Sabtu, 29 Oktober 2016

Inilah Hidup... (sebuah pilihan bag akhir)

"Jika dimakan, Ayah mati. Jika tidak dimakan, Ibu yang mati. Siapa yang akan kalian pilih?"
Aku diam. Kulihat Ani juga tak bisa menjawab, sedang pacar Ani memang sedari tadi hanya diam saja.
"Inilah hidup, kita harus memilih meski pilihan itu sangat berat. Dan Nia, sudah memilih membela swaminya meski dia tahu swaminya yang salah."
"Tapi kan swaminya kasar, suka mendzolimi dia" protes Ani.
Kulihat Ori tersenyum sebelum akhirnya bicara lagi. "Mengatasi swaminya yang dzolim, bukan seperti ini caranya, bukan dengan jalan meng-ada-kan kamu di dalamnya. Mungkin dia tahu itu. Kamu tidak mau kan Ton menjadi kambing hitam yang dituduh ikut campur atau apalah itu namanya dalam urusan rumah tangga orang lain. Lihat, kamu seorang lelaki, dia wanita. Akan sangat mudah swaminya menuduhmu yang bukan-bukan jika terjadi apa-apa dengan mereka, walau aku tahu kamu niatnya untuk menolong. Biarkan dia menyelesaikan urusannya dahulu dengan swaminya tanpa campur tangan orang lain. Terutama seorang lelaki."
Seperti biasa, kalau Ori sudah bicara yang mengarah kebijakan, semua hanya bisa diam, bahkan tak jarang salah satu dari kami yang mendengarkan hanya biss melingo, seolah semua ucapannya tak bisa dicerna oleh kami semua. Terkadang selang berapa lama, setelah apa yang diucapkan itu terjadi nyata, kami baru tahu maksud dari kata-kata Ori yang pernah dia katakan kepada kami.
Terbukti setelah dua bulan aku dibebaskan oleh polisi dengan tangguhan Nia setelah kemarin sore datang ke kantor polisi.

Namun setelahnya, aku tak pernah bertemu lagi dengan dia, bagai ditelan bumi, bahkan kuhubungi lewat telepon atau bbm sudah tidak bisa lagi. Tidak mungkin aku datang ke rumah suaminya. Yang membuat aku lebih heran, sahabatku yang juga sahabatnya pun tak tahu di mana Nia. 
Hari kedua bebas, rasanya malas jika aku harus pergi ke kantor polisi lagi walau hanya untuk mengisi beberapa berkas yang harus kulengkapi. Tapi siapa sangka di sana aku melihat Damar, suami Nia dibawa oleh beberapa polisi dengan tangan terborgol. 
"Semoga kamu baik-baik saja, Nia." Doaku dalam hati.

Jumat, 28 Oktober 2016

Inilah Hidup... (sebuah pilihan bag.3)


