Pagi-pagi
benar Yanto sudah terbangun dari tidurnya yang memang tak pernah nyaman karena
hanya beralas tikar di bale bambunya. Maklum saja keluarga Yanto tergolong
keluarga tidak mampu di kampungnya, apalagi saat ayahnya meninggal 3 tahun
lalu. Dan kini ia harus menjadi tulang punggung keluarganya. Sedang ibunya
sekarang juga sedang sakit sudah 2 minggu.
“pagi
begini mau kemana le?” Tanya ibunya dengan suara yang bertarung dengan
batuknya.
Tangannya
meraih gitar mininya dan memakai topi siap untuk berangkat ngemen di tiap
perempatan, karena dengan ngemenlah ia bisa meringkankan beban ekonomi
keluarganya. “ya mau berangkat ngamen to mbok”
“tapi
kok tumben sepagi ini sudah berangkat le?”
“iya
mbok.. mumpung pagi, takut rejekinya keduluan di patuk ayam” jawabnya dengan
sedikit bercanda. Dan memang sengaja bangun lebih awal dari biasanya.
“ya
sudah. Kalau begitu kamu hati-hati yo le. Trus pulangnya jangan terlalu malam”
“siap
laksanakan” tangan kanannya ia naikkan memberi hormat.
Baru
pukul 05:30 Yanto sudah mangkal di perempatan Gondomanan. Memang di situlah
tiap harinya Yanto menunggu para dermawan yang sudi menukar uang recehnya
dengan suara cempreng Yanto
Lampu
merah menyala, saatnya ia mulai beraksi. Satu demi satu mobil ia hampiri.
Dengan suara cemprengnya ia membawakan lagu dari peterpan yang sering ia
nyanyikan.
“mungkinkah
bila ku bertanya pada bintang-bintang…. Makasih pak” ucapnya sebelum
menyelesaikan lagunya.
Tak
jarang orang yang enggan memberi uang kepada Yanto, bahkan kadang justru celaan
yag ia dapatkan. Tapi ia tak pernah mengeluh, ia terima dengan ikhlas. Namun
ada juga yang merasa iba melihat keringat yag bercucuran di lehernya karena
terik matahari yang membakarnya. Lampu hijau telah menyala dan ia pun menepi
untuk menunggu lampu menyala merah brikutnya dan sekedar untuk beristirahat.
Sambil duduk di atas pot besar, ia menghitung tiap receh yang terkumpul. Dan
sejenak wajahnya teringat harga benda yang ingin ia beli. Belum usai, ia
tiba-tiba di kejutkan oleh suara orang yang sudah sangat ia kenal karena tiap
hari ia harus berurusan dengan dua lelaki itu. Dua lelaki yang selalu meminta
uang jatah dengan dalih keamanan. Tapi justru merekalah yang sebenarnya membuat
semua tak aman.
“duit
keamanan ayo cepet” pinta salah satu preman yang bernama Kudil.
“belum
dapet duit mas” jawabnya sambil perlahan menyembunyikan uang yang ada di
tangannya tadi.
“mas
mas, mas mbahmu apa. Udah mana cepet sini. Tak antemi baru tau rasa kamu” ucap
preman yang satunya lagi.
“udah
sikat aja bos” provakator kudil kepada Japrak.
“halah
ngapusi..itu apa di tanganmu?” sepertinya Japrak sadar dengan gerak gerik
tangan Yanto yang menggenggam uang tadi.
“iya.
Itu apa?” ucap Kudil ikut-ikutan.
“bukan
apa-apa kok”
“rupanya
pilih di hajar ini anak”
“udah
lansung aja bosh ajar” semakin semangat Kudil memprovokatori Japrak.
“ampun
mas. Ampun mas”
“PRIITTT!!!!!”
suara peluit itu menghentikan Japrak yang sudah siap dengan tangannya. Dan
membuat kedua preman itu pergi meninggalkan Yanto disana setelah mengucap
ancaman.
“kamu
ndak apa-apa le?”
“ndak
apa-apa kok pak. Makasih ya pak tadi”
Akhirnya
ia turun kejalan lagi untuk menukarkan suaranya itu. Ia tak peduli dengan
teriknya mentari yang sedari tadi membakar kulitnya yang hitam legam. Yang ada
dalam pikirannya ia harus berusaha keras sampai ia mendapatkan uang dengan
sejumlah harga barang yang ia inginkan.
“sudah
sana pergi. Suara fals aja jadi pengamen” ucap ketus lelaki berkumis tebal dari
dalam mobil mewahnya.
“kuping
bapak yang fals mungkin”
“apa
kamu bilang?”
“yang
namanya pengamen jalanan ya begini suaranya. Kalo suaraku bagus, aku udah jadi
penyanyi di tivi” jawabnya tak kalah ketus. “bilang aja ndak punya duit”
lanjutnya Ynato.
Dan
segera pergi menuju mobil putih yang ada di belakangnya, berharap kali ini yang
ada di dalam mobil itu baik hati yang sudi memberi sedikit rejekinya. Dan
ternyata ia benar, uang selembar dengan angka 5000 disodorkannya dari jendela
mobil itu. Senyumnya pun merekah senang.
“trima
kasih pak” ucapnya berkali-kali.
Beberapa
mobil sudah ia hampiri, beberapa receh juga sudah terkumpul disakunya. Ia
menepi ke tempat peristirahatannya dan berkata dalam hati “lumayan dapet banyak. Kalau begini terus, bisa cepet-cepet beli baju
buat simbok ni”.
“woi”
teriak Supri yang tiba-tiba datang dari belakang.
“eh
kamu to pri. Ngagetin aja kamu”
“gimana
hari ini?” Tanya Supri setelah duduk di samping Yanto.
“lumayan
Pri, banyak yang ndak pelit hari ini. Ada yang kasih lima ribu juga Pri”
“wah
beruntung banget kamu To. La aku dari tadi Cuma dapet dikit”
“ya
sudah. Rejekimu baru segitu, di syukuri saja. Kalau pengen banyak ya jadi
aparat Negara saja sana”
“ndak
mau ah, takut godaanya”
“apa
godaanya?”
“korupsi”
lalu Supri tertawa renyah dan di ikuti oleh Yanto. “ya sudah, kita makan dulu
yuk”
“ok.
Mari kita serbu warung mbok Jum” suaranya semangat sekali.
Dan
mereka menuju warung mbok Jum yang sudah jadi langganan setiap harinya. Sampai
sudah seperti rumah sendiri bagi mereka berdua. Sesampainya disana mereka
langsung duduk di kursi paling pojok, karena memang disanalah kursi yang
tersisa untuk mereka. Memang di warung mbok Jum selalu dipadati para
pengunjung, apalagi di jam-jam makan siang seperti ini. Banyak yang merasa
cocok dengan masakan mbok Jum, mulai dari kalangan bawah sampai kalangan atas.
Jadi tak heran kalau di depan warung mbok Jum terparkir mobil-mobil mewah.
“mbok
maem seperti biasa nggeh” ucap Supri lantang hingga beberapa pengunjung spontan
menoleh ke tempat mereka duduk.
“aku
juga mbok”
“gimana
tadi si Japrak sama Kudil dating lagi ndak”
“ya
pasti lah. Tapi untung mereka segera kabur denger sempritan”
“jadi
mereka takut sama sempritan?”
“ya
tergantung siapa dulu yang nyemprit. Kalo kamu yang nyemprit ya sama saja”
Akhirnya
makanan mereka datang juga.
“makasih
mbok” ucap mereka kompak.
Tanpa
aba-aba, mereka langsung menyantap makanan yang ada di depannya karena
cacing-cacing di perut mereka sudah tak sabar mendapat asupan makanan. Dan
sayur gudeg berlauk tempe bacem sudah terasa nikmat sekali bagi mereka. Di
tengah lahapnya, tanpa rasa malu sedikitpun Supri bersendawa dengan keras.
