ini bukan soal peperangan
tapi ini saatnya menanggalkan baju perangku
bukan menyerah kalah
atau tak berani mati
ini hanya saatnya menanggalkan baju perangku
aku tak perduli di mana aku kini
di medan perang, di tengah riuh mereka yang perang
aku tak perduli, sama saja buatku
tetap ku tanggalkan baju perangku
aku lelah
aku ingin telanjang, lalu damai
tanpa baju perang tanpa berperang
tikam saja aku dari belakang
tancapkan saja pedangmu di uluh hatiku
aku tetap diam tak melawan
mencoba tetap damai dalam diam dan pejaman mata
inilah saatnya menanggalkan baju perangku
agar tak ada lagi rasa sakit
inilah saatnya meletakkan semua tangguhku
agar tak ada lagi rasa benci, dendam dan marah
inilah saatnya aku telanjang dari segalaku
agar aku bisa merasakan semua bentuk kedamaian
dan inilah saatnya
aku menanggalkan baju perangku...
Kamis, 11 September 2014
Rabu, 10 September 2014
SEBUAH ARTI SETELAH PERGI
Kepada sahabat-sahabatku
Ada saatnya di mana waktu akan berhenti,
memisahkan kebersamaan kita, menjadikan aku tak ada lagi di antara kalian.
Mungkin aku sebagai teman, bukanlah
seorang teman yang selalu bisa kalian andalkan, yang hebat dan gaul seperti kau
Rendi, yang serba tahu seperti kau Anton, yang smart dan tak pernah patah
semangat seperti kau Marsha dan Tasya. Aku hanyalah pelengkap di antara
persahabatan ini. Tapi ketahuilah, aku sangat bangga dengan kalian, dengan
persahabatan ini. Meski aku orang yang paling tak dibutuhkan, tapi aku sudah
merasa berarti di antara kalian. Terima kasih kawan...
Mungkin inilah waktunya aku harus pergi
meninggalkan kalian, bukan dengan sengaja aku pergi meninggalkan kalian lebih
dulu atau marah dengan sikap-sikap kalian terhadapku, sama sekali tidak. Aku sangat
senang jika melihat kalian tertawa karena mengolok-olok aku, mungkin itulah
kelebihanku. Selalu diolok-olok untuk membuat kalian tertawa melupakan sedikit
apa yang sedang kalian rasakan. Ingatkah kalian saat kalian menyuruhku menari
selayaknya orang gila di muka umum, mungkin kalian tak pernah berpikir apa yang
aku rasakan saat itu, saat aku melakukannya dan melihat gelak tawa yang begitu
lepas dari bibir kalian, dalam hati aku merasakan sangat bahagia, aku berterima
kasih kepada Tuhan yang telah membuatku berguna di antara kalian. Di saat-saat
itulah aku selalu lupa dengan penyakit ini. Aku tak perduli lagi seberapa
banyak penyakit ini menggerogoti tubuhku, yang ada dalam hatiku hanya kalian
yang membuatku menjadi berguna. Ah sudahlah, aku tahu kalian takan pernah
mengingat itu, apa lagi melihat apa yang aku rasakan, tapi aku sedikitpun tak
menyalahkan kalian. Aku sangat bahagia kawan.
Tapi memang aku harus pergi, aku hanya
lelah dengan apa yang selama ini menguasai tubuhku. Jangan bersedih ya, apalagi
menangis, karena yang aku minta bukan air mata kalian, air mata kalian terlalu
berharga untuk aku minta. Tapi hanya satu yang aku minta, ingatlah saat-saat aku
bertingkah gila, saat-saat kalian mengolok-olokku. Karena aku tahu, kalian
pasti merindukan saat-saat itu untuk membuat kalian tertawa bukan? Mungkin hanya
itu yang bisa aku tinggalkan untuk kalian, sebuah kenangan. Akan aku beri tahu
kepada kalian sebuah rahasia, aku selalu sengaja melakukan itu, menjadi
seolah-olah bodoh di depan kalian, selalu bersikap gila di antara kalian, itu
semua aku lakukan hanya untuk hari ini. Dan sekarang kalian sudah memilikinya,
tolong jaga selalu kenangan itu.
Sebelum aku tak lagi bisa menulis, aku
hanya ingin mengatakan, aku minta maaf atas segala yang membuat kalian kesal. Dan
terima kasih kuucapkan kepada kalian, kalian terhebat.
Dariku Dan Bintang Orion
Air mata yang memang tak bisa lagi ditahan
oleh mereka berempat, akhirnya tumpah juga saat surat itu selesai dibacakan
oleh Marsha.
Tak ada yang mampu mengucap sepatah
katapun di antara mereka, hanya isak tangis yang masih menghiasai wajah mereka.
Mungkin rasa bersalah dan penyesalan
yang kini bersemanyam di hati mereka berempat. Mau tak mau mereka mulai
teringat satu per satu ulah-ulah dan perlakuan mereka terhadap Ori. Andai waktu
bisa diulang kembali dan tahu penyakit yang bersemayam di tubuh Ori, mereka
semua tak akan memperlakukan Ori seperti itu, tapi semua sudah terjadi, mereka
tak bisa apa-apa lagi selain memang penyesalan yang mereka rasakan.
“aku yang sangat menyesal, aku yang
paling sering mengolok-olok kamu Ri, aku minta maaf Ri. Asal kamu tahu Ri,
bahkan selama ini aku tak pernah tahu nama lengkapmu, teman macam apa aku ini”
ucap Tasya penuh rasa marah, marah kepada dirinya sendiri.
“sudah Tas, semua sudah terjadi”
Semua kembali terdiam, hanya suara isak
tangis yang masih terdengar, wajah-wajah yang berselimut penyesalan.
“kini aku merasakan betapa berartinya
kamu Ri, kamu yang bisa membuatku tertawa oleh ulahmu, kamu yang selalu ada,
kamu yang selalu perhatian denganku, kamu yang selalu mengkhawatirkanku, kamu
yang sangat mencintaiku dan kamu yang selalu bersabar atas cintamu yang tak
pernah aku lihat. Mungkin aku bodoh telah menutup pintu hatiku untukmu, hanya
karena aku mengharap seseorang yang sama sekali tak perduli denganku. Kini benar-benar
aku merasakan kehilanganmu Ri” ucap Marsha dalam hati
Senin, 08 September 2014
RATAPAN SEORANG PEMBUNUH
Mungkin sebagian orang mampu menolak dan mengelak garis
Tuhan yang diberikan kepada mereka, tapi tidak denganku. Sekuat apapun
kesadaranku akan hal itu, tidak membuatku keluar dari garis ini.
Aku adalah seorang pembunuh meski aku tahu membunuh adalah
salah satu hal yang membuat dosa dan bukanlah pekerjaan yang aku cita-citakan
sejak kecil. Lagi pula, tidak ada satupun anak kecil di dunia ini yang
bercita-cita ingin menjadi seorang pembunuh saat dewasa nanti. Tapi entah
kenapa sepertinya aku sudah digariskan menjadi seorang pembunuh. Aku selalu
sadar saat melakukannya.
Aku mencoba kembali kemasa kecil dulu, mencari apa yang
salah dalam diriku. Kenangan demi kenangan aku putar kembali hingga aku
terhenti di titik nol yang mungkin inilah awal apa akhirnya terjadi dalam
diriku.
Waktu itu aku masih berumur sekitar 5 tahun. Aku melihat
kedua orang tuaku bertengkar hebat, itu kali pertama aku melihat ayah menampar
keras pipi ibuku, aku hanya terdiam di sudut ruang yang tidak disadari oleh
kedua orang tuaku. Aku lihat ibu hanya menangis meronta kesakitan tapi tak
sedikitpun membuat ayahku berhenti berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan
jarinya ke wajah ibuku. Itulah kekerasan pertama yang aku lihat tanpa
sedikitpun aku meneteskan air mata. Padahal aku adalah anak kecil yang manja
yang selalu menangis jika permintaanku tak dituruti.
Sejak kejadian itu, aku semakin sering melihat kedua
orang tuaku bertengkar hebat, tak jarang ibuku selalu berakhir di rumah sakit
dengan luka-luka di tubuhnya. Anehnya, aku selalu saja tak bisa menangis saat
melihatnya, saat air mata ini akan tumpah, seperti ada bisikan di hatiku yang
berkata, “jangan menangis, itulah dirimu kelak”. Hingga pada suatu hari yang
membuat aku kehilangan ayahku untuk selamanya.
“aku tu muak melihatmu selalu saja menyalahkanku, aku ini
istrimu, ibu dari anakmu” teriak ibu setelah tamparan mendarat di pipinya. Tak sedikitpun
ayah menghiraukan kata-kata ibuku yang diiringi rintih kesakitan. Ayah masih
saja terlihat murka. Aku lihat ibu berlari ke arah dapur menahan sakit di pipi
dan darah yang mulai keluar dari sudut bibirnya. Tak lama kemudian ibu kembali
lagi dengan sebilah pisau dapur di tangannya, tanpa banyak bicara ibu langsung
menusukkan pisau itu tepat di perut ayahku. Ibu yang melihat keberadaanku
langsung menghampiriku meski di tangannya masih berlumuran darah ayahku. Seperti
biasa, aku hanya terdiam tanpa air mata. Mataku seakan merekan semua kejadian
demi kejadian itu. Kejadian itu benar-benar melekat dalam otakku.
Tanpa disadari aku tumbuh dewasa oleh belaian kekerasan
yang diciptakan kedua orang tuaku sendiri yang sepertinya membuat kepribadianku
seolah terpecah menjadi dua. Di sisi lain aku masih menjadi seorang anak yang manja,
anak yang terlihat polos dan pendiam. Sampai pada akhirnya aku benar-benar
menyadarinya oleh perbuatanku sendiri.
Selayaknya remaja kebanyakan, di sekolah saat aku SMP aku
mempunyai pacar. Aku sangat menyanyangi dia meski aku sadar banyak lelaki yang
selalu saja berlomba-lomba mendekati dia. Saat itu hari sabtu malam, entah aku
lupa tepatnya jam berapa. Aku gaagal menemui pacarku di rumahnya. Aku lantas
pergi, tak pulang, jalan-jalan mencari suasana pikirku. Aku pergi menyusuri
jalanan, tanpa sengaja aku melihat dua sepasang remaja yang sepertinya aku
kenal. Tak salah lagi, gadis itu adalah pacarku yang sedang asik bercengkrama
bersama seorang lelaki yang tak ku kenal. Mereka terkejut saat tiba-tiba aku
sudah berdiri di belakang mereka.
“kamu. Kenapa ada di sini?” ucap pacarku terkejut.
Tanpa basa-basi aku langsung menhajar lelaki itu sampai
jatuh tersungkur, belum puas dengan itu, aku ambil bongkahan batu sebesar
kepalan tangan dan mendaratkan batu itu tepat di kepalanya berulang-ulang
sampai ku lihat lelaki itu tak bergerak. Pacarku berteriak histeris tanpa henti
yang membuatku akhirnya melakukan hal yang sama kepada pacarku. Entah kenapa
sedikitpun aku tak merasa takut dengan apa yang kulakukan tadi. Aku buang mayat
mereka ke sungai. Aku pulang dengan sikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Satu tahun kemudian, hal serupa terjadi lagi. Lagi-lagi
aku membunuh seorang lelaki yang terlihat mendekati pacar baruku. Dari kedua
kejadian itu, aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, bagaimana bisa aku
melakukannya tanpa rasa takut sedikitpun, justru ada sesuatu kelegaan di hatiku
dan seperti ada rasa ketagihan yang sangat menyenangkan untuk melakukannya lagi
dan lagi.
Usiaku
beranjak semakin dewasa, semakin aneh yang terjadi dalam diriku. Aku selalu
saja membunuh siapa saja yang membuat masalah denganku tak terkecuali orang
yang membuatku merasa marah. Entah itu lelaki, wanita, orang tua bahkan aku
juga pernah membunuh salah satu guruku yang pernah melempar kepalaku dengan
penghapus papan tulis.
Sampai
saat ini, aku masih bertanya dalam hati, mengapa aku seperti ini, menjadi
seorang pembunuh yang jelas-jelas bukan cita-citaku sejak kecil. Aku hanya
berpikir, apa ini sudah jalan hidupku terlahir menjadi seorang pembunuh,
terlahir tanpa bisa mengelak jalan hidup yang sudah di gariskan meski sekuat
tenaga mencoba keluar dari kebiasaan itu. Aku sangat sadar atas apa yang
kulakukan itu. Tapi aku benar-benar tak bisa mengelaknya. Bukan berarti aku tak
punya cita-cita, seperti anak kebanyakan, cita-citaku menjadi pilot seperti
ayahku.
