Kamis, 11 September 2014

INILAH SAATNYA MENANGGALKAN BAJU PERANG

ini bukan soal peperangan
tapi ini saatnya menanggalkan baju perangku
bukan menyerah kalah
atau tak berani mati
ini hanya saatnya menanggalkan baju perangku

aku tak perduli di mana aku kini
di medan perang, di tengah riuh mereka yang perang
aku tak perduli, sama saja buatku
tetap ku tanggalkan baju perangku

aku lelah
aku ingin telanjang, lalu damai
tanpa baju perang tanpa berperang

tikam saja aku dari belakang
tancapkan saja pedangmu di uluh hatiku
aku tetap diam tak melawan
mencoba tetap damai dalam diam dan pejaman mata

inilah saatnya menanggalkan baju perangku
agar tak ada lagi rasa sakit
inilah saatnya meletakkan semua tangguhku
agar tak ada lagi rasa benci, dendam dan marah
inilah saatnya aku telanjang dari segalaku
agar aku bisa merasakan semua bentuk kedamaian

dan inilah saatnya
aku menanggalkan baju perangku...


Rabu, 10 September 2014

SEBUAH ARTI SETELAH PERGI

Kepada sahabat-sahabatku
 
Ada saatnya di mana waktu akan berhenti, memisahkan kebersamaan kita, menjadikan aku tak ada lagi di antara kalian.
Mungkin aku sebagai teman, bukanlah seorang teman yang selalu bisa kalian andalkan, yang hebat dan gaul seperti kau Rendi, yang serba tahu seperti kau Anton, yang smart dan tak pernah patah semangat seperti kau Marsha dan Tasya. Aku hanyalah pelengkap di antara persahabatan ini. Tapi ketahuilah, aku sangat bangga dengan kalian, dengan persahabatan ini. Meski aku orang yang paling tak dibutuhkan, tapi aku sudah merasa berarti di antara kalian. Terima kasih kawan...
Mungkin inilah waktunya aku harus pergi meninggalkan kalian, bukan dengan sengaja aku pergi meninggalkan kalian lebih dulu atau marah dengan sikap-sikap kalian terhadapku, sama sekali tidak. Aku sangat senang jika melihat kalian tertawa karena mengolok-olok aku, mungkin itulah kelebihanku. Selalu diolok-olok untuk membuat kalian tertawa melupakan sedikit apa yang sedang kalian rasakan. Ingatkah kalian saat kalian menyuruhku menari selayaknya orang gila di muka umum, mungkin kalian tak pernah berpikir apa yang aku rasakan saat itu, saat aku melakukannya dan melihat gelak tawa yang begitu lepas dari bibir kalian, dalam hati aku merasakan sangat bahagia, aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah membuatku berguna di antara kalian. Di saat-saat itulah aku selalu lupa dengan penyakit ini. Aku tak perduli lagi seberapa banyak penyakit ini menggerogoti tubuhku, yang ada dalam hatiku hanya kalian yang membuatku menjadi berguna. Ah sudahlah, aku tahu kalian takan pernah mengingat itu, apa lagi melihat apa yang aku rasakan, tapi aku sedikitpun tak menyalahkan kalian. Aku sangat bahagia kawan.
Tapi memang aku harus pergi, aku hanya lelah dengan apa yang selama ini menguasai tubuhku. Jangan bersedih ya, apalagi menangis, karena yang aku minta bukan air mata kalian, air mata kalian terlalu berharga untuk aku minta. Tapi hanya satu yang aku minta, ingatlah saat-saat aku bertingkah gila, saat-saat kalian mengolok-olokku. Karena aku tahu, kalian pasti merindukan saat-saat itu untuk membuat kalian tertawa bukan? Mungkin hanya itu yang bisa aku tinggalkan untuk kalian, sebuah kenangan. Akan aku beri tahu kepada kalian sebuah rahasia, aku selalu sengaja melakukan itu, menjadi seolah-olah bodoh di depan kalian, selalu bersikap gila di antara kalian, itu semua aku lakukan hanya untuk hari ini. Dan sekarang kalian sudah memilikinya, tolong jaga selalu kenangan itu.
Sebelum aku tak lagi bisa menulis, aku hanya ingin mengatakan, aku minta maaf atas segala yang membuat kalian kesal. Dan terima kasih kuucapkan kepada kalian, kalian terhebat. 

Dariku Dan Bintang Orion

Air mata yang memang tak bisa lagi ditahan oleh mereka berempat, akhirnya tumpah juga saat surat itu selesai dibacakan oleh Marsha.
Tak ada yang mampu mengucap sepatah katapun di antara mereka, hanya isak tangis yang masih menghiasai wajah mereka.
Mungkin rasa bersalah dan penyesalan yang kini bersemanyam di hati mereka berempat. Mau tak mau mereka mulai teringat satu per satu ulah-ulah dan perlakuan mereka terhadap Ori. Andai waktu bisa diulang kembali dan tahu penyakit yang bersemayam di tubuh Ori, mereka semua tak akan memperlakukan Ori seperti itu, tapi semua sudah terjadi, mereka tak bisa apa-apa lagi selain memang penyesalan yang mereka rasakan.
“aku yang sangat menyesal, aku yang paling sering mengolok-olok kamu Ri, aku minta maaf Ri. Asal kamu tahu Ri, bahkan selama ini aku tak pernah tahu nama lengkapmu, teman macam apa aku ini” ucap Tasya penuh rasa marah, marah kepada dirinya sendiri.
“sudah Tas, semua sudah terjadi”
Semua kembali terdiam, hanya suara isak tangis yang masih terdengar, wajah-wajah yang berselimut penyesalan.
“kini aku merasakan betapa berartinya kamu Ri, kamu yang bisa membuatku tertawa oleh ulahmu, kamu yang selalu ada, kamu yang selalu perhatian denganku, kamu yang selalu mengkhawatirkanku, kamu yang sangat mencintaiku dan kamu yang selalu bersabar atas cintamu yang tak pernah aku lihat. Mungkin aku bodoh telah menutup pintu hatiku untukmu, hanya karena aku mengharap seseorang yang sama sekali tak perduli denganku. Kini benar-benar aku merasakan kehilanganmu Ri” ucap Marsha dalam hati

