diam. Jadi seimbang.
“entah kenapa setiap minggu aku makan disini dan makan makanan yang sama juga, aku tak pernah bosan”
 “maaf, boleh saya ke kamar mandi sebentar?” mungkin akibat minuman yang tadi aku teguk habis di tambah dengan AC yang lama kelamaan aku rasa semakin dingin. “oya, kamar mandinya di sebelah mana?” lanjut tanyaku setelah dia mengijinkanku. Bergegas aku menuju arah yang dia tunjukkan.
“aku tahu kenapa”
“kenapa sayang?” dengan raut wajah yang mengkerut tanda benar-benar ingin tahu.
“karena ada aku di depanmu sayang” aku akhiri dengan senyuman kepadanya.
“ah sayang bisa aja. Tapi bisa juga sayang” dia juga mengakhiri ucapannya dengan senyuman kepadaku.
Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama bersama dengan Rora, namun selalu saja waktu yang terus memisahkan kami berdua. Di menjelang petang aku harus mengantarnya ke rumahnya.
Tapi sering juga Rora aku ajak main ke kostku, bahkan tak jarang juga sampai larut malam di dalam kamarku, maklum saja kost yang kami tempati terlalu bebas. Banyak juga penghuni kost yang lain mengajak pacarnya untuk menginap. Tapi tidak untuk aku, aku bukan orang yang terlalu bebas untuk itu, aku masih punya norma-norma yang aku pegang. Tapi aku juga bukan orang yang terlalu lugu dalam berpacaran. Pernah waktu itu, aku di pergoki oleh Kendi saat aku lupa menutup pintu kamarku, saat itu aku tengah asik berciuman dengan Rora. Ya, aku baru ingat, sejak itulah Kendi sering bertanya yang menurutku aneh-aneh kepadaku. Tak jarang Kendi selalu berdehem atau sengaja batuk ketika lewat depan kamarku saat aku bersama Rora. Padahal dulu, dia tak seperti itu ketika aku masih berpacaran dengan Sofhi.
“iya, dia mantanku yang pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya dua tahun lalu, karena sakit yang dia idap terlalu parah. Namanya Sofhia Alamanda”
“kalau pacarmu yang sekarang, apa punya nama panjang?”
“iya, namanya Dan Bintang Aurora”
“apa mereka mirip?” tanyanya cepat.
“iya, mereka hampir sama. Sampai aku tak bisa membedakan mereka berdua”
“atau Rora itu sebenarnya adalah soudara kembar Sofhi atau memang Rora itu adalah Sofhi” ucapnya yang membuat aku bingung karena aku sudah lama berpacaran dengan Sofhi dan sudah mengenal semua anggota keluarganya, jadi tak mungkin kalau Rora adalah saudara kembar Shofhi. “Shofhi adalah Rora? Maksud anda Rora itu hantunya Sofhi? Tidak mungkin, semua yang aku lakukan bersama Rora terlalu nyata jika dikatakan Rora adalah hantu. Aku bisa memegang dia aku bisa memeluk dia, bahkan menciumnya dan pelukannya begitu nyata, jadi tak mungkin juga Rora adalah hantu dari Sofhi. Tapi memang yang membuatku bingung adalah, tiba-tiba dia menghilang begitu saja. Sedangkan hubungan kami baik-baik saja”
“bukan itu maksud saya”
“terus..” ucapku cepat menyela kata-katanya.
“jadi begini, setelah saya mendengar semua cerita saudara, saya menyimpulkan bahwa Rora sebenarnya tak nyata”
“saya semakin bingung dengan kata-kata anda, bisa tolong lebih di perjelas?”
“banyak orang yang merasa depresi dan stres ketika di tinggal orang yang sangat di cintainya. Sama seperti anda yang kehilangan Sofhi. Jika orang itu tak bisa mengatur pikirannya, otomatis pikiran itu akan berjalan dengan sendirinya, membuat sesuatu yang tidak nyata seolah-olah nyata. Jadi bisa di sebut, Rora itu adalah khayalan yang di munculkan oleh pikiran anda sendiri. Apa anda berpikir, kenapa teman anda sering bertanya kepada anda dan ketika anda jawab, dia hanya berkomentar “ooo”. Itu karena teman anda tahu bahwa Rora itu tidak ada. Dan waktu dia memergoki anda sedang di kamar berdua dengan Rora, teman ada hanya melihat anda itu sendirian sedang melakukan yang anda katakan tadi”
“berarti anda mengatakan saya gila?”
“tidak, anda tidak gila, hanya mengalami gangguan dalam pikiran anda, karena anda belum bisa menerima kenyataan bahwa Sofhi itu meninggal”
“trus kenapa Rora tiba-tiba menghilang”
“itu artinya seiring waktu berjalan anda sudah bisa melupakan Sofhi, dan pikiran anda secara otomatis berangsung kembali normal bersatu dengan semua anggota tubuh anda yang lain, dengan begitu, pikiran anda yang dulu selalu memunculkan sosok Rora sekarang tak bisa lagi”
“jadi, Rora itu hanya imajinasiku saja?”
“ya begitulah kira-kira”
Aku benar-benar tak percaya dengan penjelasan yang aku dapat, karena buatku, Rora begitu nyata menemani hari-hariku. Memang aku akui aku dulu terlalu sangat mencintai Sofhi sampai aku tak percaya kalu dia meninggal dunia. Tapi bagaimana keadaanku kini dan siapapun Rora, aku tak bisa melupakan kenangan-kenangan manis saat bersamanya, meski entah itu benar-benar terjadi atau tidak.

