Rabu, 11 September 2013

mati suri di taman.... (D.K.Y.I)



Aku hanya duduk memeluk lutut yang ku lipat keatas dan kepala yang aku topangkan di ujungnya. Tapi aku bingung dengan apa yang aku lakukan, seakan tiba-tiba saja aku berada di tempat ini dan tak tahu harus berbuat apa. Hanya terdiam melihat apa yang ada di depanku dan lalu lalang orang yang seakan tak melihatku sama sekali. Entah mereka sengaja tak memperdulikanku atau memang buta, tapi aku rasa mereka memang buta, buta karena cinta lebih tepatnya. Memang kekuatan cinta itu bisa membutakan mata yang sebenarnya tak buta, bahkan bisa menjadikan mereka sebagai raja dari segala raja yang memiliki hak pribadi atas dunia ini, dan yang lain hanya ngontrak semua. Benar-benar sudah gila semua ini. Ah, tapi aku tak peduli dengan semua itu, biarpun mereka merasa seperti itu, aku hanya berpikir kenapa aku berada di tempat ini.
Pikiranku pun mulai buyar dengan pemandangan baru yang ada di depanku, meski berada agak jauh, tepatnya di bawah pohon yang entah aku tak tahu nama pohon itu, yang jelas pohon itu tak begitu tinggi namun rimbun dan bisa sedikit menutupi apa yang ada di bawahnya. Ya, sepasang yang entah sejak kapan dan dari mana datangnya, yang ku lihat mereka sudah ada di bawah pohon itu. Dengan sedikti penasaran, aku mulai memperhatikan sepasang remaja itu, toh aku duluan yang berada di sini, dalam pikiranku. Tak lama setelah itu tangan lelaki itu di taruhnya di atas pundak sang gadis sambil perlahan menariknya agar tubuhnya bisa saling berdekatan, itu pasti niatnya dari awal. Aku memang tak mengenal mereka dan begitupun dengan mereka yang pasti tak mengenalku, tapi aktifitas mereka seakan sengaja mereka lakukan untuk mengejekku, benar-benar tamparan keras buatku. Aku seperti melihat ada tulisan yang berbunyi “emang enak sendirian, kacian deh lo” tulisan itu begitu besar terpampang di atas kepala mereka. “ANJING!!!” ucapku keras dalam hati yang sudah pasti jelas mereka tak mendengarnya.
Tapi entah kenapa mataku seperti terkunci ke arah mereka dan tak lama kemudian tangan yang tadinya berada di pundak itu bergeser pelan tapi pasti menuju ke bawah. Sedikitpun tak ada pemberontakan dari sang gadis itu, seakan apa yang di lakukan si lelaki itu, ia biarkan saja bermain sesukanya. “gila” ucapku lagi dalam hati. “apa seperti ini cara para remaja jaman sekarang berpacaran, bahkan di tempat terbuka seperti ini, bahkan lagi mereka seakan tak menghiraukan keberadaanku yang seharusnya mereka tahu karena posisi aku dan mereka saling berhadapan. Tapi entah kenapa sejak mereka disana sampai sekarang seakan mereka tak sadar dengan keberadaanku yang terus menyaksikan adegan demi adegan yang membuatku mulai gerah. Tapi aku juga tak mau ambil peduli, aku tak akan beranjak sedikitpun dari sini. Karena memang aku lebih dulu berada di sini dan seharusnya mereka yang pergi dan seharusnya lagi mereka tak melakukan itu di depan mataku. Kecuali kalau mereka benar-benar ingin mengejekku.
Aku lihat matahari semakin menurun, hari semakin gelap di buatnya tapi remaja itu masih saja berada disana, bahkan sepertinya mereka semakin kesetanan. Adegan mereka semakin berani. Tangan mereka saling bergerak layaknya ular yang mencari celah-celah untuk sembunyi. Tak sampai dua menit, tangan mereka sudah hilang lenyap dari pandanganku. Adegan yang membuat aku semakin gerah dan harus melakukan sesuatu karenanya. Ini sudah tak bisa di biarkan. Aku mulai marah. Aku beranjak dari posisi dudukku dan tanpa peduli apa yang akan terjadi nanti, aku hampiri mereka. Tepat beberapa langkah di depannya, dengan sekuat tenaga yang benar-benar marah aku teriak “ANJINGGG!!!! KALIAN!!!”. Teg, justru aku yang tersentak melihat tak ada sedikitpun reaksi mereka setelah aku teriaki seperti itu. Aku coba teriak kembali dengan suara yang lebih keras, namun usahaku sia-sia, mereka masih tetap dalam aktifitas yang sama. Aku mulai bingung, aku coba melangkah untuk lebih dekat dengan mereka dan mencoba melambaikan tangan di depan wajah mereka. “Tak mungkin cinta membuat mereka sebuta ini, ini tak mungkin” ucapku berkali-kali dengan perasaan hatiku yang benar-benar bingung. Lalu aku melihat ke arah kedua tanganku, mencari apa sebenarnya yang salah dengan ku karena aku yakin kesalahan bukan ada pada mereka, tapi ada pada diriku. Aku buang jauh-jauh pikiran itu, tapi semua sendi di tubuhku seakan seketika menjadi lemas dan tak mampu menopang lagi tubuhku ketika aku tak dapat menyentuh mereka dengan tanganku. “TIDAK!!!!”
Aku coba menenangkan diri, aku sudah tak menghiraukan lagi apa yang kini di perbuat sepasang remaja itu. Aku berjalan gontai kembali ke tempat dimana aku duduk tadi, aku berpikir terus untuk mencari jawabannya karena aku benar-benar tak ingat apa yang terjadi sebelum aku tiba-tiba sadar berada disini.
Tiba-tiba ada sebuah cahaya putih yang melesat kencang dari atas dan jatuh tepat menghantam tubuhku yang membuat tubuhku terpental kebelakang hingga rasanya aku menembus batu besar tempat sandaranku duduk tadi dan seketika aku tak melihat apa-apa sampai aku tersentak dan tersadar di tangan kiriku memegang selembar undangan yang aku coba buka kembali dan ku dapati sebuah nama wanita yang aku cintai. Seketika ingatanku kembali normal, termasuk pada sebuah ingatan yang sepertinya tak pernah aku lakukan, namun begitu segar dalam pikiranku. Aku berdiri dan berputar arah, aku melihat sepasang remaja yang sangat kaget dengan keberadaanku. Tak sampai satu menit, lalu aku kembali berputar arah dan bergegas pergi meninggalkan tempat ini dengan sebuah pertanyaan dalam hati “apa aku baru saja mengalami mati suri di taman?” aku terus berjalan “ah entahlah”.Tapi apapun itu, semua itu adalah pengalaman berharga buatku.

Minggu, 08 September 2013

TEMAN YANG HILANG (bag.5 SHJ)

            Hari-hari petama Arya kuliah di kampusnya yang baru masih tak banyak yang ia kenal selain Heru yang juga kuliah disana, di sebuah Universitas Negeri di Jogjakarta. Beberapa minggu bahkan bulan berlalu ia kuliah  disana tapi masih sama tidak ada perubahan yang berarti, masih tetap rutin dengan aktifitas yang monoton, hanya pergi ke kampus lalu pulang, seperti itu seterusnya selama beberapa bulan.
            Hingga di suatu hari saat ia sedang asik di kantin sendiri, ia melihat sosok seorang lelaki yang tak asing baginya. Lama ia memperhatikan lelaki itu, lelaki yang sedang di kelilingi tiga cewek centil menggodanya. “kok kayak si Dimas ya?” ia berusaha mengingat-ingat dengan jelas dulu memang Dimas sempat bilang kalau dirinya akan pindah ke Jogjakarta waktu kelas 3 SMP. Dan sejak itu mereka tak saling memberi kabar. Arya mulai yakin ketika mendengar salah satu cewek itu memanggil nama Dimas. Ia mencoba mendekatinya yang entah masih ingat dengan dirinya atau tidak, karena memang penampilan Arya tak seperti waktu SMP dulu.  Dengan sedikit ragu Arya memanggilnya yang sedang asik bercanda dengan tiga cewek tadi. “Dimas”. Dimas hanya menoleh heran dengan lelaki yang memanggil dirinya, begitu juga dengan tiga cewek itu. “bener Dimas kan?” sekali lagi Arya berkata kepadanya untuk meyakinkan.
“iya bener, kamu siapa ya?” Dimas balik bertanya dengan heran dan mengingat-ingat siapa lelaki yang ada di depannya.
            “gua Arya, teman lo waktu SMP dulu”
            “Arya” Dimas mengerutkan dahi mengingat nama itu. Seketika wajah itu berubah namun sedikit ragu. “Arya yang culun yang pake kaca mata itu?” akhirnya Dimas ingat dengan jelas si Arya yang memang sudah berubah penampilannya.
            “yup bener” jawab Arya singkat dan tersenyum.
            “kenapa lo bisa di sini? Udah gitu, penampilan lo juga berubah nggak kayak dulu yang culun pake kaca mata gitu” Tanya Dimas heran melihat Arya yang ada di depannya. Sampai Dimas tak percaya dengan apa yang di lihat di depan matanya. Bukan karena Arya ada di hadapannya, tapi lebih karena penampilannya yang memang seratus delapan puluh derajat beda.
“gua di sini kuliah lah, bukan cari cewek kayak lo. dan soal kaca mata, panjang ceritanya, kapan-kapan aja gua ceritain”
            “kuliah disini? yang bener? ni udah semester lima, masak kita baru ketemu sekarang?” lagi-lagi Dimas tak percaya dengan apa yang di dengarkan.
            “ya jelas kita baru aja ketemu sekarang, orang gua baru aja pindah di semester ni”
             “kenapa?”
             “ada masalah di kampus sebelumnya”
             “hebat” Dimas bertepuk tangan salut pada Arya.
“kok hebat? hebat kenapa?” Arya mengerutkan wajah heran dengan tingkah Dimas yang tiba-tiba bertepuk tangan.
            “iya hebat. waktu SMP nggak pernah sekali pun bikin masalah, apalagi dapet masalah, sekarang begitu kuliah langsung dapet masalah ampe pindah segala”
            “kami pergi dulu ya Dim” cewek-cewek itu yang sudah merasa di cuekin oleh Dimas langsung pamitan pergi.
            “oke deh”
            “dadaagh Dimas” ucap mereka serempak yang di baut semanja mungkin.
            “ternyata aji mumpung lo masih lo pake ya buat gebet cewek-cewek gatel kaya mereka? Heran gua dari dulu masih aja lo kayak gitu”
             “masih dong, lagian mereka sendiri yang deketin gua, secara kucing di kasih ikan, mana nolak, ya nggak?” Dimas tersenyum.
              “terserah lah” ucapnya datar seakan tak mau ambil pusing dengan apa yang di lakukan temannya yang sudah sejak kecil ia tahu sifatnya.
              “cerita dong kenapa bisa kuliah disini”
             udah lah nggak penting juga gua cerita
             “oh gitu ya? trus kenapa nggak kasih kabar gua?”
              “la emang gua tau keberadaan lo, no telepon aja nggak punya, salah sendiri nggak kasih kabar”
“iya iya sorry. maen kerumah gua yuk”
Arya tak lansung menjawabnya, dari raut wajahnya ia sedang memikirkan antara menerima atau menolak ajakan Dimas, karena ia sebenarnya sudah ada janji dengan Heru.
“udah nggak usah mikir. udah nggak ada jam kuliah juga kan?” serobotnya setelah melihat Arya terlalu lama berfikir.
Tanpa sempat menolak akhirnya Arya pergi juga ke rumah Dimas yang baru saja bertemu di kantin. Setelah di tempat parkir, setelah melihat mobil yang di pakai Dimas itu seakan memberi penjelasan yang jelas kenapa cewek-cewek tadi nempel terus dengan Dimas. Sebuah mobil Honda Jaz putih dengan modifikasi dan airbrush yang elegan terparkir mentereng di antara mobil-mobil yang lain. Jelas cewek mana yang tak akan tertarik dengan Dimas, kalaupun ada mungkin cewek itu baru turun dari planet krypton yang tak butuh kendaraan seperti itu.
“pantesan aja cewek-cewek pada nempel gitu” ucap Arya yang sedari tadi melihat semua sudut mobil Dimas sebelum akhirnya ia masuk kedalam yang langsung di sambut dengan hawa dingin bercampur aroma parfum mobil yang lembut.
            “ya jelas lah. Dimas” Dimas dengan nada sombongnya yang tak ketulungan dari kecil.
            Sepanjang jalan mereka asik mengobrol tentang masa lalu, seakan reuni ini memutar kembali kenangan-kenagan di masa SMP dulu. Walau hanya berdua saja namun suasananya terasa satu kelas ada di situ. Memang di waktu SMP mereka adalah teman dekat sekaligus tetangga sebelah rumah. kemana-mana mereka selalu berdua meski sifat mereka berlainan dan sebelum akhirnya Dimas pindah ke jogjakarta.
            Hari itu adalah hari yang tidak disangka-sangka bagi meraka, setelah sekian lama terpisah tanpa komunikasi lagi akhirnya bertemu lagi di kota itu, di kampus yang sama pula. Seakan teman yang hilang telah kembali lagi.
            “gimana ni kabar teman-teman SMP sejak gua pindah?”
             “wah tenang banget” wajahnya seperti lega “pokoknya damai, tentram, nggak ada keributan lagi” ucapnya tersenyum menyindir Dimas yang dijuluki sebagai troble maker di sekolahnanya.
            “sial lo. lo kata gua biang keributan?” Dimas menyangkal.
            “ya begitulah kira-kira” Arya tersenyum lagi.
            “iya iya deh” Dimas agak sinis mengakui “o ya gimana bu Wati sekarang?
            ”bu Wati yang gendut  itu? Terakhir liat dia masih aja gendut. o ya lo paling suka kan ngerjain dia?”
            Dimas tertawa lebar mengingat saat-saat masih SMP, saat tiap hari selalu mengerjain bu Wati wali kelasnya itu. Bagi dia tiada hari tanpa mengerjain bu Wati yang galak, hingga tidak terhitung lagi sudah berapa kali Dimas kena hukuman dari bu Wati mulai dari lari keliling lapangan, ngepel kamar mandi atau berdiri di depan kelas dengan kaki kiri di lipat keatas dan tangan kanan memegang telinga kiri, tapi tetap saja dia tak jera untuk mengerjai bu Wati. “gatel tangan gua kalo nggak ngerjain dia” Dimas melanjutkan tertawanya membuat Arya juga ikut tertawa kecil. “o ya trus gimana tu si, emm siapa tu namanya yang lo taksir dulu?” Dimas melanjutkan.
            “Devi”
            “iya si Devi, bukannya waktu gua mau pindah lo punya rencana buat nembak dia?”
             Arya tak menjawab, malah sinar wajahnya tiba-tiba mendadak perlahan meredup mendengar pertanyaan Dimas tentang masalalu itu, tentang kejadian yang membuatnya malu yang tidak terlupakan sampai ia beranjak dewasa.
            “kenapa lo Ar?” Dimas yang sadar dengan perubahan di wajah Arya. “ada yang salah ya ma pertanyaan gua?” Dimas yang sibuk menyetir menoleh sekali lagi ke arah Arya yang masih terdiam dari tadi “gua tau ni, pasti di tolak kan?” ucap sok tahu Dimas dan akhirnya tertawa keras walau tak tahu itu benar atau salah.
            Arya dengan wajah murungnya terpaksa menjawab pertanyaan itu. “sebenernya gua belum sempet nembak dia Dim, waktu itu gua…” Arya berhenti bicara sejenak
            “kenapa Ar?” Tanya Dimas mulai penasaran.
            “waktu itu gua…” dan pikirannya melayang kembali ke masa itu.
            “Aryaa!!!” panggil bu Wati. “sedang sibuk nulis apa kamu?” bentak bu Wati yang merasa Arya cuekin ketika sedang menjelaskan pelajarannya.
             nggak nulis apa-apa kok bu” jawabnya gemetar sambil ia tutup perlahan buku di depannya itu.
             “ibu perhatikan tadi kamu asik nulis sesuatu waktu ibu menerangkan, sini coba lihat?” ibu Wati mendekatinya dengan wajah garang yang menbuat Arya semakin gemetar ketakutan dan mengambil buku tulis di depannya. Ia  mulai takut bercampur malu kalau puisi itu sampai di baca depan teman-teman.
            “apa ini Arya?” tanya bu Wati dengan nada marah setelah melihat tulisan itu. “sini maju kedepan”
            Denagn gugup ia melangkah berjalan kedepan dengan kepala menunduk dan berhenti tepat disamping bu Wati.
            “cepat kamu baca ini di depan teman-teman kamu” bu Wati memberikan buku itu kepadanya.
            Dengan keadaan masih tertunduk ia mencoba melirik ke arah teman-teman yang terdiam, mungkin juga takut melihat bu Wati yang sedang marah kepadanya.
Dengan terbata-bata ia mulai membaca tulisannya sendiri di buku itu. Baru saja bebera bait ia baca, satu demi satu teman-temannya mulai melepaskan tawanya karena sudah tak tahan untuk menahan tawanya setelah  mendengar puisi yang ia bacakan di depan kelas. Dalam beberapa menit saja, semua yang ada di kelas akhirnya tertawa keras menertawainya, mereka sudah tak perduli dengan wajah bu Wati yang masih garang seperti macan ingin menangkap mangsanya.
“hahahaha…” tawa lepas Dimas juga menertawainya yang sedari tadi mendengarkan cerita Arya.untung gua nggak ada disana, coba kalo ada, gua anak yang paling keras ketawa” Dimas masih meneruskan tawanya dan semakin keras dari sebelumnya, seakan itu adalah lelucon paling lucu dalam hidupnya. “lucu..lucu”
            “lucu apanya?” tanya Arya yang wajah bertolak belakang dengan wajah Dimas.
            “lucu aja, ada anak SMP mau nembak cewek pake puisi. lo kira anak SMP bisa klepek-klepek cuma dengan puisi? yang ada malah muntah kali Ar. malu-maluin aja lo” Dimas masih saja tak berhenti tertawa. “lagian lo tu ada-ada aja ya, nembak cewek pake puisi, cemen banget tau, nggak gentle, lebay, kemayu kata orang jawa”
             “udah deh jangan tertawa mulu. suatu saat lo yang ngalamin kayak gitu, baru tau rasa lo”
            “apa?” Dimas seolah-olah kaget “gua nembak cewek pake puisi? sorry ya, anti, nggak bakalan Ar” dengan wajah sombong seakan-akan tak akan pernah terjadi “gua masih punya harga diri buat nggak nglakuin hal yang malu-maluin kayak gitu”.
            “liat aja ntar, kalo itu terjadi, gua yang akan tertawa paling keras di depan lo” ucapnya seperti mendoakan hal itu akan terjadi kelak.
            “oke kita liat aja ntar” dengan nada optimis tak akan pernah terjadi.
            Mereka terdiam sesaat dan sampailah mereka di depan halaman rumah Dimas.
            “turun yuk” ajak Dimas.
            Mereka berjalan ke dalam rumah besar itu. Tapi nampak terlihat sepi ketika mereka sampai di dalam. Orang tua Dimas sibuk bekerja semua dan Dimas adalah anak semata wayangnya. Makanya Dimas sedikit sombong karena selalu dimanja dengan kemewahan orang tuanya sejak kecil. “bonyok lo kerja semua Dim?” Tanya Arya yang sedari tadi clingak-clinguk kanan kiri mencari mahkluk hidup selain mereka berdua. “trus rumah segede gini cuma di tempatin bertiga?” lanjut Arya yang sudah tahu kalau Dimas anak semata wayang. Namun belum sempat di jawab oleh Dimas, tiba-tiba mbok Jum orang yang membantu mengurus rumah saat di tinggal orang tua Dimas menyapa dari ruang tivi yang mereka lintasi untuk sampai ke kamar Dimas.
            Kini obrolan yang tadi di mobil mereka ungsikan ke kamar Dimas. Dengan berteman beberapa makanan kecil dan juga minuman yang baru saja di antar oleh mbok Jum, mereka semakin rileks untuk bercerita lagi mengulas masa-masa kecil sewaktu masih bersama.
            Habisnya satu toples makanan berakhir juga cerita masa kecil mereka. Namun tetap saja berlanjut ke pertanyaan Dimas tentang bagaimana ceritanya Arya bisa sampai di Jogakarta dan yang paling utama adalah penasarannya Dimas oleh penampilan Arya yang sekarang. Akhirnya Arya menjawab semua pertanyaan Dimas yang menjadi teka-teki besar dalam otaknya. Jawaban yang membuat Dimas hanya bisa melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan Arya, namun itu terjadi.
            “lo udah kemana aja selama di sini” Tanya Dimas dan kini jawaban yang membuat Dimas tertawa keras heran dengan temannya yang satu ini, ternyata perubahan hanya dalam penampilannya saja tapi sifatnya masih saja seperti dulu. “kirain lo berubah total Ar” lanjut Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya tanda heran.
            “gua emang nggak begitu suka keramaian Dim” jawabnya tak peduli dengan sindiran yang merambat lewat tawa keras Dimas tadi. Pertanyaan yang sudah ia antipasti sebelumnya karena ia tahu pasti pertanyaan itu akan keluar dari mulut Dimas. Ajakan dan bujuk rayu Dimas pun tak mengubah kemalasan Arya untuk pergi ke tempat keramaian apalagi clubing. Entah kenapa Arya tak pernah suka ke tempat-tempat seperti itu, ia justru suka ke tempat-tempat yang sepi, mungkin tempat seperti itu Arya lebih bisa melepaskan kepenatan dan mendapatkan ketenangan. Tempat seperti itu juga yang membuat Arya menjadi lebih imajinatif tuk di tuangkan dalam bentuk puisi.
            “ah payah lo Ar”
            Namun Arya hanya bisa tersenyum saja melihat ekspresi di wajah temannya itu yang sudah pasrah tak tahu harus mengatakan apa lagi dan berakhir dengan mengganti dengan topik lain yang lebih segar.
Hari sudah menjelang sore, mereka masih saja asik ngobrol di kamar Dimas walau makanan di toples sudah habis semua. Maklum sudah lama mereka tidak bertemu jadi ada-ada saja hal yang mereka obrolin, mulai dari hal sepele, bercanda sampai yang serius juga mereka obrolkan bak ibu-ibu sedang ngerumpi di acara arisan.
            Lirih suara mobil terdengar dari kejauhan dan semakin keras sampai suara itu mati tepat di halaman rumah Dimas yang mengundang tanya dalam hati Arya. “bonyok lo pulang Dim?” Tanya Arya menebak.
“bukan. cuma nyokap gua aja. Dan bokap masih ntar”
            “oh gitu ya, kirain bareng” Arya beranjak dari tempatnya. “anterin gua pulang Dim ,udah sore ni” lalu pintanya.
            “ntar napa, baru aja jam enam, udah mau balik kandang aja lo Ar. Masak kalah ma banci” sindir Dimas. “banci aja jam segini baru keluar” lanjut Dimas.
“ah bodo. Emang gua pikirin. Udah yuk ah, gua juga pengen mampir ke toko buku bentar, ada yang harus gua beli”
Dimas beranjak dari posisinya yang sudah nyaman dan terpaksa mengantar temannya pulang.
ΩΩΩΩΩ

Kamis, 05 September 2013

sembunyikan aku...

jika hangat mentari sudah tak mau berteman
ada kalanya aku harus pergi
hanya untuk aku bersembunyi
hanya untuk aku bertahan saja
dan hanya untuk berlindung dari apa yang menyakitiku
bukan karna aku lemah
bukan pula karna aku pengecut
aku hanya ingin bersembunyi saja
menikmati sisa api yang hampir mati

(sembunyikan aku sembunyikan aku)

jika malam lebih bisa mengerti aku
aku ingin terus sembunyi di balik gelapnya
tak peduli, walau seribu nyanyian sunyi terus mengharu biru
tak peduli, walau beribu tarian dingin terus menciutkan aku
aku tak peduli
aku ingin tetap sembunyi
aku ingin tetap sembunyi

(sembunyikan aku sembunyikan aku)

kadang nyanyian demi nyanyian ajakku menari
kadang rindu demi rindu ajakku kembali
namun luka ini, ajakku terus sembunyi
sembunyi dari apa yang menyakitiku
dari apa yang tak pernah mengerti aku

(sembunyikan aku sembunyikan aku)

biar saja aku nikmati sepi sendiri
biar saja aku hilang
biar aku mengerti apa arti kasih
yang dulu slalu hadir serupa warna
yang dulu terhapus oleh hujan air mata...

Rabu, 04 September 2013

DI BAWAH LANGIT MALAM (bag.4 SHJ)




Jingga buru-buru masuk rumah setelah turun dari sepedanya dan langsung menuju kamar adiknya. Ibunya sudah menunggu cemas dari tadi. Menunggu Jingga yang sedari tadi keluar membeli obat buat adiknya.
“nih bu obatnya”. Jingga memberikan bungkusan plastik yang berisi obat-obatan tuk mengobati adiknya yang baru saja terjatuh dari sepeda.
Bayu merintih kesakitan ketika ibunya mulai mengusap luka di lututnya dengan betadine. Rasa perihnya membuat Bayu tak tahan dan menangis tersedu.
“makanya kalau naek sepeda hati-hati to” tegur ibunya dan terus mengusap luka Bayu dengan kapas.
Jingga yang melihat adiknya menahan rasa perih pun ikut meringis seakan ikut merasakan rasa perih dari luka yang terkena betadine. Dan sesekali Bayu menjerit kesakitan saat dia tak tahan menahan perihnya. “pelan-pelan bu”. Tapi ibunya tak peduli dengan rintihan Bayu, ibunya tetap saja mengusap luka Bayu dengan obat tadi. Jingga yang merasa kasihan melihat adiknya, akhirnya tak tahan dan keluar meninggalkan mereka. Biar ibunya saja yang mengurusi Bayu.
Jingga menuju ke kamarnya untuk istirahat. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di kasur yang penuh boneka koleksinya, tiba-tiba handphone yang tergeletak di sebelahnya, berdering berulang-ulang. Di lihatnya nama Ayu yang tertera di panggilan masuk. Dengan rasa malas ia terima panggilan dari Ayu yang ia sudah tahu apa maksud dari panggilan itu. “ya halo Yu” nadanya datar tak semangat.
“udah siap to say? aku udah siap meluncur kesitu nih. pokoknya ndak ada alasan lagi tiba-tiba ndak bisa. Nanti aku sampai situ, kamu harus sudah siap ya. daa daa” kata-katanya memaksa dan tak memberi Jingga kesempatan untuk bicara.
“yu halo Yu, Ayu”
            Dan Ayu sudah keburu menutup teleponya agar tidak ada alasan lagi yang akan keluar dari mulut Jingga.
“yah terpaksa deh nganterin Ayu pergi” gerutu Jingga sambil ia melempar handphonenya ke kasur.
Dengan dandanan yang sederhana tapi masih tetap terlihat wajahnya yang manis, ia menunggu di ruang tamu sambil menonton televisi bersama Bayu yang masih kesakitan.
“mau pergi ya kak?”
“iya ni. masih sakit ndak lukanya?”
“masih sedikit ni kak. oya. mau pergi sama siapa kak? pacarnya ya? dandannya cantik banget. Hayo ngaku aja kak” Bayu sedikit tersenyum, telunjuknya yang mungil di arahkannya ke wajah Jingga.
“iihh. apaan sih dek. kakak tu perginya sama Ayu”
“si miss ceriwis itu kak?
“hus. ndak boleh gitu” larang Jingga kepada Bayu. “tuh orangnya sudah dateng” setelah Jingga mendengar suara mobil Ayu dari luar.
“uups” Bayu sambil membungkam mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.
“hai semuanya” suara Ayu yang sudah berada di ruangan itu dan berjalan mendekati mereka. “udah siap kan Jing”
“don’t call me like that, okey? Please call my complete name, Jingga” ucap Jingga cepat meralat dengan nada yang menekan jelas.
“iya iya nona Jinggaaaaa” suara Ayu pun di tekan agak panjang memperjelas pengucapan nama Jingga. “udah yuk kita berangkat Jing. eh salah, Jingga” ia tersenyum “keburu malam ni” lanjutnya lagi.
“mau pergi kemana kak?” tanya Bayu yang ada di sebelahnya.
“pergi maen sayang” tangan Ayu mencubit gemes kedua pipi Bayu yang seperti bakpao menempel di wajah Bayu. “Bayu mau ikut?”
ndak ah kak. lagian kaki Bayu lagi sakit nih”
“aduh kacian” ucapnya di buat manja “emang kenapa to kaki kamu?” Ayu melihat lukanya.
“jatuh kak tadi. oleh-olehnya aja kak. hehehe..” ucap Bayu cepat.
“iya nanti kak Ayu beliin deh, Bayu mau apa?”
Walaupun ceriwis dan menyebalkan, Ayu adalah teman yang baik dan peduli dengan keluarga Jingga, terutama kepada Bayu, walau kadang juga suka bikin Jingga kesal oleh ulah dan tingkah laku Ayu.
“ayo ah. katanya keburu malem?” ajak Jingga yang sebenernya males untuk pergi.
“kak Ayu pergi dulu ya sayang” sekali lagi ia mencubit gemes pipi Bayu yang tembem.
Di dalam mobil putih, berteman lagu-lagu pop dari mp3 mobilnya dan di payungi warna-warni lampu kota yang mulai menyala. Mobil itu tak melaju kencang, seakan sayang melewatkan tiap jengkal jalan yang terlewati. Suasana sore dengan hiruk pikuk lalu lalang orang dengan berbagai kendaraan dan aktifitas di kota itu yang memang sayang jika di lewatkan begitu saja.
“memang sebenernya kita mau kemana to Yu?”
“ke acara ulang tahun temanku” Ayu tersenyum karena telah merasa membohongi Jingga. “anak orang kaya lo, pasti temennya juga kaya-kaya dan cakep-cakep” lanjutnya berusaha menjelaskan agar Jingga tak marah.
“ulang tahun?” ucap Jingga dengan nada tinggi didalam mobil.
Ayu masih senyum-senyum mendengar ucapan Jingga, karena Ayu hafal betul kalau temannya yang satu ini paling malas pergi ke pesta-pesta seperti itu dan pasti akan menolak jika Jingga tau dari awal. Makanya Ayu terpaksa membohongi Jingga untuk menemaninya.
“kamu tau kan aku paling males pergi ke pesta kayak begituan Yu
“sekali-kali ndak apa-apa to? daripada di rumah terus ndak tau luasnya dunia, bete tau”
“itu kalo kamu, aku ndak tuh” elaknya ketus.
Tapi mau bagaimana lagi, Jingga tidak bisa apa-apa, dan ia tak mungkin meminta Ayu untuk menurunkannya dijalan, apalagi memintanya tuk memutar arah mobilnya. Dengan terpaksa Jingga pasrah di ajak Ayu ke pesta itu.
ӝӝӝӝӝ

Suasana meriah dengan hiruk pikuk orang-orang disana, ada yang bercanda dengan pasangannya, tertawa dalam kerumunan banyak orang, ada yang sedang asik mencicipi sana-sini setiap hidangan yang sudsh tersedia. Suara gaduh musik bercampur kerlap-kerlip lampu itu membuat kepala Jingga pusing dan memilih untuk duduk di bangku taman yang berada agak jauh dari sana.
“ayo to ikut gabung disana” Ayu menyeret kedua tangan Jingga dengan kedua tangannya. “cowoknya cakep-cakep loh” rayunya lagi. Namun tak membaut Jingga merasa tertarik untuk ikut turun ke dalam pesta dan tetap memilih duduk menyendiri di bangku taman. “ya udah kalo gitu” Ayu melepas tangan Jingga dan berlalu begitu saja lalu hilang dalam kerumunan.
Jingga masih tenang duduk di bangku taman manikmati kesendirian di tengah riuhnya pesta, memandang langit cerah dengan bintang dan bulan yang bersembunyi di balik tipisnya awan. Di bawah langit malam itu, justru ia merasakan damai, seakan tidak ada siapapun di sekitarnya, bahkan seketika riuhnya acara itu hilang berganti sunyi yang ia rasa.
Sesekali ia memejamkan mata, menghirup nafas dalam-dalam, ia mulai merasakan setiap hela udara yang masuk lewat hidungnya, semakin tenang dan damai. Tak ada siapapun disana, hanya  sepotong kue dan segelas minuman menemani kesendiriannya di bawah langit malam.
ӝӝӝӝӝ

Dengan terpaan cahaya lampu yang membuat nampak jelas wajah seorang lelaki berjalan menghampiri Jingga yang sedang asik menikmati malam di bangku taman sendiri. Dengan langkah pasti, lelaki itu mendekati Jingga karena dari langkahnya yang percaya diri, lelaki itu sepertinya mengenal gadis yang sedang duduk di bangku taman sendirian. Lelaki itu menyapa begitu ia berjarak beberapa langkah dari Jingga. Sapaan yang membuat Jingga sedikit kaget.
Ia berusaha melihat lelaki itu lebih jelas dan terus mengingatnya.“eh kamu to. ngagetin aja kamu”
“makanya jangan melamun sendirian” Dimas ikut duduk di sebelah Jingga tanpa disuruh. “tapi ngomong-ngomong kenapa disini sendirian? nggak ikut gabung sama mereka?”
“lebih suka sendirian disini, lebih nyaman, lebih tenang mumpung langit malamnya lagi cerah”
“oh gitu ya? O ya kamu kenal juga sama yang ulang tahun ini?”
“ndak sih, cuma tadi di ajak sama Ayu, tapi lebih tepatnya di bohongi tadi. Katanya sih temen SMU nya, la kamu kenal juga sama yang punya acara ini? Atau temen sekolahnya juga?”
nggak kok, cuma kenal aja”
Tanpa sengaja mata Dimas terpana melihat wajah Jingga yang terkena sinar bulan. “ternyata cantik juga si Jingga, apalagi kalau rambutnya terurai begini” ucap Dimas dalam hati yang baru menyadari kecantikan Jingga malam itu juga.
“ndak ikut gabung sama mereka?”
Dimas hanya terdiam saja tanpa menjawab pertanyaan Jingga, seperti sudah terhipnotis oleh kecantikan Jingga saat itu.
“heh” tangan Jingga mendorong bahu Dimas
“sorry sorry. kenapa tadi?”
“malah kamu yang melamun. tadi aku tanya, ndak gabung sama mereka?”
“oh itu, nggak ah males, pengen di sini juga”
“kamu ikut-ikutan saja”
“emang bener kok. udah bosen dari tadi disana, sekarang pengen disini aja. kalo kamu kenapa males gabung sama mereka?”
“aku sebenernya ndak suka dengan acara-acara kayak gini, buang waktu saja, pemborosan, ndak penting”
“ya namanya juga anak orang kaya, mereka cuma tinggal minta. Mereka nggak peduli dengan orang tuanya, mereka hanya memanfaatkan aji mumpung, mumpung jadi anak orang kaya, nggak peduli gimana susahnya orang tuanya banting tulang cari duit, coba kalau mereka udah merasakan cari duit sendiri, mungkin mereka nggak akan seboros ini”
“yup bener juga kamu” Jingga melihat Dimas “tapi bukannya kamu juga sama seperti mereka?” lanjut Jingga berkata dalam hati yang sudah tahu sedikit tentang Dimas dari omongan mulut ke mulut di kampus.
“hayo. ketahuan mojok berdua” Ayu mengagetkan mereka berdua yang tiba-tiba sudah di depan mereka “pantes tadi ndak mau di ajak gabung, ternyata asik berduaan disini”
“apa sih Yu” ucap Jingga yang wajahnya mulai memerah.
“sudah ndak apa-apa, jangan malu gitu” lalu Ayu mengalihkan pandangnya ke arah Dimas dengan heran “kamu disini juga Dim?”
“iya dong. Dimas” Dimas sedikit menyombongkan diri.
 “kalo gitu di lanjut aja deh takut ganggu, dadaagh” ucap Ayu langsung meninggalkan mereka untuk memberi kesempatan berduaan lagi.
Tangan Jingga reflek menarik tangan Ayu untuk melarang pergi lagi. Jingga ingin di temani Ayu karena sudah terlanjur merasa malu. Tapi Ayu tetap saja memaksa untuk pergi tanpa mengindahkan permintaan temannya.
Jarang-jarang Ayu melihat temannya itu mau mengobrol dengan cowok berlama-lama seperti itu. Apalagi dengan Dimas yang gayanya terkenal sok di kampus, walau memang di kampus banyak cewek-cewek yang mendekati dia karena wajahnya yang cakep dan kaya. “udah kalian bedua aja disini” Ayu memaksa melepaskan tangannya dari genggaman Jingga “aku mau ambil minuman dulu” alasan Ayu dan bergegas ambil langkah seribu.
Yu, Yu, Ayu” pangil Jingga.
“udah biarin aja lah. kita malah bisa berduaan lagi”. Ucap Dimas berharap.
“ah apaan sih kamu” wajah Jingga semakin merah karena perkataan Dimas tadi.
Dimas tersenyum melihat Jingga yang merasa malu. “eh kita tadi sampai mana?” tanya Dimas yang berharap melanjutkan obrolan tadi.
Gara-gara ucapan Ayu tadi, Jingga justru merasa canggung mengobrol berduaan dengan Dimas, seakan ada sesuatu yang mengganggu pikiran Jingga seperti tiba-tiba ditelanjangi di muka umum, yang ada hanya rasa malu.
Jingga tak menjawab pertanyaan Dimas tadi, ia ingin mengakhiri obrolannya dan lekas pergi dari bangku taman meninggalkan Dimas sendiri.
“Jingga” panggil Dimas lirih
“aku juga mau ambil minuman dulu ya” Jingga berdiri dan berjalan tergesa-gesa.
Dimas masih tersenyum mengamati Jingga yang mulai salah tingkah di hadapanya. Seperti ada sesuatu dalam benak Dimas.
Jingga terlihat sibuk mencari Ayu yang hilang di tengah banyak orang.
Ayu. pulang yuk” ajak Jingga yang sudah menemukan Ayu.
“bentar lagi Ga, nanggung ni lagi asik” jawab Ayu yang tak berhenti mengikuti alunan musik yang terdengar.
“udah malem ni” bujuk Jingga “ndak enak pulang terlalu malem”
“bentar lagi ya”
“kalo ndak mau aku pulang sendiri ni, biar kamu yang di omelin ibu karena ndak tanggung jawab” ancam Jingga yang sebenarnya ia pun tak akan berani melakukan itu.
“iya deh kita pulang sekarang” ucap Ayu pasrah.
ӝӝӝӝӝ

Malam mulai larut tapi suasana jalan masih terlihat ramai, lalu lalang kendaraan seakan membuat kota itu semakin hidup di malam hari. Lampu-lampu kota, traffic light dan sinar bulan pun ikut mewarnai malam panjang.
Tiba-tiba mobil Ayu mulai menepi di pinggir jalan tepat di sebelah penjual martabak untuk menepati janjinya kepada Bayu.
“kok berhenti Yu?” tanya Jingga yang tidak tahu untuk apa Ayu memberhentikan mobilnya.
“beli oleh-oleh dulu buat Bayu”
“udah ndak usah Yu”
“udah ndak apa-apa
“udah malem juga Yu, bisa tambah gendut dia ntar”
“udah biarin saja, udah janji juga sama Bayu”
“ya udah lah terserah kamu saja”
Mereka bermain kata berantai di dalam mobil. Permainan yang hanya mereka berdua yang memilikinya. Permainan yang mengharuskan mereka terus menerus mengulang-ulang kata yang sama sampai salah satu dari mereka tak bisa meneruskan. Dan dialah yang kalah.
“by the way kok tadi bisa ngobrol sama Dimas? gimana ceritanya tu?” setelah Ayu memesan.
“ndak tau, tiba-tiba saja dia ada disana”
“hayo ngobrolin apa tadi?”
“bukan apa-apa kok cuma ngobrol biasa saja”
 “tapi kayaknya asik banget. mesra lagi..cie cie..” bahu Ayu sambil menyenggol bahu Jingga.
 “apa sih Yu”
“udah sikat aja, mumpung kamu belum punya cowok kan?”
“mulai ngawur deh ngomongnya”
“ngawur gimana? Dia kaya loh. cakep lagi. udah gitu jadi idola para cewek kampus tu”
 “nah tu dia”
“nah tu dia kenapa? Tu kan berharap” serobot Ayu tiba-tiba merasa penasaran.
“makanya dengerin dulu orang mau ngomong. nah itu dia, karena jadi idola para cewek malah jadi makan hati terus kalo pacaran sama dia”
“bukannya malah bangga bisa dapetin sang idola?”
“itu kalo kamu. ya udah kamu saja ikut ngejar-ngejar dia, siapa tau dia milih kamu dan buat kamu bangga”
“tapi kan..” tiba-tiba Ayu berhenti bicara karena tak tau mau bicara apa.
“tapi kan apa?”
 “tapi kan kayaknya dia suka kamu”
“sok tau kamu, yang cantik-cantik aja banyak yang ngejar-ngejar dia. udah ah ndak usah bahas itu, bahas yang laen saja” Jingga mulai kesal karena merasa di pojokin Ayu.
            “kenapa? malu ya? cie..” sekali lagi bahu Ayu menyenggol bahu Jingga.
            “udah deh Yu” Jingga kesal. “tu udah jadi pesanannya”
            Ayu hanya bisa tersenyum dan membayar pesanannya yang di pesan tadi.
ӝӝӝӝӝ

            Jam sepuluh kurang mereka sudah berada di depan rumah Jingga. Dari luar tampak lampu di ruang tamu masih menyala. Dan Bayu masih terjaga di depan televisi bersama ibunya. Mungkin Bayu sengaja belum tidur tuk menuggu oleh-oleh yang sudah Ayu janjikan. Karena dia tak pernah ingkar janji kepada Bayu adik satu-satunya Jingga. Ayu peduli sekali dengan Bayu setelah di tinggal ayahnya satu tahun lalu. Ayu juga sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri.
            “Assalamualaikum semuanya” sapa Ayu dari jauh denga membawa bungkusan di tangannya.
            “Waalaikumsalam” jawab Bayu dan ibunya serempak walau tanpa aba-aba sambil menoleh ke arah suara itu berasal.
            “lagi nonton apa nih? asik bener kelihatannya? Sampai malem gini belum tidur”. Ayu ikut duduk gabung dengan mereka yang asik dengan acara di televisi. Tapi Jingga justru langsung pergi ke kamarnya tanpa berkata apa-apa, mungkin kesal dengan Ayu yang membohongi dan memojokkannya tadi.
            “habis filmnya bagus kak Ayu”
“oh gitu ya. oya ni oleh-olehnya, sampai hampir lupa” Ayu menyodorkan bungkusan yang tadi kepada Bayu yang duduk di sebelah kiri ibunya.
            “asik. apa ni kak? makasih ya kak” senyum Bayu seketika melengkung seperti bulan sabit tanda senang.
            “di buka saja dulu”
            “kamu itu ndak usah repot-repot terus Yu, ibu jadi ndak enak”
            “ndak apa-apa kok bu”
            “hmmm enak kak” ucap Bayu disela-sela Ayu bicara dengan ibunya Bayu.
            Ayu tersenyum melihat Bayu yang asik makan dan belepotan coklat di sekitar mulutnya. “ibu di kasih dong” suruh Ayu.
            “iya kak” jawab Bayu dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
            “memang dari mana tadi Yu?” tanya ibunya Bayu.
            “dari tempat teman yang lagi ulang tahun bu”
            “tumben Jingga mau di ajak ke acara begituan”. ucap heran ibunya Jingga yang sudah hafal betul dengan Jingga yang tak suka dengan acara-acara seperti itu.
            “Ayu paksa bu” ayu tersenyum.
            “oh gitu. pantesan”
            “ya sudah Ayu pulang dulu ya bu, takut kemaleman nyampe rumah”
            “ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalan ya”
            “makasih ya kak oleh-olehnya” ucap Bayu yang masih lahap dengan makanannya.
ΩΩΩΩΩ