Sabtu, 05 Maret 2016

SENJA HADIRKAN JINGGA part.5



Suasana meriah dengan hiruk pikuk orang-orang disana, ada yang bercanda dengan pasangannya, tertawa dalam kerumunan banyak orang, ada yang sedang asik mencicipi sana-sini setiap hidangan yang sudsh tersedia. Suara gaduh musik bercampur kerlap-kerlip lampu itu membuat kepala Jingga pusing dan memilih untuk duduk di bangku taman yang berada agak jauh dari sana.
“ayo to ikut gabung disana” Ayu menyeret kedua tangan Jingga dengan kedua tangannya. “cowoknya cakep-cakep loh” rayunya lagi. Namun tak membaut Jingga merasa tertarik untuk ikut turun ke dalam pesta dan tetap memilih duduk menyendiri di bangku taman. “ya udah kalo gitu” Ayu melepas tangan Jingga dan berlalu begitu saja lalu hilang dalam kerumunan.
Jingga masih tenang duduk di bangku taman manikmati kesendirian di tengah riuhnya pesta, memandang langit cerah dengan bintang dan bulan yang bersembunyi di balik tipisnya awan. Di bawah langit malam itu, justru ia merasakan damai, seakan tidak ada siapapun di sekitarnya, bahkan seketika riuhnya acara itu hilang berganti sunyi yang ia rasa.
Sesekali ia memejamkan mata, menghirup nafas dalam-dalam, ia mulai merasakan setiap hela udara yang masuk lewat hidungnya, semakin tenang dan damai. Tak ada siapapun disana, hanya  sepotong kue dan segelas minuman menemani kesendiriannya di bawah langit malam.
ӝӝӝӝӝ

Dengan terpaan cahaya lampu yang membuat nampak jelas wajah seorang lelaki berjalan menghampiri Jingga yang sedang asik menikmati malam di bangku taman sendiri. Dengan langkah pasti, lelaki itu mendekati Jingga karena dari langkahnya yang percaya diri, lelaki itu sepertinya mengenal gadis yang sedang duduk di bangku taman sendirian. Lelaki itu menyapa begitu ia berjarak beberapa langkah dari Jingga. Sapaan yang membuat Jingga sedikit kaget.
Ia berusaha melihat lelaki itu lebih jelas dan terus mengingatnya.“eh kamu to. ngagetin saja kamu”
“makanya jangan melamun sendirian” Dimas ikut duduk di sebelah Jingga tanpa disuruh. “tapi ngomong-ngomong kenapa disini sendirian? nggak ikut gabung sama mereka?”
“lebih suka sendirian disini, lebih nyaman, lebih tenang mumpung langit malamnya lagi cerah”
“oh gitu ya? O ya kamu kenal juga sama yang ulang tahun ini?”
“ndak sih, cuma tadi diajak sama Ayu, tapi lebih tepatnya dibohongi tadi. Katanya sih temen SMU nya, la kamu kenal juga sama yang punya acara ini? Atau temen sekolahnya juga?”
nggak kok, cuma kenal aja”
Tanpa sengaja mata Dimas terpana melihat wajah Jingga yang terkena sinar bulan. “ternyata cantik juga si Jingga, apalagi kalau rambutnya terurai begini” ucap Dimas dalam hati yang baru menyadari kecantikan Jingga malam itu juga.
“ndak ikut gabung sama mereka?”
Dimas hanya terdiam saja tanpa menjawab pertanyaan Jingga, seperti sudah terhipnotis oleh kecantikan Jingga saat itu.
“heh” tangan Jingga mendorong bahu Dimas
“sorry sorry. kenapa tadi?”
“malah kamu yang melamun. tadi aku tanya, ndak gabung sama mereka?”
“oh itu, nggak ah males, pengen di sini juga”
“kamu ikut-ikutan saja”
“emang bener kok. udah bosen dari tadi disana, sekarang pengen disini aja. kalo kamu kenapa males gabung sama mereka?”
“aku sebenernya ndak suka dengan acara-acara kayak gini, buang waktu saja, pemborosan, ndak penting”
“ya namanya juga anak orang kaya, mereka cuma tinggal minta. Mereka nggak peduli dengan orang tuanya, mereka hanya memanfaatkan aji mumpung, mumpung jadi anak orang kaya, nggak peduli gimana susahnya orang tuanya banting tulang cari duit, coba kalau mereka udah merasakan cari duit sendiri, mungkin mereka nggak akan seboros ini”
“yup bener juga kamu” Jingga melihat Dimas “tapi bukannya kamu juga sama seperti mereka?” lanjut Jingga berkata dalam hati yang sudah tahu sedikit tentang Dimas dari omongan mulut ke mulut di kampus.
“hayo. ketahuan mojok berdua” Ayu mengagetkan mereka berdua yang tiba-tiba sudah di depan mereka “pantes tadi ndak mau diajak gabung, ternyata asik berduaan disini”
“apa sih Yu” ucap Jingga yang wajahnya mulai memerah.
“sudah ndak apa-apa, jangan malu gitu” lalu Ayu mengalihkan pandangnya ke arah Dimas dengan heran “kamu disini juga Dim?”
“iya dong. Dimas” Dimas sedikit menyombongkan diri.
 “kalo gitu dilanjut aja deh takut ganggu, dadaagh” ucap Ayu langsung meninggalkan mereka untuk memberi kesempatan berduaan lagi.
Tangan Jingga reflek menarik tangan Ayu untuk melarang pergi lagi. Jingga ingin ditemani Ayu karena sudah terlanjur merasa malu. Tapi Ayu tetap saja memaksa untuk pergi tanpa mengindahkan permintaan temannya.
Jarang-jarang Ayu melihat temannya itu mau mengobrol dengan cowok berlama-lama seperti itu. Apalagi dengan Dimas yang gayanya terkenal sok di kampus, walau memang di kampus banyak cewek-cewek yang mendekati dia karena wajahnya yang cakep dan kaya. “udah kalian bedua aja disini” Ayu memaksa melepaskan tangannya dari genggaman Jingga “aku mau ambil minuman dulu” alasan Ayu dan bergegas ambil langkah seribu.
Yu, Yu, Ayu” pangil Jingga.
“udah biarin aja lah. kita malah bisa berduaan lagi”. Ucap Dimas berharap.
“ah apaan sih kamu” wajah Jingga semakin merah karena perkataan Dimas tadi.
Dimas tersenyum melihat Jingga yang merasa malu. “eh kita tadi sampai mana?” tanya Dimas yang berharap melanjutkan obrolan tadi.
Gara-gara ucapan Ayu tadi, Jingga justru merasa canggung mengobrol berduaan dengan Dimas, seakan ada sesuatu yang mengganggu pikiran Jingga seperti tiba-tiba ditelanjangi di muka umum, yang ada hanya rasa malu.
Jingga tak menjawab pertanyaan Dimas tadi, ia ingin mengakhiri obrolannya dan lekas pergi dari bangku taman meninggalkan Dimas sendiri.
“Jingga” panggil Dimas lirih
“aku juga mau ambil minuman dulu ya” Jingga berdiri dan berjalan tergesa-gesa.
Dimas masih tersenyum mengamati Jingga yang mulai salah tingkah di hadapanya. Seperti ada sesuatu dalam benak Dimas.
Jingga terlihat sibuk mencari Ayu yang hilang di tengah banyak orang.
Ayu. pulang yuk” ajak Jingga yang sudah menemukan Ayu.
“bentar lagi Ga, nanggung ni lagi asik” jawab Ayu yang tak berhenti mengikuti alunan musik yang terdengar.
“udah malem ni” bujuk Jingga “ndak enak pulang terlalu malem”
“bentar lagi ya”
“kalo ndak mau aku pulang sendiri ni, biar kamu yang diomelin ibu karena ndak tanggung jawab” ancam Jingga yang sebenarnya ia pun tak akan berani melakukan itu.
“iya deh kita pulang sekarang” ucap Ayu pasrah.
ӝӝӝӝӝ