Sabtu, 02 November 2013

obrolan si miskin...

   "orang kok bisa punya mobil ya? kerjaanya apa ya ndut?" saat memandang sebuah mobil Honda Jazz yang terparkir di halaman rumah tak jauh dari gardu ronda dimana dia dan gendut berada.
   "kalo cuma beli sih gampang, tapi yang susah setelah belinya itu king. coba deh itung, sehari buat beli bensinya berapa, trus sebulan berapa, belum lagi buat perawatannya, itu baru buat mobil, belum lagi buat makan, uang jajan anaknya, bayar listrik, pulsa, kebutuhan rumah. apa cukup cuma ratusan ribu? nggak kan? pasti ampe jutaan kan? trus gajinya sebulan berapa ya? aku aja yang tiap hari kerja banting tulang ampe lupa waktu, masih aja miskin kayak gini" ucap gendut.
   "iya iya ndut. tapi yang jelas lebih dari pengeluaranya sebulan. trus berapa ya ndut?" tangannya sambil menggarut kepala bagian belakang. "kok bisa ya ndut? caranya gimana ya ndut biar bisa jadi orang kaya?"  lanjut dia bingung.
"wah aku juga nggak tau king. tapi besok kalo aku udah jadi orang kaya, aku kasih tahu caranya gimana" ucap gendut dan di akhiri dengan kekehan.
   "ah ngimpi kamu ndut, SMP saja kamu nggak lulus mau jadi orang kaya" ceking menyangkalnya.
   "iet..jadi orang kaya itu nggak harus lulusan sarjana king. coba lihat deh, bayak juga yang cuma lulusan SMP atau bahakan SD yang bisa jadi orang kaya. yang penting tu mau berusaha keras dan jangan malasan. percuma kan kalo lulusan sarjana tapi orangnya malasan, sama aja kan hayo?" dengan nada sok bijak
   "tapi...tadi kamu bilang kamu kerja ampe banting tulang aja masih aja miskin kan, hayo?" mulutnya sambil mengunyah ubi rebus, sedang gendut tengah asik menikmati kopi yang masih mengebul.
   "iya iya...trus apa yang salah ya king?" api yang tadi berpijar memancarkan kebijakan seketika redup padam setelah mendengar ucapan ceking tadi.
   "aku juga nggak tahu ndut. kalo aku tahu, aku pasti udah jadi orang kaya sejak dulu"
   mereka saling tatap tanpa ada sedikitpun sara yang keluar dari mulut mereka, hanya suara riuh dari acara di tv yang terdengar. dalam pikiranya mereka saling mencari sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu apa.
   "woi.. pada ngapain kalian bengong gitu. di suruh jaga malah pada bengong gitu, ntar kalo ada maling gimana?" ucap kribo yang baru saja datang.
   dengan jelas gendut menceritakan kembali apa yang sedang mereka bicarakan sedari tadi yang membuat akhirnya mereka saling melongo bengong.
    "o gitu. itu namanya, hidup kalian belum beruntung dan belum jadi rejeki kalian"
   "trus biar hidup kita beruntung dan jadi rejeki kita gimana?" tanya ceking penasaran yang di ikuti oleh gendut. "iya gimana caranya bo?"
   "berdoa dan berusaha, lalau tawakal, apapun hasilnya yang penting kita sudah berusaha. ingat Tuhan nggak akan menyia-nyiakan setetes keringat setiap umatNYA yang mau bekerja keras dan berdoa. entah sekarang atau suatu saat, DIA pasti akan membayarnya. oya satu lagi, dan jangan banyak tanya, apalagi banyak heran seperti kalian. liat orang kaya aja heran. ngerti nggak?"
   "iya ngerti" ucap ceking dan gendut kompak.
   "tapi jangan asal ngerti aja, di kerjakan juga apa yang aku bilang tadi"
   "tapi..kenapa kamu masih juga seperti kami?" ucap ceking
   "iya bo, jangan-jangan itu cuma omong doang? buktinya kamu masih seperti kita, hayo?" lanjut gendut
   "eee itu.. ee itu"
   akhirnya waktulah yang harus menghentikan obrolan yang entah kemana juntrungannya. bagi mereka, menjadi orang kaya hanyalah sebuah kutukan yang tak akan pernah terjadi dalam hidup mereka, bahkan bermimpi pun mereka tak bisa.