“ihh
ndak sopan kamu Pri” tegur Yanto.
“biarin”
jawab santai Supri sambil terus mengunyah makanannya.
“kalau
makan mbok ya pelan-pelan to Pri biar ndak keselak”
Supri
Cuma bisa cuek mendengar saran Yanto. Selang dua menit Supri pun keselak
seperti apa yag di katakan Yanto. Dan tangan Supri lansung menyambar es teh
milik Yanto.
“aku
bilang juga apa, keselek to kamu. Mana ambil es teh ku lagi” berusaha merebut
kembali es teh yang sudah hampir habis di minum Supri.
“ah
pelit kamu To”
*************************************************
Terlihat
mereka berjalan lagi menuju tempat mereka mangkal. Belum sampai disana, mereka
bertemu lagi dengan dua preman yang tadi belum berhasil meminta uang Yanto.
“wah
gawat ni To” ucap Supri lirih
“nah
sekarang ndak ada lagi yang bakal nolongin kamu” ucap Kudil sambil merentakan
kedua tangannya seolah-olah ingin menangkap ayam.
Dalam
hitungan ketiga, mereka serempak untuk menyelamatkan diri. Hanya itulah jurus
satu-satunya yang mereka punya. Jika tidak, mereka akan menjadi santapan bagi
kedua preman itu. Uang yang sudah terkumpul bisa sia-sia di rampas
preman-preman itu. Yanto tak ingin hal itu terjadi karena ia tak punya waktu
lagi untuk mengumpulkan uang untuk membelikan hadiah di hari ini. Tapi hari ini menjadi hari naas
buat Yanto, ia tertangkap oleh Japrak. Kudil lalu berusaha untuk meraih uang
yang ada di saku celana Yanto.
“jangan
mas”
“minta
dikit aja buat makan, pelit banget kamu”
“tapi
duitnya mau aku pake…”
“halah
di pake buat apa? Nih lima ribu aja cukup. Anak kecil ndak usah banyak-banyak”
Yanto
hanya terdiam saja tak berdaya melihat perlakuan mereka kepada dirinya. Namun
tak setetespun air matanya tertumpah karena ia selalu teringat nasehat ibunya
kalau kehilangan sesuatu, di ikhlaskan saja, mungkin itu bukan rejeki kita dan
pasti jika kita ikhlas, kita akan mendapat gantinya suatu hari nanti, bahkan
akan lebih banyak lagi. Dengan nasehat itu, ia terus semangat. Lagi pula ia
masih menyimpan sebagian uangnya di tempat lain yang tak di ketahui dua preman
tadi. Tapi tetap saja jumlahnya belum sesuai dengan harga barang yang ingin ia
beli. Dan ia melanjutkan lagi untuk mencari kekurangannya.
########################
Di rumah Yanto terlihat kerumunan warga. Ternyata
penyakit yang di derita ibunya semakin parah dan harus segera di bawa kerumah
sakit. dengan mobil pak RT dan beberapa warga, ikut mengantar ke rumah sakit
terdekat dan beberapa lagi ada yang bertugas mencari Yanto karena ibunya sedari
tadi hanya memanggil nama Yanto dan ingin bertemu.
######################
“sudah jam tiga lewat, uangnya juga belum cukup ni”
gerutunya dalam hati setelah menghitung memastikan uang yang sudah terkumpul.
“keburu tutup ni” lanjutnya
Tiga puluh menit pun telah berlalu, tapi uangnya Cuma
bertambah sedikit dan belum juga cukup untuk membeli kebaya yang ia sudah lama
menginginkannya. Tapi ia tak mudah menyerah, ia terus berjuang dan berdoa.
“niat
baek pasti ada jalan keluarnya. Apalagi ini buat seorang ibu yang telah
melahirkan aku. Bismillah..”
