Minggu, 23 Oktober 2016

Malulah Kita


Mungkin,
Kita adalah orang-orang yang seharusnya malu
Bagaimana tidak?
Kita hanya menyebut nama-Nya kala terluka
Kita hanya meminta perlindungan kala disakiti
Lalu kita kemanakan Tuhan
Saat pacar kita mencium tepat di bibir kita?
Mungkin kita lupa Tuhan itu siapa

Kini,
Saat pacar kita berbalik mencium tepat di bibir yang lain
Seolah kita adalah yang patut dilindungi Tuhan
Dan mengutus Tuhan untuk membalasnya
Malulah kita

Jumat, 21 Oktober 2016

Aku Mencintaimu


Aku mencintaimu
Tak setipis selaput dara
Yang mudah robek berdarah

Aku mencintaimu
Tak setegang sang maha kontol
Yang mudah lemas lagi bak cendol

Aku mencintaimu
Tak seperti mereka
Yang mudah pergi setelah merdeka

Rabu, 19 Oktober 2016

Mata Itu...

Mata itu, mata-hari
yang menatapku tajam
membelah dada hingga jantung

Mata itu,
adalah kau yang tak pernah kosong

Minggu, 02 Oktober 2016

Untuk Apa?


Untuk apa aku menangis
Walau saatnya sudah tiba, untuk menangis
Untuk apa aku bersedih
Walau saatnya sudah tiba, untuk bersedih
Untuk apa aku sesali
Walau saatnya sudah tiba, untuk menyesali

Untuk apa aku menangisi yang telah pergi
Jika pertemuan dulu aku sambut dengan gembira
Untuk apa aku bersedih melihat yang telah berlalu
Jika kegembiraan dulu sudah kulumat habis
Untuk apa aku sesali yang telah terjadi
Jika awalnya aku sudah mengetahui

Bukahkah?
Tak ada pagi yang tak akan berganti malam
Tak ada malam yang tak akan berganti pagi
Semua pasti terjadi
Lalu untuk apa aku masih di sini

Kamis, 29 September 2016

Rindu Kepada Entah


Sungguh aku rindu kepada yang belum aku miliki, etah apa itu
Namun jelas yang aku rasakan
Aku merindukannya, saat ini

Selasa, 27 September 2016

Peri Kecil


Kepada peri kecil di sana
Ketika kau mengiyakanku
Apakah kau mampu bertahan?
Mengajari aku terbang kembali
Untuk terbang bersama

Sabtu, 24 September 2016

Tentang Hujan dan Aku


Hujan itu turun
Sedangkan aku jatuh
Hujan itu bernyanyi
Sedangkan aku menangis

Hujan itu, ada banyak kehangatan di balik dinginnya
Sedangkan aku tidak
Sama sekali tidak

Hujan yang senantiasa ditunggu para pendoa
Para pujangga yang menuliskan syairnya pada tiap rintiknya
Tapi lihat aku
Yang senantiasa dibuang tak dibutuhkan
Bahkan lebih menyakitkan

Aku takan bersedih
Membencinya pun tidak
Karna aku
Adalah sang awan mendung