Kamis, 10 Oktober 2013

CERMIN...



“lihat umurmu sekarang sudah berapa. Kamu bukan remaja lagi, bahkan bukan anak kecil lagi, jadi berpikirlah layaknya orang dewasa seperti umurmu kini. Masa remajamu sudah berakhir meskipun masa itu tak pernah kamu nikmati. Aku tahu kamu sangat menyesal tak pernah menikmati masa remajamu di luar duniamu yang hanya kau habiskan dengan wanita yang kamu cintai, dulu. Tapi semua sudah terlambat untuk di ulang kembali masa remajamu selepas dengannya. Sejujurnya aku pun muak melihatmu seperti ini, terpuruk, seolah-olah meratapi nasib yang tak lagi bisa kau ubah. Kamu memang pecundang jika hanya berpikir seperti itu, kamu memang pengecut jika hanya berdiam diri saja, seolah-olah paling terpuruk dalam merasakan luka. Tunjukkan kamu bukan pecundang, tunjukkan kamu bukan pengecut, tunjukkan sikap kedewasaanmu dan tunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa melawan semua itu. karena aku tahu sebenarnya kamu bukan seorang pengecut, apalagi pecundang”
Untuk kesekian kalinya aku maki-maki wajah yang ada di depanku. Entah kenapa dan sejak kapan aku mulai muak dan benci melihat wajah itu. tapi seberapapun aku memakinya, bahkan tak jarang aku sampai melayangkan tinjuku tepat di wajah itu seperti seminggu yang lalu, wajah itu tetap diam.
“sebenarnya apa maumu? Apa kamu akan diam saja meratapi dan meratapi nasib? Jawab?” tanyaku yang sebenarnya aku sudah hafal betul dengan reaksi diamnya ketika aku tanya, bahkan sudah seribu kali pertanyaan yang sama aku layangkan. Aku lelah.
Aku balikkan badan dan berjalan lunglai, mengantarkan lelahku menuju peraduan. Tak sampai 3 langkah aku terhenti oleh suara yang mengejutkanku dan dengan jelas terdengar di telingaku. Pandanganku mengarah ke kanan dan ke kiri mencari asal suara yang ku dengar tadi hingga aku temukan seraut wajah di tempat yang sama seperti aku memaki wajah tadi, namun wajah yang aku lihat kini jauh berbeda dengan yang tadi. dengan wajah berapi-api dia mulai bersuara kembali.
“LIHAT SAJA DIRIMU!!! Apa yang kamu lakukan selama ini? kamu hanya bisa memaki dan memaki sesuka hatimu tanpa bisa melihat dirimu sendiri. LIHAT DIRIMU!!!!. Entah sudah berapa lama kau tak pernah keluar kamar hingga lemak kini telah menyelimuti seluruh tubuh. Coba ingat kapan terakhir kali kamu keluar kamar? Hampir satu tahun yang lalu kan? Aku juga tak habis pikir denganmu, kenapa kamu bisa selemah itu, sebodoh itu, sedangkan aku selalu bercermin pada dirimu, lalu siapa sekarang yang pecundang? Siapa yang pengecut? Coba jawab?”
Seketika aliran darah mulai terasa deras mengalir ke kepalaku, tanganku mengepal hebat. “shut up your fucking mouth” tanpa sadar kepalan tangan tadi melayang menghantam tepat ke wajah itu hingga ku dengar dengan jelas suara “PYARRR!!!!”. Sebuah cermin di depanku pecah berserakan di sekitarku. Nafasku terengah-engah kelelahan. Kedua tangan ku letakkan menempel ke dinding, kepalaku tertunduk lesu, seakan tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Sekian lama wajah yang hanya diam saja seberapapun aku memakinya, akhirnya angkat bicara juga. Sulit ku percaya.
Kepalaku perlahan terasa berat. Semua benda yang ku lihat mulai bergerak dan berputar, begitupun dengan lantai yang ku injak seakan tak pernah rata. Aku masih tak habis pikir, siapa gerangan yang berbicara tadi? apa hanya perasaanku saja? Tapi terlalu nyata terdengar di telingaku.

Rabu, 02 Oktober 2013

DIA ADALAH PUISI (bag.8 SHJ)



            Seperti biasa Arya setiap bangun pagi selalu berolah-raga kecil sekedar menghirup udara pagi yang segar. Tapi berbeda dengan biasanya, ia berniat ingin berolah-raga keliling daerah sekitar rumah budhenya, mumpung ia tak ada jadwal kuliah. Jadi ia bisa lebih lama untuk melakukan rutinitas pagi hari.
            Jam enam pagi ia sudah siap dengan kaos oblong, celana pendek, sepatu, handuk kecil yang melilit di leher dan tak lupa juga earphone yang menempel di kedua telinganya. Di iringi lagu-lagu dari linkin park yang begitu semangat, mulailah ia berlari penuh semangat juga.
            Baru saja sampai di halaman rumahnya, ia terhenti, matanya terbelalak mengarah pada gadis berambut panjang yang sedang lewat dengan sepeda birunya. Rambutnya tersibak terurai terkena hembusan angin, membuat wajah manis itu terlihat jelas. Dalam diam mematungnya, seakan ada sesuatu yang menganjal dalam ingatannya. Raut wajahnya seperti mengenal gadis berambut panjang yang baru saja ia lihat. “kayak cewek yang tadi malem, tapi masak dia?” Ia masih tak percaya, dalam penasarannya ia ingin mengejarnya tapi sayang gadis itu sudah keburu hilang di antara salah satu tikungan.
            Di sepanjang jalan Arya masih bertanya-tanya dalam hati yang membuatnya tak bisa konsentrasi. Gadis tadi benar-benar membuatnya penasaran. “apa mungkin bener dia ya? Ah nggak mungkin. Tapi kok bisa mirip ya? Apa memang rumahnya sekitar sini? Ah tau ah..” Ia jadi aneh sendiri di jalan. Lari paginya tidak bisa fokus, wajah itu selalu mengganggunya. “kok aku jadi penasaran ma gadis tadi ya? Kalo emang bener dia.. bisa sering ketemu ni” ia lalu senyum-senyum sendiri. Lalu terdiam sesaat tak berkata-kata lagi dalam hatinya. Namun dalam benaknya masih terbayang gadis itu. Dan berharap bisa berjumpa lagi lain waktu. Ia terus menerus berharap.
            Satu jam sudah ia lari pagi keliling daerah itu. Dan saatnya untuk pulang, ia hanya berjalan karena tenaganya sudah habis. Keringatnya tak henti mengalir hingga membanjiri kaos oblongnya. Matanya terlihat menoleh kanan kiri seperti elang yang sedang mencari mangsa. Berharap ia melihat gadis tadi untuk memastikan gadis itu sama dengan gadis yang bertemu di gramedia atau bukan. Hampir sampai di rumah, ia masih tidak melihat gadis itu, justru ia bertemu dengan budhenya di dekat rumah yang sepertinya pulang dari warung membeli lauk tuk sarapan.
             “dari olahraga Ar?”
             “iya nih budhe, habis jogging muter daerah sini aja”
            “wah rajin juga kamu olahraga”
            “iya dong budhe, nggak kayak Heru yang males olahraga”
            “iya tuh. kerjanya cuma tidur saja, oh ya, kamu ndak kuliah po hari ini? Kok olah-raganya sampai jam segini?”
            nggak ada jadwal kuliah budhe, makanya aku olah raga aja”
            “ya sudah mandi sana, habis itu sarapan”
            “oke budhe”
            Kali ini harapannya pupus karena ia tak bisa melihat gadis yang terus mengganggu pikirannya itu. Ia pasrah ketika harus masuk kedalam rumah setelah terakhir kali ia menoleh ke belakang.
ӝӝӝӝӝ

             Dua hari berikutnya saat Arya sedang beli sesuatu di warung yang tak jauh dari rumahnya, tanpa sengaja matanya melihat gadis yang sama dengan gadis waktu itu. Mungkin hari keberuntungan Arya, rupanya gadis itu juga melihat Arya yang sedari tadi memperhatikan dari warung. Mereka saling pandang dan saling lempar senyum. Hanya itu yang mereka bisa lakukan karena jarak yang tidak memungkinkan tuk saling menyapa atau bertanya. Saat itu ia yakin kalau gadis itu adalah gadis yang ia jumpai di gramedia beberapa hari lalu. Dan sepertinya Jingga juga sadar bahwa orang  yang ia lihat adalah sama dengan orang yang memberi buku di gramedia waktu itu.
            “mau beli apa mas?” tanya penjaga warung.
            Arya masih saja melihat gadis itu dan tak mendengar suara penjaga warung.
            “mas.. mas…” panggil penjaga warung itu sekali lagi.
            “oh iya… maaf bu”
            “mau beli apa to mas?”
            “mau beli sabunnya bu”
            Arya menoleh lagi ke arah jalan, tapi gadis itu sudah tak terlihat lagi disana. “kemana perginya ya?”
            “nih mas”
            “makasih”
            Di depan warung mata Arya masih clingak-clinguk mencari keberadaan gadis tadi.
“jan cah saiki nek weroh cah wedok ayu, motone ra iso kedhep” gerutu penjaga warung lirih yang menyadari apa yang di lihat Arya.
            Arya langsung pulang dengan harapan bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Dan lagi-lagi ia di jalan berdialog sendiri dalam hati. “ternyata gadis itu bener dia. Rumahnya di sebelah mana ya kok udah hampir empat bulan di sini gak pernah liat dia, malah pertama ketemu di toko buku” wajahnya mulai bersinar senang. “kira-kira rumahnya mana ya?”
            Sepanjang jalan Arya tidak henti-hentinya berdialaog sendiri dalam hati. Andai bisa di gambarkan seperti dalam komik, mungkin sudah banyak tulisan yang ada di atas kepalanya itu.
            Sepertinya memang hari keberuntungan Arya, saat ingin memasuki halaman rumah, ia melihat lagi gadis itu baru saja keluar dari rumah yang ada di depan rumah budhe Lastri. ia terhenti lalu menatap Jingga, begitupun dengan Jingga yang melihat Arya hingga mereka saling melempar senyum lagi tanpa sempat mengucapkan sepatah kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Lagi-lagi keadaan yang membuat mereka tak sempat saling sapa. Tiba-tiba entah darimana Heru sudah ada di samping Arya yang mengalihkan pandangan Arya.
            Selama Ia di Jogja, baru sekali Arya menjadi aneh hanya karena seorangg gadis. Kadang senyum sendiri, ketawa sendiri, bicara sendiri, hingga Heru yang melihat tingkah laku Arya, menyangka sepupunya itu sudah gila. Hanya karena satu senyuman itu pula Arya jadi rajin mengirim puisi ke Dewi kecil. Dan karena hanya itu yang bisa Arya lakukan dengan puisi-puisinya, menulis dan di kirim ke Dewi Kecil.
            Bagi Arya sejak bertemu gadis itu, gadis itu menjadi bahan bakar untuk sebuah mesin inspirasi yang selalu memproduksi puisi tanpa henti yang bekerja di dalam otak kiri. Dan dia adalah puisi.

Senyumnya seperti senja sore-sore
Untuk uraikan untaian-untaian ungu
Tanpa titik-titik temaram
Rasanya rangkum rinai-rinai rindu
Inilah indahnya imaji-imaji itu
Seperti senja sore-sore saja
Nikmat nyaman nuansa-nuansanya nian
Andai aku adalah aura-aura asanya…
ӝӝӝӝӝ