Selasa, 26 Agustus 2014
GADIS KECIL DAN HUJAN
Gadis kecil itu berlari
Riuh dan bernyanyi
Tatkala deras hujan mulai berjatuhan
Menyimpulkan senyum yang sempat tertahan
Riuh dan bernyanyi
Tatkala deras hujan mulai berjatuhan
Menyimpulkan senyum yang sempat tertahan
Gadis kecil itu berdansa
Bersama di tangannya boneka panda
Berlari berputar lalu melompat
Terjatuh nikmat yang baru saja didapat
Kini hujan adalah alunan musiknya
Tentang sakit pagi tadi tak lagi mengusiknya
Ia melupa, terguyur hujan yang tak boleh mereda
Ia merdeka, bersama boneka panda yang ia peluk di dada
Bersama di tangannya boneka panda
Berlari berputar lalu melompat
Terjatuh nikmat yang baru saja didapat
Kini hujan adalah alunan musiknya
Tentang sakit pagi tadi tak lagi mengusiknya
Ia melupa, terguyur hujan yang tak boleh mereda
Ia merdeka, bersama boneka panda yang ia peluk di dada
Senin, 25 Agustus 2014
PADA SEMANGGI BERDAUN EMPAT
Pada semanggi berdaun empat
Kutumpahkan segala nikmat
Yang sejatinya adalah teramat
Yang juga pun berjubah keramat
Ini adalah nikmat
Yang begitu sangat teramat
Menyatukan puing-puing yang tak sempat
Meski terlarang dalam keringat
Pada semanggi berdaun empat
Kutitipkan rasa yang kian teramat
Biar tersimpan tertutup rapat
Biar selamanya menjadi nikmat
Kutumpahkan segala nikmat
Yang sejatinya adalah teramat
Yang juga pun berjubah keramat
Ini adalah nikmat
Yang begitu sangat teramat
Menyatukan puing-puing yang tak sempat
Meski terlarang dalam keringat
Pada semanggi berdaun empat
Kutitipkan rasa yang kian teramat
Biar tersimpan tertutup rapat
Biar selamanya menjadi nikmat
Selasa, 12 Agustus 2014
TENTANG TITIK JENUH
Ini hanya tentang kejenuhan
Yang mengendap-endap keluar dari liangnya
Mungkin sudah pecah, lalu berontak
Tubuh seperti terkubur jiwa yang mati
Otak imaji entah, seperti dipaksa kerdil
Lalu beku tak berfikir
Semua sudah terkumpul menjadi titik jenuh
Yang perlahan menikam tubuh berjubah kebiasaan
Mengulitinya dan menduduki mahkota di kepala
Ini hanya tentang kejenuhan
Yang memaksa mencari-cari entahlah
Dari kebuntuan yang tumpul dalam otak
Tapi aku hanya bisa membunuh
Menikamnya dari kepala dan merobeknya hingga mati
Dan menjadikan aku tetap aku, semula
Yang mengendap-endap keluar dari liangnya
Mungkin sudah pecah, lalu berontak
Tubuh seperti terkubur jiwa yang mati
Otak imaji entah, seperti dipaksa kerdil
Lalu beku tak berfikir
Semua sudah terkumpul menjadi titik jenuh
Yang perlahan menikam tubuh berjubah kebiasaan
Mengulitinya dan menduduki mahkota di kepala
Ini hanya tentang kejenuhan
Yang memaksa mencari-cari entahlah
Dari kebuntuan yang tumpul dalam otak
Tapi aku hanya bisa membunuh
Menikamnya dari kepala dan merobeknya hingga mati
Dan menjadikan aku tetap aku, semula
Kamis, 17 Juli 2014
DEWA KEMATIAN
Sepuluh tahun yang lalu, aku tak pernah
tahu apa maksud dari ucapan seorang lekaki tua itu. aku tak kenal dia, yang aku
tahu dia adalah orang gila yang sering seliwearan di depan rumahku setiap pagi.