Malam mulai larut tapi suasana jalan masih terlihat ramai, lalu lalang kendaraan seakan membuat kota itu semakin hidup di malam hari. Lampu-lampu kota, traffic light dan sinar bulan pun ikut mewarnai malam panjang.
Tiba-tiba mobil Ayu mulai menepi di pinggir jalan tepat disebelah penjual martabak untuk menepati janjinya kepada Bayu.
“kok berhenti Yu?” tanya Jingga yang tidak tahu untuk apa Ayu memberhentikan mobilnya.
“beli oleh-oleh dulu buat Bayu”
“udah ndak usah Yu”
“udah ndak apa-apa
“udah malem juga Yu, bisa tambah gendut dia ntar”
“udah biarin saja, udah janji juga sama Bayu”
“ya udah lah terserah kamu saja”
Mereka bermain kata berantai di dalam mobil. Permainan yang hanya mereka berdua yang memilikinya. Permainan yang mengharuskan mereka terus menerus mengulang-ulang kata yang sama sampai salah satu dari mereka tak bisa meneruskan lagi. Dan dialah yang kalah.
“by the way kok tadi bisa ngobrol sama Dimas? gimana ceritanya tu?” setelah Ayu memesan.
“ndak tau, tiba-tiba saja dia ada disana”
“hayo ngobrolin apa tadi?”
“bukan apa-apa kok cuma ngobrol biasa saja”
 “tapi kayaknya asik banget. mesra lagi..cie cie..” bahu Ayu sambil menyenggol bahu Jingga.
 “apa sih Yu”
“udah sikat aja, mumpung kamu belum punya cowok kan?”
“mulai ngawur deh ngomongnya”
“ngawur gimana? Dia kaya loh. cakep lagi. udah gitu jadi idola para cewek kampus tu”
 “nah tu dia”
“nah tu dia kenapa? Tu kan berharap” serobot Ayu tiba-tiba merasa penasaran.
“makanya dengerin dulu orang mau ngomong. nah itu dia, karena jadi idola para cewek malah jadi makan hati terus kalo pacaran sama dia”
“bukannya malah bangga bisa dapetin sang idola?”
“itu kalo kamu. ya udah kamu saja ikut ngejar-ngejar dia, siapa tau dia milih kamu dan buat kamu bangga”
“tapi kan..” tiba-tiba Ayu berhenti bicara karena tak tau mau bicara apa.
“tapi kan apa?”
 “tapi kan kayaknya dia suka kamu”
“sok tau kamu, yang cantik-cantik saja banyak yang ngejar-ngejar dia. udah ah ndak usah bahas itu, bahas yang laen saja” Jingga mulai kesal karena merasa di pojokin Ayu.
            “kenapa? malu ya? cie..” sekali lagi bahu Ayu menyenggol bahu Jingga.
            “udah deh Yu” Jingga kesal. “tu udah jadi pesanannya”
            Ayu hanya bisa tersenyum dan membayar pesanannya yang di pesan tadi.
ӝӝӝӝӝ

            Jam sepuluh kurang mereka sudah berada di depan rumah Jingga. Dari luar tampak lampu di ruang tamu masih menyala. Dan Bayu masih terjaga di depan televisi bersama ibunya. Mungkin Bayu sengaja belum tidur tuk menuggu oleh-oleh yang sudah Ayu janjikan. Karena dia tak pernah ingkar janji kepada Bayu adik satu-satunya Jingga. Ayu peduli sekali dengan Bayu setelah ditinggal ayahnya satu tahun lalu. Ayu juga sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri.
            “Assalamualaikum semuanya” sapa Ayu dari jauh denga membawa bungkusan di tangannya.
            “Waalaikumsalam” jawab Bayu dan ibunya serempak walau tanpa aba-aba sambil menoleh ke arah suara itu berasal.
            “lagi nonton apa nih? asik bener kelihatannya? Sampai malem gini belum tidur”. Ayu ikut duduk gabung dengan mereka yang asik dengan acara di televisi. Tapi Jingga justru langsung pergi ke kamarnya tanpa berkata apa-apa, mungkin kesal dengan Ayu yang membohongi dan memojokkannya tadi.
            “habis filmnya bagus kak Ayu”
“oh gitu ya. oya ni oleh-olehnya, sampai hampir lupa” Ayu menyodorkan bungkusan yang tadi kepada Bayu yang duduk di sebelah kiri ibunya.
            “asik. apa ni kak? makasih ya kak” senyum Bayu seketika melengkung seperti bulan sabit tanda senang.
            “di buka saja dulu”
            “kamu itu ndak usah repot-repot terus Yu, ibu jadi ndak enak”
            “ndak apa-apa kok bu”
            “hmmm enak kak” ucap Bayu disela-sela Ayu bicara dengan ibunya Bayu.
            Ayu tersenyum melihat Bayu yang asik makan dan belepotan coklat di sekitar mulutnya. “ibu dikasih dong” suruh Ayu.
            “iya kak” jawab Bayu dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
            “memang dari mana tadi Yu?” tanya ibunya Bayu.
            “dari tempat teman yang lagi ulang tahun bu”
            “tumben Jingga mau diajak ke acara begituan”. ucap heran ibunya Jingga yang sudah hafal betul dengan Jingga yang tak suka dengan acara-acara seperti itu.
            “Ayu paksa bu” ayu tersenyum.
            “oh gitu. pantesan”
            “ya sudah Ayu pulang dulu ya bu, takut kemaleman nyampe rumah”
            “ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya”
            “makasih ya kak oleh-olehnya” ucap Bayu yang masih lahap dengan makanannya.
ΩΩΩΩΩ

Jumat, 04 Maret 2016

GAGAL PANEN KOPI

Sebiji kopi yang kutanam kemarin
Tepat di bawahnya ranjang tidurku
Kini tumbuh selusin musang
Bagaimana aku tidak geram
Tak ada sebiji kopi pun pengganti yang kutanam
Hanya selusin musang yang tak pernah tumbang
Yang pergi setelah kenyang

Rabu, 02 Maret 2016

KLINIK

   "Breeessss...." tiba-tiba hujan turun dengan derasnya tanpa aba-aba bagai ribuan biji jagung menghantam kepala dan hampir semua bagian tubuh yang lain. Aku yanf menyadari kalau lupa membawa jas hujan memutuskan untuk berteduh saja demi menyelamatkan pacarku dari serangan hujan yang bisa membuatnya sakit. Seketika ku hentikan motorku disebuah klinik ketika yang kutemukan hanya bangunan itu, kebetulan klinik itu tak memiliki pagar yang melindunginya sehingga aku bisa berteduh diterasnya.
   Baru sekitar lima menit, aku sudah merasakan hawa aneh disini, sedangkan belum kulihat ada tanda-tanda hujan akan reda. Pasrah yang kami bisa untuk menunggu hujan reda meski jam di ponselku menunjukkan angka 21:47.
   Meski aman dari serangan rintik hujan, tubuh kami tak aman dari serangan dingin yang mengoyak tubuh hingga ke tulang.
   Malam kian larut, semakin mencekam yang aku rasakan kini. Antara hujan deras, sepi tak ada satu orang pun lewat dari tadi dan juga lampu teras yang aku tak habis pikir kenapa sebuah klinik hanya dipasangi lampu dop kuning sekitar 10 watt saja.  Itu yang membuat pikiranku sempat negatif thinking. "Jangan-jangan... ".
   Suara pintu berdecit terbuka yang membuat kami sontak terkejut. Seorang bapak tua, sedikit bungkuk dan menggunakan peci lusuh keluar lalu menyuruh kami untuk berteduh di dalam ketika aku jelaskan bahwa kami terpaksa berteduh disini  saat bapak itu bertanya tadi. Aku menurut saja untuk berteduh di dalam karena pacarku pun bisa melihat bapak tua itu yang artinya ada dua kemungkinan. Yang pertama, mungkin bapak itu manusia, yang kedua, memang sesosok makhluk astral dengan kekuatan besar yang bisa menampakkan diri pada banyak orang. Sebenarnya aku bisa melihat makhluk astral tapi tak bisa mengetahui kemungkinan yang kedua jika masih berbentuk seperti manusai normal. Karena kelebihanku ini tak kudapatkan dari lahir atau keturunan, hanya ikut-ikutan teman yang sok-sokan membuka mata batin.
   Kami dipersilahkan duduk disebuah ruang tunggu dengan beberapa kursi panjang berderet kebelakang. "Kalau begitu saya kebelakang dulu mengurusi atap yang bocor" ucap bapak tua dan berlalu begitu cepat tanpa sempat aku mengatakan sesuatu. Suasana semakun aneh yang kurasakan di tempat ini meski tak kulihat ada makhluk astral berkeliaran, namun hawanya bisa aku rasakan.
   Tiba-tiba ku lihat sosok wanita berpakaian putih  berjalan cepat menyebrangi koridor. "Ah sial" gerutuku dalam hati dan berusaha bersikap tenang agar pacarku tak curiga kalau aku melihat setan. Tak selang berapa lama kudengar tangisan bayi. Aku yang penasaran mencoba untuk mengeceknya. Aku berdiri dan berhadapan dengan pacarku dan berbohong untuk berpamitan ke toilet. Saat aku membalikkan tubuhku dan siap melangkahkan kaki. "Astagfirulloh" ucapku reflek yang hampir saja menginjak bayi dengan penuh bercak darah ditubuh yang sedang merangkak didepanku.
   "Kamu kenapa sayang, janan bilang kamu baru saja melihat..." dengan cepat dia meraih tanganku dan memelukku karena dia juga tahu kalau aku bisa melihat mahkluk astral. Belum sempat aku menjelaskan, dia menjerit histeris dan jatuh pingsan. Ketika aku cari tahu penyebabnya, ternyata dia melihat sosok suster yang berdiri di meja resepsionis dengan baju berlumuran darah dan tanpa kepala. Aku pun merinding melihatnya, segera aku palingkan pandanganku kearah pacarku dan berusaha menyadarkannya dan mengajknya pulang. Belum sempat pacarku sadar, lagi-lagi aku dikejutkan dengan beberapa bayi disekitarku, bahkan aku lihat ada yang hanya sebongkah daging sedang menangis. Ada lagi sosok dokter yang berjalan mendekat yang akhirnya kulihat dengan jelas muka yang rusak seperti bekas terbakar. Aku semakin kencang membangunkan pacarku. "Yang, aku cepet bangun, kita pergi dari sini". Wajahku mendadak senang karena akhirnya pacarkupun siuman, seketika itu juga lampu mati yang membuat pacarku terbirit-birit berlari keluar tanpa memperdulikan hujan, dan aku menyusulnya. Masih saja aku lihat suster tanpa kepala itu berdiri seolah melihatku.
   ###
   Sebulan berlalu dari kejadian tersebut. Aku memastikan keberadaan klinik itu saat tanpa sengaja aku lihat berita tentang klinik itu dikoran bungkus makanan yang ku beli. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri ketika aku berhenti di depan klinik itu, klinik aborsi yang diserbu massa dan dibakar habis setahun lalu.