Begitu juga dengan Jingga, ia jadi penasaran dengan lelaki tadi, tapi ia lebih penasaran karena lelaki itu masuk ke rumah bu Lastri. Ia tau benar kalau bu Lastri hanya punya dua anak yaitu Heru dan kakak perempuannya yang ikut dengan suaminya. “ah mungkin sodaranya Heru” ia merebahkan tubuhnya yang lelah di kasur. “tapi kenapa aku jadi ngurusin dia ya? Tau ah. mending mandi aja lah” Jingga beranjak lagi dari tempat tidurnya yang baru saja sebentar merebahkan tubuhnya. Segera pergi mandi dan meninggalkan pikiran tentang lelaki itu.
ӝӝӝӝӝ

            Setelahnya, hampir setiap hari meraka saling bertemu, saling tatap dan saling senyum walau masih belum bisa saling menyapa karena sikon yang terus tak memberi kesempatan buat mereka. Namun kebiasaan seperti itu sudah membuat Arya senang. Dan ia bisa bernafas lega karena ia yakin bahwa gadis itu tinggal tidak jauh dari rumah budhenya. Ingin sekali ia tau rumahnya atau sekedar tau namanya saja.
Di suatu sore, Arya yang duduk dan bermain gitar, tiba-tiba melihat gadis itu lagi dengan sepedanya dan sedang memboncengkan anak laki-laki agak gendut. Lama ia memperhatikan gadis itu hingga gadis itu merasa ada yang sedang mengawasi dirinya, lalu ia pun menoleh ke arah rumah bu Lastri dan melihat Arya yang sedang bermain gitar di teras depan. Tak berapa lama gadis itu hilang dari pandangan Arya.
            Selang beberapa menit Heru datang dari arah yang sama. Arya yang dari kemarin ingin tahu nama gadis itu mencoba bertanya kepada Heru. Tapi ia tak tahu gadis mana yang Arya maksud. “gadis mana?” Heru balik bertanya setelah ia tak melihat ada gadis di depan rumahnya.
            “tadi yang lewat depan rumah naek sepeda”
            “yang mana ndak ada”
            “ya udah lewat sih tadi sebelum kamu dateng”
            “kenapa ndak kamu panggil saja, trus ajak kenalan, gampang to?”
            nggak berani”
            “jadi cowok kok ndak berani sama cewek, pake rok saja sana”
            “ni beda masalahnya”
            Sepertinya Heru tak tertarik dengan penasarannya Arya kepada gadis itu. Lalu Heru masuk rumah yang di ikuti Arya.
ӝӝӝӝӝ

            Genap sebulan sudah pertemuan itu terjadi berkali-kali, namun belum juga ada kesempatan tuk saling kenal, bahkan sekedar untuk saling menyapa saja tidak ada waktu yang mempertemukan mereka di situasi yang tepat. Hanya senyuman demi senyuman yang sudah terbiasa mereka lemparkan.
            Sejak bertemu gadis itu, walau ia belum sempat tahu namanya, namun gadis itu mampu merubah hatinya menjadi lebih berbunga-bunga. Ia ingat betul waktu pertama kali bertemu di toko buku, waktu pertama kali mendapat senyuman  yang masih membekas di ingatannya. Ia  juga ingat betul beberapa hari lalu  saat di taman, waktu Jingga sedang olah-raga. Dengan kaos putih cerah, celana jean biru selutut, rambutnya terurai terlihat melambai saat angin menerpanya dan keringat yang membasahi wajah manisnya hingga membuat Arya semakin terpana melihatnya. Ada hasrat yang begitu besar dalam hatinya yang perlahan menjelma menjadi suatu perasaan aneh. Perasaan yang memaksanya untuk selalu menemuinya, memaksanya untuk selalu memikirkannya. Perasaan yang terlihat jelas pada setiap puisi yang ia buat.
Entah mengapa yang entah dari mana
Bunga cinta ini tumbuh dan berkembang di taman hati yang bimbang
Mungkin benih-benih cinta itu tlah tertabur tertanam
Saat kau datang dan bermain di taman hati
Yang tanpa sengaja tlah bersemi menjadi kuncup bunga cinta yang indah
Tapi akankah kuncup itu
Mampu mekar mewangi atau kan layu sebelum sempat tebarkan aroma wanginya
Ataukah kau kan biarkan mekar
Dengan berjuta putik asmaranya menghiasi
Dengan putih kelopak sucinya menyelimuti
Dengan tebaran aroma surga cintanya menyegarkan
           
