Senin, 24 Juni 2013

dunia yang berwarna putih (D.K.Y.I)

   saat ku buka mata, yang ku lihat hanyalah putih, aku bingung, aku pikir aku buta, tapi yang aku tahu buta bukan seperti ini, aku masih bisa melihat tubuhku, namun tetap saja aku bingung, aku ingat betul pakaian apa yang aku pakai, celana apa yang aku pakai dan yang jelas tak seperti sekarang, aku terus memandang tubuhku yang aku bisa lihat. aku bingung, tapi aku lebih bingung dengan tempat ini, semua hanya putih, tak ada siapapun yang bisa aku tanyai, tak ku dengar apapun disini bahkan desir anginpun tak ada. aku seperti tersesat disini, aku kehilangan arah. aku coba berjalan mencari sesuatu, namun yang ku dapat hanya kesia-siaan belaka,  seakan langkahku yang ku rasa telah jauh itu hanya sia-sia, aku seperti masih berada di tempat semula aku membuka mata. aku coba sekali lagi, kali ini ku belokkan arahku 90 derajat ke kanan dan aku terus berjalan lurus ke depan, tapi semua itu tetap sama saja, aku masih seperti di tempat semua, semua itu hanya buat ku lelah.
   kini aku hanya terduduk mengingat-ingat sesuatu yang mungkin bisa menjadi sebuah jawaban dimana aku sekarang. ku pejamkan mata, penuh konsentrasi mencari sebuah ingatan yang tersisa dalam kepalaku dan ku lihat dalam tertutupnya mataku sepasang cahaya yang dengan tiba-tiba berada di depanku, ya aku ingat sekarang, saat itu aku sedang berjalan sendiri di tengah malam dengan membawa sebungkus nasi goreng untuk aku makan di rumah, ketika itu aku tak sengaja melihat selembar uang seratus ribu dan setelah aku mengambilnya, tiba-tiba sepasang cahaya dengan cepat mendekatiku dan menyilaukan aku.
   tapi sial, aku tak bisa mengingatnya lagi setelah itu. sekali lagi aku coba untuk mengingat setelahnya, tapi seakan pikiranku habis dan terputus sampai disitu, aku tak bisa mengingat setelahnya dan aku menyerah. andai saja disini ada seseorang, pasti akan ku suruh ia untuk melihat apa yang terjadi di jalan Brigjen Katamso dimana tempat terakhir aku mengingat semuanya. tapi itu tak mungkin, sedangkan sampai sekarang aku pun tak melihat ada seseorang disini, yang ada hanya aku yang tersesat di dunia yang berwarna putih ini.
   aku beranjak dari dudukku, mataku menatap tajam kesetiap arah selama beberapa menit hingga aku terbesit sesuatu yang membuat hatiku berdetak kencang. "nggak mungkin" ucapku di sertai dengan gelengan kepalaku untuk menyakinkan diriku sendiri bahwa apa yang tiba-tiba terbesit dalam benakku tidaklah benar. namun entah mengapa pikiran itu terus mengantuiku, terus dan terus, seakan pikiranku itu ingin mengatakan bahwa itu benar. 
   "ya Allah..aku sadar aku bukan hamba-MU yang taat kepada-MU, tapi ijinkan aku sekali ini saja untuk melihat apa yang terjadi setelah sepasang cayaha yang ku lihat itu menyilaukan aku" dan baru saja ku tutup mulutku, warna putih di sekitarku perlahan memudar lalu aku merasakan tubuhku tiba-tiba terjatuh dan akhirnya warna putih itu sepenuhnya berganti dengan warna hitam. walau dalam keadaan tubuhku terus terjatuh, tapi pikiranku mampu bertanya "kenapa aku nggak sampai-sampai kebawah" lalu pikiranku kembali lagi ke pikiranku yang membuat hatiku berdetak kencang tadi dan aku bertanya lagi "apa aku sedang terjatuh ke ..." 
   aku tersentak, nafasku terengah-engah dan aku tersadar aku dalam posisi duduk dengan kedua kaki berselonjor dan aku lihat juga disekitarku banyak orang-orang dengan posisi yang begitu dekat denganku, tapi aku lihat wajah mereka seperti orang kaget dan heran yang membuatku juga bertanya apa yang sedang terjadi, mengapa mata mereka seperti itu melihatku. dan aku mencoba melihat ke tubuhku, aku dapati begitu banyak darah di tubuhku, kepalaku pun jadi terasa berat, aku merasa masih ada darah yang keluar dari kepalaku. "jadi aku tadi.." tak ku teruskan ucapanku karena aku sudah mendapat sebuah jawaban tentang dunia yang berwarna putih tadi. tapi entah kenapa kepalaku semakin berat membuat tubuhku yang semula dalam posisi duduk menjadi berbaring, nafasku tersendat dan penglihatanku semakin kabur dan akhirnya hanya gelap yang aku lihat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar