Senin, 19 Agustus 2013

PAGI YANG MENGHARUKAN (bag.2 SHJ)




Sinar mentari yang jatuh hingga menembus sampai ke dalam kamar, suara gaduh yang datang dari luar pun ikut membangunkannya di pagi hari, tapi rasanya ia masih malas baranjak dari tempat tidurnya yang nyaman. Hanya membuka mata, melihat jam di mejanya yang samar-samar terlihat mata yang masih sayu. Tiba-tiba ia tersentak dan teringat ia harus berangkat dengan kereta Argo Dwipangga pukul 08:00, matanya terbuka penuh ketika melihat angka di jam itu sudah menunjukkan 06:45. Sontak ia segera bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi. ”ah sial kesiangan” gerutunya dalam hati saat berlari terburu-buru ke kamar mandi. Ia lihat dari kejauhan pintu kamar mandi tertutup rapat tanda ada yang sedang memakainya dan ia gedor-gedor pintu itu setelah sampai di depan kamar mandi.
”bentar!!!!..” teriak keras suara adiknya dari dalam. Ia tak peduli, ia gedor sekali lagi pintu itu berulang-ulang, tapi justru tak ada respon sedikitpun dari dalam begitu Dian tahu yang ada di luar adalah kakaknya.
Sepuluh menit sudah ia duduk di depan pintu dengan gelisah, entah sengaja atau tidak, adiknya tak kunjung keluar dari dalam. Ia mulai kesal, untuk ketiga kalinya ia gedor pintu itu agak keras dari sebelumnya yang membuat gadis kecil yang imut itu hanya senyum-senyum begitu keluar  dengan sedikit mengejek, yang terlihat jelas dari nada bicaranya. Ia memang tak pernah akur dengan adiknya, bagai tikus dan kucing. Banyak alasan yang membuat mereka berkelahi, dan ada-ada saja hal yang mereka rebutkan, mulai dari chanel televisi, makanan, uang jajan, dan hal-hal kecil lainnya.
”sengaja ya nggak keluar-keluar?”
”kenapa? Buru-buru ya? Duh kasian..” ejek adiknya dan terus berlari ketika kakaknya mengangkat tangan kanannya seperti mau memukul untuk menakut-nakutinya. ”mamah… kak Arya nakal…” dan sayup-sayup suara adiknya hilang dibalik tembok.
Tidak banyak waktu yang ia habiskan untuk bermanja-manja di dalam kamar mandi, tak seperti para wanita yang sedang bertemu pacar keduanya yaitu kamar mandi, yang bisa berjam-jam berada di dalam, entah apa yang mereka lakukan di sana. Tapi ia hanya butuh waktu sepuluh menit saja di dalam.
ӝӝӝӝӝ
Semua keluarganya sudah lebih dulu berada di meja makan dan menikmati sarapan pagi, termasuk adik satu-satunya yang baru saja selesai mandi sebelum dirinya. Belum juga ia sampai di meja makan, ibunya langsung menyambut dengan pertanyaan yang seakan tak percaya dengan niatnya untuk pindah kuliah di tempat budhenya.
”kamu sudah yakin mau pindah kesana Ar?” nadanya datar namun nampak jelas keraguan di dalamnya.
”ya udah dong bu”. Ia menggeser kursi dan duduk di sebelah ibunya. ”ni udah siap semua, tinggal berangkat”. Lalu pandangannya fokus pada apa yang ada di meja dan tangannya pun sibuk mangambil makanan yang tersisa di depannya.
”tapi inget jangan bikin masalah di rumah budhemu” nasehat ibunya setelah meneguk habis air minum yang tadi tinggal setengah gelas, tanda sudah selesai dengan sarapannya lebih dulu dari yang lainnya.
”tenang aja bu. aku kan anak baek-baek”
”baek dari hongkong?” ucap ketus tiba-tiba adiknya yang duduk tepat berhadapan dengannya.
”udah diem aja anak kecil. Anak masih ingusan aja mau ikut campur. Di lap dulu tu ingus” perintahnya walau ia tau Dian tidak sedang flu, dan sambil  melempar lap yang ada di meja ke arah adiknya yang mengenai tepat di wajahnya. Dian hanya membalas dengan melempar kembali ke arah kakaknya.
“kalian tu ya. Berantem terus kerjaannya” ibunya lalu  melihat ke arah Arya “kamu juga Ar, udah gede nggak mau ngalah sama adiknya”
Ia hanya cuek mendengar omongan dari ibunya dan tetap menyantap sarapan paginya sebelum ia ketinggalan kereta.
Tiba-tiba terdengar suara ayahnya bertanya tentang kesiapan selama di tempat budhenya nanti.
”udah semua kok yah’’ jawab ia singkat.
“kamu juga sudah bilang budhemu kalau mau kuliah dan tinggal disana?” ibunya tak mau kalah dengan memberi pertanyaan lagi kepada Arya.
”udah juga”. Ia menelan sisa makanan yang masih ada di dalam mulutnya. ”pokoknya udah beres semuanya”. dalam keadaan sambil makan, dengan santai ia menjelaskan semua persiapannya untuk meyakinkan kedua orang tuanya yang terlihat kurang yakin dengan niat anaknya tadi. Dan sepertinya mereka mulai lega setelah mendengar penjelasannya tadi, terlihat dari raut wajah yang perlahan mulai cerah tak seperti mendung sebelumnya.
”kalau begitu aku pamit dulu ya” setelah ia menghabiskan sarapannya itu.
Ia beranjak dari kursi dan satu per satu ia cium tangan kedua orang tuanya secara bergantian, kecuali adiknya, Dian. Karena ia tau Dian pasti akan menolak bersalaman dengannya. Ia melihat air mata ibunya yang sudah terkumpul penuh di kedua matanya, perlahan akhirnya tumpah ke pipi seperti air bah yang tak bisa di bendung lagi. Pikirnya, dari pada ia ikut larut dalam kesedihan ini, segera ia maelangkahkan kaki menuju pintu.
Tapi tiba-tiba dari arah depan, Dian memeluknya, entah ada setan mana yang membuat Dian bisa melakukan itu. Ia bingung melihatnya, dan mulai terharu dengan pelukan Dian yang jarang dan bahkan tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Pelukannya  begitu erat seperti takut kehilagan dan tak rela melihat kakaknya pergi, mungkin dalam benaknya akan ada sesuatu yang akan hilang dari dirinya, yaitu seorang kakak sekaligus musuh dalam bermainnya.
Tak pernah ia sangka Dian mau memeluknya seperti itu. Kini ia benar-benar larut dalam keadaan itu. Dan masih dalam keadaan memeluk Arya, keluar suara lirih dari mulut Dian yang terpenggal-penggal bercampur tangis ”kalo kakak pergi. trus musuh Dian bermain siapa?”
Kata-kata itu seperti meluluhkan hati Arya yang sekeras batu. Kata-katanya begitu polos, begitu lugu dan begitu menyentuh. Ada sesuatu yang beda saat itu. Arya merasa benar-benar ada kasih sayang antara ia dengan adiknya. Arya menarik nafas panjang dan mulai berbicara pada adiknya. ”adik” suara Arya lirih dan ia lepas perlahan pelukannya mencoba mensejajarkan tingginya dengan Dian agar ia bisa menatap wajah adiknya yang sudah basah dengan air mata.
”kakak pergi dulu ya. kakak mau kuliah disana dan kakak pasti pulang”
”kapan?”
”ya kalo libur kan kakak bisa pulang”
”bener?”
”iya kakak janji”
”awas kalo boong”
”iyaaa..”
Sebelum ia mendengar kata-kata keluar lagi dari mulut adiknya, ia langsung pamitan. ”kakak berangkat dulu ya.. jangan nakal ya di rumah, jangan bikin ayah ibu marah”
Arya melihat Dian hanya tersenyum manis padanya.
Ia berbalik arah, menghela nafas panjang. Dengan langkah kaki yang pasti dan sudah tak terasa berat, ia berjalan menjauh dari mereka dan hilang di balik pintu dan meninggalkan pagi yang mengharukan ini.
ΩΩΩΩΩ