Senin, 29 Februari 2016

SENJA HADIRKAN JINGGA part.4

Jingga buru-buru masuk rumah setelah turun dari sepedanya dan langsung menuju kamar adiknya. Ibunya sudah menunggu cemas dari tadi. Menunggu Jingga yang sedari tadi keluar membeli obat buat adiknya.
“nih bu obatnya”. Jingga memberikan bungkusan plastik yang berisi obat-obatan tuk mengobati adiknya yang baru saja terjatuh dari sepeda.
Bayu merintih kesakitan ketika ibunya mulai mengusap luka di lututnya dengan obat merah. Rasa perihnya membuat Bayu tak tahan dan menangis tersedu.
“makanya kalau naik sepeda hati-hati to” tegur ibunya dan terus mengusap luka Bayu dengan kapas.
Jingga yang melihat adiknya menahan rasa perih pun ikut meringis seakan ikut merasakan rasa perih dari luka yang terkena obat merah. Dan sesekali Bayu menjerit kesakitan saat dia tak tahan menahan perihnya. “pelan-pelan bu”. Tapi ibunya tak peduli dengan rintihan Bayu, ibunya tetap saja mengusap luka Bayu dengan obat tadi. Jingga yang merasa kasihan melihat adiknya, akhirnya tak tahan dan keluar meninggalkan mereka. Biar ibunya saja yang mengurusi Bayu.
Jingga menuju ke kamarnya untuk istirahat. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di kasur yang penuh boneka koleksinya, tiba-tiba telepon genggamnya yang tergeletak di sebelahnya, berdering berulang-ulang. Di lihatnya nama Ayu yang tertera dipanggilan masuk. Dengan rasa malas ia terima panggilan dari Ayu yang ia sudah tahu apa maksud dari panggilan itu. “ya halo Yu” nadanya datar tak semangat.
“udah siap to say? aku udah siap meluncur kesitu nih. pokoknya ndak ada alasan lagi tiba-tiba ndak bisa. Nanti aku sampai situ, kamu harus sudah siap ya. daa daa” kata-katanya memaksa dan tak memberi Jingga kesempatan untuk bicara.
Yu halo Yu, Ayu”
            Dan Ayu sudah keburu menutup teleponya agar tidak ada alasan lagi yang akan keluar dari mulut Jingga.
“yah terpaksa deh nganterin Ayu pergi” gerutu Jingga sambil ia melempar telepon genggamnya ke kasur.
Dengan dandanan yang sederhana tapi masih tetap terlihat wajahnya yang manis, ia menunggu di ruang tamu sambil menonton televisi bersama Bayu yang masih kesakitan.
“mau pergi ya kak?”
“iya ni. masih sakit ndak lukanya?”
“masih sedikit ni kak. oya. mau pergi sama siapa kak? pacarnya ya? dandannya cantik banget. Hayo ngaku aja kak” Bayu sedikit tersenyum, telunjuknya yang mungil di arahkannya ke wajah Jingga.
“iihh. apaan sih dek. kakak tu perginya sama Ayu”
“si miss ceriwis itu kak?
“hus. ndak boleh gitu” larang Jingga kepada Bayu. “tuh orangnya sudah dateng” setelah Jingga mendengar suara mobil Ayu dari luar.
“uups” Bayu sambil membungkam mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.
“hai semuanya” suara Ayu yang sudah berada di ruangan itu dan berjalan mendekati mereka. “udah siap kan Jing”
“don’t call me like that, okey? Please call my complete name, Jingga” ucap Jingga cepat meralat dengan nada yang menekan jelas.
“iya iya nona Jinggaaaaa” suara Ayu pun ditekan agak panjang memperjelas pengucapan nama Jingga. “udah yuk kita berangkat Jing. eh salah, Jingga” ia tersenyum “keburu malam ni” lanjutnya lagi.
“mau pergi kemana kak?” tanya Bayu yang ada di sebelahnya.
“pergi maen sayang” tangan Ayu mencubit gemes kedua pipi Bayu yang seperti bakpao menempel di wajah Bayu. “Bayu mau ikut?”
ndak ah kak. lagian kaki Bayu lagi sakit nih”
“aduh kacian” ucapnya di buat manja “emang kenapa to kaki kamu?” Ayu melihat lukanya.
“jatuh kak tadi. oleh-olehnya aja kak. hehehe..” ucap Bayu cepat.
“iya nanti kak Ayu beliin deh, Bayu mau apa?”
Walaupun ceriwis dan menyebalkan, Ayu adalah teman yang baik dan peduli dengan keluarga Jingga, terutama kepada Bayu, walau kadang juga suka bikin Jingga kesal oleh ulah dan tingkah laku Ayu.
“ayo ah. katanya keburu malem?” ajak Jingga yang sebenernya males untuk pergi.
“kak Ayu pergi dulu ya sayang” sekali lagi ia mencubit gemes pipi Bayu yang tembem.
Di dalam mobil putih, berteman lagu-lagu pop dari mp3 mobilnya dan dipayungi warna-warni lampu kota yang mulai menyala. Mobil itu tak melaju kencang, seakan sayang melewatkan tiap jengkal jalan yang terlewati. Suasana sore dengan hiruk pikuk lalu lalang orang dengan berbagai kendaraan dan aktifitas di kota itu yang memang sayang jika dilewatkan begitu saja.
“memang sebenernya kita mau kemana to Yu?”
“ke acara ulang tahun temanku” Ayu tersenyum karena telah merasa membohongi Jingga. “anak orang kaya lo, pasti temennya juga kaya-kaya dan cakep-cakep” lanjutnya berusaha menjelaskan agar Jingga tak marah.
“ulang tahun?” ucap Jingga dengan nada tinggi didalam mobil.
Ayu masih senyum-senyum mendengar ucapan Jingga, karena Ayu hafal betul kalau temannya yang satu ini paling malas pergi ke pesta-pesta seperti itu dan pasti akan menolak jika Jingga tau dari awal. Makanya Ayu terpaksa membohongi Jingga untuk menemaninya.
“kamu tahu kan aku paling males pergi ke pesta kayak begituan Yu
“sekali-kali ndak apa-apa to? daripada di rumah terus ndak tau luasnya dunia, bete tau”
“itu kalo kamu, aku ndak tuh” elaknya ketus.
Tapi mau bagaimana lagi, Jingga tidak bisa apa-apa, dan ia tak mungkin meminta Ayu untuk menurunkannya di jalan, apalagi memintanya tuk memutar arah mobilnya. Dengan terpaksa Jingga pasrah diajak Ayu ke pesta itu.
ӝӝӝӝӝ