Senin, 16 September 2013

SENYUMAN ITU (bag.6 SHJ)




“kring kring kring” suara handphone Jingga berdering berulang-ulang dan terdengar sampai ke dapur, ia langsung berlari ke kamar yang hanya bersebelahan dengan dapur. Ia meraih handphonenya yang tergeletak di kasur. Di lihatnya sebuah nama yang hampir tiap hari nama itu muncul dalam panggilan ke handphone Jingga. “halo yu..” jawabnya sembari duduk di kasurnya dan tanpa sadar ternyata solet masih ada dalam genggamannya.
“kemana saja to lama banget angkatnya” protes Ayu dalam telepon.
Dari suaranya, Jingga sudah bisa menebak kalau mulut Ayu sudah monyong lima centimeter. “sorry sorry, lagi masak di dapur, ada apa pagi-pagi udah telepon?”
“hari ini ndak ada kuliah to? temenin aku jalan-jalan yuk”
            “jam berapa?”
            “ntar siang jam satu ya”
            “wah kalo ntar siang aku ndak bisa, panas, lagipula ada acara sama ibu. Gimana kalo ntar habis magrib saja, sekalian aku mau cari buku di gramedia”
            “kok malem sih?”
            “kamu tu ya, kayak ndak pernah pergi malem saja. Ya sudah kalo ndak mau, aku pergi sendiri saja” ancamnya sembari berharap Ayu akan menjawab pasrah ikut dengan keinginannya.
“iya iya deh”
“yes” ucapnya lirih. Jawaban yang di harapkan Jingga ternyata terlontar juga dari mulut Ayu dan membuat Jingga tersenyum senang karena dengan begitu ia akan mendapat tumpangan gratis dan santai duduk di sebelah Ayu. “gitu dong. Ntar jemput aku ya” Jingga tertawa kecil sekarang. Dan tiba-tiba ia berkata yang membuat Ayu kaget. “astagfirullah. masakanku gosong” ia spontan melempar handphonenya di kasur dan lari ke dapur.
            “halo halo Jingga” suara Ayu masih terdengar memanggil-manggil Jingga dalam telepon.
            Sampai di dapur ia menggumam sendiri ketika melihat tempe yang di goreng benar-benar gosong. Ibunya yang sedang menjahit sampai medengar dan lansung menuju ke dapur untuk melihat apa yang terjadi. “ada apa nduk?” tanya ibunya dari kejauhan. Namun Jingga tak menjawab, masih sibuk mengangkat tempenya. “kok bisa gosong tadi kenapa to? kamu tinggal pergi ya tadi” lanjut ibunya bertanya.
            “iya, tadi ada telepon dari Ayu. trus lupa” mimik mukanya mulai memelas sedikit takut dan merasa bersalah.
            “makanya, besok lagi jangan gitu. Kalo lagi masak mbok jangan di tinggal, kalo ada telepon biarain saja dulu, nanti bisa di telepon balik kan atau kalau penting, kompornya yang matikan dulu kan juga bisa. untung cuma tempenya yang gosong, la kalau dapurnya ikut gosong gimana nduk?”
            “iya bu besok ndak gitu lagi” ucap Jingga merasa bersalah.
            “ya sudah di lanjut lagi masaknya. ibu mau lanjutin jahitnya” Ibunya pergi ke ruang tengah untuk melanjutkan beberapa pakaian yang harus jadi hari ini. Karena ibunya adalah penjahit yang terkenal dengan kerapian dan ketepatan waktu di daerahnya itu. Maka tidak sedikit orang yang datang kerumah Jingga untuk membuat kebaya atau sekedar buat seragam sekolah. Bahkan sewaktu ayah Jingga masih ada, ibunya juga berencana membuat butik kecil-kecilan di luar rumah untuk memperluas usaha ibunya, tapi rencananya di urungkan karena kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya dan terpaksa tetap membuka usaha menjahit di rumah.
ӝӝӝӝӝ