"Tapi kenapa akhirnya ikut pulang dengan suaminya?"
"Dia nangis semaleman, Ton. Lalu kenapa kamu mau menolongnya saat itu?"
"Karena aku..." aku berhenti sejenak memikirkan kata apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan tadi. "Ya karena dia minta tolong." Lanjutku.
Mereka semua diam seperti bingung apa yang harus mereka katakan.
"Tapi ya sudahlah, jika dia tidak bisa membelaku, mungkin Tuhan yang akan membelaku, jika tidak, mungkin ini takdirku yang harus aku jalani."
"Ya tidak seperti itu juga, Ton?" Ucap Ori akhirnya bicara, seperti ingin menghiburku tapi tak tahu harus memilih kata apa yang tepat untuk menghiburku.
"Kenyataannya memang seperti ini kan? Bisa kalian lihat. Aku dipenjara karena membelanya, tapi dia justru membela suaminya yang selalu kasar dengannya."
"Aku juga tidak habis pikir dengannya, Ton. Kenapa dia bisa setega itu. Padahal kita semua sudah berteman sejak lama. Kamu juga begitu baik dengan dia..."
"Aku baik dengan semua temanku." Ucapku cepat.
"Tapi lebih dengan dia." Ucap Ani lagi.
"Ya sudah. Dia sedang mencoba untuk menjadi istri yang baik dan nurut dengan suaminya. Menang begitu sebaiknya seorang istri"
"Termasuk dengan suami yang dzolim seperti suaminya?"
Aku diam. Aku tak bisa menjawabnya. Hanya mencoba untuk tersenyum.
"Trus mengorbankan kamu dengan menjadikanmu sebagai tersangka pemukulan suaminya? Ini tidak adil, Ton." Lanjut Ani.
"Aku tidak apa-apa, Nik." Sahutku.
"Kamu kenapa jadi seolah-olah bijak sekali? Kamu ketularan bijaknya Ori ya?" Ucap Ani. "Dan kamu, Ori. Kenapa dari tadi hanya diam saja?" Lanjut Ani kepada Ori.
"Aku hanya sedang berpikir. Inilah hidup, kita tak akan pernah tahu dan menyangkanya. Dalam hidup, terkadang yang salah belum tentu sebenarnya salah, terkadang justru kita terpaksa membela yang salah demi satu alasan. Mungkin kalian tak mengerti betapa sulitnya berada di posisi Nia," Ori berhenti sejenak lalu berbicara lagi, "bagai makan buah simalakama."
Aku tak mengerti apa maksud dari kalimat terakhir Ori. Begitupun dengan Ani-sepertinya.
(bersambung lagi. Penulis lagi ngantuk)

Kamis, 27 Oktober 2016

Inilah Hidup... (sebuah pilihan bag.2)


"Oke, aku ikut pulang dengan kamu, mas." Ucapnya sambil membantu suaminya berdiri. Di depan mereka, aku hanya terdiam melihat dan tak bisa berpikir apa-apa. Sampai mereka pergi pun aku masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi baru saja.

Kamis sekitar pukul 10 pagi...
Kudengar suara pintu rumahku diketuk tiga kali. Aku bergegas membukanya karena kebetulan di rumah hanya ada aku sendiri. Kulihat dua petugas polisi berdiri di depan pintu dan satu petugas lagi kulihat berdiri di dekat mobil dinasnya.
Tebakanku benar ketika pikiranku melayang dan mendarat di sebuah film di layar tivi. Petugas datang membawa surat penangkapan. Tapi atas dasar apa aku akan ditangkap? Pikirku.
Kucoba membaca isi surat itu mencari tahu dasar atas penangkapanku. "Tapi, pak... ini..." ucapku setelah tahu pokok permasalahan yang tercantum di dalam surat yang kubawa.
"Nanti bisa dijelaskan di kantor saja" ucap salah satu polisi itu.
Ini benar-benar seperti adegan dalam film yang pernah aku lihat. Sekarang ini terjadi nyata menimpaku. Aku ikuti saja apa maunya dengan membawaku ke kantor polisi.
Sekitar pukul 12 siang, aku sudah meringkuk di dalam jeruji besi setelah sebelumnya aku sempat diinterogasi selama kurang lebih satu jam di sebuah ruangan. Ini juga seperti dalam film saja.
Aku hanya bisa pasrah setelah bukti-bukti visum diperlihatkan kepadaku. Aku berharap, istrinya mau membelaku dengan bicara apa yang sebenarnya terjadi. Karena aku yakin, aku tidak bersalah. Karena aku yakin, dia tahu, semua itu aku lakukan untuk membelanya. 
Tapi ternyata aku salah, dia sama sekali tak membelaku. Terlihat dari apa yang dia ucapkan saat dia dan suaminya melintas dan berhenti sejenak untuk melihatku. Kulihat suaminya tersenyum puas. Sedang kulihat dia sebelum menunduk sempat mengucap sesuatu dari bibirnya yang tak bersuara. Kata yang bisa aku tangkap adalah kata "maaf".

Minggu siang, dua minggu kemudian...
Aku dijenguk oleh kedua temanku, tapi sebenarnya total yang menjenguk aku adalah tiga orang. Mereka bilang, sebenarnya mereka sudah tahu kabar aku ditangkap seminggu yang lalu, tapi baru sempat menjengukku sekarang.
"Aku tidak habis pikir dengan Nia. Kenapa dia tega berbuat ini kepadamu. Sedangkan kamu hanya ingin membela dia dari suaminya, iya kan?" Ani mulai membuka pembicaraan. Sepertinya dia sudah mendapat cerita dari Nia tentang apa yang terjadi kepadanya.
"Sebenarnya ada apa dengan Nia?" Tanyaku mencari tahu.
"Seminggu yang lalu, Nia menelponku dan cerita banyak. Termasuk kamu yang ditahan di sini."
"Cerita apa?" Tanyaku penasaran karena sampai sekarang aku pun tak tahu apa yang sedang terjadi saat itu.
"Setelah menikah, suaminya terus mendzolimi dia. Suaminya kasar, sering marah-marah, bahkan tak jarang suaminya tega menampar dia. Dan waktu kejadian itu, saat kamu disuruh menjemputnya, dia sudah tak tahan lagi ingin pulang ke rumah orang tuanya, dan hanya kamu dalam pikirannya yang bisa dia mintai pertolongan."
(Bersambung, penulisnya lagi butuh kopi)

Rabu, 26 Oktober 2016

Inilah Hidup... (sebuah pilihan bag.1)

Selasa menjelang sore pukul 15:15...
Suara telpon berdering yang membuatku berhenti menulis sesaat untuk melihat sebuah nama yang tertera di layar telponku. Sebuah nama yang membuatku sedikit terkejut, ada apa? pikirku.  Pasalnya, tak pernah sekalipun dia menelponku, jika ada perlu, dia pasti mengirim sebuah pesan dalam chat, itu pun terakhir sekitar 5 bulan lalu. "Haloo" sapaku. Di seberang sana, langsung kudengar suara isak tangis, tanpa ada kata yang keluar darinya. "Kamu kenapa?" Lanjutku.
"Kamu bisa jemput aku, mas?" Ucapnya dengan suara yang masih bercampur tangis. "Kamu tahu rumah suamiku, kan? Aku tunggu ya."
Belum sempat aku mengucap kata, kudengar suara telpon pun berubah tut..tut..tut...
Aku pun bingung harus berbuat apa, terlebih bingung dengannya yang kenapa tiba2 menelponku dan memintaku untuk  menjemputnya, di rumah suaminya pula. Aku masih terdiam di depan laptopku, memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan. Menjemputnya? Sedang dia istri orang. Tidak menjemputnya? Tapi dia terdengar begitu minta tolong tadi.
Tuhan, maafkan aku. Aku harus menjemputnya sekarang juga. 
Kurang lebih 20 menit, aku hampir sampai di rumah suaminya. Hati semakin tak karuan. Beberapa meter dari rumah suaminya, aku sudah dihadang olehnya. Kulihat dia sangat terburu-buru untuk pergi dari sini. 
"Ayo cepat pergi, mas." ucapnya sambil menempati jok motor di belakangku. Aku tak lekas menurutinya, aku ingin sedikit penjelasan untuk bisa melakukan apa yang harus aku lakukan, namun dia terus merengek untuk cepat pergi dari sini. Masih dengan rasa bingung, aku turuti saja apa maunya. 
Aku mulai menjalankan sepeda motorku untuk meninggalkan tempat ini. 
Baru saja 500 meter berjalan, tiba-tiba suaminya menghentikan laju motornya tak jauh di depan motorku. Reflek aku pun menginjak rem dengan cepat agar tak menabraknya. 
Dia sudah turun dan berjalan menuju kami yang masih duduk di atas motorku. 
"Cepat turun!!" ucapnya keras. Kulihat pandanganya terus mengarah kepada istrinya. Seperti terhipnotis, seketika istrinya pun turun dari motorku. 
Dia mencoba menarik paksa istrinya untuk ikut dengannya,  pulang pastinya. Tapi kulihat istrinya terus meronta menolaknya. Aku hanya diam saja di atas motor sampai kudengar dia minta pertolongan kepadaku. Aku pun tergerak untuk turun mencoba berbicara pada suaminya. 
"Sudah jangan ikut campur, kau!!!". Belum sempat aku berkata, suara itu sudah keluar dari mulutnya. 
"Maaf, mas. Bukanya aku mau ikut campur, tapi aku tidak bisa diam saja jika ada wanita minta tolong kepadaku" ucapku dengan penuh hati-hati. 
"Tapi dia istriku!!!. Aku berhak untuk menyeretnya pulang," nadanya semakin tinggi.
"Tapi dia minta tolong, brati dia tidak mau, kan?" Ucapku yang sudah berdiri berhadapan dengannya. Jarak yang cukup dekat hingga kepalan tangannya dengan mudah bisa mendarat di pipiku. Aku masih mencoba sabar dengan berusaha bicara baik-baik dengannya. 
Tapi tidak untuk selanjutnya ketika kepalan tangannya melayang dan mampu aku hindari. Aku balas dengan pukulan tanganku berkali-kali tepat di wajahnya hingga dia jatuh tersungkur. Hampir saja aku menginjak kepalanya jika saja istrinya tidak menghalangiku. (bersambung...)

Selasa, 25 Oktober 2016

happy birthday


Lagu ini aku buat saat dia berulang tahun... hanya sebuah lagu ini yang bisa aku beri sebagai kado...

Minggu, 23 Oktober 2016

Malulah Kita


Mungkin,
Kita adalah orang-orang yang seharusnya malu
Bagaimana tidak?
Kita hanya menyebut nama-Nya kala terluka
Kita hanya meminta perlindungan kala disakiti
Lalu kita kemanakan Tuhan
Saat pacar kita mencium tepat di bibir kita?
Mungkin kita lupa Tuhan itu siapa

Kini,
Saat pacar kita berbalik mencium tepat di bibir yang lain
Seolah kita adalah yang patut dilindungi Tuhan
Dan mengutus Tuhan untuk membalasnya
Malulah kita

Jumat, 21 Oktober 2016

Aku Mencintaimu


Aku mencintaimu
Tak setipis selaput dara
Yang mudah robek berdarah

Aku mencintaimu
Tak setegang sang maha kontol
Yang mudah lemas lagi bak cendol

Aku mencintaimu
Tak seperti mereka
Yang mudah pergi setelah merdeka

Rabu, 19 Oktober 2016

Mata Itu...

Mata itu, mata-hari
yang menatapku tajam
membelah dada hingga jantung

Mata itu,
adalah kau yang tak pernah kosong

Minggu, 02 Oktober 2016

Untuk Apa?


Untuk apa aku menangis
Walau saatnya sudah tiba, untuk menangis
Untuk apa aku bersedih
Walau saatnya sudah tiba, untuk bersedih
Untuk apa aku sesali
Walau saatnya sudah tiba, untuk menyesali

Untuk apa aku menangisi yang telah pergi
Jika pertemuan dulu aku sambut dengan gembira
Untuk apa aku bersedih melihat yang telah berlalu
Jika kegembiraan dulu sudah kulumat habis
Untuk apa aku sesali yang telah terjadi
Jika awalnya aku sudah mengetahui

Bukahkah?
Tak ada pagi yang tak akan berganti malam
Tak ada malam yang tak akan berganti pagi
Semua pasti terjadi
Lalu untuk apa aku masih di sini