Senin, 12 Agustus 2013

DEWI KECIL DAN MALAIKAT KECIL (bag.1 SHJ)




Jam digital berbentuk kotak yang ada di atas meja menunjukkan angka 20:14 tapi hujan deras yang mengguyur bumi dari tadi sore belum juga berhenti. Ribuan rintiknya bersautan menciptakan melodi indah yang terdengar di atas genteng. Hawa dingin mulai terasa menyelinap bagai sekawanan serangga malam yang masuk dari celah-celah jendela kamar dan menyerang, membuat malam semakin dingin terasa di ruangan yang tak begitu besar. Sesekali juga terlihat dari jendela kamar, langit malam mengeluarkan kilatan-kilatan api yang tampak menari indah bersama iringan melodi sang hujan yang turun.
Namun semua itu tak mampu mengurung seorang lelaki muda dalam ke-diam-an, semangatnya masih mengalir walau tak  sederas hujan di luar. Tas rancel biru sudah siap untuk di jejali pakaiannya. Sebagian pakaian yang tersimpan dalam lemarinya ia pilih dan satu per satu ia pindahkan ke dalam ranselnya. Tapi ia masih saja terlihat mondar-mandir dengan raut wajah mengingat-ingat apa yang masih perlu ia bawa. Dan ia pastikan semua tak ada lagi yang terlupakan, semua sudah masuk dalam rancelnya. Ia lihat kembali tas rancelnya yang tadinya kosong kini sudah terisi penuh dengan pakaian-pakaiannya, sepenuh perutnya yang telah terisi makanan yang baru saja  disantap. Dan diletakkannya tas itu di sudut kamarnya.
Setelah semua di rasa beres, saatnya untuk bersantai dan istirahat untuk perjalanan jauh keesokan harinya. Ia raih laptop putih dari meja di depannya, ia rebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya  dan bersiap untuk online, karena ia ingin mengobrol dengan teman dunia maya yang sudah lama tak di sapanya, sekedar bertukar pikiran, melepas lelah atau sekedar mengirim puisi kepadanya untuk dia simpan, karena memang terkadang ia malas untuk menyimpan puisi-puisi yang telah ia buat. Jadi ia selalu percayakan semuanya pada temannya, Dewi Kecil, begitu ia menyebut temannya yang ada di dunia maya.
<MK> : hai…
<DK> : hai juga malaikat kecil..
Belum sempat tangannya mengetik balasan, datang beberapa pertanyaan dari Dewi Kecil berturut-turut di layar laptopnya.
<DK> : pa kabar kamu? kemana aja nih? Kok udah lama nggak kirim puisi? Kenapa? Lagi sibuk ya? Atau nggak ada mood?
<MK> : satu-satu dong nanyanya..
Dewi kecil hanya mengirim simbol orang tersenyum padanya dan ia mulai menjawab semua pertanyaan yang datang bertubi-tubi seperti hujan di luar sana tanpa jeda.
<MK> : baek-baek saja kok dan aku nggak kemana-mana. ya maaf, habis belum ada mood buat bikin puisi, ntar deh aku kirimin.
<DK> : tapi tumben nggak ada mood? Biasanya hampir tiap malam kirim puisi.. sampai kualahan aku mau nyalin di buku
<MK> : emang udah berapa puisi yang aku kirim ke kamu?
<DK> : udah nggak kehitung lagi kali. udah habis dua jilid buku aku nyalinnya
<MK> : masa?
Lagi-lagi Dewi Kecil hanya kirim simbol orang tersenyum tanpa ia tau maksudnya. Tanpa pikir panjang ia pun hanya mengirim simbol yang sama padanya.
<DK> : tapi kok bisa nggak ada mood sih buat nulis puisi? Sibuk ya?
<MK> : nggak juga sih. Tapi namanya juga manusia, pasti ada kalanya akan kehilangan sesuatu dalam dirinya, termasuk mood itu tadi.
<DK> : iya juga sih ya..hehe