Ia
mulai mengadu nasib pada tiap mobil yang berhenti di lampu merah. Ia
menghampiri mobil putih yang terlihat mewah semewah hati yang sudi bersedekah
member sedikit rejeki, harapannya.
“kok
banyak banget to pah ngasihnya” ucap seorang istri yang melihat suaminya yang
ingin memberi uang sepuluh ribu kepada Yanto.
“udah
gak apa-apa, kasihan kan. Lihat badannya udah kurus kering gitu” jawabnya sang
suami lalu membuka kaca mobilnya dan menyodorkannya kepada Yanto.
“ndak
ada kembaliannya pak”
“itu
buat kamu semua nak”
“ini
semua pak? Makasih banget ya pak” ucapnya sumringah dan langsung berlari ke
pasar bringharjo untuk membeli kebaya itu.
Tapi
sayang, sesampainya disana ia melihat kios penjual kebaya itu sudah tutup.
“mbok,
kios di sebelah situ sudah tutup ya?”
“iyo
le, baru saja tutup. La itu orangnya”
“makasih
mbok” ucapnya keburu-buru untuk mengejar pemilik kios itu.
ia
terlihat kelelahan setelah berlari mengejar pemilik kios yang sudah mau pergi
dengan becak.
“tunggu
dulu bu”
“ada
apa le?”
“ibu
yang jual kebaya itu ya?”
“iya
betul”
“bu
saya mau beli kebaya warna biru itu”
“tapi
sudah saya tutup le”
“tolong
bu.. ni buat kado simbok saya di hari ibu ini”
Mendengar
alasan anak itu, si penjual itu justru pikirannya melayang kepada anak
laki-lakinya yang dulu juga selalu memberi hadiah di setiap hari ibu. Hatinya
juga mulai terketuk melihat niat baek anak yang ada di depannya itu.
“ya
sudah ayo kita ke kios lagi”
“trima
kasih bu”
Dan
mereka berdua berjalan menuju kios untuk mengambil kebaya yang Yanto inginkan.
“mau
pilih yang mana le?”
“kebaya
yang warna biru yang disitu kemana ya bu?”
“yang
ini..” sambil mengambil baju itu dari tumpukan.
“iya
bu” wajahnya terlihat senang melihat kebaya itu masih ada. “harganya berapa bu”
“yang
itu lima puluh lima”
Kemudian
Yanto mengeluarkan uangnya dan menghitung kembali.
“wah
uangnya kurang seribu bu”
“ya
sudah ndak apa-apa”
############################
Ia pulang dengan hati yang mungkin tak bisa di ungkapkan
dengan kata-katanya. Berharap bisa segera memberikan kebaya yang baru saja ia
beli kepada ibunya. namun kegembiraan itu sedikit memudar ketika ia tak melihat
ibunya di rumah. Setelah ia tak juga menemukan ibunya di rumah, ia lalu
bertanya kepada pak Herman yang kebetulan sedang lewat depan rumahnya.
“pak lihat simbok saya ndak?”
“o simbok mu tadi di bawa kerumah sakit To”
“la simbok saya kenapa?”
“tadi penyakit simbok mu makin parah. Trus pak RT yang
mengantar ke rumah sakit”
Tanpa pikir panjang, Yanto lansung berlari menuju ke
rumah sakit dengan tas kresek yag masih di tangannya. Ia terus berlari tanpa
menghiraukan sekitarnya karena yang ada dalam pikirannya hanya ibunya saja.
Sampai ia tak melihat ada mobil yang melaju kencang ke arahnya, dan tak dapat
menghindar lagi, mobil itu menabraknya hingga terpentah beberapa meter.
Seketika tempat itu di padati orang-orang yang berada tak jauh dari tempat
kejadian. Sebelum ia tak sadarkan diri, ia sempat menitipkan tas kresek itu
kepada seseorang dalam kerumunan yang ia kenal.
Kemudian Yanto di bawa kerumah sakit dimana ibunya juga
dirawat disana. Pak RT yang sedang mengurusi ibunya Yanto pun melihat Yanto
yang sedag di bawa ke ruang ICU.
