Minggu, 13 Oktober 2013

aku mencintaimu (bag.9 SHJ)



            Di terik panas yang menyengat, di siang yang enggan untuk melangkah, ia berdiri tepat di bawahnya matahari. Wajahnya kesal, sorot matanya terus melihat handphonenya, tangannya terus saja mengulang-ulang menekan keypad. Ia benar-benar kesal dengan tingkah Ayu yang tak kunjung terlihat batang hidungnya, bahkan susah untuk di hubungi. Padahal ia sudah janji untuk mengantar Jingga pulang sekalian ingin meminjam tas milik Jingga.
            Mobil mewah warna putih yang tak asing lagi bagi Jingga, berjalan pelan mendekatinya lalu berhenti tepat di hadapannya. Perlahan kaca mobil sebelah kiri terbuka hingga terlihat wajah Dimas tersenyum dari dalam.
“ayo aku antar pulang” suara Dimar menawarkan diri dari dalam mobil.
“ndak usah, aku bareng sama si Ayu” tolaknya walau ia juga sudah kesal dengan Ayu yang belum juga muncul untuk mengantar pulang.
            Memang dasar Dimas yang tidak mudah menyerah demi bisa berdua dengan Jingga. Berulang kali ia mengeluarkan jurus rayuannya kepada Jingga dan akhirnya rayuan itu bisa membuat Jingga tak bisa menolak lagi. Tapi mungkin juga karena ia sudah terlalu kesal dengan Ayu, jadi ia terpaksa mau saja menerima tawaran Dimas.
“nah gitu dong” lalu Dimas tersenyum berbunga-bunga dan menyalakan mobilnya.
            Akhirnya Dimas punya kesempatan untuk bisa berduaan saja, walau sekedar mengantarkan Jingga pulang. Dalam otaknya, ia terus saja memutar akal mencari alasan untuk bisa berlama-lama dengan Jingga. Ia memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya.
            Dalam perjalanan pulang mereka habiskan dengan mengobrol ringan yang lama-kelamaan mulai bercanda dan saling tertawa tidak seperti tadi saat pertama. Sinar wajah Jingga sekarang bersinar terang bercampur gelak tawa yang renyah dengan guyonan-guyonan kecil dari Dimas. Kini Dimas telah menguasai suasana hati Jingga. Dan Dimas sengaja mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran yang sering ia datangi di kawasan Kota Baru. Ia ingin mengajak Jingga untuk makan siang dulu sekalian untuk bisa beduaan lebih lama.
Jingga yang sadar kalau mobil Dimas tak mengarah ke rumahnya mulai resah dan menimbulkan tanda tanya untuknya. “kita mau kemana Dim?”
            “kita makan dulu ya, aku udah laper. Kamu juga laper kan?” jawab Dimas dan sebuah pertanyaan yang memaksa.
            “tapi..”
            “tapi di restoran ya?” potong Dimas sok tauudah kamu tenang aja, itu pasti. Nggak mungkin gadis secantik kamu aku ajak ke angkringan
            “apaan sih Dim, bukan itu”
Dimas tersenyum “udah nggak usah pake tapi-tapian. tinggal bilang iya aja kok repot”
            Jingga terdiam sesaat, wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Antara iya atau tidak, jika iya, ia malu karena belum terbiasa makan berdua dengan cowok di luar kampus, tapi jika tidak, monster yang ada dalam perutnya sudah berontak.
            “kalo diem aja berarti tanda setuju” ucap Dimas sok tahu lagi.
            “ya sudah terserah kamu saja” akhirnya dengan malu Jingga menjawab. “tapi ndak usah lama-lama ya” lanjutnya cepat.
            “yes. Gitu dong” teriak Dimas dengan wajah senang karena rencananya berhasil.
            “kamu apa-apan sih, kedengeran orang malu kan?”
            “mana ada yang bisa dengar Jingga”
            Mereka mulai lagi dengan obrolan yang tidak tentu arah. Bercanda lagi, tertawa lagi sampai tanpa sengaja mata mereka beradu tatap saling pandang saat mobil Dimas berhenti di trafic light. Tidak berselang lama, mereka terkejut, pandangan itu terbuyarkan oleh klakson mobil yang ada di belakangnya. Suasananya mulai aneh, mereka menjadi canggung, membeku tidak secair tadi, terutama Jingga yang terlihat jelas dari raut wajahnya. Kini ia banyak terdiam saja. Namun keadaan itu tidak berlagsung lama karena mereka sudah tiba di tempat yang Dimas tuju. Sebuah restoran jepang.
            Entah apa yang membuat Jingga mau di ajak makan siang oleh Dimas. Dan itu adalah makan siangnya yang pertama dengan Dimas, berdua saja tanpa Ayu.
Dimas menyadari keanehan yang ada di wajah Jingga. “kamu kenapa Ga? Nggak suka sama makanannya ya?”
            “ndak kok, aku suka” jawab Jingga jadi malu karena Dimas ternyata mengetahuinya.
            “tapi kok grogi gitu keliatannya?”
            Jingga tetap memberi jawaban yang sama dengan jawaban sebelumnya karena ia tidak mungkin mau jujur kalau ia baru pertama kali makan berdua dengan Dimas di luar. Walau memang mereka tanpa sengaja sudah sering bertemu di kantin kampus atau kadang memang Dimas sengaja bergabung dengan Jingga yang sedang makan di kantin dengan Ayu.
            “oh gitu, ya udah lanjutin makannya”
            Jingga mencoba tersenyum manis di depan Dimas walau dalam hatinya menyimpan sesuatu yang mengganjal yang membuatnya tak nyaman, tapi ia tak mau Dimas mengetahuinya. Dan setelah selesai makan nanti, ia meminta untuk langsung di antar pulang karena ia masih belum terbiasa dengan suasana itu. Dimas hanya bisa menuruti permintaan Jingga tanpa bisa menolaknya.“bener nih nggak mau maen dulu” Dimas memastikan lagi yang akhirnya tetap mendapat jawaban sama. “iya deh nanti kita langsung pulang aja. Takut juga kalo lama-lama malah di sangka mau nyulik” Dimas tersenyum
            Jingga mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Dimas tadi. “percuma nyulik aku”
            Kini gantian Dimas yang mengerutkan keningnya tak tau apa yang Jingga maksud. “kenapa percuma?”
“memang siapa yang mau nebus aku? Orang tuaku bukan orang kaya, trus mau nebus pake apa? Pasti orang goblok yang mau nyulik aku, ndak bisa lihat yang mana yang anak orang kaya mana yang bukan”
            “kalo aku yang nyulik kamu, brati aku goblok dong?”
            “ya begitulah kira-kira” jawab Jingga santai. “memang buat apa kamu nyulik aku?”
            “buat nakut-nakutin tikus di rumah” lalu Dimas tertawa keras
            “yeee”
            nggak kok cuma bercanda, mana berani aku nyulik kamu” Dimas tersenyum lalu melanjutkan dalam hati “tapi aku ingin menculik hati Ga”
            “kok malah bengong sambil senyum? mikirin apa hayo?”
            Dimas masih tersenyum dan menjawab dalam hati “mikirin kamu”
            “di tanya malah senyum-senyum saja. Jangan-jangan memang mikirin yang enggak-enggak ya?”
            nggak kok. oh iya kamu…”
            Tiba-tiba handphone Jingga berdering di dalam tasnya membuat Dimas tak melanjutkan yang akan ia tanyakan tadi.
            “bentar ya Dim” ucap Jingga lalu menjauh dari Dimas.
            Dimas merasa terganggu dengan telepon dari Ayu yang tiba-tiba tadi. Wajahnya sedikit meredup melihat Jingga yang sedari tadi ngobrol lewat telepon. Entah apa yang mereka bicarakan, Dimas tak tahu, yang jelas bukan sesuatu yang menyenangkan, terlihat dari wajah Jingga yang kesal saat berbicara denagn Ayu. Tak lama kemudian Jingga kembali lagi ke mejanya.
            “maaf ya Dim, Ayu telpon tadi” Jingga sambil menggeser kursi dan mulai duduk kembali seperti tadi.
            nggak apa-apa. Tapi kok kayaknya lagi kesel ya ma dia? kenapa?” tanya Dimas sok tahu
            ”iya tuh, si Ayu nyebelin banget, kayak ndak punya dosas aja” ucap Jingga ketus
            “kenapa?”
            “tadi sudah janji mau anter pulang aku, ee di tunggu ndak dateng-dateng. Sudah gitu barusan telpon ndak minta maaf, ngeselin kan?”
            “oh tadi kamu lagi nungguin Ayu to? Udah nggak usah kesal gitu, kan udah ada aku yang anter kamu pulang, bahkan minta anter kemana aja aku siap kok”
            “ah apa-apaan sih Dim?”
            “ya siapa tau aja mau minta di anter kemana aja”
            “udah ah pulang yuk” setelah meneguk habis minuman yang tersisa.
ӝӝӝӝӝ

            “gang depan itu belok kanan ya” telunjuk Jingga menunjuk ke jalan yang ada di depannya.
            Mobil Dimas belok ke gang yang Jingga maksud tadi dan berhenti di depan rumah yang memang tak jauh, hanya berada di dua blok dari tikungan tadi.
            “masuk dulu yuk” ucap basa-basi Jingga.
            nggak usah deh lain kali aja”
            “oh ya sudah kalo gitu. Aku turun dulu ya. Makasih buat tumpangannya dan makan siangnya”
            “iya sama-sama”
            Ketika Jingga hendak membuka pintu mobil tiba-tiba tangan Dimas memegang tangannya yang membuat kaget dan malu. Sontak saja Jingga melepaskan genggaman tangan Dimas dari tangannya.
            “upss sorry” ucap Dimas yang berubah jadi terbata-bata. “bentar dulu Ga”
“ada apa?”
            Tanpa basa-basi namun grogi Dimas berusaha membuka mulutnya. “eee. dari pertama bertemu kamu di acara itu, aku mulai…” Dimas tak melanjutkan ucapannya. Perasaanya mulai tak karuan. Ia salah tingkah.
            Dari ucapan dan gelagatnya, Jingga sudah bisa menebak apa yang akan di katakan Dimas. Tapi ia tetap mencoba berposotif thinking. “mulai apa Dim?” tanya Jingga basa-basi seolah tak tahu apa yang akan Dimas ucapkan.
            “mulai…” Dimas sedikit ragu “mulai suka sama kamu” bicaranya masih tersendat-sendat
            “trus?”
            Sekuat tenaga Dimas mengeluarkan kata  yang memang sulit tuk di ucapkan bagai ada yang mengikat erat di tengah tenggorokannya. “eee.. kamu mau nggak jadi pacar aku” suaranya terbata-bata seperti orang gagap.
            “hah?” Jingga terkejut mendengar kata-kata yang akhirnya keluar juga dari mulut Dimas “ndk salah kamu Dim nembak aku? Bukanya banyak tu cewek-cewek yang lebih cantik yang suka sama kamu? Kenapa kamu milih aku?”
“kamu beda sama mereka. Mereka hanya mengincar hartaku saja. Mungkin kalau aku bukan anak orang kaya, mereka nggak mungkin ngejar-ngejar aku”
               “tapi aku
               “tapi apa?” potong Dimas cepat.
               Tak sepatah katapun keluar dari mulut Jingga. Ia justru berkata dalam hatinya. “mungkin persyaratanku memang aneh seperti yang Ayu bilang beberapa bulan lalu, tapi aku ingin di tembak dengan puisi atau minimal dengan hal yang romantis, gak kaya ini. Andai kamu lakuin itu Dim…”
            “kenapa Ga? Kamu nggak suka sama aku?” Dimas bertanya sekali lagi karena Jingga belum memberi alasan.
            “ya aku belum bisa nerima kamu Dimas” Jingga tak juga memberi alasannya. “sudah ya, aku turun dulu, ndak enak sama ibuku kalau dia tau aku berlama-lama di dalam mobil” Jingga langsung membuka pintu mobil dan bergegas masuk rumah tanpa mendengarkan Dimas yang memanggil-manggil namanya.
            Dimas hanya bisa terdiam saja dalam mobil sambil melihat Jingga masuk rumahnya. Dalam hatinya tak percaya ada cewek yang bisa menolaknya. Tapi justru ia tertantang dan penasaran pada Jingga. apapun akan ia lakukan demi untuk mendapatkan Jingga.
ӝӝӝӝӝ

            “tadi itu siapa nduk?” tanya ibunya yang melihat Jingga di antar mobil asing.
            “temen bu”
            “biasanya di anter Ayu, tumben di anter temen yang laen”
            “ndak tau dia pergi kemana tadi. udah ya bu, Jingga istirahat dulu ya, capek ni”
            Dengan wajah yang sedikit lusuh, Jingga menuju kamarnya, ia ingin cepat istirahat tuk melupakan kejadian hari ini, mulai dari kesal dengan Ayu dan Dimas yang tiba-tiba nembaknya di situasi yang jauh dari harapannya.
            Tasnya ia lemparkan begitu saja, ia duduk di ujung kasurnya dan hanya melepas sepatu. Kepalanya terasa berat dengan sesuatu yang ia sendiri tak tau apa. Ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang di kasur dan mencoba memejamkan kedua matanya. Tapi angannya justru melayang dan singgah ke kejadian itu, ia teringat semua kejadian yang baru saja ia alami, mulai dari Dimas memaksa untuk mengantarnya, waktu bercanda dengan Dimas, makan dengan Dimas sampai kejadian yang tak pernah ia sangka sebelumnya. ia mulai tersenyum mengingatnya. “andai tadi Dimas nembak aku dengan cara yang romantis, mungkin aku bisa terima dia” Jingga tersenyum sendiri membayangkan hal tadi yang jauh dari harapannya lalu memeluk bonekanya. “ternyata omongannya Ayu benar, hari gini cowok banyak yang to the point ngucapin cintanya. huft…” ia mulai mengerutkan keningnya. “tapi aku tetep teguh pada prinsipku dan aku yakin suatu saat ada yang menembakku dengan cara yang sangat romantis dengan puisi”  sekarang wajahnya tak selusuh tadi.
ӝӝӝӝӝ

            Jam tujuh malam Ayu datang juga ke rumah Jingga. ia ingin meminjam tas kecil milik Jingga yang seharusnya ia ambil tadi siang sekalian mengantar Jingga pulang, tapi tidak jadi karena mendadak ada acara lain. Ayu tahu pasti Jingga marah padanya karena masalah itu.
            Dengan wajah yang di buat ceria seolah tak ada apa-apa, Ayu langsung masuk kamar Jingga setelah bu Lastri memberi tahu kalau Jingga ada di kamarnya. Tapi dalam hati Ayu tau kalau Jingga akan marah. “malem sayang” ucap Ayu di buat semanis mungkin.
            Ternyata dugaan Ayu meleset. Jingga menjawab dengan manis juga. Wajahnya tak seperti apa yang ada dalam bayangan Ayu. Wajahnya terlihat ceria dengan senyum yang tak dibuat-buat dan seperti telah lupa dengan kejadian tadi siang. Hal itu justru membuat Ayu bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan Jingga. Entah apa yang sedang Jingga perbuat dengan laptop yang ada di depannya yang belum sempat Ayu melihatnya, Jingga langsung menutup laptopnya saat Ayu mulai mendekatinya. Ayu tak begitu penasaran dengan itu, yang terpenting buatnya adalah Jingga tak lagi marah dengannya. Ayu merasa lega melihatnya, jadi ia bisa meminjam tas yang ia inginkan.
            “kirain ndak jadi pinjem tas” tanya Jingga setelah Ayu duduk di kasur di dekatnya
            “ya jadi lah” tangannya meraih boneka panda dan memeluknya. “kayaknya lagi ceria nih, ada apa Ga?”
            “masak? Biasa aja kok” ucapnya malu-malu yang tak bisa menyembunyikan rasa itu
            “aku jadi teman kamu tu udah lama, jadi aku tau betul raut wajah kamu kalo lagi sedih, kalo lagi seneng atau kalo lagi ada masalah. Jadi kamu ndak bisa bohong sama aku”
             “bisa saja kamu Yu. Oh ya.. apa yang pernah kamu bilang itu benar Yu”
“tentang apa?”
“kalau cowok sekarang memang to the point mengutarakan cintanya”
“jadi kamu di tembak cowok ya? Siapa say?” ucap penasarannya menggebu-gebu
“Dimas”
“Dimas nembak kamu? Wah selamat ya, akhirnya temenku yang satu ini punya pacar juga”
“kamu ngomong apa to? Orang aku nolak dia kok”
            “hah kamu tolak?” volume suaranya mengeras. Ia tak percaya apa yang Jingga katakan. “kamu bercanda kan?” Ia yakin Jingga hanya bercanda saja.
            “beneran kok. Aku tolak dia”
            “kenapa?” wajahnya mulai penasaran
            “dia ndak memenuhi syarat”
            “syarat apaan?” Ayu dengan nada heran “emang Dimas kurang apa? Udah cakep, kaya lagi. Kurang apa coba?” Ayu jadi geregetan
            “kurang romantis, bahkan ndak romantis sama sekali”
            “ya Allah.. tolong sadarkan hamba-Mu yang satu ini ya Allah” Ayu menangkupkan kedua tangannya dengan pandangan mengarah ke atas dan mengucap amin pada akhir kata-katanya. “Cuma gara-gara itu kamu tolak dia? Ternyata syaratnyamu itu beneran ya? Kamu bener-bener sudah ndak waras Ga. mana ada orang kayak gitu Jingga? Aku jadi geregatan sendiri sama kamu. Kok ada ya orang aneh kayak kamu. Kesempatan ndak datang dua kali loh. Emang kamu ndak nyesel nolak dia?”
            “eeeenggak” jawab Jingga santai
            “dasar aneh!!!” nadanya mengeras mantap.
            “biarin”
            “emang kapan dia nembak kamu?”
            “tadi siang”
            “dimana?”
            “di dalam mobil”
            “kok bisa di dalam mobil?”
            “kok jadi kamu yang penasaran. Udah ah ndak usah di bahas itu, ndak penting tau”
            “ah Jingga ayo dong cerita. Kok kamu bisa di dalem mobilnya dia? Dia anter kamu ya? Trus kemana aja tadi? Ndak mungkin kalo cuma nganter saja. Iya kan? Ayo dong cerita”
             “udah ndak ada yang harus di ceritakan Yu. Cerita sudah selesai”
ΩΩΩΩΩ

Kamis, 10 Oktober 2013

CERMIN...



“lihat umurmu sekarang sudah berapa. Kamu bukan remaja lagi, bahkan bukan anak kecil lagi, jadi berpikirlah layaknya orang dewasa seperti umurmu kini. Masa remajamu sudah berakhir meskipun masa itu tak pernah kamu nikmati. Aku tahu kamu sangat menyesal tak pernah menikmati masa remajamu di luar duniamu yang hanya kau habiskan dengan wanita yang kamu cintai, dulu. Tapi semua sudah terlambat untuk di ulang kembali masa remajamu selepas dengannya. Sejujurnya aku pun muak melihatmu seperti ini, terpuruk, seolah-olah meratapi nasib yang tak lagi bisa kau ubah. Kamu memang pecundang jika hanya berpikir seperti itu, kamu memang pengecut jika hanya berdiam diri saja, seolah-olah paling terpuruk dalam merasakan luka. Tunjukkan kamu bukan pecundang, tunjukkan kamu bukan pengecut, tunjukkan sikap kedewasaanmu dan tunjukkan pada dunia bahwa kamu bisa melawan semua itu. karena aku tahu sebenarnya kamu bukan seorang pengecut, apalagi pecundang”
Untuk kesekian kalinya aku maki-maki wajah yang ada di depanku. Entah kenapa dan sejak kapan aku mulai muak dan benci melihat wajah itu. tapi seberapapun aku memakinya, bahkan tak jarang aku sampai melayangkan tinjuku tepat di wajah itu seperti seminggu yang lalu, wajah itu tetap diam.
“sebenarnya apa maumu? Apa kamu akan diam saja meratapi dan meratapi nasib? Jawab?” tanyaku yang sebenarnya aku sudah hafal betul dengan reaksi diamnya ketika aku tanya, bahkan sudah seribu kali pertanyaan yang sama aku layangkan. Aku lelah.
Aku balikkan badan dan berjalan lunglai, mengantarkan lelahku menuju peraduan. Tak sampai 3 langkah aku terhenti oleh suara yang mengejutkanku dan dengan jelas terdengar di telingaku. Pandanganku mengarah ke kanan dan ke kiri mencari asal suara yang ku dengar tadi hingga aku temukan seraut wajah di tempat yang sama seperti aku memaki wajah tadi, namun wajah yang aku lihat kini jauh berbeda dengan yang tadi. dengan wajah berapi-api dia mulai bersuara kembali.
“LIHAT SAJA DIRIMU!!! Apa yang kamu lakukan selama ini? kamu hanya bisa memaki dan memaki sesuka hatimu tanpa bisa melihat dirimu sendiri. LIHAT DIRIMU!!!!. Entah sudah berapa lama kau tak pernah keluar kamar hingga lemak kini telah menyelimuti seluruh tubuh. Coba ingat kapan terakhir kali kamu keluar kamar? Hampir satu tahun yang lalu kan? Aku juga tak habis pikir denganmu, kenapa kamu bisa selemah itu, sebodoh itu, sedangkan aku selalu bercermin pada dirimu, lalu siapa sekarang yang pecundang? Siapa yang pengecut? Coba jawab?”
Seketika aliran darah mulai terasa deras mengalir ke kepalaku, tanganku mengepal hebat. “shut up your fucking mouth” tanpa sadar kepalan tangan tadi melayang menghantam tepat ke wajah itu hingga ku dengar dengan jelas suara “PYARRR!!!!”. Sebuah cermin di depanku pecah berserakan di sekitarku. Nafasku terengah-engah kelelahan. Kedua tangan ku letakkan menempel ke dinding, kepalaku tertunduk lesu, seakan tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Sekian lama wajah yang hanya diam saja seberapapun aku memakinya, akhirnya angkat bicara juga. Sulit ku percaya.
Kepalaku perlahan terasa berat. Semua benda yang ku lihat mulai bergerak dan berputar, begitupun dengan lantai yang ku injak seakan tak pernah rata. Aku masih tak habis pikir, siapa gerangan yang berbicara tadi? apa hanya perasaanku saja? Tapi terlalu nyata terdengar di telingaku.

Rabu, 02 Oktober 2013

DIA ADALAH PUISI (bag.8 SHJ)



            Seperti biasa Arya setiap bangun pagi selalu berolah-raga kecil sekedar menghirup udara pagi yang segar. Tapi berbeda dengan biasanya, ia berniat ingin berolah-raga keliling daerah sekitar rumah budhenya, mumpung ia tak ada jadwal kuliah. Jadi ia bisa lebih lama untuk melakukan rutinitas pagi hari.
            Jam enam pagi ia sudah siap dengan kaos oblong, celana pendek, sepatu, handuk kecil yang melilit di leher dan tak lupa juga earphone yang menempel di kedua telinganya. Di iringi lagu-lagu dari linkin park yang begitu semangat, mulailah ia berlari penuh semangat juga.
            Baru saja sampai di halaman rumahnya, ia terhenti, matanya terbelalak mengarah pada gadis berambut panjang yang sedang lewat dengan sepeda birunya. Rambutnya tersibak terurai terkena hembusan angin, membuat wajah manis itu terlihat jelas. Dalam diam mematungnya, seakan ada sesuatu yang menganjal dalam ingatannya. Raut wajahnya seperti mengenal gadis berambut panjang yang baru saja ia lihat. “kayak cewek yang tadi malem, tapi masak dia?” Ia masih tak percaya, dalam penasarannya ia ingin mengejarnya tapi sayang gadis itu sudah keburu hilang di antara salah satu tikungan.
            Di sepanjang jalan Arya masih bertanya-tanya dalam hati yang membuatnya tak bisa konsentrasi. Gadis tadi benar-benar membuatnya penasaran. “apa mungkin bener dia ya? Ah nggak mungkin. Tapi kok bisa mirip ya? Apa memang rumahnya sekitar sini? Ah tau ah..” Ia jadi aneh sendiri di jalan. Lari paginya tidak bisa fokus, wajah itu selalu mengganggunya. “kok aku jadi penasaran ma gadis tadi ya? Kalo emang bener dia.. bisa sering ketemu ni” ia lalu senyum-senyum sendiri. Lalu terdiam sesaat tak berkata-kata lagi dalam hatinya. Namun dalam benaknya masih terbayang gadis itu. Dan berharap bisa berjumpa lagi lain waktu. Ia terus menerus berharap.
            Satu jam sudah ia lari pagi keliling daerah itu. Dan saatnya untuk pulang, ia hanya berjalan karena tenaganya sudah habis. Keringatnya tak henti mengalir hingga membanjiri kaos oblongnya. Matanya terlihat menoleh kanan kiri seperti elang yang sedang mencari mangsa. Berharap ia melihat gadis tadi untuk memastikan gadis itu sama dengan gadis yang bertemu di gramedia atau bukan. Hampir sampai di rumah, ia masih tidak melihat gadis itu, justru ia bertemu dengan budhenya di dekat rumah yang sepertinya pulang dari warung membeli lauk tuk sarapan.
             “dari olahraga Ar?”
             “iya nih budhe, habis jogging muter daerah sini aja”
            “wah rajin juga kamu olahraga”
            “iya dong budhe, nggak kayak Heru yang males olahraga”
            “iya tuh. kerjanya cuma tidur saja, oh ya, kamu ndak kuliah po hari ini? Kok olah-raganya sampai jam segini?”
            nggak ada jadwal kuliah budhe, makanya aku olah raga aja”
            “ya sudah mandi sana, habis itu sarapan”
            “oke budhe”
            Kali ini harapannya pupus karena ia tak bisa melihat gadis yang terus mengganggu pikirannya itu. Ia pasrah ketika harus masuk kedalam rumah setelah terakhir kali ia menoleh ke belakang.
ӝӝӝӝӝ

             Dua hari berikutnya saat Arya sedang beli sesuatu di warung yang tak jauh dari rumahnya, tanpa sengaja matanya melihat gadis yang sama dengan gadis waktu itu. Mungkin hari keberuntungan Arya, rupanya gadis itu juga melihat Arya yang sedari tadi memperhatikan dari warung. Mereka saling pandang dan saling lempar senyum. Hanya itu yang mereka bisa lakukan karena jarak yang tidak memungkinkan tuk saling menyapa atau bertanya. Saat itu ia yakin kalau gadis itu adalah gadis yang ia jumpai di gramedia beberapa hari lalu. Dan sepertinya Jingga juga sadar bahwa orang  yang ia lihat adalah sama dengan orang yang memberi buku di gramedia waktu itu.
            “mau beli apa mas?” tanya penjaga warung.
            Arya masih saja melihat gadis itu dan tak mendengar suara penjaga warung.
            “mas.. mas…” panggil penjaga warung itu sekali lagi.
            “oh iya… maaf bu”
            “mau beli apa to mas?”
            “mau beli sabunnya bu”
            Arya menoleh lagi ke arah jalan, tapi gadis itu sudah tak terlihat lagi disana. “kemana perginya ya?”
            “nih mas”
            “makasih”
            Di depan warung mata Arya masih clingak-clinguk mencari keberadaan gadis tadi.
“jan cah saiki nek weroh cah wedok ayu, motone ra iso kedhep” gerutu penjaga warung lirih yang menyadari apa yang di lihat Arya.
            Arya langsung pulang dengan harapan bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Dan lagi-lagi ia di jalan berdialog sendiri dalam hati. “ternyata gadis itu bener dia. Rumahnya di sebelah mana ya kok udah hampir empat bulan di sini gak pernah liat dia, malah pertama ketemu di toko buku” wajahnya mulai bersinar senang. “kira-kira rumahnya mana ya?”
            Sepanjang jalan Arya tidak henti-hentinya berdialaog sendiri dalam hati. Andai bisa di gambarkan seperti dalam komik, mungkin sudah banyak tulisan yang ada di atas kepalanya itu.
            Sepertinya memang hari keberuntungan Arya, saat ingin memasuki halaman rumah, ia melihat lagi gadis itu baru saja keluar dari rumah yang ada di depan rumah budhe Lastri. ia terhenti lalu menatap Jingga, begitupun dengan Jingga yang melihat Arya hingga mereka saling melempar senyum lagi tanpa sempat mengucapkan sepatah kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Lagi-lagi keadaan yang membuat mereka tak sempat saling sapa. Tiba-tiba entah darimana Heru sudah ada di samping Arya yang mengalihkan pandangan Arya.
            Selama Ia di Jogja, baru sekali Arya menjadi aneh hanya karena seorangg gadis. Kadang senyum sendiri, ketawa sendiri, bicara sendiri, hingga Heru yang melihat tingkah laku Arya, menyangka sepupunya itu sudah gila. Hanya karena satu senyuman itu pula Arya jadi rajin mengirim puisi ke Dewi kecil. Dan karena hanya itu yang bisa Arya lakukan dengan puisi-puisinya, menulis dan di kirim ke Dewi Kecil.
            Bagi Arya sejak bertemu gadis itu, gadis itu menjadi bahan bakar untuk sebuah mesin inspirasi yang selalu memproduksi puisi tanpa henti yang bekerja di dalam otak kiri. Dan dia adalah puisi.

Senyumnya seperti senja sore-sore
Untuk uraikan untaian-untaian ungu
Tanpa titik-titik temaram
Rasanya rangkum rinai-rinai rindu
Inilah indahnya imaji-imaji itu
Seperti senja sore-sore saja
Nikmat nyaman nuansa-nuansanya nian
Andai aku adalah aura-aura asanya…
ӝӝӝӝӝ

Begitu juga dengan Jingga, ia jadi penasaran dengan lelaki tadi, tapi ia lebih penasaran karena lelaki itu masuk ke rumah bu Lastri. Ia tau benar kalau bu Lastri hanya punya dua anak yaitu Heru dan kakak perempuannya yang ikut dengan suaminya. “ah mungkin sodaranya Heru” ia merebahkan tubuhnya yang lelah di kasur. “tapi kenapa aku jadi ngurusin dia ya? Tau ah. mending mandi aja lah” Jingga beranjak lagi dari tempat tidurnya yang baru saja sebentar merebahkan tubuhnya. Segera pergi mandi dan meninggalkan pikiran tentang lelaki itu.
ӝӝӝӝӝ

            Setelahnya, hampir setiap hari meraka saling bertemu, saling tatap dan saling senyum walau masih belum bisa saling menyapa karena sikon yang terus tak memberi kesempatan buat mereka. Namun kebiasaan seperti itu sudah membuat Arya senang. Dan ia bisa bernafas lega karena ia yakin bahwa gadis itu tinggal tidak jauh dari rumah budhenya. Ingin sekali ia tau rumahnya atau sekedar tau namanya saja.
Di suatu sore, Arya yang duduk dan bermain gitar, tiba-tiba melihat gadis itu lagi dengan sepedanya dan sedang memboncengkan anak laki-laki agak gendut. Lama ia memperhatikan gadis itu hingga gadis itu merasa ada yang sedang mengawasi dirinya, lalu ia pun menoleh ke arah rumah bu Lastri dan melihat Arya yang sedang bermain gitar di teras depan. Tak berapa lama gadis itu hilang dari pandangan Arya.
            Selang beberapa menit Heru datang dari arah yang sama. Arya yang dari kemarin ingin tahu nama gadis itu mencoba bertanya kepada Heru. Tapi ia tak tahu gadis mana yang Arya maksud. “gadis mana?” Heru balik bertanya setelah ia tak melihat ada gadis di depan rumahnya.
            “tadi yang lewat depan rumah naek sepeda”
            “yang mana ndak ada”
            “ya udah lewat sih tadi sebelum kamu dateng”
            “kenapa ndak kamu panggil saja, trus ajak kenalan, gampang to?”
            nggak berani”
            “jadi cowok kok ndak berani sama cewek, pake rok saja sana”
            “ni beda masalahnya”
            Sepertinya Heru tak tertarik dengan penasarannya Arya kepada gadis itu. Lalu Heru masuk rumah yang di ikuti Arya.
ӝӝӝӝӝ

            Genap sebulan sudah pertemuan itu terjadi berkali-kali, namun belum juga ada kesempatan tuk saling kenal, bahkan sekedar untuk saling menyapa saja tidak ada waktu yang mempertemukan mereka di situasi yang tepat. Hanya senyuman demi senyuman yang sudah terbiasa mereka lemparkan.
            Sejak bertemu gadis itu, walau ia belum sempat tahu namanya, namun gadis itu mampu merubah hatinya menjadi lebih berbunga-bunga. Ia ingat betul waktu pertama kali bertemu di toko buku, waktu pertama kali mendapat senyuman  yang masih membekas di ingatannya. Ia  juga ingat betul beberapa hari lalu  saat di taman, waktu Jingga sedang olah-raga. Dengan kaos putih cerah, celana jean biru selutut, rambutnya terurai terlihat melambai saat angin menerpanya dan keringat yang membasahi wajah manisnya hingga membuat Arya semakin terpana melihatnya. Ada hasrat yang begitu besar dalam hatinya yang perlahan menjelma menjadi suatu perasaan aneh. Perasaan yang memaksanya untuk selalu menemuinya, memaksanya untuk selalu memikirkannya. Perasaan yang terlihat jelas pada setiap puisi yang ia buat.
Entah mengapa yang entah dari mana
Bunga cinta ini tumbuh dan berkembang di taman hati yang bimbang
Mungkin benih-benih cinta itu tlah tertabur tertanam
Saat kau datang dan bermain di taman hati
Yang tanpa sengaja tlah bersemi menjadi kuncup bunga cinta yang indah
Tapi akankah kuncup itu
Mampu mekar mewangi atau kan layu sebelum sempat tebarkan aroma wanginya
Ataukah kau kan biarkan mekar
Dengan berjuta putik asmaranya menghiasi
Dengan putih kelopak sucinya menyelimuti
Dengan tebaran aroma surga cintanya menyegarkan
           
Sebenarnya puisi tak mampu untuk menggambarkan betapa sempurnanya gadis itu di mata Arya atau bahkan penanya pun tak cukup untuk melukiskan manisnya wajah dalam secarik putihnya kertas.
            Namun senyuman demi senyuman dalam setiap pertemuan, ia rangkum menjadi sebuah puisi terindah tuk selalu menempati istana pikiran di otaknya. Mesin pencetak kata-kata penuh makna nan romantis, terus bekerja lagi setiap waktu setiap saat. Selalu terukir kata demi kata di secarik polosnya kertas hingga perlahan terisi dengan tarian pena yang mengindahinya. Semua tersirat disana, semua yang belum sempat terucapkan kata.
ΩΩΩΩΩ

obrolan si miskin...

   "orang kok bisa punya mobil ya? kerjaanya apa ya ndut?" saat memandang sebuah mobil Honda Jazz yang terparkir di halaman rumah tak jauh dari gardu ronda dimana dia dan gendut berada.
   "kalo cuma beli sih gampang, tapi yang susah setelah belinya itu king. coba deh itung, sehari buat beli bensinya berapa, trus sebulan berapa, belum lagi buat perawatannya, itu baru buat mobil, belum lagi buat makan, uang jajan anaknya, bayar listrik, pulsa, kebutuhan rumah. apa cukup cuma ratusan ribu? nggak kan? pasti ampe jutaan kan? trus gajinya sebulan berapa ya? aku aja yang tiap hari kerja banting tulang ampe lupa waktu, masih aja miskin kayak gini" ucap gendut.
   "iya iya ndut. tapi yang jelas lebih dari pengeluaranya sebulan. trus berapa ya ndut?" tangannya sambil menggarut kepala bagian belakang. "kok bisa ya ndut? caranya gimana ya ndut biar bisa jadi orang kaya?"  lanjut dia bingung.
"wah aku juga nggak tau king. tapi besok kalo aku udah jadi orang kaya, aku kasih tahu caranya gimana" ucap gendut dan di akhiri dengan kekehan.
   "ah ngimpi kamu ndut, SMP saja kamu nggak lulus mau jadi orang kaya" ceking menyangkalnya.
   "iet..jadi orang kaya itu nggak harus lulusan sarjana king. coba lihat deh, bayak juga yang cuma lulusan SMP atau bahakan SD yang bisa jadi orang kaya. yang penting tu mau berusaha keras dan jangan malasan. percuma kan kalo lulusan sarjana tapi orangnya malasan, sama aja kan hayo?" dengan nada sok bijak
   "tapi...tadi kamu bilang kamu kerja ampe banting tulang aja masih aja miskin kan, hayo?" mulutnya sambil mengunyah ubi rebus, sedang gendut tengah asik menikmati kopi yang masih mengebul.
   "iya iya...trus apa yang salah ya king?" api yang tadi berpijar memancarkan kebijakan seketika redup padam setelah mendengar ucapan ceking tadi.
   "aku juga nggak tahu ndut. kalo aku tahu, aku pasti udah jadi orang kaya sejak dulu"
   mereka saling tatap tanpa ada sedikitpun sara yang keluar dari mulut mereka, hanya suara riuh dari acara di tv yang terdengar. dalam pikiranya mereka saling mencari sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu apa.
   "woi.. pada ngapain kalian bengong gitu. di suruh jaga malah pada bengong gitu, ntar kalo ada maling gimana?" ucap kribo yang baru saja datang.
   dengan jelas gendut menceritakan kembali apa yang sedang mereka bicarakan sedari tadi yang membuat akhirnya mereka saling melongo bengong.
    "o gitu. itu namanya, hidup kalian belum beruntung dan belum jadi rejeki kalian"
   "trus biar hidup kita beruntung dan jadi rejeki kita gimana?" tanya ceking penasaran yang di ikuti oleh gendut. "iya gimana caranya bo?"
   "berdoa dan berusaha, lalau tawakal, apapun hasilnya yang penting kita sudah berusaha. ingat Tuhan nggak akan menyia-nyiakan setetes keringat setiap umatNYA yang mau bekerja keras dan berdoa. entah sekarang atau suatu saat, DIA pasti akan membayarnya. oya satu lagi, dan jangan banyak tanya, apalagi banyak heran seperti kalian. liat orang kaya aja heran. ngerti nggak?"
   "iya ngerti" ucap ceking dan gendut kompak.
   "tapi jangan asal ngerti aja, di kerjakan juga apa yang aku bilang tadi"
   "tapi..kenapa kamu masih juga seperti kami?" ucap ceking
   "iya bo, jangan-jangan itu cuma omong doang? buktinya kamu masih seperti kita, hayo?" lanjut gendut
   "eee itu.. ee itu"
   akhirnya waktulah yang harus menghentikan obrolan yang entah kemana juntrungannya. bagi mereka, menjadi orang kaya hanyalah sebuah kutukan yang tak akan pernah terjadi dalam hidup mereka, bahkan bermimpi pun mereka tak bisa.