Siang yang terik membakar suasana, hingga terlihat jelas  fatamorgana di mana-mana. Angin pun terasa panas berhembus menyentuh kulit. Rasanya hanya sebuah oase yang bisa menyegarkan di siang itu.
   Di bawah matahari dengan langkah sedikit gontai, wajah kusut penuh debu, Arya pulang sendiri setelah tak ada lagi jam kuliah. Ia melangkah masuk dan di sambut oleh budhenya yang sedang santai di teras rumah dengan majalah di tangannya. “kusut sekali muka kamu Ar?”
            “iya ni budhe, panas, banyak debu di jalan” Arya meneruskan langkahnya menuju kamar dan tidur untuk memulihkan tenaganya yang sudah menguap terbakar panas matahari di luar. Ia lemparkan begitu saja tas dari tangannya, berjalan terus menuju jendela untuk membuka sedikit jendela agar angin bisa berhembus masuk dan menina-bobokan dirinya. Ia ingin tertidur pulas.
Jam hampir menunjukkan pukul lima sore. Ia terbangun dan tak melihat satupun penghuni rumah ini, entah kemana para penghuni itu. Budhe yang biasa tiap sore aktif di depan televisi tak terlihat, pakdhe yang selalu asik dengan koleksi burung peliharaannya di waktu pulang kerja juga tak ada dan sepertinya Heru belum pulang dari tadi. Daripada suntuk di rumah sendirian, Arya berinisiatif pergi kepantai sekedar melepas penatnya siang tadi yang ternyata belum hilang dengan istirahat.
            Berpayung langit cerah, gemuruh deburan ombak memecah karang, suara hembusan angin yang menyapa pohon cemara pantai, matahari yang mulai terbenam di ufuk barat dan awan senja mulai menjingga, sungguh elok langit disore hari, membuat semua begitu damai terasa. Ia  terduduk sendiri di atas gundukan pasir di bawah pohon cemara yang rimbun. Perlahan tangannya reflek bergerak menuliskan puisi di laptopnya yang selalu setia menemani kemana saja.
Di sore ini ku duduk sendiri
Di atas pasir yang berbisik mesra
Mengatakan ada yang berbeda pada langit sore ini
Langit senja kini mulai sahaja
Membias warna hadirkan jingga
Langit senja kini mulai sahabat
Membiarkan ku nikmati jingga
Indah langitmu, aku nikmati
Indah warnamu, aku kagumi
Aku disini memandang terpana dengan rasa yang terlalu cepat
Seperti senja memeluk sang surya
Seperti itu ku ingin dekat
Dengan kamu. . .
            Lalu tanganya menakan tombol send. Yang pasti puisi itu ia kirim ke temannya yang bernama Dewi Kecil.
            Hari sudah mulai gelap, mataharipun sudah hampir hilang di atas birunya air laut. Tidak ada lagi langit jingga menemani di sana, burung camar putih sudah kembali ke sarangnya, bulan perlahan siap menggantikan hari dengan sinarnya.
            Arya teringat ada yang harus ia beli di toko buku, langsung saja ia meluncur ke toko buku dengan motor CB milik ayah Heru yang jarang di pakai.
ӝӝӝӝӝ

            Mobil Ayu sudah terparkir di depan rumah Jingga. Mereka berdua sudah siap pergi sesuai rencana yang telah mereka buat pagi harinya. Jingga hanya ingin mencari buku yang ia butuhkan, beda dengan Ayu yang hanya ingin shoping dan shoping saja.      
“memang kamu mau cari apa di gramedia say?”
            “mau cari baju” ucap Jingga sinis. “ya cari buku lah”.
            “ini pertanyaanku yang salah atau yang jawab yang bodoh” sindir Ayu kepada Jingga dengan ucapanya. “anak kecil juga tau kali kalo ke toko buku ya pasti nyari buku. maksudku tu, cari buku apa sayangku. emang harus detail ya tanyanya?”
            Jingga tersenyum melihat Ayu sedikit kesal. “iya iya sayang, gitu aja manyun. jelek ah kayak kalkun tau” Jingga tersenyum lagi dan di ikuti Ayu. “aku mau cari bukunya Kahlil Gibran, sama apa saja ntar yang bagus”
            “dasar kutu buku kamu, kerjaanya cuma beli buku saja. sekali-kali mbok belanja yang laen gitu”
            “lah ini kan juga belanja to sayang”
            “tu kan? memangnya harus detail ya kalau Tanya sama kamu?”
            Jingga tersenyum manis melihat Ayu yang kesal.
“maksudnya belanja baju kek, sepatu kek, tas kek, tokek kek. jangan buku terus, memang buat apa to?”
            “kamu tu aneh ya? buku kok buat apa? ya di baca lah. buat nambah pengetahuan, ndak kayak kamu, ada sepatu model baru, beli… tas model baru, beli… trus buat apa coba?”
            “fashion dong” jawab Ayu cepat tak mau kalah. “secara wanita cantik seperti aku harus menjaga fashion, masak wanita cantik dandananya jadul ndak ikut trend, malu dong”
“cantik dari mana? dari hongkong?”
            Ayu mulai cemberut mendengar ucapan Jingga.
            “tu kan manyun lagi, udah di bilang jelek kalo manyun”
            “ya habisnya kamu gitu”
            “iya deh. temenku yang paling cantik sedunia. Ayu Larasati”
            Lama-lama obrolan itu mengarah ke masalah Jingga dan Dimas lagi. Kini Ayu semakin aktif dengan berondongan pertanyaan kepada Jingga yang membuatnya merasa risih.  “kamu sudah pacaran ya sama Dimas?” pertanyaan standar Ayu tak membuat Jingga menjawab. Tapi tampaknya Ayu tak menyerah begitu saja, ia tetap ingin mengorek info dari mulut Jingga sendiri.
            Jingga berdehem pasang muka serius bersiap menerengkan kriteria cowok yang diinginkannya setelah Ayu mendesak dengan segala pertanyaan. “aku pengennya cowok yang jadi pacarku tu cowok yang romantis, pinter bikin puisi, jadi tiap hari bisa buatin aku puisi, apalagi nembaknya pake puisi. hmmm so sweet” Jingga mulai melayang dengan kata-katanya sendiri “trus nembaknya di tempat yang romantis banyak bunga-bunga atau sambil candlelight dinner kayak di film-film itu Yu. hmmm romantis banget to” Jingga memejamkan mata dan menggenggam kedua tangannya di dadanya, seakan angannya melayang ke tempat yang baru saja ia katakan.
            “ngimpi kamu Ga, hari gini mana ada cowok yang romantis kayak gitu, apalagi pinter bikin puisi, ini jaman modern Ga, ndak kaya jaman…” ucapannya berhenti sejenak “siapa tu pujangga dulu?” Ayu malah bertanya.
            “Chairil Anwar atau WS Rendra”
            “iya itu Chairil Anwar atau siapa itu lah tadi. Sekarang tu jamannya to the point, ndak  usah pake basa-basi, kalo suka ya langsung bilang suka, ndak usah ribet pake puisi segala, yang ada malah di ketawain” Ayu menjelaskan sok paling berpengalaman. Padahal sampai sekarang dia juga masih sendiri.
            “terserah lah. yang penting aku cari cowok yang kayak tadi titik”
            “ya sudah tunggu saja sampai lebaran monyet juga ndak mungkin ada. Bisa-bisa jadi perawan tua kamu nanti”
            “halah. jaman to the point saja kamu juga belum punya cowok to? Hayo mau alasan apa?” Jingga seakan memojokkan Ayu dengan pertanyaanya.
            Wajah Ayu berubah dan yang ada dalam pikiranya hanya mencari alasan apa yang akan ia katakan kepada Jingga tuk menjawab pertanyaan tadi. “karena cowok-cowok itu goblok sama katarak tu, ndak bisa liat ada cewek secantik aku” jawabnya membanggakan diri yang seketika membuat Jingga tertawa keras dalam mobil mendengar jawaban tadi. “ah malah ketawa” Ayu kesal melihat Jingga tertawa tak ada habis-habisnya. “sudah yuk turun, sudah nyampe ni”
            “oh sudah naympe ya?” ucap Jingga masih tertawa.
ӝӝӝӝӝ

            Ayu yang sedari tadi hanya menjadi buntut Jingga mulai merasa bete setengah mati melihat Jingga hanya mondar-mandir diantara rak-rak buku dan belum ada satupun  buku yang sepertinya ingin dia beli. Daripada ia merasa tambah bete, ia memisahkan diri dari Jingga dan hanya duduk saja di kursi yang tersedia disana.
             Jingga terhenti di rak buku dengan papan bertuliskan SASTRA di atasnya. Matanya  langsung tertuju pada buku Khalil Gibran. Saat tangannya ingin meraih buku itu, ternyata ia kalah cepat dengan tangan seorang pria yang sudah lebih dulu ada di sana. Wajahnya sedikit kecewa karena ia melihat buku itu tinggal satu dan sudah pindah di tangan seorang pria tadi.
 “mbak juga mau ambil ini?” ucapnya yang sadar kalau gadis di sebelahnya itu juga mau mengambil buku yang ada di tangannya.
            “iya mas” jawab Jingga malu-malu. “tapi kalo mas juga mau beli buku itu, ya sudah buat mas aja, kan mas duluan yang ambil buku itu”
            “suka bukunya Khalil Gibran ya?” ia malah bertanya pada Jingga.
            “iya mas”
            “ya udah buat kamu aja nih” tangannya menyodorkan buku yang sudah di bawanya.
            “tapi ntar masnya?”
            “nggak apa-apa, aku cuma liat-liat aja kok” ucapnya sambil tersenyum kepada Jingga.
            Jingga meraih buku yang disodorkan pria dan membalas senyuman pria itu dengan senyuman termanisnya.
            Arya terdiam terpana sesaat, seperti ada rasa kagum dengan wajah Jingga yang manis saat tersenyum tadi. Alunan instrumen musik yang terdengar sayup-sayup disana pun pas rasanya untuk menjadi backsound rasa kagum Arya yang berjalan beberapa menit saja. Dari semua wanita di Jogjakarta yang pernah ia temui, baru sekali itu ia melihat senyum paling manis.
            “sudah yuk say. bete ni disini” suara Ayu terdengar dari belakang Jingga.
            Jingga menoleh ke belakang. “iya. Bentar dulu” lalu pandangannya kembali melihat Arya. “makasih ya buat bukunya” sebelum pergi ia sempat menghadiahi Arya dengan senyum manis lagi.
            “sama-sama”.
Mereka beranjak pergi meninggalkan Arya sendiri yang masih tetap berdiri di tempat itu. Ia terus memandang Jingga dari belakang hingga tak terlihat lagi.
            “siapa tadi bu?” tanya Ayu setelah mereka sampai di kasir.
            “ndak tau”
            “kok tadi kamu bilang terima kasih buat bukunya?”
            “tadi kayaknya dia mau beli buku ini, tapi trus di kasih ke aku karena dia tau aku juga mau beli buku ini, ya sudah aku ambil saja, lagian di rak tinggal ini saja”
            “oh gitu. kirain kenal”
“kenapa memangnya?”
“anaknya manis juga tuh, lumayan lah”
“kamu tu ya, siapa-siapa di bilang manis, siapa-siapa di bilang keren. Mungkin kambing kalau di pakein baju juga kamu bilang keren ya?”
“enak saja. Aku masih waras ya. Ya sudah, sekarang gantian anterin aku shoping di mall yuk”
            “tapi jangan lama-lama ya”
ΩΩΩΩΩ


Rabu, 11 September 2013

mati suri di taman.... (D.K.Y.I)



Aku hanya duduk memeluk lutut yang ku lipat keatas dan kepala yang aku topangkan di ujungnya. Tapi aku bingung dengan apa yang aku lakukan, seakan tiba-tiba saja aku berada di tempat ini dan tak tahu harus berbuat apa. Hanya terdiam melihat apa yang ada di depanku dan lalu lalang orang yang seakan tak melihatku sama sekali. Entah mereka sengaja tak memperdulikanku atau memang buta, tapi aku rasa mereka memang buta, buta karena cinta lebih tepatnya. Memang kekuatan cinta itu bisa membutakan mata yang sebenarnya tak buta, bahkan bisa menjadikan mereka sebagai raja dari segala raja yang memiliki hak pribadi atas dunia ini, dan yang lain hanya ngontrak semua. Benar-benar sudah gila semua ini. Ah, tapi aku tak peduli dengan semua itu, biarpun mereka merasa seperti itu, aku hanya berpikir kenapa aku berada di tempat ini.
Pikiranku pun mulai buyar dengan pemandangan baru yang ada di depanku, meski berada agak jauh, tepatnya di bawah pohon yang entah aku tak tahu nama pohon itu, yang jelas pohon itu tak begitu tinggi namun rimbun dan bisa sedikit menutupi apa yang ada di bawahnya. Ya, sepasang yang entah sejak kapan dan dari mana datangnya, yang ku lihat mereka sudah ada di bawah pohon itu. Dengan sedikti penasaran, aku mulai memperhatikan sepasang remaja itu, toh aku duluan yang berada di sini, dalam pikiranku. Tak lama setelah itu tangan lelaki itu di taruhnya di atas pundak sang gadis sambil perlahan menariknya agar tubuhnya bisa saling berdekatan, itu pasti niatnya dari awal. Aku memang tak mengenal mereka dan begitupun dengan mereka yang pasti tak mengenalku, tapi aktifitas mereka seakan sengaja mereka lakukan untuk mengejekku, benar-benar tamparan keras buatku. Aku seperti melihat ada tulisan yang berbunyi “emang enak sendirian, kacian deh lo” tulisan itu begitu besar terpampang di atas kepala mereka. “ANJING!!!” ucapku keras dalam hati yang sudah pasti jelas mereka tak mendengarnya.
Tapi entah kenapa mataku seperti terkunci ke arah mereka dan tak lama kemudian tangan yang tadinya berada di pundak itu bergeser pelan tapi pasti menuju ke bawah. Sedikitpun tak ada pemberontakan dari sang gadis itu, seakan apa yang di lakukan si lelaki itu, ia biarkan saja bermain sesukanya. “gila” ucapku lagi dalam hati. “apa seperti ini cara para remaja jaman sekarang berpacaran, bahkan di tempat terbuka seperti ini, bahkan lagi mereka seakan tak menghiraukan keberadaanku yang seharusnya mereka tahu karena posisi aku dan mereka saling berhadapan. Tapi entah kenapa sejak mereka disana sampai sekarang seakan mereka tak sadar dengan keberadaanku yang terus menyaksikan adegan demi adegan yang membuatku mulai gerah. Tapi aku juga tak mau ambil peduli, aku tak akan beranjak sedikitpun dari sini. Karena memang aku lebih dulu berada di sini dan seharusnya mereka yang pergi dan seharusnya lagi mereka tak melakukan itu di depan mataku. Kecuali kalau mereka benar-benar ingin mengejekku.
Aku lihat matahari semakin menurun, hari semakin gelap di buatnya tapi remaja itu masih saja berada disana, bahkan sepertinya mereka semakin kesetanan. Adegan mereka semakin berani. Tangan mereka saling bergerak layaknya ular yang mencari celah-celah untuk sembunyi. Tak sampai dua menit, tangan mereka sudah hilang lenyap dari pandanganku. Adegan yang membuat aku semakin gerah dan harus melakukan sesuatu karenanya. Ini sudah tak bisa di biarkan. Aku mulai marah. Aku beranjak dari posisi dudukku dan tanpa peduli apa yang akan terjadi nanti, aku hampiri mereka. Tepat beberapa langkah di depannya, dengan sekuat tenaga yang benar-benar marah aku teriak “ANJINGGG!!!! KALIAN!!!”. Teg, justru aku yang tersentak melihat tak ada sedikitpun reaksi mereka setelah aku teriaki seperti itu. Aku coba teriak kembali dengan suara yang lebih keras, namun usahaku sia-sia, mereka masih tetap dalam aktifitas yang sama. Aku mulai bingung, aku coba melangkah untuk lebih dekat dengan mereka dan mencoba melambaikan tangan di depan wajah mereka. “Tak mungkin cinta membuat mereka sebuta ini, ini tak mungkin” ucapku berkali-kali dengan perasaan hatiku yang benar-benar bingung. Lalu aku melihat ke arah kedua tanganku, mencari apa sebenarnya yang salah dengan ku karena aku yakin kesalahan bukan ada pada mereka, tapi ada pada diriku. Aku buang jauh-jauh pikiran itu, tapi semua sendi di tubuhku seakan seketika menjadi lemas dan tak mampu menopang lagi tubuhku ketika aku tak dapat menyentuh mereka dengan tanganku. “TIDAK!!!!”
Aku coba menenangkan diri, aku sudah tak menghiraukan lagi apa yang kini di perbuat sepasang remaja itu. Aku berjalan gontai kembali ke tempat dimana aku duduk tadi, aku berpikir terus untuk mencari jawabannya karena aku benar-benar tak ingat apa yang terjadi sebelum aku tiba-tiba sadar berada disini.
Tiba-tiba ada sebuah cahaya putih yang melesat kencang dari atas dan jatuh tepat menghantam tubuhku yang membuat tubuhku terpental kebelakang hingga rasanya aku menembus batu besar tempat sandaranku duduk tadi dan seketika aku tak melihat apa-apa sampai aku tersentak dan tersadar di tangan kiriku memegang selembar undangan yang aku coba buka kembali dan ku dapati sebuah nama wanita yang aku cintai. Seketika ingatanku kembali normal, termasuk pada sebuah ingatan yang sepertinya tak pernah aku lakukan, namun begitu segar dalam pikiranku. Aku berdiri dan berputar arah, aku melihat sepasang remaja yang sangat kaget dengan keberadaanku. Tak sampai satu menit, lalu aku kembali berputar arah dan bergegas pergi meninggalkan tempat ini dengan sebuah pertanyaan dalam hati “apa aku baru saja mengalami mati suri di taman?” aku terus berjalan “ah entahlah”.Tapi apapun itu, semua itu adalah pengalaman berharga buatku.

Minggu, 08 September 2013

TEMAN YANG HILANG (bag.5 SHJ)

            Hari-hari petama Arya kuliah di kampusnya yang baru masih tak banyak yang ia kenal selain Heru yang juga kuliah disana, di sebuah Universitas Negeri di Jogjakarta. Beberapa minggu bahkan bulan berlalu ia kuliah  disana tapi masih sama tidak ada perubahan yang berarti, masih tetap rutin dengan aktifitas yang monoton, hanya pergi ke kampus lalu pulang, seperti itu seterusnya selama beberapa bulan.
            Hingga di suatu hari saat ia sedang asik di kantin sendiri, ia melihat sosok seorang lelaki yang tak asing baginya. Lama ia memperhatikan lelaki itu, lelaki yang sedang di kelilingi tiga cewek centil menggodanya. “kok kayak si Dimas ya?” ia berusaha mengingat-ingat dengan jelas dulu memang Dimas sempat bilang kalau dirinya akan pindah ke Jogjakarta waktu kelas 3 SMP. Dan sejak itu mereka tak saling memberi kabar. Arya mulai yakin ketika mendengar salah satu cewek itu memanggil nama Dimas. Ia mencoba mendekatinya yang entah masih ingat dengan dirinya atau tidak, karena memang penampilan Arya tak seperti waktu SMP dulu.  Dengan sedikit ragu Arya memanggilnya yang sedang asik bercanda dengan tiga cewek tadi. “Dimas”. Dimas hanya menoleh heran dengan lelaki yang memanggil dirinya, begitu juga dengan tiga cewek itu. “bener Dimas kan?” sekali lagi Arya berkata kepadanya untuk meyakinkan.
“iya bener, kamu siapa ya?” Dimas balik bertanya dengan heran dan mengingat-ingat siapa lelaki yang ada di depannya.
            “gua Arya, teman lo waktu SMP dulu”
            “Arya” Dimas mengerutkan dahi mengingat nama itu. Seketika wajah itu berubah namun sedikit ragu. “Arya yang culun yang pake kaca mata itu?” akhirnya Dimas ingat dengan jelas si Arya yang memang sudah berubah penampilannya.
            “yup bener” jawab Arya singkat dan tersenyum.
            “kenapa lo bisa di sini? Udah gitu, penampilan lo juga berubah nggak kayak dulu yang culun pake kaca mata gitu” Tanya Dimas heran melihat Arya yang ada di depannya. Sampai Dimas tak percaya dengan apa yang di lihat di depan matanya. Bukan karena Arya ada di hadapannya, tapi lebih karena penampilannya yang memang seratus delapan puluh derajat beda.
“gua di sini kuliah lah, bukan cari cewek kayak lo. dan soal kaca mata, panjang ceritanya, kapan-kapan aja gua ceritain”
            “kuliah disini? yang bener? ni udah semester lima, masak kita baru ketemu sekarang?” lagi-lagi Dimas tak percaya dengan apa yang di dengarkan.
            “ya jelas kita baru aja ketemu sekarang, orang gua baru aja pindah di semester ni”
             “kenapa?”
             “ada masalah di kampus sebelumnya”
             “hebat” Dimas bertepuk tangan salut pada Arya.
“kok hebat? hebat kenapa?” Arya mengerutkan wajah heran dengan tingkah Dimas yang tiba-tiba bertepuk tangan.
            “iya hebat. waktu SMP nggak pernah sekali pun bikin masalah, apalagi dapet masalah, sekarang begitu kuliah langsung dapet masalah ampe pindah segala”
            “kami pergi dulu ya Dim” cewek-cewek itu yang sudah merasa di cuekin oleh Dimas langsung pamitan pergi.
            “oke deh”
            “dadaagh Dimas” ucap mereka serempak yang di baut semanja mungkin.
            “ternyata aji mumpung lo masih lo pake ya buat gebet cewek-cewek gatel kaya mereka? Heran gua dari dulu masih aja lo kayak gitu”
             “masih dong, lagian mereka sendiri yang deketin gua, secara kucing di kasih ikan, mana nolak, ya nggak?” Dimas tersenyum.
              “terserah lah” ucapnya datar seakan tak mau ambil pusing dengan apa yang di lakukan temannya yang sudah sejak kecil ia tahu sifatnya.
              “cerita dong kenapa bisa kuliah disini”
             “udah lah nggak penting juga gua cerita”
             “oh gitu ya? trus kenapa nggak kasih kabar gua?”
              “la emang gua tau keberadaan lo, no telepon aja nggak punya, salah sendiri nggak kasih kabar”
“iya iya sorry. maen kerumah gua yuk”
Arya tak lansung menjawabnya, dari raut wajahnya ia sedang memikirkan antara menerima atau menolak ajakan Dimas, karena ia sebenarnya sudah ada janji dengan Heru.
“udah nggak usah mikir. udah nggak ada jam kuliah juga kan?” serobotnya setelah melihat Arya terlalu lama berfikir.
Tanpa sempat menolak akhirnya Arya pergi juga ke rumah Dimas yang baru saja bertemu di kantin. Setelah di tempat parkir, setelah melihat mobil yang di pakai Dimas itu seakan memberi penjelasan yang jelas kenapa cewek-cewek tadi nempel terus dengan Dimas. Sebuah mobil Honda Jaz putih dengan modifikasi dan airbrush yang elegan terparkir mentereng di antara mobil-mobil yang lain. Jelas cewek mana yang tak akan tertarik dengan Dimas, kalaupun ada mungkin cewek itu baru turun dari planet krypton yang tak butuh kendaraan seperti itu.
“pantesan aja cewek-cewek pada nempel gitu” ucap Arya yang sedari tadi melihat semua sudut mobil Dimas sebelum akhirnya ia masuk kedalam yang langsung di sambut dengan hawa dingin bercampur aroma parfum mobil yang lembut.
            “ya jelas lah. Dimas” Dimas dengan nada sombongnya yang tak ketulungan dari kecil.
            Sepanjang jalan mereka asik mengobrol tentang masa lalu, seakan reuni ini memutar kembali kenangan-kenagan di masa SMP dulu. Walau hanya berdua saja namun suasananya terasa satu kelas ada di situ. Memang di waktu SMP mereka adalah teman dekat sekaligus tetangga sebelah rumah. kemana-mana mereka selalu berdua meski sifat mereka berlainan dan sebelum akhirnya Dimas pindah ke jogjakarta.
            Hari itu adalah hari yang tidak disangka-sangka bagi meraka, setelah sekian lama terpisah tanpa komunikasi lagi akhirnya bertemu lagi di kota itu, di kampus yang sama pula. Seakan teman yang hilang telah kembali lagi.
            “gimana ni kabar teman-teman SMP sejak gua pindah?”
             “wah tenang banget” wajahnya seperti lega “pokoknya damai, tentram, nggak ada keributan lagi” ucapnya tersenyum menyindir Dimas yang dijuluki sebagai troble maker di sekolahnanya.
            “sial lo. lo kata gua biang keributan?” Dimas menyangkal.
            “ya begitulah kira-kira” Arya tersenyum lagi.
            “iya iya deh” Dimas agak sinis mengakui “o ya gimana bu Wati sekarang?”
            ”bu Wati yang gendut  itu? Terakhir liat dia masih aja gendut. o ya lo paling suka kan ngerjain dia?”
            Dimas tertawa lebar mengingat saat-saat masih SMP, saat tiap hari selalu mengerjain bu Wati wali kelasnya itu. Bagi dia tiada hari tanpa mengerjain bu Wati yang galak, hingga tidak terhitung lagi sudah berapa kali Dimas kena hukuman dari bu Wati mulai dari lari keliling lapangan, ngepel kamar mandi atau berdiri di depan kelas dengan kaki kiri di lipat keatas dan tangan kanan memegang telinga kiri, tapi tetap saja dia tak jera untuk mengerjai bu Wati. “gatel tangan gua kalo nggak ngerjain dia” Dimas melanjutkan tertawanya membuat Arya juga ikut tertawa kecil. “o ya trus gimana tu si, emm siapa tu namanya yang lo taksir dulu?” Dimas melanjutkan.
            “Devi”
            “iya si Devi, bukannya waktu gua mau pindah lo punya rencana buat nembak dia?”
             Arya tak menjawab, malah sinar wajahnya tiba-tiba mendadak perlahan meredup mendengar pertanyaan Dimas tentang masalalu itu, tentang kejadian yang membuatnya malu yang tidak terlupakan sampai ia beranjak dewasa.
            “kenapa lo Ar?” Dimas yang sadar dengan perubahan di wajah Arya. “ada yang salah ya ma pertanyaan gua?” Dimas yang sibuk menyetir menoleh sekali lagi ke arah Arya yang masih terdiam dari tadi “gua tau ni, pasti di tolak kan?” ucap sok tahu Dimas dan akhirnya tertawa keras walau tak tahu itu benar atau salah.
            Arya dengan wajah murungnya terpaksa menjawab pertanyaan itu. “sebenernya gua belum sempet nembak dia Dim, waktu itu gua…” Arya berhenti bicara sejenak
            “kenapa Ar?” Tanya Dimas mulai penasaran.
            “waktu itu gua…” dan pikirannya melayang kembali ke masa itu.
            “Aryaa!!!” panggil bu Wati. “sedang sibuk nulis apa kamu?” bentak bu Wati yang merasa Arya cuekin ketika sedang menjelaskan pelajarannya.
             “nggak nulis apa-apa kok bu” jawabnya gemetar sambil ia tutup perlahan buku di depannya itu.
             “ibu perhatikan tadi kamu asik nulis sesuatu waktu ibu menerangkan, sini coba lihat?” ibu Wati mendekatinya dengan wajah garang yang menbuat Arya semakin gemetar ketakutan dan mengambil buku tulis di depannya. Ia  mulai takut bercampur malu kalau puisi itu sampai di baca depan teman-teman.
            “apa ini Arya?” tanya bu Wati dengan nada marah setelah melihat tulisan itu. “sini maju kedepan”
            Denagn gugup ia melangkah berjalan kedepan dengan kepala menunduk dan berhenti tepat disamping bu Wati.
            “cepat kamu baca ini di depan teman-teman kamu” bu Wati memberikan buku itu kepadanya.
            Dengan keadaan masih tertunduk ia mencoba melirik ke arah teman-teman yang terdiam, mungkin juga takut melihat bu Wati yang sedang marah kepadanya.
Dengan terbata-bata ia mulai membaca tulisannya sendiri di buku itu. Baru saja bebera bait ia baca, satu demi satu teman-temannya mulai melepaskan tawanya karena sudah tak tahan untuk menahan tawanya setelah  mendengar puisi yang ia bacakan di depan kelas. Dalam beberapa menit saja, semua yang ada di kelas akhirnya tertawa keras menertawainya, mereka sudah tak perduli dengan wajah bu Wati yang masih garang seperti macan ingin menangkap mangsanya.
“hahahaha…” tawa lepas Dimas juga menertawainya yang sedari tadi mendengarkan cerita Arya. “untung gua nggak ada disana, coba kalo ada, gua anak yang paling keras ketawa” Dimas masih meneruskan tawanya dan semakin keras dari sebelumnya, seakan itu adalah lelucon paling lucu dalam hidupnya. “lucu..lucu”
