Cinta kita sekuning canting
cinta yang sederhana
yang terlahir dari benih-benih waktu kesabaran
memang tak semegah kilau emas
yang bergelumang kemewahan
tapi aku bahagia...
Minggu, 11 Oktober 2015
Sabtu, 10 Oktober 2015
Tentang penyesalan
Ada yang menyesal
seperti hari terlanjur hujan
sebelum awan sempat mendung
sedang katak sudah menari riang bersama sang putri
lalu ini salah siapa?
Rabu, 07 Oktober 2015
Sebuah Kenyamanan...
Untuk sementara waktu aku tak terusik oleh dua orang yang duduk tak jauh dari meja yang sedang kutempati sedari tadi sebelum mereka datang.
Setelah mereka pesan dan menunggu pesanan datang, aku dengar mereka mulai ngobrol santai yang lama kelamaan mulai menjurus mesra selayaknya dua orang yang pacaran.
Ah aku mulai geram mendengarnya, apalagi sesekali tanpa sengaja aku melihat adegan kontak fisik antara mereka walau sekedar pegagan tangan. Benar-benar membuatku ingin muntah saja. Dalam hati hanya bisa bertanya sebenarnya apa yang ada dalam pikiran mereka. Aku benar-benar tak mengerti. Adegan memuakkan ini semakin menjadi saat pesanan mereka sudah datang, suap menyuap sepertinya menjadi hal yang lumrah untuk sepasang remaja yang sedang pacaran saat mereka makan malam di sebuah restaurant seperti ini.
Ya, kini aku tau mereka berpacaran. Dengan rasa penasaran aku mulai membaca kedalam pikirannya, mencari sebuah jawaban. Betapa aku ternyak mendapatkan jawabannya, "sebuah kenyamanan". Mereka tak pernah berpikir tentang kodrat, mereka tak pernah berpikir tentang jenis kelamin, yang mereka pikir hanyalah kenyamanan dalam berhubungan meski mereka berdua adalah seorang lelaki.
Setelah mereka pesan dan menunggu pesanan datang, aku dengar mereka mulai ngobrol santai yang lama kelamaan mulai menjurus mesra selayaknya dua orang yang pacaran.
Ah aku mulai geram mendengarnya, apalagi sesekali tanpa sengaja aku melihat adegan kontak fisik antara mereka walau sekedar pegagan tangan. Benar-benar membuatku ingin muntah saja. Dalam hati hanya bisa bertanya sebenarnya apa yang ada dalam pikiran mereka. Aku benar-benar tak mengerti. Adegan memuakkan ini semakin menjadi saat pesanan mereka sudah datang, suap menyuap sepertinya menjadi hal yang lumrah untuk sepasang remaja yang sedang pacaran saat mereka makan malam di sebuah restaurant seperti ini.
Ya, kini aku tau mereka berpacaran. Dengan rasa penasaran aku mulai membaca kedalam pikirannya, mencari sebuah jawaban. Betapa aku ternyak mendapatkan jawabannya, "sebuah kenyamanan". Mereka tak pernah berpikir tentang kodrat, mereka tak pernah berpikir tentang jenis kelamin, yang mereka pikir hanyalah kenyamanan dalam berhubungan meski mereka berdua adalah seorang lelaki.
Sabtu, 12 September 2015
kepada yang menikah...
sudah saatnya melepas dahaga
sudah saatnya melepas yang berharga
sudah saatnya menjalani takdir
sudah saatnya bersama sampai akhir
Senin, 02 Februari 2015
MAAF...
Lagi-lagi aku dibuatnya terdiam dengan lagu karanganya yang ia tulis sendiri.
Di sebuah acara festival musik, Ori menyanyikan sebuah lagu dengan sangat menjiwai. Suaranya yang merdu ditambah lirik-lirik romantis yang ia tulis, gadis mana yang tidak terkagum-kagum kepadanya.
Aku tahu lagu itu ia tulis untukku, karena lima hari sebelum acara ini, ia sangat memohon kepadaku untuk datang. Dan ia berhasil membuatku datang meski sebenarnya akupun lebih dulu berjanji dengan seseorang.
Aku tahu ia begitu mencintaiku dan aku juga tahu begitu banyak gadis-gadis di luar sana yang suka dan sangat mengaguminya. Tapi entah kenapa ia memilihku yang tak mungkin menerimanya.
"Lagu kedua ini masih tentang perasaanku kepada gadis manis yang berada di sudut ruangan ini"
ucapnya dengan mata yang penuh binar cahaya menatap kearah dimana aku berada. Seketika mata orang-orang yang berada di ruangan ini pun tertuju kearahku dengan riuh sorak dan celoteh "ciee". Tapi ucapan dan mata orang-orang bahkan celotehnya tak membuatku merasa malu atau berhasil membuat merah pipiku.
Mataku pun tertuju kepada Ori yang masih berada di atas panggung dengan monolognya sebelum lagu keduanya ia nyanyikan. Ada perasaan iba yang justru singgah dalam hatiku.
"Andai kamu tahu Ri siapa aku dan mengapa aku tidak bisa mencintaimu. Aku ini seorang.."
Tiba-tiba ponselku berdering berulang-ulang. Kulihat nama Aurora tertera di layar ponselku. Sebuah nama yang kububuhi kata "SAYANG" di belakangnya.
"Iya sayang, aku inget kok. Nih aku mau kesana. Tunggu aku ya. Aku sayang kamu Ra. Emuachh..".
Aku meninggalkan tempat ini dan Ori yang terus menyanyikan lagu untukku.
Di sebuah acara festival musik, Ori menyanyikan sebuah lagu dengan sangat menjiwai. Suaranya yang merdu ditambah lirik-lirik romantis yang ia tulis, gadis mana yang tidak terkagum-kagum kepadanya.
Aku tahu lagu itu ia tulis untukku, karena lima hari sebelum acara ini, ia sangat memohon kepadaku untuk datang. Dan ia berhasil membuatku datang meski sebenarnya akupun lebih dulu berjanji dengan seseorang.
Aku tahu ia begitu mencintaiku dan aku juga tahu begitu banyak gadis-gadis di luar sana yang suka dan sangat mengaguminya. Tapi entah kenapa ia memilihku yang tak mungkin menerimanya.
"Lagu kedua ini masih tentang perasaanku kepada gadis manis yang berada di sudut ruangan ini"
ucapnya dengan mata yang penuh binar cahaya menatap kearah dimana aku berada. Seketika mata orang-orang yang berada di ruangan ini pun tertuju kearahku dengan riuh sorak dan celoteh "ciee". Tapi ucapan dan mata orang-orang bahkan celotehnya tak membuatku merasa malu atau berhasil membuat merah pipiku.
Mataku pun tertuju kepada Ori yang masih berada di atas panggung dengan monolognya sebelum lagu keduanya ia nyanyikan. Ada perasaan iba yang justru singgah dalam hatiku.
"Andai kamu tahu Ri siapa aku dan mengapa aku tidak bisa mencintaimu. Aku ini seorang.."
Tiba-tiba ponselku berdering berulang-ulang. Kulihat nama Aurora tertera di layar ponselku. Sebuah nama yang kububuhi kata "SAYANG" di belakangnya.
"Iya sayang, aku inget kok. Nih aku mau kesana. Tunggu aku ya. Aku sayang kamu Ra. Emuachh..".
Aku meninggalkan tempat ini dan Ori yang terus menyanyikan lagu untukku.
Selasa, 16 Desember 2014
sweet sunset di parangtritis...
Langit senja merah menjingga
riuh debur ombak bercengkrama
butir-butir pasir berbisik dengan mesra
siluetemu berdiri tegak diantara mereka
Ada sebuah rasa mengalun bersama
seperti puisi yang bermahkotakan rima
bersamanya manis kian terasa
di tengah sunset yang mempesona
riuh debur ombak bercengkrama
butir-butir pasir berbisik dengan mesra
siluetemu berdiri tegak diantara mereka
Ada sebuah rasa mengalun bersama
seperti puisi yang bermahkotakan rima
bersamanya manis kian terasa
di tengah sunset yang mempesona
Jumat, 21 November 2014
BERTANYA AKU...
Bertanya aku
Pada-Mu yang menciptakan aku
Siapa aku
Pada tubuh yang berupa aku
Aku di dalam tubuh aku
Seperti bukan aku
Aku tak mengenali aku
Lalu siapa aku
Masih saja aku bertanya aku
Pada-Mu Tuhan, yang menciptakan aku
Siapa aku
Pada-Mu yang menciptakan aku
Siapa aku
Pada tubuh yang berupa aku
Aku di dalam tubuh aku
Seperti bukan aku
Aku tak mengenali aku
Lalu siapa aku
Masih saja aku bertanya aku
Pada-Mu Tuhan, yang menciptakan aku
Siapa aku
Langganan:
Postingan (Atom)