Tak terasa sudah hampir tiga jam ia ngobrol lewat chat room dengan Dewi Kecil. Rasanya semua cahaya yang ada di ruangan ini mulai  meredup, mungkin karena matanya kini seperti lilin yang perlahan kehabisan pendarnya, lalu mati.
Tapi sepertinya ia  masih saja ingin mengobrol dengan Dewi Kecil, masih banyak hal yang bisa di bicarakan disana, walau sebenarnya mereka belum saling mengenal dan bertemu di dunia yang nyata. Bukan mereka tak mau, tapi itu sudah menjadi kesepakatan mereka untuk tidak saling mengenal secara nyata sejak awal bertemu di dunia maya satu tahun lalu, bahkan sekedar nama pun mereka saling merahasiakan. Dan mereka lebih nyaman dengan sebutan Dewi Kecil dan Malaikat Kecil. Entah dari mana nama itu berasal, yang jelas tiba-tiba nama itu muncul dalam benak untuk saling memanggil satu sama lain dengan sebutan seperti itu.
<DK> : kenapa ya. Kalau kita ngobrol tu nggak ada habis-habisnya?
<MK> : mungkin karena kita belum saling mengenal secara nyata.
<DK> : loh kok bisa?
<MK> : ya bisa lah. Kadang sesuatu yang belum di ketahui atau yang masih merahasia itu akan terasa lebih indah. Dan seru untuk di bicarakan. Jadi, karena kita tidak saling kenal dan tidak saling bertatap muka, makanya kita bisa lancar ngobrol lewat chat, karena kita tidak saling kenal pula maka kita bisa bercerita banyak hal yang kita ketahui. Dengan kata lain, kita saling bertukar pikiran dan pengetahuan tanpa ada rasa terbatasi oleh rasa malu, segan, grogi atau apalah itu istilahnya.
<DK> : panjang banget nulisnya. tapi ada benernya juga sih kamu. ternyata kamu nggak aja pinter bikin puisi tapi ceramah juga bisa.
Kali ini gantian ia yang hanya mengirim gambar simbol orang tersenyum kepadanya tanpa menulis satu kata apapun.
Malam kian larut, mata itu mulai tak bisa di ajak kompromi lagi, rasanya berat, bagai ada berjuta ton pemberat tergantung di kedua kelopak matanya. Badan yang tadi segar bugar mulai terasa pegalnya, sendi-sendi pun seakan keram.
<DK> : udah ngantuk ni. Aku tidur dulu ya.
<MK> : ok. Aku juga udah ngantuk, besok mau pergi
<DK> : pergi kemana emangnya besok kamu?
<MK> : eitt.. nggak boleh tanya, masih inget kan perjanjian no dua kita?
<DK> : iya masih inget kok. nggak boleh tanya alamat, lokasi dan tempat
<MK> : itu inget. eeemm tapi gimana ya kalau suatu saat kita bertemu? apa jadinya ya? atau ternyata kamu sebenarnya adalah teman deketku, guruku, tetanggaku atau bahkan musuhku.
<DK> : ada-ada aja kamu tu ya..
<MK>: atau jangan-jangan emang bener kamu sebenarnya musuhku.
<DK> : mungkin juga ya..hahahaha..
<MK> : tapi siapapun kita, kalo suatu saat salah satu dari kita ada yang mengetahui, tolong jangan kasih tau, biar Dewi Kecil dan Malaikat Kecil menjadi rahasia selamanya dan hanya hidup dalam dunia maya saja
<DK> : oke deh.. tapi udah ah ngobrolnya, orang tadi udah pamit mau tidur juga, malah nggak jadi terus
<MK> : ya udah  kamu tidur gih sana.
<DK> : bye…
Namun tangan Malaikat Kecil masih sibuk bergerak mengetik untuk menulis sebuah puisi singkat sekedar ucapan selamat malam buat temannya itu. Sebuah puisi yang terlulis dalam chat roomnya yang berbunyi
tak perlu kau pikirkan kertas-kertas di atas meja kerjamu
atau omelan bos siang tadi
akhiri saja hari ini dengan pejamkan mata
lalu padamkan bara api semangat dalam diri
jangan lagi berkata
dan selamat tidur dewi kecil…