            “lucu apanya?” tanya Arya yang wajah bertolak belakang dengan wajah Dimas.
            “lucu aja, ada anak SMP mau nembak cewek pake puisi. lo kira anak SMP bisa klepek-klepek cuma dengan puisi? yang ada malah muntah kali Ar. malu-maluin aja lo” Dimas masih saja tak berhenti tertawa. “lagian lo tu ada-ada aja ya, nembak cewek pake puisi, cemen banget tau, nggak gentle, lebay, kemayu kata orang jawa”
             “udah deh jangan tertawa mulu. suatu saat lo yang ngalamin kayak gitu, baru tau rasa lo”
            “apa?” Dimas seolah-olah kaget “gua nembak cewek pake puisi? sorry ya, anti, nggak bakalan Ar” dengan wajah sombong seakan-akan tak akan pernah terjadi “gua masih punya harga diri buat nggak nglakuin hal yang malu-maluin kayak gitu”.
            “liat aja ntar, kalo itu terjadi, gua yang akan tertawa paling keras di depan lo” ucapnya seperti mendoakan hal itu akan terjadi kelak.
            “oke kita liat aja ntar” dengan nada optimis tak akan pernah terjadi.
            Mereka terdiam sesaat dan sampailah mereka di depan halaman rumah Dimas.
            “turun yuk” ajak Dimas.
            Mereka berjalan ke dalam rumah besar itu. Tapi nampak terlihat sepi ketika mereka sampai di dalam. Orang tua Dimas sibuk bekerja semua dan Dimas adalah anak semata wayangnya. Makanya Dimas sedikit sombong karena selalu dimanja dengan kemewahan orang tuanya sejak kecil. “bonyok lo kerja semua Dim?” Tanya Arya yang sedari tadi clingak-clinguk kanan kiri mencari mahkluk hidup selain mereka berdua. “trus rumah segede gini cuma di tempatin bertiga?” lanjut Arya yang sudah tahu kalau Dimas anak semata wayang. Namun belum sempat di jawab oleh Dimas, tiba-tiba mbok Jum orang yang membantu mengurus rumah saat di tinggal orang tua Dimas menyapa dari ruang tivi yang mereka lintasi untuk sampai ke kamar Dimas.
            Kini obrolan yang tadi di mobil mereka ungsikan ke kamar Dimas. Dengan berteman beberapa makanan kecil dan juga minuman yang baru saja di antar oleh mbok Jum, mereka semakin rileks untuk bercerita lagi mengulas masa-masa kecil sewaktu masih bersama.
            Habisnya satu toples makanan berakhir juga cerita masa kecil mereka. Namun tetap saja berlanjut ke pertanyaan Dimas tentang bagaimana ceritanya Arya bisa sampai di Jogakarta dan yang paling utama adalah penasarannya Dimas oleh penampilan Arya yang sekarang. Akhirnya Arya menjawab semua pertanyaan Dimas yang menjadi teka-teki besar dalam otaknya. Jawaban yang membuat Dimas hanya bisa melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan Arya, namun itu terjadi.
            “lo udah kemana aja selama di sini” Tanya Dimas dan kini jawaban yang membuat Dimas tertawa keras heran dengan temannya yang satu ini, ternyata perubahan hanya dalam penampilannya saja tapi sifatnya masih saja seperti dulu. “kirain lo berubah total Ar” lanjut Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya tanda heran.
            “gua emang nggak begitu suka keramaian Dim” jawabnya tak peduli dengan sindiran yang merambat lewat tawa keras Dimas tadi. Pertanyaan yang sudah ia antipasti sebelumnya karena ia tahu pasti pertanyaan itu akan keluar dari mulut Dimas. Ajakan dan bujuk rayu Dimas pun tak mengubah kemalasan Arya untuk pergi ke tempat keramaian apalagi clubing. Entah kenapa Arya tak pernah suka ke tempat-tempat seperti itu, ia justru suka ke tempat-tempat yang sepi, mungkin tempat seperti itu Arya lebih bisa melepaskan kepenatan dan mendapatkan ketenangan. Tempat seperti itu juga yang membuat Arya menjadi lebih imajinatif tuk di tuangkan dalam bentuk puisi.
            “ah payah lo Ar”
            Namun Arya hanya bisa tersenyum saja melihat ekspresi di wajah temannya itu yang sudah pasrah tak tahu harus mengatakan apa lagi dan berakhir dengan mengganti dengan topik lain yang lebih segar.
Hari sudah menjelang sore, mereka masih saja asik ngobrol di kamar Dimas walau makanan di toples sudah habis semua. Maklum sudah lama mereka tidak bertemu jadi ada-ada saja hal yang mereka obrolin, mulai dari hal sepele, bercanda sampai yang serius juga mereka obrolkan bak ibu-ibu sedang ngerumpi di acara arisan.
            Lirih suara mobil terdengar dari kejauhan dan semakin keras sampai suara itu mati tepat di halaman rumah Dimas yang mengundang tanya dalam hati Arya. “bonyok lo pulang Dim?” Tanya Arya menebak.
“bukan. cuma nyokap gua aja. Dan bokap masih ntar”
            “oh gitu ya, kirain bareng” Arya beranjak dari tempatnya. “anterin gua pulang Dim ,udah sore ni” lalu pintanya.
            “ntar napa, baru aja jam enam, udah mau balik kandang aja lo Ar. Masak kalah ma banci” sindir Dimas. “banci aja jam segini baru keluar” lanjut Dimas.
“ah bodo. Emang gua pikirin. Udah yuk ah, gua juga pengen mampir ke toko buku bentar, ada yang harus gua beli”
Dimas beranjak dari posisinya yang sudah nyaman dan terpaksa mengantar temannya pulang.
ΩΩΩΩΩ