Senin, 08 September 2014

RATAPAN SEORANG PEMBUNUH



            Mungkin sebagian orang mampu menolak dan mengelak garis Tuhan yang diberikan kepada mereka, tapi tidak denganku. Sekuat apapun kesadaranku akan hal itu, tidak membuatku keluar dari garis ini.
            Aku adalah seorang pembunuh meski aku tahu membunuh adalah salah satu hal yang membuat dosa dan bukanlah pekerjaan yang aku cita-citakan sejak kecil. Lagi pula, tidak ada satupun anak kecil di dunia ini yang bercita-cita ingin menjadi seorang pembunuh saat dewasa nanti. Tapi entah kenapa sepertinya aku sudah digariskan menjadi seorang pembunuh. Aku selalu sadar saat melakukannya.
            Aku mencoba kembali kemasa kecil dulu, mencari apa yang salah dalam diriku. Kenangan demi kenangan aku putar kembali hingga aku terhenti di titik nol yang mungkin inilah awal apa akhirnya terjadi dalam diriku.
            Waktu itu aku masih berumur sekitar 5 tahun. Aku melihat kedua orang tuaku bertengkar hebat, itu kali pertama aku melihat ayah menampar keras pipi ibuku, aku hanya terdiam di sudut ruang yang tidak disadari oleh kedua orang tuaku. Aku lihat ibu hanya menangis meronta kesakitan tapi tak sedikitpun membuat ayahku berhenti berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan jarinya ke wajah ibuku. Itulah kekerasan pertama yang aku lihat tanpa sedikitpun aku meneteskan air mata. Padahal aku adalah anak kecil yang manja yang selalu menangis jika permintaanku tak dituruti.
            Sejak kejadian itu, aku semakin sering melihat kedua orang tuaku bertengkar hebat, tak jarang ibuku selalu berakhir di rumah sakit dengan luka-luka di tubuhnya. Anehnya, aku selalu saja tak bisa menangis saat melihatnya, saat air mata ini akan tumpah, seperti ada bisikan di hatiku yang berkata, “jangan menangis, itulah dirimu kelak”. Hingga pada suatu hari yang membuat aku kehilangan ayahku untuk selamanya.
            “aku tu muak melihatmu selalu saja menyalahkanku, aku ini istrimu, ibu dari anakmu” teriak ibu setelah tamparan mendarat di pipinya. Tak sedikitpun ayah menghiraukan kata-kata ibuku yang diiringi rintih kesakitan. Ayah masih saja terlihat murka. Aku lihat ibu berlari ke arah dapur menahan sakit di pipi dan darah yang mulai keluar dari sudut bibirnya. Tak lama kemudian ibu kembali lagi dengan sebilah pisau dapur di tangannya, tanpa banyak bicara ibu langsung menusukkan pisau itu tepat di perut ayahku. Ibu yang melihat keberadaanku langsung menghampiriku meski di tangannya masih berlumuran darah ayahku. Seperti biasa, aku hanya terdiam tanpa air mata. Mataku seakan merekan semua kejadian demi kejadian itu. Kejadian itu benar-benar melekat dalam otakku.
            Tanpa disadari aku tumbuh dewasa oleh belaian kekerasan yang diciptakan kedua orang tuaku sendiri yang sepertinya membuat kepribadianku seolah terpecah menjadi dua. Di sisi lain aku masih menjadi seorang anak yang manja, anak yang terlihat polos dan pendiam. Sampai pada akhirnya aku benar-benar menyadarinya oleh perbuatanku sendiri.
            Selayaknya remaja kebanyakan, di sekolah saat aku SMP aku mempunyai pacar. Aku sangat menyanyangi dia meski aku sadar banyak lelaki yang selalu saja berlomba-lomba mendekati dia. Saat itu hari sabtu malam, entah aku lupa tepatnya jam berapa. Aku gaagal menemui pacarku di rumahnya. Aku lantas pergi, tak pulang, jalan-jalan mencari suasana pikirku. Aku pergi menyusuri jalanan, tanpa sengaja aku melihat dua sepasang remaja yang sepertinya aku kenal. Tak salah lagi, gadis itu adalah pacarku yang sedang asik bercengkrama bersama seorang lelaki yang tak ku kenal. Mereka terkejut saat tiba-tiba aku sudah berdiri di belakang mereka.
            “kamu. Kenapa ada di sini?” ucap pacarku terkejut.
            Tanpa basa-basi aku langsung menhajar lelaki itu sampai jatuh tersungkur, belum puas dengan itu, aku ambil bongkahan batu sebesar kepalan tangan dan mendaratkan batu itu tepat di kepalanya berulang-ulang sampai ku lihat lelaki itu tak bergerak. Pacarku berteriak histeris tanpa henti yang membuatku akhirnya melakukan hal yang sama kepada pacarku. Entah kenapa sedikitpun aku tak merasa takut dengan apa yang kulakukan tadi. Aku buang mayat mereka ke sungai. Aku pulang dengan sikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
            Satu tahun kemudian, hal serupa terjadi lagi. Lagi-lagi aku membunuh seorang lelaki yang terlihat mendekati pacar baruku. Dari kedua kejadian itu, aku mencoba bertanya pada diriku sendiri, bagaimana bisa aku melakukannya tanpa rasa takut sedikitpun, justru ada sesuatu kelegaan di hatiku dan seperti ada rasa ketagihan yang sangat menyenangkan untuk melakukannya lagi dan lagi.
Usiaku beranjak semakin dewasa, semakin aneh yang terjadi dalam diriku. Aku selalu saja membunuh siapa saja yang membuat masalah denganku tak terkecuali orang yang membuatku merasa marah. Entah itu lelaki, wanita, orang tua bahkan aku juga pernah membunuh salah satu guruku yang pernah melempar kepalaku dengan penghapus papan tulis.
Sampai saat ini, aku masih bertanya dalam hati, mengapa aku seperti ini, menjadi seorang pembunuh yang jelas-jelas bukan cita-citaku sejak kecil. Aku hanya berpikir, apa ini sudah jalan hidupku terlahir menjadi seorang pembunuh, terlahir tanpa bisa mengelak jalan hidup yang sudah di gariskan meski sekuat tenaga mencoba keluar dari kebiasaan itu. Aku sangat sadar atas apa yang kulakukan itu. Tapi aku benar-benar tak bisa mengelaknya. Bukan berarti aku tak punya cita-cita, seperti anak kebanyakan, cita-citaku menjadi pilot seperti ayahku.

Selasa, 26 Agustus 2014

GADIS KECIL DAN HUJAN

Gadis kecil itu berlari
Riuh dan bernyanyi
Tatkala deras hujan mulai berjatuhan
Menyimpulkan senyum yang sempat tertahan


Gadis kecil itu berdansa
Bersama di tangannya boneka panda
Berlari berputar lalu melompat
Terjatuh nikmat yang baru saja didapat


Kini hujan adalah alunan musiknya
Tentang sakit pagi tadi tak lagi mengusiknya
Ia melupa, terguyur hujan yang tak boleh mereda
Ia merdeka, bersama boneka panda yang ia peluk di dada


Senin, 25 Agustus 2014

PADA SEMANGGI BERDAUN EMPAT

Pada semanggi berdaun empat
Kutumpahkan segala nikmat
Yang sejatinya adalah teramat
Yang juga pun berjubah keramat

Ini adalah nikmat
Yang begitu sangat teramat
Menyatukan puing-puing yang tak sempat
Meski terlarang dalam keringat

Pada semanggi berdaun empat
Kutitipkan rasa yang kian teramat
Biar tersimpan tertutup rapat
Biar selamanya menjadi nikmat

Selasa, 12 Agustus 2014

TENTANG TITIK JENUH

Ini hanya tentang kejenuhan
Yang mengendap-endap keluar dari liangnya
Mungkin sudah pecah, lalu berontak


Tubuh seperti terkubur jiwa yang mati
Otak imaji entah, seperti dipaksa kerdil
Lalu beku tak berfikir


Semua sudah terkumpul menjadi titik jenuh
Yang perlahan menikam tubuh berjubah kebiasaan
Mengulitinya dan menduduki mahkota di kepala


Ini hanya tentang kejenuhan
Yang memaksa mencari-cari entahlah
Dari kebuntuan yang tumpul dalam otak


Tapi aku hanya bisa membunuh
Menikamnya dari kepala dan merobeknya hingga mati
Dan menjadikan aku tetap aku, semula

Kamis, 17 Juli 2014

DEWA KEMATIAN


Sepuluh tahun yang lalu, aku tak pernah tahu apa maksud dari ucapan seorang lekaki tua itu. aku tak kenal dia, yang aku tahu dia adalah orang gila yang sering seliwearan di depan rumahku setiap pagi. Aku sering melihatnya tanpa sengaja dari balik jendela kamarku.
Mungkin usiaku masih terlalu kecil untuk tahu maksud dari celotehnya waktu itu, hingga lambat laun seiring kejadian demi kejadian ku alami, celotehnya seakan terus terngiang di telingaku. Celoteh yang sangat menggangguku. “kamu adalah dewa kematian nak, jauhi teman-temanmu jika tak ingin kehilagan mereka” ucapnya kala itu.
Seiring berjalannya waktu, akupun mulai menyadari ada sesuatu yang memang aneh dalam diriku. Seakan celoteh orang gila itu benar adanya. Aku sang dewa kematian.
Dari situ pula aku mulai mengerti kenapa aku sedari kecil dikucilkan oleh kedua orang tuaku, dikurung dalam rumah. Dibutakan dari kebenaran tentang diriku, atau mungkin tepatnya kutukanku.
*dalam kematian pertama
Saat itu usiaku menginjak 6 tahun. Mungkin seperti anak seusiaku kebanyakan, aku juga iri melihat anak-anak kecil bermain di bawah derasnya hujan. Kebetulan saat itu kedua orang tuaku sedang tak ada di rumah, hanya nenek yang menemaniku di rumah.
Kulihat nenek sedang pulas tertidur di sofa, entah karena hujan yang lebat atau memang kelelahan menjagaku seharian. Aku mencuri waktu untuk keluar rumah. Ini pertama kalinya aku mulai keluar rumah setelah beberapa tahun dikurung, sampai akupun lupa kapan terakhir kali aku menghirup udara segar di luar rumah.
Aku bergabung dengan anak-anak yang ku lihat sedang asik bermain di bawah hujan. Ku hampiri mereka meski aku tak kenal dengan mereka. Dalam hitungan detik, aku sudah membaur dengan mereka. Berlarian, bermain bola, bermandikan hujan yang menjadi pengalaman pertamaku. Ku habiskan waktuku bersama mereka. Hingga tepat satu jam kebersamaan kami, sebuah peristiwa itu terjadi. Sebuah kilatan cahaya terang seakan menukik jatuh tepat di tubuh salah satu teman dari mereka. Semua histeris, termasuk aku. Aku lihat ia terbujur kaku dengan tubuh menghitam. Ia tak bergerak lagi.
Seketika banyak orang berdatangan ke tempat kami bermain, termasuk seorang nenek yang sangat kukenal, nenekku sendiri. Ia memelukku, bergegas membawaku masuk ke dalam rumah kembali, meninggalkan kerumunan orang-orang yang sepertinya dibuat sibuk oleh pemandangan yang kulihat tadi. Nenek terlihat takut, entah karena apa.
Aku dimarahi habis-habisan oleh ayahku dengan alasan yang tak pernah aku tahu dan ibuku hanya bisa menangis disudut ruangan.
*dalam kematian kedua
Beberapa minggu dari peristiwa itu, aku mempunyai kesempatan lagi untuk lari dari rumah. Aku berjalan mengikuti kakiku melangkah, aku ingin bermain. Langkahku terhenti di sebuah taman, di sana aku lihat beberapa anak yang mungkin seusiaku, aku hampiri mereka, ikut bermain bersama mereka. Lagi-lagi setelah satu jam kami bermain, aku lihat salah satu dari kami, entah bagaimana bisa, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh ke dalam kolam yang ada di taman. Kami semua menjerit hingga beberapa orang dewasa berkerumun mendekat. Kulihat mereka seakan berlomba-lomba untuk mengentaskan temanku yang terjatuh ke dalam kolam. Tapi sayang, temanku sudah tak bergerak lagi.
Lagi-lagi ayah memarahiku kembali, masih dengan alasan yang tak pernah keluar dari mulutnya saat ku tanya mengapa. Apa aku salah bermain dengan mereka, apa aku salah keluar rumah untuk bermain. Aku anak kecil yang butuh bermain, ingin normal seperti anak-anak seusiaku.
*dalam kematian selanjutnya dan seterusnya
Aku masih tak mengerti apa yang terjadi, setiap kali aku bermain dengan anak-anak yang lain, selalu ada saja peristiwa yang sama. Sebuah peristiwa yang akhirnya aku tahu itu, kematian. Namun aku tak pernah tahu penyebab sesungguhnya. Aku tak pernah berpikir sedikitpun, akulah penyebabnya. Setiap kali aku bermain dengan teman-temanku, selalu ada saja kematian yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Entah apa yang terjadi sebenarnya, kenapa banyak kematian demi kematian yang terjadi dengan berbagai cara yang berbeda-beda di depanku. Kematian seorang teman setelah kami bermain. Aku masih belum menyadarinya, aku anggap itu adalah kematian yang mungkin itulah yang terjadi.
Sampai saat usiaku 7 tahun, aku tanpa sengaja bertemu dengan lelaki yang sering ku lihat seliweran di depan rumahku. Saat aku sedang duduk di bawah pohon dekat rumahku, seperti biasa, aku selalu bisa mencuri waktu untuk keluar rumah. Saat itu aku memang sedang malas bermain, aku hanya keluar rumah dan bersantai di bawah pohon. Tiba-tiba lekaki itu menghampiriku dan meraih tanganku, aku sangat takut, ingin berlari namun tangannya begitu kuat menggenggam tanganku hingga ku tak dapat berlari. Lalu tiba-tiba ia berkata dengan wajah yang menakutkanku. “kamu adalah dewa kematian nak, jauhi teman-temanmu jika tak ingin kehilangan mereka”. Aku terus meronta, tapi kata-kata itu terekam jelas di telingaku. Aku berlari kencang masuk kerumah ketika ia melepaskan tangannya dari tanganku setelah apa yang ia ucapkan kepadaku.
Kini sepuluh tahun berlalu, sampai aku benar-benar menyadari apa yang ada dalam diriku, aku sebut ini memang kutukan. Aku telahir dengan sebuah kutukan yang bisa membunuh orang di dekatku tanpa aku berbuat apa-apa. Mungkin benar apa yang diucapkan lekaki itu, aku adalah dewa kematian.
*dalam kematian terakhir
Sebelum aku benar-benar percaya dengan ucapan lekaki itu, aku sengaja membuktikan. Itupun setelah aku berperang dengan jiwaku, aku tak ingin melihat kematian yang disebabkan olehku, namun kali ini aku harus melakukan untuk sebuah pembuktian. Jika ini memang terjadi, aku berjanji ini yang terakhir kali, dan tak akan kulihat kematian-kematian lagi oleh ulahku yang masih tak ku mengerti sebenarnya.
Saat itu aku kembali berulah, mencoba keluar rumah untuk mencari seseorang yang akan ku jadikan pembuktian terakhir. Mungkin aku akan berdosa, tapi jika tidak aku lakukan, aku tak akan benar-benar tahu dan yakin, dan masih akan kuanggap itu adalah kematian yang sewajarnya orang hidup pasti mati.
Aku berhasil keluar rumah, aku terus berjalan menjauh dari rumah, menuju entah kemana, mencari pembuktian yang tepat, yang pantas aku jadikan pembuktian lebih tepatnya.
Aku mendengar teriakan seorang gadis tak jauh dari tempatku berjalan, aku berlari mencari asal suara gadis tadi. Aku lihat beberapa orang lelaki sedang mengerumini gadis itu, sontak aku mendekat. Sebenarnya akupun tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jelas aku yang bisa mati dikeroyok mereka berlima. Berbekal sebuah pembuktian, tetap ku beranikan diri untuk mendekat.
Benar apa yang aku pikirkan sebelumnya, aku yang jadi bulan-bulanan atas bogem mentah kelima lelaki itu, mereka mengeroyokku dengan mudah, aku tak bisa melawan sedikitpun. Aku sempat berpikir tentang pembuktian itu dan gelar dewa kematian yang diberikan orang gila itu salah besar, dan aku sempat tersenyum lega. Aku akan mati dikeroyok mereka kali ini, pikirku lagi. Namun beberapa detik setelah aku berpikir begitu, aku merasakan bumi berguncang dengan hebat. Aku dengar teriakan mereka mengucap kata “gempa” berulang kali dan membuat mereka berlari kalang kabut. Belum ada lima meter menjauh dariku, aku lihat sebuah tiang listrik roboh menghantam tepat di kepala salah satu dengan mereka, seketika itu gempapun berhenti. Senyum legaku yang tadi sempat tumbuh di bibirku seakan kembali sirna.
Kali ini aku benar-benar takut, bukan pada mereka atau kematian yang aku lihat, tapi kepada diriku sendiri. “aku benar-benar dewa kematian” ucapku dalam hati sambil terus berlari menuju rumah.
Kali ini tak kubiarkan ayahku menghujaniku dengan kamarahan oleh ulahku yang mungkin sudah sekian ribu kali. Sebelum sempat ayahku membuka mulut ketika melihatku dari luar rumah, aku hujani dengan banyak pertanyaan tentangku. Tentang kenapa aku begini, tentang kutukan ini. Ayah dan ibu hanya bisa diam dan terdiam, sedang aku masih menggebu-gebu menhujani mereka dengan pertanyaan yang sama. “aku sebenarnya siapa? Apa yang terjadi denganku? Kenapa semua orang yang ada di dekatku selalu mati? Kenapa aku selalu melihat kematian di dekatku? Lalu kenapa kalian tak mati di dekatku? Aku terkena kutukan apa? Tolong jelaskan padaku yah, katakan padaku bu”
“sudah saatnya dia harus tahu yah, ceritakan saja apa yang terjadi 17tahun silam sebelum dia lahir” ucap ibuku sedikit memaksa ayahku untuk bicara.
“baik bu”
“apa yang sebenarnya terjadi?” sekali lagi dengan penuh penasaran
“saat itu, saat ibumu sedang hamil tua. Ayah tanpa sengaja memfitnah seseorang dengan mengatakan sebagai pembunuh kakekmu. Saat itu ayah, ibumu dan kakek nenekmu sedang makan malam di sebuah restoran. Kakekmu pergi menuju mobil untuk mengambil sesuatu, belum ada lima menit, kami semua mendengar teriakan kakekmu minta tolong, lekas ayah berlari menghampiri kakekmu. Ayah lihat kakekmu sudah berlumuran darah di perutnya dan ayah melihat seorang laki-laki dengan sebuah pisau di tangannya. Dalam pangkuan ayah, kakekmu menghembuskan nafas yang terakhir kali. Sontak ayah meneriaki lelaki itu dengan sebutan pembunuh dan membuat para masa akhirnya menghakimi lelaki itu. Sebelum lelaki itu akhirnya tewas, seorang anak belasan tahun yang ternyata adalah anak lelaki itu, berteriak histeris  dan mengatakan kalau ayahnya justru ingin menolong kakekmu dari perampokan. “bapak yang pembunuh, bapak yang pembunuh” sambil menunjukkan jari ke arah ayah. Ayah lihat di matanya kemarahan atas fitnah yang ayah lontarkan kepada bapaknya yang membuatnya akhirnya tewas. Ia terus meneriakkan kata-kata itu. dan saat itulah ibumu merasakan kontraksi di perutnya seiring suara petir yang menyambar-nyambar, dan singkat cerita, kau lahir di sana, di depan kematian kakekmu dan lelaki yang ayah fitnah.
Mungkin hanya itu yang bisa ayah ceritakan saat kelahiranmu. Tentang apa yang ada di dirimu, ayah sebenarnya tak percaya, itu semua penyebab kamu menjadi seperti ini”
“lalu sejak kapan ayah menyadari tetang apa yang ada di diriku, tentang kematian yang disebabkan oleh diriku?”
“sejak kamu berumur 2 tahun nak, sebelumnya ayah dan ibumu tidak percaya melihat kematian demi kematian yang terjadi di dekatmu. Ayah anggak itu takdir. Tapi setelah sekian banyak kematian dan kembali teringat kejadian saat kamu lahir, ayah menyadari kematian-kematian itu mungkin ada hubungannya dengan itu semua, dan sejak itulah mengapa ayah dan ibumu mengurungmu di dalam rumah”