Dan lelahnya pun menjadi, seakan memaksa untuk mengakhiri harinya juga. Dengan berselimut  gelap dan dingin, di temani rintik hujan yang mulai reda, suara-suara katak yang bersautan di luar sana, yang menghasilkan simfoni merdu dan perlahan menina-bobokan matanya untuk terpejam. Dan bunga tidur seakan sudah setia menantinya di sana, di istananya dan mengajaknya bermain dengan semua mimpi-mimpi manis malam panjang. Menggantikan dunia yang melelahkan dengan semua hiruk pikuknya. Perlahan bara semangatnya semakin menyurut hingga mati. Dan Malaikat kecil pun tertidur lelap dalam dekapan malam yang menjaganya, meninggalkan sebuah laptop yang masih menyala.
ΩΩΩΩΩ


Minggu, 11 Agustus 2013

peluncuran

dear temen-temen yang hobi baca...

alhamdulillah aku telah menyelesaikan novelku yang berjudul "Senja hadirkan Jingga". disini aku akan bercerita singkat tentang novel yang aku buat.
novel ini pertama aku mulai menulisnya berjudul "aku bukan pujangga" yaitu menceritakan seseorang yang gemar menulis puisi, tapi ia tak pernah mau di sebut pujangga. lagi pula ia juga tak pernah mempublikasikan semua puisinya karena ia tak ingin orang tahu tentang dirinya yang punya bakat seperti ini, ia punya alasan untuk itu.

semakin kesini, judul itu semakin nggak tepat untuk menjuduli apa yang aku tulis. seiring berjalannya novel yang aku tulis, aku menemukan judul yang aku rasa lebih tepat, yaitu "Senja hadirkan Jingga". tapi masih berkisar cerita yang sama tanpa ada pembelokan imajinasi dari apa yang ingin aku buat dari awal, hanya improvisasi yang mengalir begitu saja, hingga aku benar-benar memilih judul seperti itu.
sesuai dengan judulnya, Senja yang membuat Jingga itu ada sehingga bisa di miliki oleh seorang lelaki yang tak pernah ingin disebut dengan pujangga.

dan novel ini akan aku share di sini setiap minggunya satu judul.
selamat membaca dan terima kasih.

salam dAN_aku...

Minggu, 14 Juli 2013

cinta yang semestinya





            Meski sudah mendapat penjelasan dari temanya soal cinta, hampir sebulan ternyata Arya masih merasa galau, ternyata soal cinta tak semudah membalikkan telapak tangan, bingung apa yang harus ia lakukan. Seandainya dirinya tak bertemu Senja, hatinya mungkin tak seperti itu lagi dan kepalanya di penuhi oleh bayang-banyang Jingga lagi. Begitupun dengan Jingga, hatinya terus berteriak, meronta, dan menuntut untuk memilih apa yang ia katakan dan rasakan. Namun mereka berdua sama-sama tak mampu untuk saling mengungkapkannya. Sedang perilaku Arya di depan Senja sudah mulai sedikit beda, tak sehangat dulu walau mereka masih dalam status sahabat dan perilaku Jingga terhadap Dimas juga sudah mulai beda kembali seperti dulu saat Jingga marah dengan Dimas.
Dalam satu kesempatan, mereka tanpa sengaja di pertemukan berdua. Sebuah bangku yang menghadap ke taman dan beberapa pilar besar di belakangnya, mereka duduk berdua tanpa ada siapapun disana, suasana yang justru membuat meraka merasa canggung, seakan mereka baru saja kenal satu sama lain. Sejak sapaan tadi, tak ada lagi obrolan yang terdengar dari mereka, padahal sudah berlangsung hampir lima menit.
“kenapa kamu sendirian disini Ga?”
“kamu gimana to Ar, kan tadi sudah tanya dan aku sudah jawab”
“o iya lupa. Maaf” seakan-akan pertanyaan itu ia sengaja untuk memulai pembicaraan.
“kamu aneh”
Mata mereka saling menatap hingga tajam dan menghentikan gelak tawa yang tadi sempat tercipta dan keheningan terlahir kembali.
“o iya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, sesuatu yang selalu mengganggu pikiranku”
“apa itu Ar”
“entah  harus aku mulai dari mana, yang pasti ada perasaan yang sulit aku hilangkan di hati ini karena kamu. Apalagi semenjak kehadiran Senja, perasaan itu semakin bertambah kuat, tapi bukan ke Senja, tetap ke kamu. Entah kenapa saat aku berdua dengan dia, justru yang mucul hanya bayang-banyangmu”
“kamu sudah jadian dengan dia?”
“belum Ga. Justru ini yang membuat aku nggak bisa dengan dia. Jika aku paksakan, yang ada hanya kebohongan. Dan aku putuskan untuk tetap berteman saja dengan dia. Dan satu lagi, aku mengatakan semua ini bukan berarti aku menembakmu, aku hanya mengutarakan apa yang aku rasakan yang membuatku jadi seperti ini dan nggak bermaksud untuk merebutmu dari Dimas, aku sudah putuskan sejak lama untuk mengikhlaskan kamu bersamanya. Aku harap setelah aku mengatakan semua ini, aku bisa lega, bisa lagi tersenyum melihat kalian bahagia”
“aku juga Ar, sebenarnya aku juga sayang sama kamu”
“apa karena kamu tau puisi-puisi itu milikku?”
“bukan Ar, jauh sebelum itu, bahkan sebelum aku jadian dengan Dimas, tapi akhirnya Dimas yang lebih dulu menembakku dengan puisi-puisi itu yang aku syaratkan. Dan aku ndak ingin mengingkari janjiku sendiri, siapa saja yang bisa meluluhkan hatiku dengan puisi, aku mau menerimanya. Tapi jauh kesini, ternyata aku salah, ternyata cinta bukan dari sebuah puisi, cinta itu dari hati itu sendiri. Dan hati ini lebih memilih kamu Ar. Tapi semua itu sudah terlambat, aku ndak mungkin meninggalkan Dimas, aku ndak mau menghancurkan persahabatan kalian jika aku meninggalkan dia hanya demi untuk bisa bersama kamu dan aku juga ndak mau nyakitin hati dia yang sudah mencintai aku”
“cinta memang aneh, tapi alangkah bijaknya jika kita mau berfikir apa yang terjadi setelah cinta itu tercipta. Cinta tercipta bukan untuk menyakiti hati orang lain, cinta tercipta bukan untuk menghancurkan hubungan orang lain. Dan kita tau apa yang harus kita lakukan”
“dan cinta itu anugrah yang di atas, dan Dialah yang lebih tau”
“meski kita tak bisa saling memiliki, setidaknya kita masih bisa berteman. Aku selalu berdoa agar Dimas bisa membahagiakan kamu selamanya. Aku kenal dia sudah lama, dan dia sudah berubah hanya karena kamu. Dan ijinkan aku melihat kamu kalian bahagia bersama”
Kata-kata yang membuat Jingga hanya bisa menitikan air mata, ia tak sanggup berkata-kata lagi.
Sebuah curahan hati mereka masing-masing yang berakhir dengan senyuman di wajah mereka. Senyuman yang menjadi simbol atas kelegaan hati yang bergejolak, hati yang galau. Meski mereka tak dapat bersama, paling tidak hati mereka menjadi benar-benar lega, tak ada wajah murung atau bingung, tak ada lagi beban berat yang di timbulkan karena perasaan yang terus menghantui hati meraka.
Tiba-tiba dari belakang, Senja yang ternyata sudah sedari tadi berada di balik pilar itu dan sempat mendengar semua pembicaraan tadi, berjalan mendekat ke arah Jingga dan Arya dengan berkata setelah jaraknya tak jauh dari mereka. “dan aku juga akan lebih bijak jika aku tak ikut merebut Arya dari cinta kalian. Mungkin aku bisa memiliki tubuh Arya, tapi sekarang aku tau, aku tak mungkin bisa memiliki cintanya. Dan aku juga lebih memilih persaudaraan dan persahabatan. Aku nggak mau kehilangan saudaraku lagi, aku sayang kamu adekku” lalu ia memeluk erat Jingga yang sudah menghadap ke belakang sejak mendengar suara Senja. “dan kita tetap berteman kan Ar?”
“itu pasti”
“dan aku akan menjadi yang paling bijak jika aku tak memaksakan apa yang tak ada dalam hati dan mau mengembalikan kepada yang semestinya apa yang tanpa sengaja sudah aku ambil. Kamu memang semestinya dengan Arya, dan kamu Ar, kamu yang lebih bisa membahagiakan Jingga” ucapnya juga setelah keluar dari balik pilar yang satunya lagi dan yang jelas ia juga sudah sempat mendengarkan apa yang Jingga dan Arya bicarakan.
Bukan suatu kebetulan semata jika mereka berempat di pertemukan disana dan di sadarkan oleh suatu keputusan yang bijak, tapi semua itu karena sudah ada yang mengaturnya. Suatu pertemuan yang tak pernah mereka sangka akan menjadi seperti itu akhirnya, terutama Jingga dan Arya. Keputusan untuk saling ikhlas melepas satu sama lain demi sebuah persahabatan dan tak ingin melukai hati orang lain dan mencoba lebih bijak dalam mengambil keputusan justru mampu mengembalikan apa yang semestinya ia dapatkan dan ia miliki, cinta yang semestinya.
ΩΩΩΩΩ