Rabu, 10 September 2014

SEBUAH ARTI SETELAH PERGI

Kepada sahabat-sahabatku
 
Ada saatnya di mana waktu akan berhenti, memisahkan kebersamaan kita, menjadikan aku tak ada lagi di antara kalian.
Mungkin aku sebagai teman, bukanlah seorang teman yang selalu bisa kalian andalkan, yang hebat dan gaul seperti kau Rendi, yang serba tahu seperti kau Anton, yang smart dan tak pernah patah semangat seperti kau Marsha dan Tasya. Aku hanyalah pelengkap di antara persahabatan ini. Tapi ketahuilah, aku sangat bangga dengan kalian, dengan persahabatan ini. Meski aku orang yang paling tak dibutuhkan, tapi aku sudah merasa berarti di antara kalian. Terima kasih kawan...
Mungkin inilah waktunya aku harus pergi meninggalkan kalian, bukan dengan sengaja aku pergi meninggalkan kalian lebih dulu atau marah dengan sikap-sikap kalian terhadapku, sama sekali tidak. Aku sangat senang jika melihat kalian tertawa karena mengolok-olok aku, mungkin itulah kelebihanku. Selalu diolok-olok untuk membuat kalian tertawa melupakan sedikit apa yang sedang kalian rasakan. Ingatkah kalian saat kalian menyuruhku menari selayaknya orang gila di muka umum, mungkin kalian tak pernah berpikir apa yang aku rasakan saat itu, saat aku melakukannya dan melihat gelak tawa yang begitu lepas dari bibir kalian, dalam hati aku merasakan sangat bahagia, aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah membuatku berguna di antara kalian. Di saat-saat itulah aku selalu lupa dengan penyakit ini. Aku tak perduli lagi seberapa banyak penyakit ini menggerogoti tubuhku, yang ada dalam hatiku hanya kalian yang membuatku menjadi berguna. Ah sudahlah, aku tahu kalian takan pernah mengingat itu, apa lagi melihat apa yang aku rasakan, tapi aku sedikitpun tak menyalahkan kalian. Aku sangat bahagia kawan.
Tapi memang aku harus pergi, aku hanya lelah dengan apa yang selama ini menguasai tubuhku. Jangan bersedih ya, apalagi menangis, karena yang aku minta bukan air mata kalian, air mata kalian terlalu berharga untuk aku minta. Tapi hanya satu yang aku minta, ingatlah saat-saat aku bertingkah gila, saat-saat kalian mengolok-olokku. Karena aku tahu, kalian pasti merindukan saat-saat itu untuk membuat kalian tertawa bukan? Mungkin hanya itu yang bisa aku tinggalkan untuk kalian, sebuah kenangan. Akan aku beri tahu kepada kalian sebuah rahasia, aku selalu sengaja melakukan itu, menjadi seolah-olah bodoh di depan kalian, selalu bersikap gila di antara kalian, itu semua aku lakukan hanya untuk hari ini. Dan sekarang kalian sudah memilikinya, tolong jaga selalu kenangan itu.
Sebelum aku tak lagi bisa menulis, aku hanya ingin mengatakan, aku minta maaf atas segala yang membuat kalian kesal. Dan terima kasih kuucapkan kepada kalian, kalian terhebat. 

Dariku Dan Bintang Orion

Air mata yang memang tak bisa lagi ditahan oleh mereka berempat, akhirnya tumpah juga saat surat itu selesai dibacakan oleh Marsha.
Tak ada yang mampu mengucap sepatah katapun di antara mereka, hanya isak tangis yang masih menghiasai wajah mereka.
Mungkin rasa bersalah dan penyesalan yang kini bersemanyam di hati mereka berempat. Mau tak mau mereka mulai teringat satu per satu ulah-ulah dan perlakuan mereka terhadap Ori. Andai waktu bisa diulang kembali dan tahu penyakit yang bersemayam di tubuh Ori, mereka semua tak akan memperlakukan Ori seperti itu, tapi semua sudah terjadi, mereka tak bisa apa-apa lagi selain memang penyesalan yang mereka rasakan.
“aku yang sangat menyesal, aku yang paling sering mengolok-olok kamu Ri, aku minta maaf Ri. Asal kamu tahu Ri, bahkan selama ini aku tak pernah tahu nama lengkapmu, teman macam apa aku ini” ucap Tasya penuh rasa marah, marah kepada dirinya sendiri.
“sudah Tas, semua sudah terjadi”
Semua kembali terdiam, hanya suara isak tangis yang masih terdengar, wajah-wajah yang berselimut penyesalan.
“kini aku merasakan betapa berartinya kamu Ri, kamu yang bisa membuatku tertawa oleh ulahmu, kamu yang selalu ada, kamu yang selalu perhatian denganku, kamu yang selalu mengkhawatirkanku, kamu yang sangat mencintaiku dan kamu yang selalu bersabar atas cintamu yang tak pernah aku lihat. Mungkin aku bodoh telah menutup pintu hatiku untukmu, hanya karena aku mengharap seseorang yang sama sekali tak perduli denganku. Kini benar-benar aku merasakan kehilanganmu Ri” ucap Marsha dalam hati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar