Kamis, 22 Mei 2014

CINTA YANG SEMESTINYA (SHJ bag.38)




            Meski sudah mendapat penjelasan dari temanya soal cinta, hampir sebulan ternyata Arya masih merasa galau, ternyata soal cinta tak semudah membalikkan telapak tangan, bingung apa yang harus ia lakukan. Seandainya dirinya tak bertemu Senja, hatinya mungkin tak seperti itu lagi dan kepalanya di penuhi oleh bayang-banyang Jingga lagi. Begitupun dengan Jingga, hatinya terus berteriak, meronta, dan menuntut untuk memilih apa yang ia katakan dan rasakan. Namun mereka berdua sama-sama tak mampu untuk saling mengungkapkannya. Sedang perilaku Arya di depan Senja sudah mulai sedikit beda, tak sehangat dulu walau mereka masih dalam status sahabat dan perilaku Jingga terhadap Dimas juga sudah mulai beda kembali seperti dulu saat Jingga marah dengan Dimas.
Dalam satu kesempatan, mereka tanpa sengaja di pertemukan berdua. Sebuah bangku yang menghadap ke taman dan beberapa pilar besar di belakangnya, mereka duduk berdua tanpa ada siapapun disana, suasana yang justru membuat meraka merasa canggung, seakan mereka baru saja kenal satu sama lain. Sejak sapaan tadi, tak ada lagi obrolan yang terdengar dari mereka, padahal sudah berlangsung hampir lima menit.
“kenapa kamu sendirian disini Ga?”
“kamu gimana to Ar, kan tadi sudah tanya dan aku sudah jawab”
“o iya lupa. Maaf” seakan-akan pertanyaan itu ia sengaja untuk memulai pembicaraan.
“kamu aneh”
Mata mereka saling menatap hingga tajam dan menghentikan gelak tawa yang tadi sempat tercipta dan keheningan terlahir kembali.
“o iya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, sesuatu yang selalu mengganggu pikiranku”
“apa itu Ar”
“entah  harus aku mulai dari mana, yang pasti ada perasaan yang sulit aku hilangkan di hati ini karena kamu. Apalagi semenjak kehadiran Senja, perasaan itu semakin bertambah kuat, tapi bukan ke Senja, tetap ke kamu. Entah kenapa saat aku berdua dengan dia, justru yang mucul hanya bayang-banyangmu”
“kamu sudah jadian dengan dia?”
“belum Ga. Justru ini yang membuat aku nggak bisa dengan dia. Jika aku paksakan, yang ada hanya kebohongan. Dan aku putuskan untuk tetap berteman saja dengan dia. Dan satu lagi, aku mengatakan semua ini bukan berarti aku menembakmu, aku hanya mengutarakan apa yang aku rasakan yang membuatku jadi seperti ini dan nggak bermaksud untuk merebutmu dari Dimas, aku sudah putuskan sejak lama untuk mengikhlaskan kamu bersamanya. Aku harap setelah aku mengatakan semua ini, aku bisa lega, bisa lagi tersenyum melihat kalian bahagia”
“aku juga Ar, sebenarnya aku juga sayang sama kamu”
“apa karena kamu tau puisi-puisi itu milikku?”
“bukan Ar, jauh sebelum itu, bahkan sebelum aku jadian dengan Dimas, tapi akhirnya Dimas yang lebih dulu menembakku dengan puisi-puisi itu yang aku syaratkan. Dan aku ndak ingin mengingkari janjiku sendiri, siapa saja yang bisa meluluhkan hatiku dengan puisi, aku mau menerimanya. Tapi jauh kesini, ternyata aku salah, ternyata cinta bukan dari sebuah puisi, cinta itu dari hati itu sendiri. Dan hati ini lebih memilih kamu Ar. Tapi semua itu sudah terlambat, aku ndak mungkin meninggalkan Dimas, aku ndak mau menghancurkan persahabatan kalian jika aku meninggalkan dia hanya demi untuk bisa bersama kamu dan aku juga ndak mau nyakitin hati dia yang sudah mencintai aku”
“cinta memang aneh, tapi alangkah bijaknya jika kita mau berfikir apa yang terjadi setelah cinta itu tercipta. Cinta tercipta bukan untuk menyakiti hati orang lain, cinta tercipta bukan untuk menghancurkan hubungan orang lain. Dan kita tau apa yang harus kita lakukan”
“dan cinta itu anugrah yang di atas, dan Dialah yang lebih tau”
“meski kita tak bisa saling memiliki, setidaknya kita masih bisa berteman. Aku selalu berdoa agar Dimas bisa membahagiakan kamu selamanya. Aku kenal dia sudah lama, dan dia sudah berubah hanya karena kamu. Dan ijinkan aku melihat kamu kalian bahagia bersama”
Kata-kata yang membuat Jingga hanya bisa menitikan air mata, ia tak sanggup berkata-kata lagi.
Sebuah curahan hati mereka masing-masing yang berakhir dengan senyuman di wajah mereka. Senyuman yang menjadi simbol atas kelegaan hati yang bergejolak, hati yang galau. Meski mereka tak dapat bersama, paling tidak hati mereka menjadi benar-benar lega, tak ada wajah murung atau bingung, tak ada lagi beban berat yang di timbulkan karena perasaan yang terus menghantui hati meraka.
Tiba-tiba dari belakang, Senja yang ternyata sudah sedari tadi berada di balik pilar itu dan sempat mendengar semua pembicaraan tadi, berjalan mendekat ke arah Jingga dan Arya dengan berkata setelah jaraknya tak jauh dari mereka. “dan aku juga akan lebih bijak jika aku tak ikut merebut Arya dari cinta kalian. Mungkin aku bisa memiliki tubuh Arya, tapi sekarang aku tau, aku tak mungkin bisa memiliki cintanya. Dan aku juga lebih memilih persaudaraan dan persahabatan. Aku nggak mau kehilangan saudaraku lagi, aku sayang kamu adekku” lalu ia memeluk erat Jingga yang sudah menghadap ke belakang sejak mendengar suara Senja. “dan kita tetap berteman kan Ar?”
“itu pasti”
“dan aku akan menjadi yang paling bijak jika aku tak memaksakan apa yang tak ada dalam hati dan mau mengembalikan kepada yang semestinya apa yang tanpa sengaja sudah aku ambil. Kamu memang semestinya dengan Arya, dan kamu Ar, kamu yang lebih bisa membahagiakan Jingga” ucapnya juga setelah keluar dari balik pilar yang satunya lagi dan yang jelas ia juga sudah sempat mendengarkan apa yang Jingga dan Arya bicarakan.
Bukan suatu kebetulan semata jika mereka berempat di pertemukan disana dan di sadarkan oleh suatu keputusan yang bijak, tapi semua itu karena sudah ada yang mengaturnya. Suatu pertemuan yang tak pernah mereka sangka akan menjadi seperti itu akhirnya, terutama Jingga dan Arya. Keputusan untuk saling ikhlas melepas satu sama lain demi sebuah persahabatan dan tak ingin melukai hati orang lain dan mencoba lebih bijak dalam mengambil keputusan justru mampu mengembalikan apa yang semestinya ia dapatkan dan ia miliki, cinta yang semestinya.
ΩΩΩΩΩ


Sabtu, 17 Mei 2014

SIMBOL DALAM SENYUM SIMPUL

Nikmati senyum yang terlahirkan sesejuk embuN
Ubah menjadi waktu yang selalu ditunggU
Rasanya takmau  lagi menjauhkan rasa sadaR
Untaikan saja, seperti merajut mimpi bersama waktU
Lalu simpan dalam hati dengan rapi sebagai simboL

Kata-kata tak perlu lagi tertulis dengan sajaK
Untuk uraikan satu keindahan dalam senyum itU
Rangkum saja bersama hari baru yang terlahiR
Nikmati saja tiap jengkalnya keindahan yang perlahaN
Indah itu tetap ada bersama senyum simpul lagI
Alasi waktu, alasi hari, alasi asa yang tertera di jiwA

Selasa, 13 Mei 2014

POSCARD UNTUK TUHAN...

Tuhan. . . jika jalanku adalahu milikMU,maka tempatkan aku selalu di jalanMU, sesungguhnya aku lelah berada di jalan ini.
Jika ingatanku adalah milikMU, maka ingatkan aku selalu padaMU, aku tak ingin mengingat pada kelamku.
Jika hidupku adalah milikMU, maka hidupkan aku selalu mendekatimu, aku lelah hidup di busuknya dunia dan menjauhiMU, ak lelah.
Jika cintaku adalah milikMU, maka cintai aku dalam kasihMU lewat makhluk ciptaanMU.
Tuhan. . . Berikan aku sedikit kuatMU agar aku tak jadi lemah menapaki hidup yang Kau pinjamkan ini.

Kurangkai kata dalam doa,memohon padaMU dalam tangkuban kedua tangan
Ku bingkai setiap senyum di hadapMU agar Kau tau betapa aku ingin slalu tersenyum
Ku tulis surat ini dan ku titipkan pada malaikat Raqib di kananku
Salam rinduku untukMU. . .

SURAT TERAKHIR...

Tak pernah aku sangka cerita hidupku berawal dari sini, cerita cinta lebih tepatnya, di mana aku kembali lagi ke kota tempatku di lahirkan. Awalnya dia hanya tetanggaku saja, lama-lama entah dari mana aku bisa dekat dengannya hingga aku akhirnya menjalin hubungan cinta dengannya. Kami sadar saat itu kami sama-sama memiliki pasangan masing-masing, tapi dengan kesepakatan hati kita, kita memilih bersama dengan meninggalkan pasangan kita masing-masing. “tapi kamu harus putusin pacar kamu dulu” ucapnya waktu itu dan aku ucapkan kata yang sama juga dengannya.
Saat itu, hari-hariku dihiasi olehnya. Tak ada hari tanpa kebersamaan bersamanya. “aku Cuma takut kalau kamu jenuh jika kita tiap hari ketemu” ucapnya dengan rasa takut yang ku lihat dari wajahnya. “aku tak akan pernah bosan bersamamu” ucapku menenangkannya yang memang aku tak pernah bosan bersamanya. Justru rasa sayangku semakin tumbuh saat bersamanya.
Mungkin aku hanya manusia yang hanya bisa berharap bersamanya selamanya, tapi Tuhan berkata beda, sekitar satu tahun hubunganku dengannya, kami terpisah oleh seseorang yang membuat dia terlena. “apa aku masih boleh ketemu kamu kalau aku kangen kamu” kata-kata itu membuatku bingung. “boleh” balasku. Hingga akhirnya kami pun mulai dekat kembali, mungkin karena telah terbiasa. Tangannya aku genggam, “mau nggak kamu balikan lagi denganku” aku memintanya kembali menjalin hubungan denganku. Ia pun menggenggam erat genggamanku dengan dibubuhi sebuah senyum yang menandakan ia pun mau. Kebahagiaan seperti kembali lagi kepadaku.
Untuk pertama kalinya aku balikan lagi dengannya, aku semakin mencintainya. “honey” panggilan sayang itu tercipta. Mulai saat itu tak ada lagi dia menyebut namaku atau aku menyebut namanya, tapi kata “honey” yang selalu kami ucapkan untuk saling memanggil satu sama lain. Betapa bahagianya aku, kebahagiaan yang aku harap tak menghilang lagi di tiap hari-hariku, kebahagiaan yang aku harap bisa abadi.
Abadi, ternyata tak ada yang abadi di dunia ini. Begitupun kebahagiaan yang aku dapatkan kembali, ternyata untuk kedua kalinya menghilang. Ia pun jatuh hati lagi oleh pesona sesorang lelaki yang mampu menghipnotisnya. Dan aku, ia tinggalkan lagi. Untuk kedua kalinya aku merindukan hari-hari bersamanya. Dan rasa cinta ini tak juga mau hilang, masih saja bersemayam dalam hati ini. Entah kenapa aku masih bisa mencintainya walau untuk kedua kalinya aku tersakiti, dan aku tak bisa membencinya.
Entah dari mana, untuk ketiga kalinya aku dan dia dekat kembali. Tapi kali ini tak ada kata jadian kembali, namun hatiku hatinya yang membuat hubungan itu kembali. “aku janji tak akan meninggalkan kamu lagi” kata-kata yang entah membuatku harus bahagia atau tidak, yang jelas aku senang mendengarnya.
“HATIKU HATIMU” kata-kata dengan huruf jawa aku ukir di cincin yang sengaja aku design sendiri untuk melanjutkan hubungan keseriusan kami. “aku sudah nggak sabar hon” ucapnya setelah dua buah cincin itu benar-benar ada di tangan kami.
“honey masih sayang aku kan?” ucapnya setelah ia bermimpi sesuatu yang membuatnya bertanya seperti itu. Ada rasa sangat bahagia aku mendengar pertanyaan itu, karena aku lihat ada ketakutan pada dirinya, ketakuan akan kehilanganku. “aku akan selalu sayang sama kamu honey, sampai kapanpun” jawabku. Aku merencanakan beberapa bulan lagi untuk meminangnya.
“hon, nggak usah buru-buru ya tunangannya”, hatiku tersentak, ada sesuatu yang aneh yang terlahir dari kata-kata itu. Dia yang dulu selalu memintaku untuk cepat-cepat meminangnya akhirnya memintaku untuk tidak buru-buru lagi. Banyak pertanyaan yang bersemanyam dalam hati. Mungkin karena aku sudah 8 tahun bersama dia yang membuatku hafal benar dengan semua sifat aneh yang ada padanya, tapi aku berusaha mencoba untuk berfikiran apa yang pernah terjadi tak terulang lagi. Namun aku salah, luka itu pun kembali menggores hatiku, lagi-lagi ia memilih untuk meninggalkanku demi seseorang yang memang lebih sempurna dariku, dan kali ini, aku hancur sehancur-hancurnya. Semua mimpi yang susah payah aku rajut kembali, semua perjuanganku melawan kedua orang tuaku seakan tak berarti lagi. Dan aku, ingin rasanya menghilang saja dari muka bumi ini.
Beberapa tahun tanpanya ternyata tak menghilangkan rasa cinta dan luka yang terus ada di dalam hati ini. Mereka terus ada, seakan abadi menggerogoti hatiku. Aku masih mencintainya tapi aku membencinya, aku masih membencinya tapi aku mencintainya. Kedua rasa yang tak mampu aku pilih salah satunya.
Aku tak mau seperti ini, ada dua rasa yang benar-benar menyiksaku. Hingga suatu malam, aku harus mengambil langkah yang ku rasa berat aku jalani, namun akan aku coba untuk melangkah menjemput seseorang di sana yang entah itu siapa dan entah dia di mana, seseorang yang memang tercipta dari tulang rusukku yang patah.
Sebuah surat yang aku tulis untuk mengawali kepergianku meninggalkan semuanya, surat yang aku tujukan kepadanya, seseorang yang telah membuatku jatuh cinta sedalam ini, seseorang yang telah membuatku terluka sedalam ini. Surat yang berbunyi seperti ini,
Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tak ada lagi di sini. Ya, dengan ini aku hanya ingin mengucap sebuah kata pamit kepadamu, selayaknya dulu aku pernah datang dengan cara yang indah kepadamu.
Saat ini, aku tak pernah ingin kamu mengenangku, mengingat aku, bahkan menyimpan namaku. Karena sekarang kau pun telah melakukannya dengan baik, menghapus aku. Aku hanya ingin kelak, jadikan aku sebuah cerita pengantar tidur bagi anak cucumu, ceritakan saja bahwa ada seorang lelaki berupa “aku” yang pernah menemani jejak langkah usiamu bertumbuh hari demi hari hingga kau bertemu dengannya.
Biarkan aku yang pergi membawa semua ini di dalam sini. Dan jika nanti, kamu hanya sekedar ingin tahu kabarku, doakan saja aku baik-baik saja dimanapun aku berada, dan saat itulah aku juga akan baik-baik saja di tempatku yang baru. Tempat aku membangun hidupku kembali, merajut mimpi bersama takdirku.
Aku memutuskan untuk pergi, sebelum aku benar-benar (sampai aku tak bisa menyebutnya, mungkin kelak kamu yang bisa menyebutnya) oleh hari kebahagiaanmu nanti. Tapi percayalah, aku akan bertahan hidup dengan sisa-sisa apa yang aku miliki. Dan terakhir, sampaikan saja salamku untuknya, yang mampu memenangkan hatimu, semoga kalian berdua, menjadi pasangan yang sempurna.
Dari aku, yang pernah menemani langkah hidupmu.

Dan tak lupa lagi aku tulis sebuah surat tak bertuan ini untuk seseorang di sana. Tolong mengertilah.
Kepada seseorang di sana, maafkan aku jika aku terlambat bertemu kamu, terlambat menjemputmu menjadikan pasangan hidupku. Aku tak menyalahkanmu untuk persembunyianmu yang rapi, tapi memang waktu yang membuat kita terlambat bertemu. Maafkan aku lagi yang telah mencintai seseorang sebelum kamu. Mungkin aku bisa mencintainya sedalam ini, tapi percayalah kelak, aku akan mencintaimu lebih dalam dari itu.
Jika kamupun setuju dengan semua orang memiliki masa lalu, aku akan sangat berterima kasih kepadamu dengan cara menghapusnya dengan cerita kita yang tak kalah indahnya. Begitupun dengan aku, tak akan sekalipun aku mengusik masa lalumu, seindah apapun itu dan seburuk apapun itu. Karena kamulah takdirku dan akulah takdirmu, dan itulah takdir kita yang harus di jalankan.
Untuk terakhir kali, terima kasih telah mengerti semua ini.
Dariku yang sedang mencarimu...

“Tuhan, ijinkan aku untuk menemuinya, menjemputnya dan menjadikannya sebagai pasangan hidupku. Aku tahu, aku hanya bisa berharap kepadaMU, memohon kepadaMU. Namun aku juga tahu, semua ketetapan sudah Kau tulis di Lauhul Mahfudz sebelum aku Kau lahirkan di dunia ini. Aku akan sangat ikhlas jika memang kenyataannya aku harus bertemu Engkau sebelum aku bertemu dengannya” ucapku dalam hati untuk menutup semua ini dan memulai langkah yang aku ambil...


Senin, 12 Mei 2014

SURAT UNTUK CINTA...

Tak pernah terpikir oleh ku akan tercipta tulisan ini, apalagi sampai jatuh ke tangan lembutmu, tangan yang dulu aku kira untuk selamanya ku genggam,tangan yang dulu aku kira untuk selamnya menempati ruang di sela jemariku, tapi ternyata berbeda. Namun jika kamu tahu tulisan ini untuk apa, tulisan ini berarti apa, memang inilah yang tejadi. Maka aku harus pergi, bukan aku pengecut atau tak mampu hadapi ini, aku hanya ingin sembunyi, hanya ingin menyelamatkan yang terapuh

Memang terlalu munafik jika aku harus bahagia melihatmu dan memang terlalu bodoh untuk terus sakit karenamu. Maka memang inilah pilihan yang tepat, bersembunyi dari apa yang tak pernah bisa aku bayangkan sedikitpun. Aku terlalu rapuh oleh cinta yang katanya menguatkan, aku terlalu hancur oleh cinta yang katanya menyatukan, dan aku... memang terlalu mencintaimu

Maafkan saja aku yang tak sempurna yang tak mampu gengamkan aroma surga di tanganmu yang tak mampu menyediakan langit untuk semua mimpimu. Maka... maafkan saja aku yang memang tak sempurna

Jika boleh aku sebut sempurna, rasa ini begitu sempurna tercipta untukmu, bahkan sampai aku tak tahu harus aku sebut apa rasa ini, apalagi kamu, terlalu mudah untuk tak mau tau. Maka maafkanlah saja jika aku terlalu mencintaimu

Sekilas lihatlah sakitku. Apakah ini adil bagiku? kita menanam benih cinta bersama, menyirami berdua penuh kasih, berharap kita yang merasakan harumnya bunga bahagia dan menuai manisnya buah cinta kita, tapi lihat!!!! harumnya kamu simpan, maniskan kamu bagi bersama sang bayu yang mungkin telah menyejukimu, dan aku...hanya getah luka yang aku dapat. Maka adilkan ini? namun aku hanya boleh bertanya tanpa mendapat jawab atau memang hari inilah jawabnya?

Jika aku boleh meminta satu mohon kepada Tuhan, bukan aku minta kembalimu tapi waktu, untuk tak bertemu kamu biar tak ada rasa yang tercipta yang akhirnya hanya merantai luka di dasar hati atau biarkan saja aku terus menyambutmu dari manapun kamu datang, jika iya, akan terus aku simpan rasa ini karena memang aku terlalu mencintaimu cinta.....

"dariku yang tak pernah berharap tulisan ini sampai kepadamu"

Minggu, 11 Mei 2014

KAU...



Seperti lilin, sinarmu terang
Menerangi gelapnya liku jalan dalam hidu ini
Tubuhmu yang rapuh tak kau rasakan lagi

Seperti lilin, sinarmu lembut
Menghangati dinginnya jejak langkah dalam hidup ini
Pijarmu yang resah tak kau pedulikan lagi

Kau tetap bertahan...



Rabu, 07 Mei 2014

dAN itu aku



Dan itu aku yang diam-diam mencintaimu dari balik senyum yang ku buat
Dan itu aku yang tak pernah tahu apa arti di balik senyum yang kau buat
Seperti terus mencari celah yang tak pernah ku dapat
Seperti terus mendapat tabir gelap yang tersimpan rapat

Namun   gelap    terangmu   telah   ku   selami   sedalam-dalamnya  niaN
Untuk  uraikan  mana  yang  membuatku  bahagia,  bukan  terluka selalU
Rasa mana yang  selalu ada  dan yang belum pernah ada, biar aku sadaR
Untaikan kembali dalam senyum yang terbuat, senyummu dan senyumkU
Lupakan  mana  yang  membuat semua tetap abu-abu, biar tak ku ambiL

Dan itu aku yang selalu mengumpulkan setiap senyum yang kau buat
Dan itu aku yang tak pernah lelah merajutnya kembali di kelambu kamarku
Seperti terus berharap jatuhnya lagi senyummu dalam jangkauanku
Seperti terus berharap kau pun merajut kembali senyum yang ku buat

Dan itu aku yang...