Sebenarnya puisi tak mampu untuk menggambarkan betapa sempurnanya gadis itu di mata Arya atau bahkan penanya pun tak cukup untuk melukiskan manisnya wajah dalam secarik putihnya kertas.
            Namun senyuman demi senyuman dalam setiap pertemuan, ia rangkum menjadi sebuah puisi terindah tuk selalu menempati istana pikiran di otaknya. Mesin pencetak kata-kata penuh makna nan romantis, terus bekerja lagi setiap waktu setiap saat. Selalu terukir kata demi kata di secarik polosnya kertas hingga perlahan terisi dengan tarian pena yang mengindahinya. Semua tersirat disana, semua yang belum sempat terucapkan kata.
ΩΩΩΩΩ

obrolan si miskin...

   "orang kok bisa punya mobil ya? kerjaanya apa ya ndut?" saat memandang sebuah mobil Honda Jazz yang terparkir di halaman rumah tak jauh dari gardu ronda dimana dia dan gendut berada.
   "kalo cuma beli sih gampang, tapi yang susah setelah belinya itu king. coba deh itung, sehari buat beli bensinya berapa, trus sebulan berapa, belum lagi buat perawatannya, itu baru buat mobil, belum lagi buat makan, uang jajan anaknya, bayar listrik, pulsa, kebutuhan rumah. apa cukup cuma ratusan ribu? nggak kan? pasti ampe jutaan kan? trus gajinya sebulan berapa ya? aku aja yang tiap hari kerja banting tulang ampe lupa waktu, masih aja miskin kayak gini" ucap gendut.
   "iya iya ndut. tapi yang jelas lebih dari pengeluaranya sebulan. trus berapa ya ndut?" tangannya sambil menggarut kepala bagian belakang. "kok bisa ya ndut? caranya gimana ya ndut biar bisa jadi orang kaya?"  lanjut dia bingung.
"wah aku juga nggak tau king. tapi besok kalo aku udah jadi orang kaya, aku kasih tahu caranya gimana" ucap gendut dan di akhiri dengan kekehan.
   "ah ngimpi kamu ndut, SMP saja kamu nggak lulus mau jadi orang kaya" ceking menyangkalnya.
   "iet..jadi orang kaya itu nggak harus lulusan sarjana king. coba lihat deh, bayak juga yang cuma lulusan SMP atau bahakan SD yang bisa jadi orang kaya. yang penting tu mau berusaha keras dan jangan malasan. percuma kan kalo lulusan sarjana tapi orangnya malasan, sama aja kan hayo?" dengan nada sok bijak
   "tapi...tadi kamu bilang kamu kerja ampe banting tulang aja masih aja miskin kan, hayo?" mulutnya sambil mengunyah ubi rebus, sedang gendut tengah asik menikmati kopi yang masih mengebul.
   "iya iya...trus apa yang salah ya king?" api yang tadi berpijar memancarkan kebijakan seketika redup padam setelah mendengar ucapan ceking tadi.
   "aku juga nggak tahu ndut. kalo aku tahu, aku pasti udah jadi orang kaya sejak dulu"
   mereka saling tatap tanpa ada sedikitpun sara yang keluar dari mulut mereka, hanya suara riuh dari acara di tv yang terdengar. dalam pikiranya mereka saling mencari sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu apa.
   "woi.. pada ngapain kalian bengong gitu. di suruh jaga malah pada bengong gitu, ntar kalo ada maling gimana?" ucap kribo yang baru saja datang.
   dengan jelas gendut menceritakan kembali apa yang sedang mereka bicarakan sedari tadi yang membuat akhirnya mereka saling melongo bengong.
    "o gitu. itu namanya, hidup kalian belum beruntung dan belum jadi rejeki kalian"
   "trus biar hidup kita beruntung dan jadi rejeki kita gimana?" tanya ceking penasaran yang di ikuti oleh gendut. "iya gimana caranya bo?"
   "berdoa dan berusaha, lalau tawakal, apapun hasilnya yang penting kita sudah berusaha. ingat Tuhan nggak akan menyia-nyiakan setetes keringat setiap umatNYA yang mau bekerja keras dan berdoa. entah sekarang atau suatu saat, DIA pasti akan membayarnya. oya satu lagi, dan jangan banyak tanya, apalagi banyak heran seperti kalian. liat orang kaya aja heran. ngerti nggak?"
   "iya ngerti" ucap ceking dan gendut kompak.
   "tapi jangan asal ngerti aja, di kerjakan juga apa yang aku bilang tadi"
   "tapi..kenapa kamu masih juga seperti kami?" ucap ceking
   "iya bo, jangan-jangan itu cuma omong doang? buktinya kamu masih seperti kita, hayo?" lanjut gendut
   "eee itu.. ee itu"
   akhirnya waktulah yang harus menghentikan obrolan yang entah kemana juntrungannya. bagi mereka, menjadi orang kaya hanyalah sebuah kutukan yang tak akan pernah terjadi dalam hidup mereka, bahkan bermimpi pun mereka tak bisa.


Minggu, 22 September 2013

SPONTANITAS (bag7 SHJ)



            Sejak pertemuan tadi sampai ia di rumah, Arya masih terbayang-bayang senyuman itu. Di kamar, sedari tadi ia hanya tersenyum-senyum sendiri di depan laptopnya yang sudah menyala dari tadi. Dalam hatinya berharap bisa bertemu lagi dengan gadis pemilik senyuman itu. Namun entah apa ia bisa bertemu lagi atau tidak. Ia pun tak yakin. Mungkin itu adalah angan-angannya saja yang jauh dari kemungkinan. Tapi semua itu sudah bisa membuat Arya seperti kambing congek. Ia terus terpaku menatap layar laptop tanpa menyentuh sedikitpun dan membiarkan begitu saja. Tiba-tiba tanda hijau di layar laptopnya berkedip-kedip. Ia mendapat sapaan dari Dewi Kecil di chat roomnya. Sapaan yang bisa membuyarkan lamunannya.
<MK>: hai juga dewi kecil
            Tangannya mulai bekerja dengan keybord laptopnya, menggantikan lamunan tadi.
<DK>: maaf aku baru aja buka email nih. jadi baru aja baca puisimu”
<MK>: nggak apa-apa kok, baru tadi sore juga kirimnya.
<DK>: boleh komen nggak?
<MK>: ya boleh lah, kan tiap aku kirim puisi, aku suruh kamu kasih komen buat masukan, trus gimana komennya?
<DK>: bagus sih. tapi kalo di baca-baca terus ada kata yang nggak enak di dengar
<MK>: kata apa emangnya?
            Arya memasang wajah heran di depan laptopnya.
<DK>: membiarkan ku nikmati jingga
<MK>: emang ada apa dengan kata itu? Ada yang salah ya?
<DK>: kesannya gimana gitu. aku baca-baca terus jadi aneh aja, kayak menikmati makanan aja.
<MK>: emang yang bisa dinikmati cuma makanan aja? Kan aku melihat keindahan langit sore yang bisa ku nikmati keindahannya, bukan menikmati trus konotasinya di makan, ketahuan nih kalo suka makan.
            Dewi kecil hanya mengirim simbol orang tersenyum dan Arya mulai menulis lagi.
<MK>: itu menceritakan tentang keindahan sore di pantai dengan langit yang menjigga dan matahari mulai terbenam. Makanya aku menikmati suasana itu
<DK>: oh gitu ya. Iya iya deh. maaf ya soal yang tadi. Aku emang nggak ngerti bahasa-bahasa puisi yang penuh teka-teki dan makna yang selalu tersembunyi itu
<MK>: nggak apa-apa kok, aku hargai itu, malah bisa buat masukan aku
<DK>: by the way, banyak dong cewek yang naksir kamu?
<MK>:  kok kamu bisa bilang gitu, kenapa?
<DK>: kan biasanya gitu, cewek suka cowok yang romantis gitu, yang jago bikin puisi kaya kamu
<MK>: gitu ya, tapi aku nggak kok. Bahkan nggak banyak orang yang tau aku suka bikin puisi, apalagi cewek. Ya Cuma kamu itu yang tau. Dan aku juga nggak pernah ngrayu cewek, cari cewek atau nembak cewek pake puisi. Dan satu lagi yang perlu kamu tau, sebagian puisiku cuma aku tulis dan aku kirim ke kamu, nggak aku publikasikan ke orang-orang.
<DK>: yang sebagian lagi kemana? Dan kenapa nggak kamu publikasikan?
<MK>: sebagian lagi yang nggak sempet aku kirim ke kamu, ya aku simpen di buku. Dan pokoknya ada alasan untuk tak aku publikasikan
<DK>: pertanyaanku masuk dalam peraturan kita ya?
<MK>: nggak juga sih. Tapi nggak usah perlu alasannya lah.
            Arya tidak mau lagi menceritakan pengalaman yang memalukan itu kepada orang lain lagi. Cukup Dimas orang terakhir yang menertawainya.
<DK>: oke deh. Kalau nggak di publikasikan, kenapa kamu tetep suka bikin puisi
Dewi Kecil mulai seperti wartawan yang selalu melempar pertanyaan kepada Arya
<MK>: sebernanya aku ngak menyebut itu sebagai puisi. Aku hanya menulis apa yang aku pikirkan, apa yang aku lihat dan apa yang aku rasa, itu saja. Mungkin karena pemilihan kata yang kebetulan aku gunakan yang membuat itu menjadi seperti puisi
<DK>: sama aja itu
<MK>: beda
<DK>: emang bedanya dimana
<MK>: bedanya ya di niatnya
<DK>: maksudnya?
<MK>: niatku cuma menuliskan apa yang aku lihat, nggak niat bikin puisi, karna aku bukan pujangga yang pekerjaannya hanya buat puisi
<DK>: bukan pujangga tapi bisa bikin puisi, bagus-bagus lagi, banyak yang menyentuh lagi. Hmm keren
<MK>: puisi-puisi ku itu hanya sebuah hasil dari ketidak sengajaan aja. Kembali lagi, aku hanya menulis apa yang aku lihat dan tak ada niat tuk buat puisi dari awal
<DK>: tapi hebat juga tu, ketidak sengajaan yang menghasilkan sebuah karya puisi yang bagus. Dan kesan pertama dulu, aku kira kamu pujangga dan cowok yang romantis
<MK>: salah. Sebenernya aku tu orangnya pendiem dan pemalu, apalagi sama cewek, kalo nggak kenal banget jarang ngobrol, mungkin ngobrol juga seperlunya saja
<DK>: aku nggak nyuruh kamu tuk nyebutin ciri-ciri kamu loh
<MK>: kelepasan tadi
<DK>: walau kita udah sepakat untuk itu, aku masih nggak ngerti kenapa kita nggak berteman dalam dunia nyata saja, kan lebih asik?
<MK>: udah aku bilang aku tu pemalu. Aku lebih nyaman berteman seperti ini, aku lebih laluasa titip puisi di kamu. Ibaratkan kamu adalah box kayu tempat penyimpanan puis-puisi ku. Lagian belum tentu asik juga kan berteman di dunia nyata, karna pertemanan itu bisa ternodai oleh rasa cinta dan rawan sekali salah paham yang akhirnya malah jadi musuh yang paling berbahaya
<DK>: kok bisa jadi musuh paling berbahaya?
<MK>: ya bisa lah. Waktu berteman pasti semua rahasia kita bagi ke sahabat kita, apapun itu, bahkan kartu AS mu. Dan saat kalian sudah jadi musuh, semua rahasiamu akan terbongkar semua, kamu akan mati dengan kartu AS mu sendiri yang telah dia penggang
<DK>: oh gitu ya? Ngeri juga ya? Jadi takut nih membagi rahasia. Tapi ya udah lah aku juga masih pengen nikmati puisi-puisimu
<MK>: menikmati? Emang makanan di nikmati.
Arya tersenyum sendiri setelah menulis itu, menulis kata-kata yang sama dengan Dewi Kecil tadi.
<DK>: ah bisa saja kamu. Oke aku nyerah kalo ngomong sama kamu.
<MK>: kenapa?
<DK>: pasti kalah kalo harus debat sama kamu
<MK>: debat tu nggak ada istilah kalah atau menang. Debat itu sebenarnya hanya mempertahankan pendapat atau prinsip yang kita punya. Nggak ada kalah menang, bahkan nggak boleh ada yang kalah atau menang, yang penting jangan saling adu fisik, itu baru namanya debat yang sehat. Kalo harus ada kalah menang, itu namanya musyawarah mufakat atau berunding
<DK>: kamu sebenarnya siapa sih? kok selalu bisa menjelaskan tentang apa saja dan pengalamannya kayak banyak banget
<MK>: aku adalah binatang jalang dari kumpulanya terbuang
<DK>: udah deh. Itu kan puisinya Chairil Anwar. Aku tanya beneran nih
<MK>: aku ya aku, aku adalah aku, aku bukanlah kamu, apalagi mereka. Tapi aku bisa jadi antara mereka, bisa jadi antara malam yang dingin, bisa jadi antara angin yang berhembus dan bisa jadi antara air mengalir jauh. Tapi aku akan tetap aku dan aku ya aku.
<DK>: tu kan puisi lagi. Kamu nulis kaya gitu sadar nggak? apa udah kamu rencanain dari tadi?
<MK>: kan aku udah bilang tadi, disini aku hanya menulis apa yang ada dalam pikiranku saat ini. Lagian kalo aku rencanain, mana aku tau kalo kamu bakal tanya siapa aku. Jadi semua mengalir begitu aja
<DK>: jadi itu seperti spontanitas ya?
<MK>: bener banget
<DK>: tapi kok bisa sih bikin puisi dengan spontanitas gitu, apalagi di sela-sela obrolan kita, nggak ada 2 menit lagi tadi. Emang udah belajar berapa lama bikin puisi?
<MK>: yang namanya spontanitas ya nggak pake belajar, tapi mungkin bisa disebut kebiasaan. Kalo belajar itu namanya sudah terkonsep dan di rancang sedemikian rupa dan hasilnya pasti sesuai dengan apa yang telah di rancang. Contoh kamu mau buat yogurt, kamu harus belajar dulu lalu merancang dan memproses yang hasil akhirnya ya akan jadi yogurt seperti yang kamu mau. Dan jika kamu ulangi lagi, ya hasilnya akan tetap yogurt. Beda dengan spontanitas, kamu nggak ada niat bikin apa-apa, tapi tiba-tiba jadi suatu hasil yang belum tentu kamu bisa mengulanginya lagi
<DK>: oh gitu ya? Tapi kenapa ya kadang-kadang sesuatu yang spontanits biasanya lebih bagus dari yang terkonsep
<MK>: karna sesuatu yang spontanitas itu adalah reflek yang di berikan secara alami oleh alam, ggak di buat-buat. Makanya kebanyakan keindahan alam yang terbentuk secara alami, jauh lebih indah dari keindahan buatan.
<DK>: iya juga sih. lagi-lagi kamu bener
            Arya hanya mengirim tanda senyum.
            Dan mereka terlihat asik ngobrol lewat chat room, tak peduli status mereka yang maya. Tak ada habis-habisnya hal yang mereka bicarakan hingga larut malam. Hingga rasa kantuk dan lelah telah menyerang keduanya yang membuat mereka mengakhiri obrolannya.
ΩΩΩΩΩ