Kamis, 05 September 2013

sembunyikan aku...

jika hangat mentari sudah tak mau berteman
ada kalanya aku harus pergi
hanya untuk aku bersembunyi
hanya untuk aku bertahan saja
dan hanya untuk berlindung dari apa yang menyakitiku
bukan karna aku lemah
bukan pula karna aku pengecut
aku hanya ingin bersembunyi saja
menikmati sisa api yang hampir mati

(sembunyikan aku sembunyikan aku)

jika malam lebih bisa mengerti aku
aku ingin terus sembunyi di balik gelapnya
tak peduli, walau seribu nyanyian sunyi terus mengharu biru
tak peduli, walau beribu tarian dingin terus menciutkan aku
aku tak peduli
aku ingin tetap sembunyi
aku ingin tetap sembunyi

(sembunyikan aku sembunyikan aku)

kadang nyanyian demi nyanyian ajakku menari
kadang rindu demi rindu ajakku kembali
namun luka ini, ajakku terus sembunyi
sembunyi dari apa yang menyakitiku
dari apa yang tak pernah mengerti aku

(sembunyikan aku sembunyikan aku)

biar saja aku nikmati sepi sendiri
biar saja aku hilang
biar aku mengerti apa arti kasih
yang dulu slalu hadir serupa warna
yang dulu terhapus oleh hujan air mata...