“maaf kenapa dengan Yanto” Tanya pak RT
“tadi ketabrak mobil pak. Dan tadi sempat menitipkan ini
untuk ibunya”
#############################
“bagaimaa dok keadaan Yanto?”
“anda bapaknya?” balik Tanya sang dokter
“bukan, saya tetangganya. Kebetulan ibunya juga dirawat disini
dan saya yang mengurusnya. Lalau bagaimana keadaan Yanto dok?” tanyanya sekali
lagi.
Dengan lesuh dokter itu meminta maaf. Dan seakan kata itu
sudah mewakili semuanya. “dia kehilangan banyak darahnya dan saya sudah
berusaha sebisa saya. Tapi yang di atas berkehendak lain”
“jadi Yanto..” pak RT tak mampu meneruskan kata-katanya.
“iya. Dia meninggal pak”
“innalillahi wa innailaihi rojiun”
“tolong sampaikan pada keluarganya pak”
“baik dok”
#################################
Begitu siuman, pertama kali yang ia panggil adalah nama
anaknya, ia terus memangil nama anaknya. Walau pak RT menyuruhnya untuk
istirahat dulu, ia tetap saja ingin bertemu anaknya sekarang juga.
Pak
RT tak tahu lagi harus berkata apa untuk menjawab pertannyaannya yang terus
tentang Yanto anak semata wayangnya. Pak RT hanya bisa berbohong untuk segara
mencari Yanto. Di luar ruangan itu, lagi-lagi ia terdiam mencari cara untuk
memberi kabar yang sudah pasti akan menganggu keadaan ibu Ynato yang baru saja
siuman. Sepuluh menit kemudian dengan langkah ragu ia masuk kembali. Mulutnya
benar-benar tak kuasa untuk bicara yang sebenarnya tentang keadaan Yanto.
“ibu
istirahat saja dulu, si Kirman sudah saya suruh untuk mencari Yanto” ucapnya
berbohong lagi.
Tiga
puluh menit berlalu, ibu Yanto semakin tak tenang, seolah tahu dengan keadaan
Yanto sekarang. Namun pikirannya tak sejauh kenyataan. Ia terus memaksa pak RT
untuk mencarinya juga. Melihat keadaan ibu Yanto yang terus memaksa, akhirnya
pak RT memberanikan diri untuk menyampaikan dan memberi titipan dari Yato
sebelum meninggal.
“o
iya, ini ada titipan dari Yanto bu”
“makasih
ya pak. Tapi kenapa Yanto ndak memberikannya sendiri? Memangnya Ynato kemana
pak?”
Hanya
kata yang terbata-bata yang bisa keluar dari mulut pak RT.
“Yanto
kenapa pak?” ibunya semakin cemas.
“Yanto..
dia..”
“iya
Yanto kenapa pak? Cepat katakan”
Pak
RT menarik nafas untuk mengumpulkan seluruh keberanian untuk mengatakan yang
sebenarnya. “Yanto meninggal kecelakaan saat mau kesini bu”
“meninggal?”
hanya itu yang terucap dari mulut ibu Yanto sebelum ia terdiam dan air matanya
mulai membanjiri pipinya lalu hanya bisa terbaring lemas. Kondisinya menurun
drastis.
Pak
RT langsung keluar untuk memanggil perawat untuk mengecek keadaannya.
##################
Di pamakaman, orang-orang tertunduk pilu. Taburan bunga,
tetesan air mata yang berbaur iringan doa mengantar kepergian Yanto. Awan
terlihat meredup seakan tahu dan mewakili apa yang sedang ibu Yanto rasakan
saat ini.
Satu per satu orang sudah mulai meninggalkan pemakamanan
itu. Tapi ibu Yanto tetap tinggal dan terus menatap nama Yanto di papan yang berdiri
tertancap di gundukan tanah itu. Air matanya terus berlinang membanjiri tanah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar