Kamis, 13 Juni 2013

aku bukan pujangga (bag. semua seperti mimpi)





            Akhirnya sampailah mereka di tempat budhe Lastri setelah beberapa menit perjalanan dengan menggunakan taxi dan betapa kagetnya budhe Lastri setelah melihat Arya bersama dengan seorang gadis yang di kira itu adalah Jingga. “jadi gadis yang kamu bilang akan kamu bawa dari Bali itu ternyata Jingga Ar?”. Arya hanya tertawa saja tanpa menjawab pertanyaan budhenya dan Senja hanya ikut tersenyum saja, senyum yang sama seperti milik Jingga. “kamu ngawur saja Ar, bawa anak orang ke Bali, sudah dapet ijin belum dari Bu Fitri?” lanjut lagi budhe Lastri yang belum tahu siapa gadis yang bersama Arya itu.
“budhe, boleh Arya masuk dulu, nanti di dalam Arya jelaskan semuanya” jawab Arya yang masih berada di teras dan berjalan menuju ruang tamu yang di ikikuti oleh Senja lalu budhe Lastri. Tas bawaannya ia letakkan di dekat sofa dan ia pun langsung duduk seperti orang yang telah selesai mengangkat beban berat di pundaknya. Dan budhe Lastri yang masih saja dengan wajah bingungnya bertanya kembali.
“gini lo budhe, dia ini bukan Jingga”
“trus siapa Ar kalau bukan Jingga. Orang wajahnya sama persis dengan Jingga” sela budhe Lastri.
“kan Arya baru mau jelasin, budhe main sela aja. Dia ini Senja, kenapa persis dengan Jingga? Karena dia ini kembaran Jingga. Ya walau Arya belum yakin 100% sih. Makanya dia kesini buat membuktikan apa benar Jingga itu kembaran Jingga. Budhe kan kenal dengan”
“tunggu bentar, tadi kamu bilang kembar?” sela lagi budhe Lastri yang sepertinya tahu sesuatu.
“itu baru kesimpulan Arya sih budhe. Memang kenapa budhe?”
“budhe jadi inget sesuatu. Dulu sekitar 21 tahun lalu, budhe pernah denger kalau keluarga bu Fitri menemukan bayi. Iya bener, budhe inget itu”
“trus budhe?” kali ini Senja ikut angkat bicara setelah sedari tadi hanya diam saja.
“budhe ndak tau persis ceritanya gimana, yang jelas kabar kalau keluarga bu Fitri menemukan bayi itu memang benar”
“jadi benar Ar Jingga itu kembaran aku” wajahnya bersinar bak mentari yang memiliki harapan. “ayo Ar kita temuin Jingga”. Lelahnya seakan sirna setelah mendengar apa yang di katakan budhe lastri. Dalam pikiranya hanya ingin bertemu dengan Jingga secepatnya untuk membuktikan rahasia yang telah tersimpan begitu lama.
“nanti saja, kalian kan baru sampai, istirahat saja dulu, pasti capek kan, nanti sore saja ke tempat Jingga nya”
“bener Ja apa kata budhe, sebaiknya kita istirahat dulu, nanti sore baru kita ke rumah Jingga”.
Akhirnya Senja mengiyakan saran budhe yang di tegaskan oleh Arya dan dengan di antar budhe Lastri, Senja menuju satu kamar yang tersisa di rumah itu untuk istirahat sebelum sore nanti waktu yang begitu di nanti Senja datang. Sekalian merumuskan apa saja yang akan ia lakukan nanti. Sekuat tenaga ia kumpulkan, sekuat hati ia lapangkan untuk menghadapi sesuatu yang ia sendiri tak tau seperti apa yang ia akan temui nanti, karena ia rasa bukan seperti dosen killer ataupun monster seram yang pernah ia temui, ia benar-benar tak bisa menggambarkan yang akan ia temui nanti.
Tetap saja perasaan hatinya yang ingin segera menemui Jingga terus mengusik dan membuatnya tak bisa memejamkan kedua matanya, ia terus saja terjaga dan gelisah bagai cacing kepanasan. Pekerjaannya hanyalah mondar mandir ke setiap sudut kamar, bingung apa yang ingin ia lakukan. Sesekali hanya duduk terdiam lalu berdiri di dekat jendela lalu duduk kembali di ujung kasurnya, begitu seterusnya hingga ia pun akhirnya merasa lelah dan mencoba merebahkan tubuhnya di atas kasur meski kedua matanya tak kunjung terpejam.
ӝӝӝӝӝ

            “gimana, udah siap untuk kerumah Jingga?”
“siap nggak siap aku harus siap Ar”
Dengan mengendarai motor milik pakdhenya yang sering ia pakai, Arya bersama Senja melaju pelan menuju rumah Jingga. Tak sampai 15 menit, merekapun sampai di depan rumah Jingga. Perasaan dalam hati Senja semakin tak menentu.
Tangan Arya yang ingin mengetuk pintu di depannya terhenti setelah Senja berkata “tunggu bentar Ar” dan Senja terlihat menarik nafas dalam-dalam beberapa kali untuk melemaskan ketegangannya yang menyerang segala ototnya. Setelah Senja memperbolehkan Arya untuk meneruskan yang ia tahan tadi, tangan Arya dengan pasti mengetuk pintu yang masih tertutup itu tiga kali.
“iya sebentar” suara ibu Fitri dari dalam. “eh nak Arya, monggo silahkan masuk” ucapnya yang belum menyadari seseorang yang berada di belakang Arya karena badan Arya yang memang tak begitu besar namun cukup untuk menghalangi objek yang ada di belakangnya. Arya melangkah masuk dan di ikuti Senja yang kedua tangannya mengenggam erat tangan kanan Arya. “oh sama kamu to nduk, kenapa pakai ketuk pintu segala, biasanya juga nyelonong saja” ucap Ibu Fitri yang sudah menyadari kehadiran Arya bersama anaknya, yang tentu dalam pikirannya. Mereka berdua duduk bersebelahan yang membuat bu Fitri bisa melihat sedikit kejanggalan pada mereka berdua “kok kamu kayak orang lain to nduk? Ada apa sebenarnya ini? tadi sepertinya pamit pergi sama Dimas, tapi pulang bareng Arya, ada apa?” bu Fitri masih mengira gadis itu adalah Jingga walau bu Fitri sudah merasakan keanehan pada gadis itu.
“maaf sebelumnya bu, saya dan teman saya ini datang kesini mau menanyakan sesuatu”. Ucapan Arya semakin membuat bu Fitri bingung, apa lagi tadi Arya menyebutnya dengan kata teman saya ini. kata-kata yang memang kurang tepat di ucapkan kalau gadis itu seandainya Jingga.
“tanya apa nak Arya?” wajahnya mulai panik, pikirannya sudah melayang kemana-mana takut jika memang terjadi apa-apa dengan Jingga.
Namun Arya susah membuka mulutnya untuk berkata, ia juga bingung mau memulai dari mana. Mulutnya hanya terdengar kata “eee” berulang-ulang.
“kok malah diem gitu nak Arya? Tadi mau tanya apa?” tanya ibu Fitri sekali lagi
“begini bu, tapi maaf sebelumnya jika saya lancang bertanya soal ini kepada ibu Fitri”
“ndak apa-apa jika memang itu perlu”
Dan sebuah pertanyaan yang tak pernah terpikirkan oleh bu Fitri akhirnya terdengar juga, Arya dengan sedikit takut kalau ia akan menyinggung hati bu Fitri, menanyakan apakah Jingga itu anak kandung bu Fitri atau bukan. Memang pertanyaan yang mengejutkan bu Fitri hingga ia terdiam sejenak mengatur nafas untuk menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Arya. Sebenarnya bu Fitri terkejut bukan karena takut Jingga akan marah setelah tahu yang sebenarnya, karena hal itu sudah mereka bicarakan saat Jingga beranjak dewasa, tapi terkejut karena Arya yang memang bukan anggota keluarganya dan termasuk orang baru dalam keluarga bu Fitri bisa menanyakan hal yang sudah bertahun-tahun terjadi.
“ibu ndak tau maksud nak Arya tanya begitu itu apa, tapi ibu akan cerita” lalau pandangannya mengarah ke gadis yang duduk di sebelah Arya yang memang terlihat berbeda dengan Jingga, yang sudah jelas dilihat dari sikapnya sedari tadi hanya diam saja seperti tak mengenalinya. “memang Jingga itu bukan anak kandung ibu”
“jadi semua itu benar Ar” akhirnya terdengar juga suara dari gadis yang duduk di sebelah Arya.
“maksdunya?” tanya bingung bu Fitri yang belum menemukan pokok permasalahan dari apa yang di lihatnya itu.
“lalu bagaimana ceritanya Jingga bisa menjadi anggota keluarga bu Fitri?” tanya Arya penuh penasaran juga.
Tanpa memperdulikan gadis di sebelah Arya itu siapa, bu Fitri akhirnya menceritakan semua kejadian yang ia alami 21 tahun silam. Sebuah cerita yang mengejutkan Arya dan Senja yang membuat Senja akhirnya menitikan air mata bahagia, yang sudah tentu bahagia karena akhirnya ia menemukan saudara kembarnya setelah selama hidupnya tak bertemu dan yang pasti amanah di pundaknya akan segera terangkat. Dan Arya pun menceritakan siapa sebenarnya gadis yang duduk di sebelahnya setelah bu Fitri ganti bertanya apa yang membuatnya bingung. Sungguh jawaban yang juga mengejutkan bu Fitri, sampai-sampai ia tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Bayi kecil mungil yang dulu ia temukan ternyata memiliki saudara kembar.
“setelah nak Senja tau, apa nak Senja akan membawa Jingga ke keluarga kalian? Walau dia bukan anak kandung ibu, dia sudah ibu anggap anak ibu sendiri” kata yang menggambarkan betapa takutnya bu Fitri kehilangan Jingga setelah 21 tahun merawatnya dengan penuh kasih sayang sampai Jingga tumbuh besar.
