Mata itu, mata-hari
yang menatapku tajam
membelah dada hingga jantung
Mata itu,
adalah kau yang tak pernah kosong
Rabu, 19 Oktober 2016
Minggu, 02 Oktober 2016
Untuk Apa?
Untuk apa aku menangis
Walau saatnya sudah tiba, untuk menangis
Untuk apa aku bersedih
Walau saatnya sudah tiba, untuk bersedih
Untuk apa aku sesali
Walau saatnya sudah tiba, untuk menyesali
Untuk apa aku menangisi yang telah pergi
Jika pertemuan dulu aku sambut dengan gembira
Untuk apa aku bersedih melihat yang telah berlalu
Jika kegembiraan dulu sudah kulumat habis
Untuk apa aku sesali yang telah terjadi
Jika awalnya aku sudah mengetahui
Bukahkah?
Tak ada pagi yang tak akan berganti malam
Tak ada malam yang tak akan berganti pagi
Semua pasti terjadi
Lalu untuk apa aku masih di sini
Kamis, 29 September 2016
Rindu Kepada Entah
Sungguh aku rindu kepada yang belum aku miliki, etah apa itu
Namun jelas yang aku rasakan
Aku merindukannya, saat ini
Selasa, 27 September 2016
Peri Kecil
Kepada peri kecil di sana
Ketika kau mengiyakanku
Apakah kau mampu bertahan?
Mengajari aku terbang kembali
Untuk terbang bersama
Sabtu, 24 September 2016
Tentang Hujan dan Aku
Hujan itu turun
Sedangkan aku jatuh
Hujan itu bernyanyi
Sedangkan aku menangis
Hujan itu, ada banyak kehangatan di balik dinginnya
Sedangkan aku tidak
Sama sekali tidak
Hujan yang senantiasa ditunggu para pendoa
Para pujangga yang menuliskan syairnya pada tiap rintiknya
Tapi lihat aku
Yang senantiasa dibuang tak dibutuhkan
Bahkan lebih menyakitkan
Aku takan bersedih
Membencinya pun tidak
Karna aku
Adalah sang awan mendung
Rabu, 06 April 2016
(dialogku bersama Tuhan)
mari sini Tuhan
mari kita bicara
tentang asa-asa yang berjatuhan
tentang bagaimana, hanyalah sebuah cara
bagaimana aku tak mencintai-Mu
jika terbaringku Kau jadikan cara
bagaimana aku ak merindukan-Mu
jika doaku saja sudah berbicara
maka mari sini Tuhan
jemput aku
berbincang lebih dalam dan perlahan
dari kamar sempit tempat terbaringku
bukanya aku lelah dan menyerah
bersama satu kata bismillah
yang kugelar bersama sajadah
aku memang merindu-Mu sudah
mari kita bicara
tentang asa-asa yang berjatuhan
tentang bagaimana, hanyalah sebuah cara
bagaimana aku tak mencintai-Mu
jika terbaringku Kau jadikan cara
bagaimana aku ak merindukan-Mu
jika doaku saja sudah berbicara
maka mari sini Tuhan
jemput aku
berbincang lebih dalam dan perlahan
dari kamar sempit tempat terbaringku
bukanya aku lelah dan menyerah
bersama satu kata bismillah
yang kugelar bersama sajadah
aku memang merindu-Mu sudah
Sabtu, 02 April 2016
BULAN LURUH
malam yang syahdu berselimut kelambu
dan nyanyian angin meniup wewangian bunga
ada bulan yang luruh di pangkuan
bersamaan lantang kokok ayam jantan
tepat di tengahnya malam
dan bunga ilalang pun tertunduk resah
mengintip malu kepadanya
maka merahlah sudah awan-awan putih yang menggumpal
dan nyanyian angin meniup wewangian bunga
ada bulan yang luruh di pangkuan
bersamaan lantang kokok ayam jantan
tepat di tengahnya malam
dan bunga ilalang pun tertunduk resah
mengintip malu kepadanya
maka merahlah sudah awan-awan putih yang menggumpal
Langganan:
Postingan (Atom)