Aku sering melihatnya tanpa sengaja dari balik jendela kamarku.
Mungkin usiaku masih terlalu kecil untuk
tahu maksud dari celotehnya waktu itu, hingga lambat laun seiring kejadian demi
kejadian ku alami, celotehnya seakan terus terngiang di telingaku. Celoteh yang
sangat menggangguku. “kamu adalah dewa kematian nak, jauhi teman-temanmu jika
tak ingin kehilagan mereka” ucapnya kala itu.
Seiring berjalannya waktu, akupun mulai
menyadari ada sesuatu yang memang aneh dalam diriku. Seakan celoteh orang gila
itu benar adanya. Aku sang dewa kematian.
Dari situ pula aku mulai mengerti kenapa
aku sedari kecil dikucilkan oleh kedua orang tuaku, dikurung dalam rumah. Dibutakan
dari kebenaran tentang diriku, atau mungkin tepatnya kutukanku.
*dalam kematian pertama
Saat itu usiaku menginjak 6 tahun. Mungkin
seperti anak seusiaku kebanyakan, aku juga iri melihat anak-anak kecil bermain
di bawah derasnya hujan. Kebetulan saat itu kedua orang tuaku sedang tak ada di
rumah, hanya nenek yang menemaniku di rumah.
Kulihat nenek sedang pulas tertidur di
sofa, entah karena hujan yang lebat atau memang kelelahan menjagaku seharian. Aku
mencuri waktu untuk keluar rumah. Ini pertama kalinya aku mulai keluar rumah
setelah beberapa tahun dikurung, sampai akupun lupa kapan terakhir kali aku
menghirup udara segar di luar rumah.
Aku bergabung dengan anak-anak yang ku
lihat sedang asik bermain di bawah hujan. Ku hampiri mereka meski aku tak kenal
dengan mereka. Dalam hitungan detik, aku sudah membaur dengan mereka. Berlarian,
bermain bola, bermandikan hujan yang menjadi pengalaman pertamaku. Ku habiskan
waktuku bersama mereka. Hingga tepat satu jam kebersamaan kami, sebuah
peristiwa itu terjadi. Sebuah kilatan cahaya terang seakan menukik jatuh tepat
di tubuh salah satu teman dari mereka. Semua histeris, termasuk aku. Aku lihat ia
terbujur kaku dengan tubuh menghitam. Ia tak bergerak lagi.
Seketika banyak orang berdatangan ke
tempat kami bermain, termasuk seorang nenek yang sangat kukenal, nenekku
sendiri. Ia memelukku, bergegas membawaku masuk ke dalam rumah kembali,
meninggalkan kerumunan orang-orang yang sepertinya dibuat sibuk oleh pemandangan
yang kulihat tadi. Nenek terlihat takut, entah karena apa.
Aku dimarahi habis-habisan oleh ayahku
dengan alasan yang tak pernah aku tahu dan ibuku hanya bisa menangis disudut
ruangan.
*dalam kematian kedua
Beberapa minggu dari peristiwa itu, aku
mempunyai kesempatan lagi untuk lari dari rumah. Aku berjalan mengikuti kakiku
melangkah, aku ingin bermain. Langkahku terhenti di sebuah taman, di sana aku
lihat beberapa anak yang mungkin seusiaku, aku hampiri mereka, ikut bermain
bersama mereka. Lagi-lagi setelah satu jam kami bermain, aku lihat salah satu
dari kami, entah bagaimana bisa, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh ke dalam
kolam yang ada di taman. Kami semua menjerit hingga beberapa orang dewasa
berkerumun mendekat. Kulihat mereka seakan berlomba-lomba untuk mengentaskan
temanku yang terjatuh ke dalam kolam. Tapi sayang, temanku sudah tak bergerak
lagi.
Lagi-lagi ayah memarahiku kembali, masih
dengan alasan yang tak pernah keluar dari mulutnya saat ku tanya mengapa. Apa aku
salah bermain dengan mereka, apa aku salah keluar rumah untuk bermain. Aku anak
kecil yang butuh bermain, ingin normal seperti anak-anak seusiaku.
*dalam kematian selanjutnya dan
seterusnya
Aku masih tak mengerti apa yang terjadi,
setiap kali aku bermain dengan anak-anak yang lain, selalu ada saja peristiwa
yang sama. Sebuah peristiwa yang akhirnya aku tahu itu, kematian. Namun aku tak
pernah tahu penyebab sesungguhnya. Aku tak pernah berpikir sedikitpun, akulah
penyebabnya. Setiap kali aku bermain dengan teman-temanku, selalu ada saja
kematian yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Entah apa yang terjadi
sebenarnya, kenapa banyak kematian demi kematian yang terjadi dengan berbagai
cara yang berbeda-beda di depanku. Kematian seorang teman setelah kami bermain.
Aku masih belum menyadarinya, aku anggap itu adalah kematian yang mungkin
itulah yang terjadi.
Sampai saat usiaku 7 tahun, aku tanpa
sengaja bertemu dengan lelaki yang sering ku lihat seliweran di depan rumahku. Saat
aku sedang duduk di bawah pohon dekat rumahku, seperti biasa, aku selalu bisa
mencuri waktu untuk keluar rumah. Saat itu aku memang sedang malas bermain, aku
hanya keluar rumah dan bersantai di bawah pohon. Tiba-tiba lekaki itu
menghampiriku dan meraih tanganku, aku sangat takut, ingin berlari namun
tangannya begitu kuat menggenggam tanganku hingga ku tak dapat berlari. Lalu tiba-tiba
ia berkata dengan wajah yang menakutkanku. “kamu adalah dewa kematian nak,
jauhi teman-temanmu jika tak ingin kehilangan mereka”. Aku terus meronta, tapi
kata-kata itu terekam jelas di telingaku. Aku berlari kencang masuk kerumah
ketika ia melepaskan tangannya dari tanganku setelah apa yang ia ucapkan
kepadaku.
Kini sepuluh tahun berlalu, sampai aku
benar-benar menyadari apa yang ada dalam diriku, aku sebut ini memang kutukan. Aku
telahir dengan sebuah kutukan yang bisa membunuh orang di dekatku tanpa aku
berbuat apa-apa. Mungkin benar apa yang diucapkan lekaki itu, aku adalah dewa
kematian.
*dalam kematian terakhir
Sebelum aku benar-benar percaya dengan
ucapan lekaki itu, aku sengaja membuktikan. Itupun setelah aku berperang dengan
jiwaku, aku tak ingin melihat kematian yang disebabkan olehku, namun kali ini
aku harus melakukan untuk sebuah pembuktian. Jika ini memang terjadi, aku
berjanji ini yang terakhir kali, dan tak akan kulihat kematian-kematian lagi
oleh ulahku yang masih tak ku mengerti sebenarnya.
Saat itu aku kembali berulah, mencoba
keluar rumah untuk mencari seseorang yang akan ku jadikan pembuktian terakhir. Mungkin
aku akan berdosa, tapi jika tidak aku lakukan, aku tak akan benar-benar tahu
dan yakin, dan masih akan kuanggap itu adalah kematian yang sewajarnya orang
hidup pasti mati.
Aku berhasil keluar rumah, aku terus
berjalan menjauh dari rumah, menuju entah kemana, mencari pembuktian yang
tepat, yang pantas aku jadikan pembuktian lebih tepatnya.
Aku mendengar teriakan seorang gadis tak
jauh dari tempatku berjalan, aku berlari mencari asal suara gadis tadi. Aku lihat
beberapa orang lelaki sedang mengerumini gadis itu, sontak aku mendekat. Sebenarnya
akupun tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jelas aku yang bisa mati dikeroyok
mereka berlima. Berbekal sebuah pembuktian, tetap ku beranikan diri untuk
mendekat.
Benar apa yang aku pikirkan sebelumnya,
aku yang jadi bulan-bulanan atas bogem mentah kelima lelaki itu, mereka
mengeroyokku dengan mudah, aku tak bisa melawan sedikitpun. Aku sempat berpikir
tentang pembuktian itu dan gelar dewa kematian yang diberikan orang gila itu
salah besar, dan aku sempat tersenyum lega. Aku akan mati dikeroyok mereka kali
ini, pikirku lagi. Namun beberapa detik setelah aku berpikir begitu, aku
merasakan bumi berguncang dengan hebat. Aku dengar teriakan mereka mengucap
kata “gempa” berulang kali dan membuat mereka berlari kalang kabut. Belum ada
lima meter menjauh dariku, aku lihat sebuah tiang listrik roboh menghantam
tepat di kepala salah satu dengan mereka, seketika itu gempapun berhenti. Senyum
legaku yang tadi sempat tumbuh di bibirku seakan kembali sirna.
Kali ini aku benar-benar takut, bukan
pada mereka atau kematian yang aku lihat, tapi kepada diriku sendiri. “aku
benar-benar dewa kematian” ucapku dalam hati sambil terus berlari menuju rumah.
Kali ini tak kubiarkan ayahku
menghujaniku dengan kamarahan oleh ulahku yang mungkin sudah sekian ribu kali. Sebelum
sempat ayahku membuka mulut ketika melihatku dari luar rumah, aku hujani dengan
banyak pertanyaan tentangku. Tentang kenapa aku begini, tentang kutukan ini. Ayah
dan ibu hanya bisa diam dan terdiam, sedang aku masih menggebu-gebu menhujani
mereka dengan pertanyaan yang sama. “aku sebenarnya siapa? Apa yang terjadi
denganku? Kenapa semua orang yang ada di dekatku selalu mati? Kenapa aku selalu
melihat kematian di dekatku? Lalu kenapa kalian tak mati di dekatku? Aku terkena
kutukan apa? Tolong jelaskan padaku yah, katakan padaku bu”
“sudah saatnya dia harus tahu yah,
ceritakan saja apa yang terjadi 17tahun silam sebelum dia lahir” ucap ibuku
sedikit memaksa ayahku untuk bicara.
“baik bu”
“apa yang sebenarnya terjadi?” sekali
lagi dengan penuh penasaran
“saat itu, saat ibumu sedang hamil tua. Ayah
tanpa sengaja memfitnah seseorang dengan mengatakan sebagai pembunuh kakekmu. Saat
itu ayah, ibumu dan kakek nenekmu sedang makan malam di sebuah restoran. Kakekmu
pergi menuju mobil untuk mengambil sesuatu, belum ada lima menit, kami semua
mendengar teriakan kakekmu minta tolong, lekas ayah berlari menghampiri
kakekmu. Ayah lihat kakekmu sudah berlumuran darah di perutnya dan ayah melihat
seorang laki-laki dengan sebuah pisau di tangannya. Dalam pangkuan ayah,
kakekmu menghembuskan nafas yang terakhir kali. Sontak ayah meneriaki lelaki
itu dengan sebutan pembunuh dan membuat para masa akhirnya menghakimi lelaki
itu. Sebelum lelaki itu akhirnya tewas, seorang anak belasan tahun yang
ternyata adalah anak lelaki itu, berteriak histeris dan mengatakan kalau ayahnya justru ingin
menolong kakekmu dari perampokan. “bapak yang pembunuh, bapak yang pembunuh”
sambil menunjukkan jari ke arah ayah. Ayah lihat di matanya kemarahan atas
fitnah yang ayah lontarkan kepada bapaknya yang membuatnya akhirnya tewas. Ia terus
meneriakkan kata-kata itu. dan saat itulah ibumu merasakan kontraksi di
perutnya seiring suara petir yang menyambar-nyambar, dan singkat cerita, kau
lahir di sana, di depan kematian kakekmu dan lelaki yang ayah fitnah.
Mungkin hanya itu yang bisa ayah
ceritakan saat kelahiranmu. Tentang apa yang ada di dirimu, ayah sebenarnya tak
percaya, itu semua penyebab kamu menjadi seperti ini”
“lalu sejak kapan ayah menyadari tetang
apa yang ada di diriku, tentang kematian yang disebabkan oleh diriku?”
“sejak kamu berumur 2 tahun nak,
sebelumnya ayah dan ibumu tidak percaya melihat kematian demi kematian yang
terjadi di dekatmu. Ayah anggak itu takdir. Tapi setelah sekian banyak kematian
dan kembali teringat kejadian saat kamu lahir, ayah menyadari kematian-kematian
itu mungkin ada hubungannya dengan itu semua, dan sejak itulah mengapa ayah dan
ibumu mengurungmu di dalam rumah”
Langganan:
Postingan (Atom)