Air mata yang masih mengalir, senyum yang juga merekah dari bibir Senja, menghiasi gelengan kepala sebagai jawaban tidak. “saya tidak akan mengambil Jingga dari keluarga ini, karena orang tua saya sudah meninggal semua dan saya sekarang yatim piatu”. Tegasnya kembali dengan kata-kata.
Mendengar ucapan Senja, hati bu Fitri menjadi tenang, apa yang di takuti langsung terjawab sudah.
“saya bisa sampai kesini karena amanah yang di titipkan kedua orang tua saya sebelum meninggal untuk mencari putrinya yang hilang dan ingin meminta maaf karena kelalaiannya menjaga putrinya dulu”
Sejenak bu Fitri hanya terdiam mendengar bahwa orang tua Senja sudah meninggal. Senang ataukah sedih yang harus ia rasakan, ia tak tahu. “kalau begitu nak Senja tunggu saja, mungkin sebentar lagi Jingga pulang. Katanya tadi Cuma bentar perginya”. Dan belum ada satu menit suara mobil Dimas terdengar dari dalam. “nah itu mereka pulang” lanjut bu Fitri.
“aku kok jadi deg-degan lagi ya” ucap Senja setelah menoleh ke arah dimana mobil itu berhenti yang terlihat dari balik jendela. Sekali lagi tangannya menggenggam erat tangan Arya.
Jingga terlihat berjalan sendiri setelah mobil Dimas mulai pergi meninggalkan halaman rumah Jingga. “loh ini kan motornya pak Hardi, siapa yang pakai ya? Apa mungkin Arya?”. Tebak Jingga, namun ia tak bisa menebak dengan siapa ia datang. Seseorang yang pasti akan mengejutkan dirinya, bahkan ia akan menganggapnya semuanya seperti mimpi, ya seperti mimpi yang akan ia rasakan. Sama seperti yang dirasakan semuanya. Langkah Jingga terhenti di depan pintu setelah melihat siapa yang berada di ruang tamu bersama ibunya. Yang jelas bukan karena ia melihat Arya, tapi seorang gadis yang duduk di sebelah Arya. Wajahnya mulai bingung dengan apa yang ia lihat, ia menegaskan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi dan dalam keadaan 100% sadar. “sini nduk masuk dan duduk dulu” suruh ibunya. Ia berjalan gontai mendekati ibunya. Senja dan Jingga hanya bisa saling menatap muka tanpa saling berkata dan menyapa.
“ibu tau kamu pasti bingung nduk dengan apa yang kamu lihat sekarang” ucapan ibunya mengalihkan pandangan Jingga. “dia kembaran kamu nduk”. Masih saja Jingga hanya bisa terdiam dengan pandangan yang terus bingung. Dan perlahan ibunya menceritakan apa yang telah Arya katakan tentang semuanya. Penjelasan yang mampu membuat air mata Jingga keluar perlahan. Jingga berdiri, perlahan berjalan mendekati Senja yang juga sudah dalam keadaan berdiri. Tanpa ada aba-aba mereka saliang memeluk erat. Sebuah adegan yang mengharukan bagi Arya dan bu Fitri, termasuk Senja dan Jingga, dimana dua orang manusia yang memiliki hubungan darah bertemu untuk pertama kali setelah sekian lama terpisah, bahkan hal yang belum lama terungkap. Hingga hujan air mata yang tampak menghiasi ruangan itu. Lama mereka saling berpelukan, seakan rindu tebal yang tak kunjung luntur.
Setelah waktu berpelukan usai, mereka duduk kembali dalam satu sofa di sebelah Arya. Tangannya saling bergandengan, matanya masih saling memandang, masih saling berpikir semua seperti mimpi. Tak lagi memerlukan bantuan cermin untuk melihat wajah mereka sendiri seperti yang selalu mereka lakukan setiap hari, wajah itu sudah ada di depan mata, bahkan secara nyata karena mereka adalah dua orang manusia yang kembar identik, dari ujung rambut sampai kaki sama semua, bahkan tiap lekuk wajahnya pun tak ada yang beda.
“sebelum ayah meninggal, beliau menitipkan pesan padaku, orang tua kita meminta maaf karena telah lalai menjaga kamu sehingga kamu bisa lepas dari tangan mereka. Tapi bukan mereka tak bertanggung jawab. Selama bertahun-tahun, sudah banyak usaha yang mereka lakukan untuk mencarimu, sampai ibu meninggal saat kita masih kecil karena terlalu memikirkan kamu. Dan setelah itu tinggal ayah sendiri yang terus berusaha mencarimu, hingga akhirnya ayah pasrah menyerah juga, ayah hanya bisa berdoa terus agar kamu  baik-baik saja di manapun kamu berada”.
Dalam pelukan kembali, dengan lirih Jingga mengatakan kalau dirinya ingin melihat kedua orang tuanya yang asli walau ia tahu semuanya sudah tak mungkin terlaksana.
“aku bisa mengantarkan kamu ke makam mereka berdua di Bali”.
Mimpi apa semalam mereka sampai mengalami kejadian yang tak pernah sekalipun terbesit dalam benak mereka masing-masing. Tapi semua itu nyata terjadi di kehidupan mereka. Kejadian yang merubah hidup mereka, Senja yang tak lagi sendiri, masih ada seseorang yang memiliki hubungan darah yang masih tersisa dan Jingga yang sebelumnya sudah tahu bahwa dirinya bukan anak kandung dari orang tua yang telah merawatnya, akhirnya bisa bertemu juga dengan salah satu anggota keluarganya yang memilki hubungan darah. Semua seperti mimpi bagi mereka berdua.

(baca selengkapnya di Aku Bukan Pujangga)

Kamis, 16 Mei 2013

kenangan di hari ulang tahunku...

Aku diam terduduk di sudut ruangan dengan meja yang berisi satu kursi kosong di hadapannku, berteman segelas orange juice dan beberapa makanan yang sudah tersaji dari tadi. Aku tetap duduk mematung, tak satupun dari makanan yang ada di meja aku pegang dan mataku pun mulai memancarkan tatapan kosong. Entah aku menunggu apa untuk memulai menyantapnya, yang jelas aku belum ada nafsu makan, sedangkan asap yang mengepul dari makananku tadi sudah terlihat menghilang.
Aku terkejut oleh tangan yang tiba-tiba menutup mataku dari belakang, dengan reflek kedua tanganku meraih tangan itu dan mencoba melepaskannya. Aku menoleh kebelakang dengan mata yang masih agak rabun karena eratnya tangan tadi menutupi kedua mataku dan ku dapati wajah yang tersenyum manis kepadaku sambil pelan mengucap “selamat ulang tahun sayang”.
Dia berjalan menuju meja kosong di hadapanku, masih dengan wajah yang tersenyum manis kepadaku, ia berkata minta minta maaf karena sudah telat beberapa menit dari waktu yang sudah kita sepakati. “nggak apa-apa kok sayang. Aku sudah cukup senang kamu sudah mempersiapkan dinner ini disini, romantis banget”. Tempat yang aku rasa memang romantis dengan penerang lilin yang terpasang di setiap meja, gemecik suara air di kolam juga terdengar jelas, pemandangan langit malam yang penuh bintang-bintang bertaburan. Semua itu memang manambah hawa romantis di malam hari.
Tangannya meraih tangannku, ia memintaku untuk menutup mata dan yang aku rasakan saat itu hanya tangannya tak tak lagi menggenggam tanganku. Hingga beberapa menit, aku benar-benar tak apa-apa dalam pejaman mataku. “sudah boleh buka mata belum?”. Dan ku dengar suaranya berkata “belum sayang”. Entah apa yang dia lakukan, sungguh membuatku penasaran dalam hati. Baru saja aku selesai memikirkan itu, tiba-tiba aku rasakan ada sentuhan di rambutku lalu di leherku. Sentuhan yang berasa hangat dan dingin yang sudah aku tahu dari mana asal keduanya. Ya, dari hangatnya tangan dia yang menyentuh leherku dan sebuah benda kecil yang akhirnya terpasang di leherku. Lalu aku membuka mata setelah aku dengar “sekarang boleh buka mata sayang”.
Aku lihat sebuah kalung dengan liontin berinisial S terpasang di leherku. “makasih sayang, aku suka banget liontinnya”. Aku tahu itu pasti dia yang mendesignnya karena aku kenal betul dengan dia, dia suka sekali mendesign barang yang ingin dia beli, walau sebenarnya dia tak penah mendapat pelajaran design secara formal. Tapi yang jelas aku benar-benar suka dengan liontin yang terpasang di leherku. Sekali lagi aku dapati wajah dengan senyum yang manis sebagai jawabannya.
Aku pun mulai menikmati hidangan yang sudah ada di meja bersamanya. Malam yang cerah dengan bertabur bintang-bintng kami habiskan berdua saja. Bisa di bilang inilah hari ulang tahunku yang sangat berkesan yang tak akan terlupakan sampai kapanpun juga. Aku rasakan banyak bunga-bunga di dalam hatiku kini. Hari yang benar-benar special buatku. “terima kasih sayang” ucapku dalam hati.
“kamu tu nggak boleh banyak-banyak sayang pake saosnya, ntar sakitmu kumat lo” saos yang ku genggam ia serobot sebelum ia berkata seperti tadi.
Aku tersentak kaget, botol saos yang aku pegang aku letakkan kembali. Aku terlihat bingung dengan apa yang barusan terjadi. aku mulai tersadar dan aku lihat memang hanya diriku saja yang duduk di meja ini dan akhirnya aku sadar semua ini hanyalah kenangan yang menjelma menjadi ilusi saja. Entah kenapa tiba-tiba kenangan itu hadir kembali disini. Mungkin karena alunan lagu my immortal dari evanescence yang terdengar dari setiap sudut ruangan ini yang sering aku dengar bersamanya empat tahun lalu dan memaksaku untuk mengingatnya kembali. Dia yang telah pergi jauh bersama sayapnya yang baru, terbang menuju tempat yang paling damai, surga.
Aku kembai tersentak oleh lirihnya suara yang mengatakan “selamat ulang tahun sayang”. Aku sadar, aku benar-benar dalam keadaan 100% sadar, bukan ilusi, tapi aku juga tak menemukan asal suara itu walau aku yakin benar suara itu nyata. “apa itu suara kamu sayang?” tanyaku dalam hati meski aku tak akan pernah mendapatkan jawabannya.
13685929222138722547

Senin, 06 Mei 2013

sebelum aku meninggalkan jogja...

waktu itu aku di ajak rani untuk main ke tempat kerjanya. saat itu aku hanya diam saja walau rani memperkenalkan beberapa temannya kepadaku, bukan karena aku sok jual mahal, tapi memang aku orang yang pemalu. saat itu aku hanya menikmati beberapa makanan yang ada di depanku, aku tak begitu mengikuti obrolan rani dengan temannya. aku hanya sesekali mencuri pandang kepada temanya yang bernama dani. memang sekilas orangnya tanpak biasa saja, tapi begitu dia tersenyum, wajahnya menjadi manis, itu alasan kenapa aku sesekali mencuri pandang kepadanya. "ternyata dani kalau senyum manis juga ya ran?" ucapku setelah dani pergi meninggalkan kami berdua. "cie cie" jawab singkat rani kepadaku.
   hari itu masih tak ada sesuatu yang special dalam perkenalanku dengan dani walau aku sempat memuji senyumnya yang manis. namun di pertemuan kedua, aku mulai berani menjawab setiap pertanyaan yang dia ajukan kepadaku. entah kenapa rasa maluku itu cepat berlalu. singkat cerita aku dan dani mulai masuk dalam satu obrolan yang aku sendiri bingung apa yang kami obrolkan, karena memang kami baru mengenal satu sama lain, masih belum ada hal yang menarik kami bicarakan selain tanya jawab sekitar pekerjaan, alamat rumah dan apa saja yang terlintas dalam pikiran. berbekal obrolan seperti itu, lama-lama tanpa terasa kita mulai dekat, apalagi dia meminta no hp ku dari rani dan tanpa pikir panjang aku memberikannya. entah kenapa rasanya senang saat dia kirim sebuah sms kepadaku. dari situ aku dan dia jadi sering kirim sms, dan hubungan kami semakin dekat saja.
   aku jadi semangat ketika rani mangajakku ke tempat kerjanya atau kemana saja yang ada hubungannya dengan dani. kami pun beberapa kali pernah main bersama, aku, dani, rani dan pacarnya. mungkin memang rani sengaja mengatur ini semua agar aku bisa dekat dengan dani. tapi apapun maksud rani, aku tetap senang karena seperti itu juga yang selalu aku harapkan dalam hati, bisa jalan-jalan dengan dani walau berempat.
   dan ada hal yang mengejutkan ketika rani bilang kepadaku bahwa dani suka denganku. aku hanya bisa terdiam menahan rasa antara tak percaya dan senang.
   "tapi kenapa dia nggak bilang lansung kepadaku ran? dan selama kami smsan, dia terlihat biasa saja kepadaku?"
   "ya kalau itu aku nggak tau, yang jelas dia bilang kalau dia suka sama kamu. kayaknya kamu juga suka ya ma dia?"
   "jujur aja, lama-lama aku emang suka ma dia. tapi aku nggak mungkin bilang dulu ma dia dan sebenarnya aku nunggu dia bilang suka ma aku bukan lewat kamu, tapi langsung bilang ma aku. tapi sampai sekarang dia nggak bilang itu ke aku"
   "ya udah tunggu aja, kalau emang dia bener-bener suka ma kamu, dia pasti suatu saat akan bilang ma kamu"
   "tapi kapan ran?"
   sudah beberapa bulan kedekatan kami berjalan, dengan harapan dia akan mengatakan kalau dia suka aku dan memintaku untuk jadi pacarnya. namun itu memang hanya harapanku saja, dia sampai saat ini pun masih terdiam walau hubungan aku dan dia terlihat dekat bahkan bisa di bilang mesra. entah apa yang ada dalam pikirannya, aku tak tahu, yang jelas aku menunggu saat dia mengucap cinta kepadaku karena sebagai wanita aku masih belum bisa mengatakan cinta kepadanya lebih dulu. aku hanya bisa bersabar dan berdoa kepada Tuhan jika dia memang berjodoh denganku, kami pasti bersatu, dengan atau tanpa ada kata cinta yang terucap.
   genap satu tahun hubungan ini tanpa ada kepastian dan aku mulai lelah bahkan ada sedikit rasa marah dan kesal hingga saat aku akan pergi untuk bekerja di luar jawa, aku sengaja tak memberi tahu dia, bahkan sahabatku rani pun aku beri tahu satu hari sebelum keberangkatanku. jelas rani marah kepadaku karena aku memberi tahu dia secara mendadak. tapi sebenarnya bukan aku sengaja memberi tau rani secara mendadak, tapi memang aku dapat pangilan kerja juga mendadak.
   tiba-tiba hpku berdering, aku lihat sms masuk dari dani. sepertinya rani memberi tahu tentang semua ini kepada dani setelah aku baca sms dari dani yang menanyakan kebenaranya tentang kepergianku besok pagi.
  "iya"  balas smsku agak jutek, karena aku masih merasa kesal dengan sikap dia yang menggantungkan perasaanku.
   dan akhirnya dia menelponku dengan berkata "kenapa mendadak? kenapa nggak bilang dari kemarin-kemarin win?"
  "maaf dan, ini semua juga mendadak"
  "tapi kenapa juga kamu kerja jauh-jauh. disini kan juga bisa"
  "gak apa-apa dan, aku pengen suasana baru aja"
  "kalau itu emang sudah jadi keputusanmu, aku hanya bisa berdoa, dimanapun kamu berada, Tuhan senantiasa selalu melindungi kamu. dan jaga diri baik-baik ya disana"
   "aku pikir kamu akan bilang kalau kamu sayang aku dan" ucapku dalam hati. aku menhela nafas dan berkata  "amin. iya pasti aku akan jaga diri baik-baik kok"
  "aku juga ingin mengatakan kalau aku sayang kamu win. aku pengen jadi pacar kamu"
  aku terhenyak dan terdiam, akhirnya kata-kata yang aku tungu itu terucap juga dari mulutnya. tapi aku justru tak habis pikir dengan dia. kenapa disaat aku ingin pergi justru dia mengatakan itu yang seharunya ia katakan sejak dulu sebelum aku putuskan untuk pergi dari jogja.
  "kamu tu aneh ya dan, disaat aku akan pergi kamu malah bilang pengen jadi pacarku. kenapa nggak dari dulu kamu bilang itu ke aku. kamu nggak salah dengar kan, kalau akau akan pergi. dan kalau aku menerimamu, kamu tau kan resikonya, kita akan pacaran jarak jauh. sudah urungkan saja niatmu itu dan, dan cari saja wanita lain yang bisa menemani kamu disetiap saat"
   "nggak win, aku tetap ingin jadi pacar kamu. dan aku tau resiko itu, karena aku benar-benar mencintaimu. dan cintaku tak terhalang oleh jarak sejauh mana kamu akan pergi, akau tetap akan mencintai kamu dan akan menunggumu kembali"
  "tapi mungkin aku akan lama disana dan, mungkin paling cepet 2 tahun"
  "aku nggak peduli win, aku tetap akan menunggu kamu, karena aku sayang kamu"
  "kamu serius dan?"
  "apa aku terdengar seperti bercanda?"
  dari nada bicaranya aku juga yakin kalau dani tak bercanda dengan ini. entah kenapa hatiku mulai luluh lagi, kekesalanku kepadanya pun seketika sirna dan berubah menjadi rasa bahagia setelah akhirnya kata-kata yang aku tunggu terucap juga dari mulutnya.
  "janji ya kamu kan menunggu aku"
  "itu artinya..."
   "iya, aku mau jadi pacar kamu. aku juga sayang sama kamu dan" ucapku sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
  "iya aku janji"

Minggu, 05 Mei 2013

aku masih mengenalnya...



Wangi dingin ini
Aku mengenalnya
Ya aku mengenalnya
Wangi embun yang mulai menyapa malam
Yang mulai menyelimuti segala daun yang resah terdiam
Wanginya menusuk sampai ke tulang
Wangi yang pernah aku hirup setiap malam
Wangi yang pernah aku nikmati setiap aku masih terjaga
Ketika dulu aku masih tumbuh dewasa
Ketika dulu aku masih merasa aku yang paling bahagia
Karna aku bisa memiliki dia
Dan ketika dulu aku selalu berada di dalamnya
Aku masih mengenalnya sampai sekarang
Ya wangi dingin ini
Dan malam ini
Aku masih mengingatnya
Semua...

(dalam perjalanan pulang)

Jumat, 03 Mei 2013

aku merindukanmu...

malam ini…
jika dia adalah bulan
aku tak akan merebutnya dari sang malam yang tlah membahagiakannya
aku hanya akan memohon satu kepada Tuhan
untuk memberiku waktu
agar aku bisa mengatakan kepadanya
“aku merindukanmu…”

Jumat, 19 April 2013

sehari sebelum pernikahanku...



Entah ini bisa aku sebut hari bahagia atau tidak. Pasalnya, besok aku akan melangsungkan pernikahan dengan lelaki yang telah menjadi kekasihku sejak dua tahun lalu. Dia adalah teman sekantorku, namanya Ryan. Aku percaya dia adalah lelaki yang baik hati dan sangat mencintai aku, dia juga selalu ada waktu untuk aku di saat aku membutuhkannya. Dan mungkin karena itulah aku menerimanya menjadi kekasihku. Lagi pula saat itu aku sedang mengalami sakit hati karena lelaki yang sangat aku cintai memutuskan untuk meninggalkannku demi wanita lain. Tapi cinta itu sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam hatiku walau ku tahu dia tak mungkin kembali lagi.
Jadi boleh di kata, aku menerima Ryan bukan karena cinta, tapi mungkin karena aku menganggap itu sebagai kenyataan yang harus ku jalani. Dan pikirku seiring jalannya waktu aku akan bisa mencintai Ryan dan bisa melupakan orang yang telah meninggalkanku.
Tapi hari ini aku telah menemukan jawaban atas apa yang aku pikirkan dulu, satu hari menjelang pernikahannku besok. Hati ini semakin tak bisa melupakannya dan tak sedikipun cinta ini mampu mengalir untuk Ryan, seakan ada penyesalan yang amat mendalam ketika aku memutuskan untuk menikah besok dengan Ryan.
Aku tatap wajah Ryan dalam foto yang terpajang di dinding kamarku, wajah yang begitu baik yang tak seharusnya aku lukai walau ku sudah mencoba dan berusaha untuk mencintainya, namun hati ini tetap saja mencintai lelaki yang telah meninggalkanku. Entah mengapa di hari menjelang pernikahanku dengan Ryan aku jutru merindukannya, aku ingin bertemu dengannya bukan dengan calon suamiku sendiri. Aku ingin memeluk Dika erat biar aku merasa damai, tentram dan sejuk seperti waktu dulu ketika aku masih bersamanya. Dan aku masih ingat betul saat Dika membangunkan aku dengan caranya yang sampai sekarang terangkum jelas dalam pikiranku. Setiap aku teringat hal itu seakan semuanya baru kemarin terjadi. Saat itu aku sednag tertidur di sofa ruang tamu, entah ia sudah lama datang atau belum, yang jelas ketika aku tertidur tiba-tiba ada sesuatu yang hangat terasa di bibirku hingga aku terbangun dan yang kulihat pertama adalah senyum di wajahnya dan kata “bangun sayang” terucap dari bibirnya. Walau bukan pertama kali ia menicum bibirku, tapi itu sangat membekas sampai sekarang.
Dan mataku mulai terpejam bila teringat kembali hal itu, pikiranku juga mulai melayang jauh menuju ke hari itu. Semua masih terlihat jelas dalam benakku, jelas sekali sampai aku tersentak tersadar oleh suara ketukan pintu kamarku dan suara ibuku memanggil-manggil. “iya bu bentar” bergegas ku hapus air mata yang tanpa sadar telah mengalir ke pipiku. Setelah benar-benar  kering, ku buka pintu. Aku menurut saja untuk keluar menemui beberapa tamu yang telah datang setelah ibu menyuruhku.


Tiba juga di hari pernikahanku, ku lihat banyak tamu undangan yang telah hadir dan entah kenapa lagi mataku terus berusaha mencari sosok seorang lelaki yang masih tersimpan di hatiku. Aku mulai tak memperdulikan tamu-tamu yang berlalu lalang menyalamiku memberi selamat, aku hanya tersenyum terpaksa kepada mereka. Aku juga sadar kalau suamiku sedari tadi telah memperhatikanku yang seperti ini dan aku terus berbohong dengan mengatakan “tidak apa-apa kok”. Padahal dalam hatiku aku terus berharap bisa melihat Dika. Ternyata harapan itu tiba, tapi bukan bahagia yang aku dapat karena bisa melihat ia datang di hari pernikahanku, melainkan sebuah hantaman hebat, ia datang dengan wanita yang membuat Dika meninggalkanku dua tahun lalu. Aku terasa lemas, semua tubuhku seakan tak ada daya lagi berdiri disini walau seharusnya aku bahagia karena telah menyandang status sebagai istri. Tapi hati ini tetap berkata lain, meski mungkin aku adalah tulang rusuk dari suamiku sekarang dan mungkin selamanya, tapi cinta ini tetap berasal dari tulang rusuk cinta Dika dan aku terlanjur mencintainya. "maafkan aku swamiku" aku pun menggenggam tangannya.

Minggu, 14 April 2013

X di dalam sini...

ada X di dalam sini
mampu membakar hati  hanguskan diri
tapi yang ku lihat bukanlah api

ada X di dalam sini
hanyutkan aku dalam aliran derasnya
yang ku tau itu bukan air

ada X di dalam sini
mengajakku menari resah di atas gelisah
terbayang akan satu wajah

ada X di dalam sini
bersemayam hampir membusuk dai dasar hati
namun tetap tak dapat ku tau apa gerangan ini

ku lihat, tak berwarna
tapi seperti pelangi mengelabui hati
ku rasa, tak terasa
tapi nyata dalam keacuhannku tak memikirkannya
ku sentuh, tak berbentuk
tapi berwujud di kala ku mencoba lari sejauh mungkin

apa ini cinta?
mungkin cemburu?
ataukah bahagia?
apa juga senang?
mungkin juga sedih?
ataukah juga duka?
atau memang luka?
aku rasa bukan kesemuannya
tapi memang X di dalam sini…

(dAN @jogja tengah malam, 140413)